api
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

report
Parodi : Just Another Glimpse
By. marcus . August 6th, 2011 at 12:38 pm
language
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Parodi : Just Another Glimpse

      Pagi ini cerah, langit tidak mendung, dihadapan saya tersedia Hot Chocolate Hazelnuts  yang baru saja saya cicipi sedikit…nikmat sekali.
    Ditelinga saya terpasang ear phone, mendengarkan lagu-lagu U2 and GMB.

    Pagi ini saya ada di Starbucks, “gila pagi-pagi sudah ada di starbucks…” BBM dari seorang sahabat
    Saya jawab “Why not?.” big grin
    Pagi-pagi berada distarbucks, bukan artinya saya mencari kesenangan dan seolah sudah bebas dari masalah yang menghimpit.
    No no no.
    Saya sedang tidak mencari kesenangan…apalagi bersenang-senang diatas penderitaan orang lain dan diri sendiri seperti kebanyakan orang.
    Saya TIDAK seperti kebanyakan orang yang bisa seketika melupakan semua hal yang baik atau yang buruk mengantinya dengan senang-senang.
    Saya baru saja bersedih.
    Saya baru saja kecewa.
    Saya baru saja terlukai.
    Saya baru saja marah.
    Saya baru saja berkabung mungkin….walau berkabung saya tidak pakai pakaian hitam-hitam hari ini. big grin
    Mungkin juga masih…

    Dan pagi ini saya ada distarbucks, sekali lagi bukan untuk bersenang-senang, saya cuma ingin menemukan tempat untuk berfikir jauh dari rutinitas, dan memfocuskan diri pada catatan dan bacaan, yah bahasa kerennya
    “I try to put my self together, I try to collect all pieces, try to glue it, and  try hard to said ‘everything gone be all right, this is just a glimpse’ ”.

    Sebelum saya mulai
    Saya tak ingin catatan ini dibaca untuk menimbulkan emosi bagi yang sedang bermasalah dengan saya…lalu nekat…lalu saya disalahkan.
    Karena jelas ini ungkapan diri saya, hak, pikiran, kesedihan, amarah, dan tekad.

    Jika saya nampak sedih…normal sebagai manusia yang bersedih marah kesal karena dilukai.
    Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa jika apa yang saya ungkapkan ini menimbulkan kemarahan seseorang.
    Setiap orang punya paradigma pribadi atas apa yang saya tulis….baik atau buruk itu keputusannya menilai sendiri apa yang saya tulis.

    Kemarin saya duduk di Seven Eleven dan saya BBM sahabat terbaik saya mengajukan pertanyaan yang nampaknya bukan saya banget…
    “Mom…aku kayak sekarang ini mikir, merenung, aku ini dosa apa ya? Apa aku ini salah? Apa aku ini gak baik? Sampai harus menerima ini?” Dengan tidak semangat saya bertanya itu.
    Agak lama kemudian, sahabat saya menjawab
    “Husssh, mikirnya ga boleh gitu…, Tuhan pake kamu untuk mengajar, meluruskan jalan orang-orang yang bermasalah…bukan karena karena kamu berdosa apa gitu, contohnya aku…aku banyak belajar dari kamu, ya kalau orang-orang yang bermasalah itu terusnya ga mau dengar, bebal itu kan pilihannya mereka…yang penting kamu sudah menjalankan bagian mu…jangan berfikir seperti itu lagi ya”.

    Detik saya membaca pernyataan itu…saya menitihkan air mata, menitihkan air mata terharu, bukan air mata buaya, bukan air mata tipu-tipu….pake nangis kejer-kejer yang bisa jadi senjata agar seseorang tidak tega….saya tak ingin dikasihani, saya tak perlu rasa kasihan.
    Saya terharu karena pernyataan itu, karena luar biasanya Tuhan menjadikan saya.

    Beberapa hari lalu, seorang yang saya kenal mengirimkan BBM “You are my Master, I know you can handle this”.
    Saya tidak menjawab BBM itu…karena saat itu keadaan saya benar-benar tidak menyenangkan. (Saya tahu koq saya pasti bisa menghadapi).

    Saya pernah menulis :
    As a kid many years ago, i know how its feel falling from a bike, my mother said "Don’t cry, men don’t cry, stand up like a men", 34 year later when i badly hurt and broken hearted she said "You stronger than ever" – Markus AP

    Yang saya tahu, saya manusia juga sama seperti kebanyakan orang, saya punya hati dan perasaan, punya pikiran juga kesadaran.
    Saya sama seperti semua orang yang masih menghadapi masalah, peliknya hidup, problem-problem.
    Bedanya saya memilih untuk menghadapinya daripada menyerah pada keadaan, saya memilih jalan saya sendiri yang baik buat saya, saya tidak menyerah pada keadaan sambil mencari excuse-excuse yang bertentangan dengan hati saya.

