notice
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
store
The Dream (cerpen)
By. marcus . August 29th, 2011 at 11:25 am
rss
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

The Dream

 

Angin pagi berhembus melewati jendela, setiap pagi selalu sama, tetapi pagi ini angin pagi mengingatkan aku tentang cerita indah yang nyata, tentang aku dan masa lalu ku. – Markus AP

   

    Aku terbangun karena mimpi pagi ini…..

    Lalu aku duduk disamping jendela kamarku, angin pagi ini berhembus sejuk, masuk melalui jendela yang terbuka, tiba-tiba mengingatkanku akan kenangan yang indah dari kenyataan dimasa lalu yang sudah lewat.
    Mungkin lebih tepatnya kenangan itu dipicu dari mimpi yang tadi aku alami, mimpi yang tidak menakutkan sama sekali, mimpi bukan tentang kehilangan orang yang dicintai, bukan juga mimpi tentang harapan yang kemudian hanya akan dicekik karena tak menjadi kenyataan.
    Sebab aku pernah bermimpi, tentang seorang ayah yang mengantarkan anaknya kedepan altar, dan aku ada didepan altar itu. Tapi realitasnya, ia memilih meninggalkanku dan menikah dengan orang lain. Orang lain yang dikatakannya tidak ia cintai lagi.
    Kenyataan ini lebih menakutkan dari mimpi tentang hantu atau pocong, karena benar-benar harapan akan kebahagiaan seseorang dicekik, dibunuh mati.

    Dan harapan itu, harapanku…harapan yang dicekik lalu dibunuh mati.

    Tapi apa aku mati?, aku hidup.

    Realitasnya aku masih bernapas.

    Aku hidup.

    Hanya harapanku yang mati.

    Keinginanku dan keinginannya tidak terjadi.

    Dan kata ibuku “Mimpi yang seperti itu, biasanya terjadi berlawanan”.
    Tapi apakah ibuku seorang yang bisa menafsirkan mimpi, apakah ia tiba-tiba jadi ahli dalam ilmu kejiwaan, apakah ia mengerti apa yang aku rasakan, apakah ia hanya percaya mitos orang jawa yang kuno itu….
    Aku tak tahu…aku tak mau tahu….nyatanya semua harapan telah dicekik, bukan karena mimpi, bisa jadi mimpi itu peringatan, tapi bukan karena mimpi.
    Karena
    Aku tak tahu.
    Aku tak tahu.
    Aku tak mau tahu.
    Karena tak ada alasan jelas akan semua itu.
    Dan aku tak mau tahu.
    Karena semua hal dalam hidup belum tentu ada jawabannya.

    Ah kembali ke mimpiku…
    Mimpi kali ini tidak membuatku takut,mimpi kali ini benar-benar membuatku tersenyum.
    Bahkan kenangan nyatanya yang sudah lewat masih akan membuatku tersenyum.
    Mimpi tentang sebuah pertemuan yang aneh….
    Entah kenapa aku seperti mendapatkan tanda sebelumnya….tanda yang bukan hanya sekali….

    Ahhh lupakan tentang tanda ini…tidak logis, tidak masuk akal bagiku.

    Lalu jika kita bicara mimpi….apa itu mimpi?

    Aku ingat  puisi Robert Desnos “I Have Dreamed of You so Much”

    I Have Dreamed of You so Much

    I have dreamed of you so much that you are no longer real.
    Is there still time for me to reach your breathing body, to kiss your mouth and make your dear voice come alive again?

    I have dreamed of you so much that my arms, grown used to being crossed on my chest as I hugged your shadow, would perhaps not bend to the shape of your body.
    For faced with the real form of what has haunted me and governed me for so many days and years, I would surely become a shadow.

    O scales of feeling.

    I have dreamed of you so much that surely there is no more time for me to wake up.
    I sleep on my feet prey to all the forms of life and love, and you, the only one who
    counts for me today, I can no more touch your face and lips than touch the lips and face of some passerby.

    I have dreamed of you so much, have walked so much, talked so much, slept so much with your phantom, that perhaps the only thing left for me is to become a phantom among phantoms, a shadow a hundred times more shadow than the shadow the moves and goes on moving, brightly, over the sundial of your life.

    Luar biasa indah puisi itu…

    Aku hampir bungkam tak dapat mengatakan apapun…karena memang indah.

    Dan mimpi kali ini pun tidak membuatku takut,mimpi kali ini benar-benar membuatku tersenyum.
    Mimpi ku ini indah.
    Bahkan kenangan nyatanya yang sudah lewat masih akan membuatku tersenyum.
    Mungkin mirip juga seperti yang dikatakan Robert Desnos.

