Archive for the 'Catatan Kontemplasi' Category
By. marcus . September 5th, 2009 at 10:48 am
Tak ada bencana yang diinginkan oleh semua umat manusia, tapi saat bencana harus datang karena memang bumi sudah jenuh, atau ulah manusia sendiri, pada akhirnya bencana hanya menyisakan kesengsaraan, tangis, kesedihan, pukulan berat akan kehilangan harta benda dan bahkan orang yang dicintai, krabat atau sahabat.
Manusia yang diberi hati punya rasa yang timbul dari dalam, serta merta ia akan akan miris melihat, merasakan penderitaan, baik yang dialaminya atau yang dialami orang lain.
Manusia yang diberi hati akan melihat bahwa bencana tadi menjadi pukulan dan peringatan yang harus disadari, atau bisa saja sambil lalu, dan kehidupan berjalan tanpa melihat penderitaan dalam sebuah bencana sebagai usaha melihat jauh ke atas dan kedalam kehidupan. 5/9/2009 10:47 AM
Markus AP
Note : Pagi ini saya melihat sebuah foto pada hariaan kompas 5 September 2009, hasil jepretan Lucky Pransiska, foto seorang nenek tua terbaring ditempat penampungan sedang mengenakan selang oksigen, saat itu pula saya menghubungi
Read More
By. marcus . July 19th, 2009 at 4:43 pm
Dunia tak akan berubah manis, saat dunia dan peradaban dibuat menangis oleh kekerasan, terror, dan pembantaiaan, sejarah mencatat ledakan yang meluluh lantakkan kedutaan besar Amerika 18 April 1983 dan menara kembar WTC berantakan bersama ribuan lebih korbannya pada peristiwa 11 September, lalu saat ratusan korban melayang pada peristiwa Bali, puluhan pada peristiwa Marriot.
Dunia tak akan jadi santun, tetapi hanya menyisakan sejarah hitam, jika ada korban jiwa, nyawa melayang, ibu kehilangan anak, bayi terkelupas kulitnya terbakar, semua itu terjadi bisa karena sebuah militansi mengatas namakan kebenaran dengan kekerasan.
Militan bisa saja berangkat dari pendapat yang dibenarkan, bisa saja berjalan atas dasar kebencian, mengagungkan kebenaran yang sakral sekalipun, dan apapun dalilnya, apapun tujuannya, sekalipun atas nama Tuhan, apa lagi politik, ter apa lagi karena kepentingan segelintir manusia, militansi ngawur pemikiran sempit, tak lagi berlaku dijaman yang ingin dikehendaki santun.
Militansi hendaknya menentang Read More
By. marcus . June 28th, 2009 at 6:40 pm
Berabad abad Agama telah menjadi tujuan dan jalan manusia memenuhi imannya kepada sang Khalik. Agama yang diturunkan Tuhan kepada kemanusiaan lewat sosok kenabiaan, lewat sosok pengantar pesan, akan suara Tuhan, dan Hukum Tuhan yang mutlak, lewat pesannya itu Agama telah memberikan petunjuk jelas tentang sosok Ilahi yang tak terjamah, yang sering kali disalah artikan, sebagai Ilahi yang penuh penghakiman, selalu benar, pemusnah, penghangus, tak pernah mentolelir dosa, yang tak pernah memandang kesundalan sebagai kebaikan, yang tak pernah meridohi perselingkuhan sebagai kebenaran.
Mungkin Tuhan segaja memberikan petunjuk itu, karena manusia telah kehilangan arah, terpuruk, sesat dan miskin,
Presepsi manusia yang sering kali salah dan juga petunjuk jelas itupun ditulis dalam semua kitab keagamaan, aturan moral, kredo, hadis, apapun namanya, yang memberikan peta menuju sang penciptanya. Tuhan yang tersapa lewat agama, Tuhan yang tak terjamah yang hanya bisa disapa lewat iman nya kepada agamanya.