    Saya sama seperti semua orang yang terkena jarum akan sakit, tertusuk pisau akan terluka dan mungkin berteriak kesakitan.

    Bedanya saya memilih mencari obat dan menyembuhkan luka itu dan belajar untuk tidak terluka lagi, daripada menangis-nangis dan terus-terusan menangis atas luka itu dan menganggap dunia berakhir…hidup saya tidak berakhir, saya tidak akan mati hari ini, saya akan hidup. Tapi sayangnya pernyataan saya akan kekuatan saya berdiri kuat  dijadikan alasan “lebih baik menyakiti yang kuat karena ia akan kuat berdiri, dibadingkan menyakiti yang tidak kuat karena ia tidak kuat berdiri, aku kan ga tega”….lucu sekali laughing
    Pengalaman dan perjalanan saya selama belasan tahun mengajarkan, saya belajar, saya ingin, saya berusaha, pengalaman saya menjadikan saya menjadi manusia yang berubah dan berubah menjadi makin kuat…makin dan makin dalam segala hal.

    Saya sama seperti semua orang, yang menginginkan kebaikan bagi orang lain, tetapi tidak selalu kebaikan itu dilihat baik.

    Bedanya disaat semua orang hanya memberikan saran, berbicara manis, saya juga memberikan saran bisa dengan manis dan baik, bisa juga dengan saran yang keras, berani dan langsung…kalau bisa saya menampar, saya marah, saya berteriak, berusaha menyadarkan… bukan karena saya tidak mengasihi, saya mengasihi….saya berusaha…saya berusaha…berusaha…sambil berteriak “INGAT GAK…., HATI-HATI….LIHAT GAK”.
    Apakah cara lebih baik daripada niat baik? Apakah yang nampak lebih baik daripada yang tidak nampak?.
    Maaf saya tidak bisa nampak so cute…manis-manis, saya dibangun dengan ketegasan dan kekuatan…35 tahun saya adalah 35 tahun yang luar biasa dibangun oleh orang-orang yang luar biasa… bukan orang-orang opertunis, bukan orang-orang lemah, bukan orang-orang yang memiliki agenda dan motif pribadi.

    Seorang sahabat yang baru saya kenal, seorang yang saya nilai luar biasa …menulis status ini di BBM nya “Nampaknya niat baik tidak selalu baik hasilnya sad

    Saya tahu pasti ia mencintai orang yang dimaksudkan dalam status itu, saya tahu pasti hatinya kecewa dalam, saya tahu pasti perjuangannya hampir sepuluh tahun untuk menyadarkan sia-sia,  hatinya hancur sambil menulis “Nampaknya niat baik tidak selalu baik hasilnya sad “, dan walau ia berkata “I don’t care anymore”, itu bukan suara hatinya…hatinya mencintai sekali…ia berharap orang yang dimaksudkan itu sadar…sadar…sadar dan melihat dengan lebih jelas.
    Saya sempat bingung…
    Kenapa orang yang baik itu harus disakiti niat baiknya ? Demi apa? Untuk apa?

    Saya mengalami hal yang sama.
    Semua ketulusan hati tidak selalu dinilai baik….
    Keinginan hati, harapan, upaya, cinta kita bagi kebaikan diri seseorang dimasa depan, sering nampak tidak ada artinya, disepelekan, diinjak, disampahkan, belum lagi di hujat.
    Saat saya dibilang “Penganggu” “Pengacau” “Setan” dan dinilai “Main guna-guna”. Ini kedua kalinya.
    Saya ketawa…sambil sedih mendengar itu.
    Saya masih bisa tersenyum…mengelus dada sambil bilang “sabar…sabar”.
    Mengikuti yang dikatakan ISA “Ampuni Tuhan ia tidak tahu apa yang ia lakukan”.
    Sekali lagi sambil ngelus dada…dan bilang “sabar…sabar”.
    Sambil membesarkan diri saya berkata…kalau kita benar pasti akan diperlakukan tidak benar….banyak tuh tokoh-tokoh besar yang berjuang untuk hal yang benar tetapi harus di hujat.
    Sambil membesarkan hati lagi, saya berkata …..kebenaran akan terbuka nanti.

