tools
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
Archive for the 'Catatan Kontemplasi' Category
By. marcus . June 1st, 2009 at 10:59 amcareers
Pemujaan terhebat sepanjang masa, bukan ada di Masjid, Gereja atau Kuil, bukan dalam kain kabung, doa-doa, kemenyan-kemenyang yang sesak dibakar untuk sang Maha, sedang hati kita sering tidak ada padaNya yang utama.
Tetes haru kita pun tak ada saat pemujaan itu terjadi.
Lalu pemujaan apa yang maha besar, bisa terjadi? Maka bisa jadi percuma kuil dibangun, gereja dipenuhi ramai manusia, jika hati pemujanya jauh melanglang ke ujung dunia sana, tidak ke surga, kepada pemiliknya.
Maka sesunguhnya pemujaan terhebat ada disebuah kamar rumah sakit bersalin, saat kehadiran kehidupan maha suci terlahirkan, terlepas ia dari pernikahan sah atau dari hubungan haram.
Jiwa maha suci itu tetap tidak berdosa. Yang terjadi melalui sebuah proses yang maha dasyat sepanjang 279 hari, dalam ruang yang sempit direbut rahim.
Sepanjang 279 hari itupulalah, seharusnya mual harus disabdakan kepada sang Hidup agar jiwa suci yang lahir berguna.
Pegal harus diharu kan kepada sang Hidup agar jiwa suci yang lahir tulus dan

Read More

forum
By. marcus . June 1st, 2009 at 10:58 am
trademarks
Kita pergi terburu-buru, mengejar waktu tak ingin lewat dari waktu yang ditetapkan, jantung berdebar agar tak ingin keterlambatan jadi bencana, begitulah yang terjadi saat dua sejoli ingin bertemu sapa disuatu tempat, mungkin makan malam, mungkin duduk santai di ramainya coffe shop, atau mungkin kamar hotel yang dingin lalu jadi hangat, dan seprai-seprai menjadi berantakan.
Pertemuan ini berbeda dengan pertemuan itu, tetapi nampaknya sama, saat debar jantung pun terpacu, tetapi tiba-tiba menjadi bahagia dan tenang saat pertemuan itu terjadi.
Maka bagaimana dengan pertemuan yang mendatangkan pemahaman bagi kehidupan yang disambangi, pertemuan yang oleh banyak kitab disebut sebagai pristiwa sepektakuler, Petrus ingin membangun sebuah batu peringatan karena melihat ISA bertemu dengan Elia juga Musa diatas bukit, atau bagaimana dengan puasa 40 hari Musa yang akhirnya bertemu dengan creator of the universe, atau pertemuan Yunus dengan sang Hikmat saat ia ditelan ikan tetapi tak sampai menuju maut, pertemuan seperti ini yang jarang dan

Read More

guidelines
By. marcus . May 26th, 2009 at 10:47 am
Tak ada kata totalitas dari manusia yang bisa mengambarkan penciptanya, setiap kata yang keluar dari para sufi maupun para pujanga, bahkan nabi sekalipun, tidak mampu mencapai totalitas pada sekala apapun mengambarkan ke Maha-anNya.
Al-Ghazali mengatakan bahwa Tuhan tak terbandingkan, Yohanes mengatakan bahwa Tuhan adalah cinta itu sendiri, Friedrich Nietzsche malah dengan murtadnya mengatakan bahwa Tuhan telah wafat.
Manusia sejak Adam, mencoba mencari pemahamannya tentang sang penciptanya, ia yang serta merta memiliki intelektual, yang kita sadar sangat terbatas, mencoba mencapai pemahaman yang tidak terbatas.
Tentu kita sekarang sedikit berfikir bagaimana mungkin kita yang memiliki sebuah gelas dapat menampung seluruh air dilautan?, begitulah kita yang terbatas mencoba mencapai pewahyuan tentang sang pemiliki Wahyu.
Maka jika kita mencoba memakai pemahaman rasul Yohanes, bahwa Tuhan adalah Cinta itu sendiri, maka rasul Paulus mengatakan bahwa betapa luas, dalam, panjang dan lebarnya (tanpa bisa dihitung) cinta

Read More

copyright
tools
By. marcus . May 25th, 2009 at 8:27 am
api
Riwayat masa lalu yang rusak, seharusnya menjadi pertanda upaya semua manusia melihat kedepan, memersiapkan segenap upaya untuk melangkah lebih sempurna diwaktu yang akan datang, memperkokoh jiwanya yang sudah pernah gagal.
Tapi yang terpenting manusia seharusnya dapat melihat dengan sempurna kehidupan,  segenap kehidupan yang sudah jadi riwayat lalu, atau yang belum menjadi riwayat, kalau bisa sebisa mungkin memaknainya lebih dalam, mungkin pada level tertentu mencapai pewahyuannya akan kehendak Sang Maha Segala, atas apa yang sudah jadi riwayat atau yang belum menjadi riwayat.

Mencapai pewahyuan akan kehendak Sang Maha Bijak, tak sepenuhnya dapat dicapai oleh kebanyakan orang yang hanya melalui kehidupan seperti aliran air.
Ia senantiasa hanya jadi air, tetapi tidak merasai aliran air, tak pernah menjadi air, tidak melihat keseluruhan perjalanannya, dan mencoba mencari maknanya.
Karena memperoleh pewahyuan dari Sang Maha Bijak, memerlukan penyatuan dirinya kepada sang Maha, seperti kita mencoba

Read More

By. marcus . May 25th, 2009 at 8:20 amcareers
    “Ketika kecil pasti ada yang mengingatkanmu untuk merenung, sedang aku tak pernah bisa merenung ?”… dialog  yang dikatakan tokoh Hu Cailan, diperankan oleh Karena Lam dan Li yaoguo diperankan Jacky Cheung, dalam film July Rhapsody

    Suatu siang, tak ada orang dirumah, hanya suara TV yang menyiarkan berita-berita gosip, diluar cuaca sangat mendung, angin bertiup kencang sekali, awan nampak gelap, baru saja ada telfon berdering memecah lamunan, Radio sedang memutar lagu Sting terbaru dari album Secret Love, suara rintik-rintik hajan menambah waktu yang sepi itu menjadi lebih sacral dan mencekam…
    Saya ingat cerita seorang pemuda yang saat kecil sudah suka dengan kesendirian, ia tak suka berkumpul dengan teman-temannya lari kesana kemari, bukan ia seorang yang minder tetapi ia tak suka menghabiskan waktunya untuk ngobrol hal-hal yang tak berguna, ia suka berjalan-jalan sendiri, memasukan kedua tangannya kedalam saku celana, bernyanyi-nanyi

Read More

forum
By. marcus . May 6th, 2009 at 8:57 am
trademarks
Membaca “Tuhan dan hal-hal yang tak selesai”, karya Goenawan Mohamad, benar-benar telah membawa ruang contemplasi yang tersendiri, Mas Goen telah membawa perenungan tentang Tuhan, berikut juga diri kita, dan banyak hal yang tak bisa dirangkum dalam buku kecil itu dan nampaknya sembilan puluh sembilan Percikan perenungan tak cukup mencapai semua hal yang ada dalam kehidupan, tetapi toh itu sebuah perenungan diri seorang Goenawan Mohamad.

Bagaimana dengan perenungan kita?, Bagaimana dengan saya?
Bagi saya, merenungkan sesosok Pribadi hebat seperti ISA, merupakan hal yang sulit masuk diakal, sebagian besar orang menganggapnya sebagai nabi, manusia, sebagian menganggapnya sang Ilahi itu sendiri, tetapi ISA sendiri tak perduli dengan panggilan, Ia telah dipanggil Tuan, Tuhan yang berarti Tuan (Sir), Nabi, Guru, Mesias, Anak Allah, toh tetap ia tak perduli panggilan, karena hidupNya ada untuk benar-benar telah membawa misi revolusi kerohanian dan kemanusiaan (bukan mempersoalkan nama, siapa dia atau kedudukannya sebagai Nabi,

Read More

guidelines

YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation
copyright