Angin pagi berhembus melewati jendela, setiap pagi selalu sama, tetapi pagi ini angin pagi mengingatkan aku tentang cerita indah yang nyata, tentang aku dan masa lalu ku. – Markus AP
Aku terbangun karena mimpi pagi ini…..
Lalu aku duduk disamping jendela kamarku, angin pagi ini berhembus sejuk, masuk melalui jendela yang terbuka, tiba-tiba mengingatkanku akan kenangan yang indah dari kenyataan dimasa lalu yang sudah lewat.
Mungkin lebih tepatnya kenangan itu dipicu dari mimpi yang tadi aku alami, mimpi yang tidak menakutkan sama sekali, mimpi bukan tentang kehilangan orang yang dicintai, bukan juga mimpi tentang harapan yang kemudian hanya akan dicekik karena tak menjadi kenyataan.
Sebab aku pernah
“Aku ingin diam, berfikir, merenung, mungkin menangis”, kataku.
Adakah yang dapat mengerti kehendakNya, ataukah aku dapat memahami maksudNya, selain Ia yang memanggilku dengan caranya yang halus saat tengah malam, lalu aku mengikutiNya, mengikutinya sekalipun jalannya terjal berliku, sekalipun pedang dibalik sayapNya melukai.
Aku duduk setengah tertidur disofa di apartemenku, di Paris, kebosanan, kelelahan karena kesibukan seharian, yang bisa kulakukan setelah segala kesibukan itu aku meracuni diriku dengan segelas Jack Daniel, lalu aku menghibur diriku sendiri dengan memainkan beberapa lagu dengan tenor Mark VI ku.
Aku keluar dari kantorku tepat jam 5 sore, tak seperti biasanya aku pulang secepat itu, biasanya aku pulang hingga pukul 7 malam, yah aku pulang lebih awal dari biasanya, apa lagi kalau karena hari ini aku janji untuk bertemu dengan seseorang, pertemuan yang sekali lagi tidak terduga.
Aku melongok ke jam tanganku, waktu menunjukan hampir pukul 12 siang, aku menunggu seorang sahabat untuk sekedar coffeebreak, tetapi ia belum juga datang, tak lama kemudian sebuah pesan singkat masuk kedalam inbox handphoneku, “aku terlambat datang, kamu tunggu aku ditempat biasa, aku masih menyelesaikan meeting”.
Jakarta diguyur hujan, hawanya dingin, sejuk menyenangkan, aku berdiri diatas ruang kaca lantai 8 kantorku, memandang jalan menunggu waktu untuk pulang, aku sedang tegang, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, aku mengingat semua hal yang sudah lewat, pikiranku kemana-mana, dan aku masih ingat apa yang dikatakannya terakhir.
Aku bangun kesiangan, mandi dan siap berangkat kekantor, tapi hari ini aku malas berangkat kekantor, aku menelfon readksiku bahwa aku perlu mencari berita diluar, ia pun menyetujui agar aku diluar kantor saja.