    Lalu bagaimana menurut Freud, menurutnya mimpi adalah lubang intip ke dalam bawah sadar kita. Ketakutan, keinginan dan emosi yang biasanya kita tidak sadari membuat diri mereka dikenal melalui mimpi.
    Mimpi menurut Freud secara mendasar tentang keinginan dan pemenuhan.
    Bahkan mimpi "negatif" (mimpi menakutkan dan mimpi kecemasan lain) adalah bentuk keinginan dan pemenuhan; keinginan akan peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak terjadi, lalu dipenuhi didalam mimpi. Dan sangat sering mimpi seperti ini ditafsirkan sebagai peringatan.
    Freud percaya bahwa meskipun mimpi kita mengandung pesan-pesan penting, mereka dikodekan – menyamar. Pikiran bawah sadar tidak berbicara apapun secara langsung dalam bahasa verbal karena harus dikomunikasikan kepada kita melalui simbol. Beberapa simbol yang dekat-universal, yang lain sangat pribadi kepada kita dan pengalaman pribadi hidup kita.

    Lalu siapa yang percaya pada mimpi?, aku percaya, sebagian orang iya, sebagian orang tidak. Tapi aku percaya, percaya bahwa aku percaya, percaya bahwa Freud menjabarkannya menurut pemikirannya yang genius.

    Lalu apa yang terjadi semalam?

    Aku melihatnya.

    Seseorang dari masa laluku.

    Seorang yang telah membuatku benar-benar tak dapat tahan berdiri didapannya.

    Seorang yang gengamannya halus dijemariku.

    Seorang yang aku masih ingat kata-katanya, bahwa bukan aku saja yang sakit tetapi juga hatinya.

    Tapi ia dalam mimpiku tak ku dengar satu pun kata-katanya.

    Aku hanya melihatnya nyaris tanpa sepatah katapun, yah memang ia tak berkata apapun, diam..ia diam….

    Ia berdiri biasa saja, berpakaiaan biasa saja, senyumnya tetap menawan, hatinya yang tulus tetap nyata aku masih dapat rasakan, mungkin hidupnya yang penuh derita juga masih sama….aku tak tahu, aku tak berharap ia tetap seperti itu dalam kenyataan.

    Tetapi apakah yang ia rasakan masih sama?, apakah semua didalam dirinya masih sama?

    Bukan tentang perkataan “I love you” and “I love you too”. Tetapi tentang kebenaran perasaan itu.

    Apakah masih ada?

    Apakah masih sama?

    Dalam mimpi itu tidak menjelaskan apapun tentang hal itu.
    Aku hanya melihatnya nyaris tanpa sepatah katapun, yah memang ia tak berkata apapun, diam..ia diam….bahkan tentang perasaannya.
    Aku tak berani berharap untuk yang satu itu, karena memang didalam mimpi tak menjelaskan apapun.

    Tapi yang masih bisa kulihat jelas adalah senyumannya yang menawan.

    Senyumannya yang pernah membekukanku saat ia melewati lorong ditoko buku itu.

    Ini mungkin kesekian kalinya aku bermimpi tentangnya.

    Dengan wajah dan mimik yang masih sama.

    Aku mencoba mengingatnya…

    Mencoba mengambarkannya lagi dalam ingatan dan hal ini begitu sulit, apalagi mencoba menuliskannya…luar biasa sulitnya…dan aku terbatas memaparkannya dengan kata-kata apapun…but the memory still make me blushing.
    Tapi jadi jika menurut Freud mimpi adalah symbol, atau keinginan dan pemenuhan, lalu apakah mimpiku symbol akan sesuatu, atau keinginan dan pemenuhan akan harapan yang tiba-tiba lenyap saat ia berkata “Bukan hanya kamu yang sakit, tetapi aku juga”.

    Jika iya…aku berharap mimpi itu datang tiap hari untuk memenuhi kehidupanku, dan tiap pagi pula aku terbangun seperti seorang pria yang bahagia karena habis bercinta semalaman. What the hell I wish…I wish…I hope that happen…not only a dream but real.

    Dreams are about the yearnings that are held deep inside us. Some of these desires are so secret that we dare not share them even with our closest friends. Those of us that dare to put our dreams down on paper are showing the courage and faith that they will come true.

    Je rêve de toi et je souhaite que cela se reproduise
    Encore une fois
    Encore une fois
    Encore une fois et pour toujours
    Je ne sais pas, cette personne sera vous ou un autre

    29/8/2011 10:55 AM
    Markus AP

22 Responses to “The Dream (cerpen)”

@irh : ya aq suka sama tulisan sastra, dan si bapak ini juga yang memberikan nama-nama yg tuk dibaca, sorry baru balas bit bust lately

@mark : pa kabar mark?

@soraya : kabar baik big grin kamu kemana aja…nice to hear u okey…bless u

Leave a Comment

 

foruminternational
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation