Parodi : Ocehan Absurd
Life is changing so fast, so much been change, i don’t know how things changed so quickly, maybe it’s extremely scare us…..
Kita bisa saja menjawab…
Accept the changes, everything happens for a reason, it ‘ll all work out just right but you have to allow that to happen. Don’t be scared of the future. Just live in the present. (Bisa jadi demikian bisa jadi tidak juga demikian).
Sadarkah kita dengan hal itu? Technology, our life, life style, world, economy, humanity, nation…is moving fast…semuanya berubah dengan begitu cepat.
Atau kita sama sekali tidak sadar dan melanjutkan kehidupan seperti biasa.
Kita tidak pernah memperhatikan semua perubahan yang terjadi, karena sibuk dengan keseharian kita….atau kita tak perduli apapun yang terjadi diluar sana dan tak juga memperhatikan pada diri kita sendiri karena sekali lagi kita sibuk dengan kesahariaan kita… bahkan kita pun sudah berubah, tetapi kita tak sadar…atau kita mau mengalami berubah atau tidak kita tak perduli sama sekali.
Coba perhatikan…
Hari kemarin teman kantor kita yang hanya mengunakan sebuah HP china biasa, kemudian harinya ia telah berjalan-jalan ditengah kantor sambil pencet-pencet Ipad, senyum-senyum sendiri atau saat ia sedang duduk disebuah kantin, sambil menikmati makan siangnya dan focus memperhatikan ipad nya dengan tampang serius, mungkin ia sedang baca email dari pacarnya. ![]()
Hari kemarin tante kita yang biasa berbicara tentang “paman” yang sering pulang malam, tiba-tiba berbicara tentang brondong cakep yang di kenalnya.
Atau hari kemarin teman kita yang ramah dan baik, bisa jadi berubah karena ia mulai jadi terkenal dan sibuk jadi artis atau model…entah artis untuk film apa? Atau model untuk iklan apa. Bisa jadi model untuk majalah tanaman.
, jadi pot atau pupuk kali. Dan kita terheran bagaimana mungkin tiba-tiba seseorang berubah begitu saja. ![]()
Kalau dulu korupsi dinegeri ini masih sembunyi-sembunyi, beda dengan sekarang, sekarang lebih canggih lagi…semua nya bisa kita perhatikan dengan sangat nyata…kejujuran jadi nampak ga ada lagi, hati nurani lenyap, banyak orang hanya bisa protest tetapi tak ada perubahan.
*menyedihkan*
Are we part of that changing?
Maybe…
Kita berubah menjadi apa? Itu juga sebuah pertanyaan juga harus dijawab oleh kita.
Beberapa waktu lalu, seorang sahabat complain dengan saya…
“Kemana aja loe…”
“Lo banyak berubah…”
“Lo banyak diem…”
Begitu banyak pertanyaan dari reaksi perubahan saya, kenapa dan apa yang terjadi dengan saya belakangan ini… *saya saja hampir tak sadar*
“Berubah?”
“Masa?”
“Diam?”
“Apanya yang berubah?”
“Kenapa bisa berubah?”
“Benarkah saya berubah?”
“Apa saya sudah berubah?”
“Apakah semua itu baik atau buruk?”
Pikiran itu menyertai setelah seseorang berkata bahwa “saya berubah”.
Saya tidak merasa saya berubah…saya merasa memang belakangan saya banyak diam, belakangan saya jadi jarang menulis, tetapi apakah diam itu berubah? Apakah diam itu berubah yang positif atau negative?”
Ya belakangan saya sedang “Puasa bicara” istilah saya…
Tapi ada juga sahabat yang berkata “Puasa bicara koq twitternya masih update terus…”
Di Twitter saya ngetik…bukan bicara.
Saya kan ngomongnya “Puasa bicara” bukan puasa ngetik
Artinya saya tidak benar-benar total diam..
Lalu kenapa saya diam? Itu pertanyaan yang lain lagi diajukan kepada saya. Belakangan ini saya mikir-mikir apa ya sebabnya saya diam…
Apakah ini bagus buat saya?
Apa saya sedang bersedih?, apa saya sedang merenung?, apa saya sedang berfikir?, kalau cuma mikir sih tiap hari saya juga mikir…masa sih itu aja masih kurang juga, sampai harus diam untuk berfikir lebih keras…Mungkin saya salah satu pengantut paham Decrates “cogito ergo sum” (Saya berfikir maka saya ada)
Well I don’t know exactly what happen…
Saya diam…mungkin saya sedang sedih ? Kenapa sedihnya?
Apa karena pacar yang menghianati lagi, yang tiba-tiba menikah begitu saja…Hahahaha masa sih saya sampai segitunya???
Saya tahu pasti, saya “kuat menghadapi” dan ia juga tahu “saya kuat”…(Mungkin itu juga dia mikir lebih baik menyakiti saya daripada menyakiti “TEKEK pengangguran itu”, yang less strong than me).
Well apa saya begitu sedihnya sampai harus nampak menderita…nampaknya tidak…
”TIDAK”.
Logicnya…haruskah kita sedih kepada seseorang yang begitu saja tidak tahu rasanya bersyukur dan menjalani sesuai hatinya?. Yang pada akhirnya kita harus membuat sebuah kesimpulan extrim…”Ia hanya lah KESALAHAN” yang mustinya tidak harus kita ingat-ingat lagi. IT’s HISTORY…A MISTAKE…seperti perlakuannya kepada kita.
Nampaknya saya tidak sedih untuk hal ini..buktinya saya sudah bisa menyimpulkan sendiri tentang hal ini. *SERIUS MODE ON* Udah ah jangan serius-serius… ![]()
Mungkin saja saya sedang mikir…mikirin apa? Negara?… SBY?… Tuhan?… Cinta?… Jadi kaya? …Hidup?..atau sedang mikir “Mau kawin…eh … nikah ma siapa?”.Mikirin cinta? Hahahah
I’m single now!!! And ..i’m enjoy it.
Nikah? Atau kawin? Im marring my self now…so what!.
Mikirin Negara?, hahah
Negara mana yang harus dipikirin?, sedang negarawannya ga pernah memikirkan nasib dan kelangsungan negerinya sendiri?…Capek deh.
Lalu apa dong? Apakah diam itu berarti sebuah perubahan? dan perubahan itu bisa jadi perubahan yang baik atau bisa juga buruk?……Atau diam sepertinya hanyalah usaha untuk melihat segala sesuatu agar lebih jelas,…melihat begitu banyaknya perubahan disekeliling kita dan kita hanya melakukan sedikit perubahan…(itu salah satunya)…diam lebih membuat kita lebih bijaksana…(semoga tidak hanya kelihatannya).
Masih banyak pertanyaan yang masih saya perlu jawab…atau mungkin tidak harus dijawab karena Let us be silent, that we may hear the whispers of the gods. Kata Ralph Waldo Emerson , mungkin saya sedang menunggu whispers of the GOD seperti kata mas Waldo.
12/12/2011 12:33 PM
Markus AP



Similar/Related Posts