Lalu berabad sejak Read More
By. marcus . June 28th, 2009 at 5:31 pm
Saya ingat suasana pagi, dingin, sejuk dan rupawan karena embun pagi nampak jelas dipagi yang cerah, hamparan sawah dengan padi yang menguning indah tak terhinga, dikejauhan suara kereta pagi melewati rel kereta yang memecah hamparan sawah tadi jadi dua
Tak heran ditempat yang jauh dari kepikukan metropolitan, saya bisa mendapatkan senyum wajah orang tua, nenek tua, juga penduduk desa yang ramah dan membumi, sesuatu yang jarang tersapa disebuah Mall dijakarta. (Jika para pramuniaganya ramah, itu karena ingin dagangannya laku).
Mungkin senyum menjadi gaya hidup kehidupan yang jauh dari kepikukan macet dikota besar itu.
Keramahan mungkin juga jadi makanan yang biasa dibandingkan dengan keramahan yang sering kali palsu kita temui di metropolitan seperti Jakarta.
Apa lagi yang ada ditempat yang jauh dari kepikukan ini? Selain senyum, keramahan?
Mungkin juga kesederhanaan hidup walau listrik sudah masuk desa, TV pun sudah, kesederhanaan hidup mereka tetap melekat erat, walau mereka tak hidup dengan Read More
By. marcus . June 24th, 2009 at 8:26 am
Jika sebuah pemikiran yang kolot tergantikan dengan pemikiran baru, sama dengan kapak batu digantikan dengan lembing-lembing dari baja, kemudian panah-panah digantikan dengan musket-musket, perubahan dunia ini ditandai dengan jaman industri di Inggris saat ditemukannya mesin-mesin uap, dan cerobong-cerobong pabrik mulai memuntahkan asap pekat ke udara.
Lalu dikemudian hari burung-burung logam membawa manusia melewati samudra luas, chip-chip mengisi tiap personal PC, hingga semua orang dapat terkoneksi ke Internet lewat gengaman tangannya dengan alat kecil bernama Handphone atau Blackberry.
Para pemikir, cedikiawan, ilmuan, filsuf telah mengeserkan pemikirannya, kepada penemuan pemikiran baru, mereka telah membuat pemikiran mereka menjadi tidak terbatas, berusaha menemukan hal baru yang selalu lahir dari pemikirannya yang baru.
Dan nyatanya dunia ini benar-benar telah berubah, dari jaman batu berubah menjadi jaman yang HighTech, perubahan yang diawali terjadi diruang kecil yang namanya pemikiran.
Kehidupan Read More
By. marcus . June 17th, 2009 at 5:35 pm
Letusan meriam, tembakan musket, jutaan korban bersimbah darah, terkubur lumpur, tak terkenali siapa mereka dalam sejarah kemerdekaan Amerika, selalu ada korban untuk pencapaiaan kemerdekaan, selalu ada tetes tangis, tetes peluh, selalu ada yang jadi korban buat sebuah pencapaiaan tujuan atas nama kemanusiaan, atas nama keagungan kebebasan kemanusian, semua hanya karena keinginan untuk merdeka dan idealisme menjadi manusia “Bebas”, bebas menentukan nasibnya sendiri, bebas memperjuangkan harkat yang melekat sejak adam dan hawa.
Merdeka dari belengu, merdeka dari tirani, merdeka dari perbudakan kekuasaan.
Apa mungkin darah kemerdekaan jadi manusia ada benar-benar sejak Adam, sehingga Adam pun bebas memilih dosa hingga terhukum keluar dari Eden.
Jika perjuangan kemerdekaan Amerika menghasilkan kebesaran negeri paman sam dikemudian hari, memicu perubahan sejarah didunia tentang nilai kemanusiaan, apakah nilai itu akan terus bertahan seribu tahun kedepan?. Dilematis.
Tetapi kehidupan nyata kita Read More