    Yang lebih menyedihkan saya…
    Kita berdoa dan berdoa kepada Tuhan, akan kesempatan, akan jawaban, akan pimpinan, akan mujizat, akan jalan yang diberikanNya.
    Saat TUHAN memberikan semua itu…
    Seketika itu kita tidak melihatnya sebagai jawaban Tuhan, bahkan menampik, semua yang Tuhan berikan.
    Ingat…Tuhan menyediakan pilihan “berkat atau kutuk”, tetapi meminta kita memilihnya.
    Tuhan menyediakan “jalan” tetapi meminta kita menetapkan hati dan menjalaninya.
    Tuhan menyediakan “permintaan dan jawaban” tetapi meminta kita untuk menerimanya dan mempercayainya.
    Bukankah menyedihkan jika kita dijawab tetapi menampiknya….itu sama saja menampik TUHAN…mempercayaiNya tetapi kemudian menampikNya…apalagi atas alasan-alasan yang tidak jelas, dan tak berani diargumenkan dengan rasio dan kebenaran.
    Yang lebih menyedihkan saya…
    Semua hal yang saya minta kepadaNya, diberikanNya seketika, tetapi saya harus menikmatinya sendiri.

    Saya jadi ingat apa yang sahabat saya katakan…”Semua itu pilihan”.
    Saya melaksanakan bagian saya, berdiri dikeadaan yang benar, menyampaikan yang benar, walau di hujat, saya harus menerimanya dengan sabar…kemudian ini semua pilihan.
    Ia punya pilihan.
    Saya punya pilihan. Semua orang punya pilihan.
    Semoga itu pilihan yang terbaik.

    Walau kedua pilihan kita sekarang tidak sama-sama sejalan lagi …apa yang bisa saya katakan lagi…saya tentu tak akan memaksakan jalan dimana jalan itu tidak dipercayainya…saya tidak bisa memaksakan seseorang berada didalam satu penerbangan bersama saya sambil menawarkan “I have extra seat”, saya tak bisa memaksakan seseorang melihat seperti saya melihat kedepan…saya tidak bisa lagi berkata “ingat mimpi dan harapan kita” karena itu bisa jadi bukan harapan dan mimpinya lagi.
    Ia punya jalannya.
    Saya punya jalan saya.
    Saya tahu pasti setiap orang bertangung jawab atas dirinya dan Tuhan….ia dan saya bertangung jawab atas diri ini kepadaNya. Saya harus menerima…
    Saya tahu pasti perjalanan saya menurun ini akan membawa saya naik, saya tahu pasti saya akan kuat, saya tahu pasti diri saya…walau dalam berat hati saya harus berkata “This just another Glimpse”.
    I know how hard this journey…I know I can be stand up, thank you for the pain, pain never kills me, this just another glimpse.

    6/8/2011 11:55 AM
    Markus AP

 

Saya menutup tulisan ini, sambil menikmati Hot Chocolate Hazelnuts yang mulai dingin, sambil mendengarkan Kite By U2

 

Kite by U2

Something is about to give
I can feel it coming
I think I know what it is
I’m not afraid to die
I’m not afraid to live
And when I’m flat on my back
I hope to feel like I did

Cause hardness, it sets in
You need some protection
The thinner the skin

I want you to know
That you don’t need me anymore
I want you to know
You don’t need anyone, anything at all

Who’s to say where the wind will take you
Who’s to say what it is will break you
I don’t know which way the wind will blow
Who’s to know when the time has come around
Don’t wanna see you cry
I know that this is not goodbye

In summer I can taste the salt in the sea
There’s a kite blowing out of control on a breeze
I wonder what’s gonna happen to you
You wonder what has happened to me

I’m a man, I’m not a child
A man who sees
The shadow behind your eyes

Who’s to say where the wind will take you
Who’s to say what it is will break you
I don’t know where the wind will blow
Who’s to know when the time has come around
I don’t wanna see you cry
I know that this is not goodbye

Did I waste it?
Not so much I couldn’t taste it
Life should be fragrant
Roof top to the basement
The last of the rock stars
When hip hop drove the big cars
In the time when new media
Was the big idea
That was the big idea

content

22 Responses to “Parodi : Just Another Glimpse”

u learn darling u learn,,,,thats because u learn

@irh : hell ya…im learning well this time…and this make me more and more smart ahhahahahahha big grin rolling on the floor rolling on the floor rolling on the floor

Leave a Comment

 

feed
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
tour