Bukan Sekedarnya
Siang ini saya begitu ingin menulis catatan ini, hingga akhirnya saya memulai menuliskannya.
Saya mempunya ibu yang suka berberes rumah, ia suka menyapu lantai, membuat lantai bersih, mencuci pakaian, menyetrikanya dan melipatnya rapi, lalu menyusunnya dilemari dengan susunan yang rapi.
Ia suka menganti warna horden, menata meja dengan vas bunga (walau hanya bunga plastic), menganti taplaknya dengan variasi yang lain, menganti seprai yang kotor dengan seprai yang bersih.
Ia tak suka melihat kamar saya berantakan, meja kerja saya penuh buku, atas lemari saya penuh buku, ia tak suka tumpukan buku yang berantakan, ia selalu ingin menatanya agar tersusun rapi, saya kadang saya tak suka hal itu, karena kesulitan menemukan buku yang saya perlukan disaat saya benar-benar memerlukannya. Atau takut pembatas buku dalam buku saya terlepas dan saya tak bisa menemukan arah halaman terakhir yang saya baca.
Saya beralasan…”saya suka lebih nyaman dengan susunan saya (walau itu berantakan)”
Tetapi tetap saja usaha merapikan itu pun terjadi.
Ia selalu geregetan ingin merapikan tumpukan buku tadi.
Lalu ia tak suka saya meletakkan saxophone saya di atas ranjang, karena nampak berantakan, ia ingin dan kesal melihat keadaan itu, dan sering kali protest “kamu nyaman dengan tidur begitu”. Saya suka berkelit tentang betapa nyamannya saya dengan keadaan itu.
Saya dulu mempunya seorang kekasih, betapa tak menyukai rambut saya yang panjang, kaos yang seadanya, ia ingin saya nampak lebih baik, mengubah kaos saya dengan kemeja, mengubah warna baju saya dengan warna yang cerah, sebab rata-rata baju saya berwarna hitam. Ia selalu protest dengan sikap saya yang cuek, tidak perduli, ingin saya lebih baik, lebih perhatian, hingga akhirnya pun berubah.
Suatu hari saya sendiri kesal dengan keadaan yang berantakan…saya bosan dengan ruangan yang berantakan, dan saya pun ingin ruangan saya nampak rapi, saya ingin diri saya berubah, dan saya pun mengusahakan perubahaan. Walau tidak selalu mudah. (Roma 7:1-25).
Keduanya berfikir agar semuanya baik bagi saya. Suka tidak suka saya harus berfikir semua itu baik bagi saya.
Pernahkah anda bayangkan, bahwa Tuhan itu seperti Nyonya rumah kita, ia ingin mengatur rumah kita sesuka dan sepandangan baik diriNya, ia tidak suka hal-hal yang berantakan. Ia ingin warna hoden yang cerah, ia ingin lantai yang tak berdebu, ia ingin membuat rumah nampak semarak.
Ia tak ingin rumah itu suram, ia tak ingin berantakan, ia tak ingin kekacauaan, ia ingin rumah itu nampak damai.
Pernahkah anda bangun dan pikiranNya adalah pikiran anda, hatiNya adalah hati anda, langkahNya adalah langkah anda, Ia berfikir tentang masa depan yang indah, dan anda juga bisa berfikir seperti Ia berfikir, pikiran anda penuh dengan hal-hal yang Ia inginkan bagi dirinya, ya itu kita sendiri.
Ia merencanakan banyak hal yang baik buat kita, dan kita pun sepikir dengan pikiranNya.
Lalu jiwa kita pun digerakkan oleh karena keinginanNya, semangat kita dibakar oleh semangatNya. Hati kita di penuhi oleh karena kasihNya.
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5)
Dan kita pasti tahu bahwa apa yang ada didalam diriNya semuanya baik, tidak ada yang tidak. Bukankah hidup kita menjadi luar biasa, seperti yang Ia kerjakan juga begitu luar biasa.
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan….(Yeremia 29:11)
Tapi kan…yah kita bisa berkelit, kalau seseorang yang mencintai kita menginginkan sesuatu perubahan itu karena agar kita seperti dirinya, maka kita berkata “ah itu bisa jadi ia ingin kita seperti dirinya” kita bisa berkata “kita bebas menjadi diri kita”, kita bisa berkata “aku nyaman dengan diriku ini, aku tidak perlu dirubah”.
Ya itu BISA JADI benar. Tetapi juga tidak sepenuhnya demikian. Artinya BISA JADI salah.
Tetapi Tuhan bukan manusia, cinta Tuhan bukan cinta manusia, Tuhan berfikir tidak seperti manusia. Ia melihat jauh dari apa yang kita lihat, Ia berfikir jauh daripada pikiran kita. Dan kita lebih sering berfikir negative kepada manusia, lalu juga kepada Tuhan. Akan semua-semua yang baik yang ingin IA kerjakan.
Saya pernah mendengar sebuah cerita, seorang anak kecil dibawa ayahnya kesebuah taman, sang anak diletakkannya di sand box agar bisa bermain-main disana, lalu datanglah penjual ice cream, sang ayah melihat itu membelikan satu cone ice cream lalu memberikannya ke sang anak, agar ia menikmati permainannya sambil makan ice cream, baru saja ia melangkah beberapa langkat, sang ayah memalingkan pandangannya dan melihat apa yang dikerjakan anaknya.
Ia kaget, saat melihat mulut anaknya penuh dengan pasir.
Ada reaksi yang dilakukan sang ayah, saat melihat anaknya mulutnya penuh pasir.
1.Ia segera berlari dan membersihkan mulut anaknya.
2.Ia sedih karena kenapa tidak ice cream yang dinikmatinya tetapi malah pasir.
3.Ia marah/kesal atas apa yang terjadi.
Tuhan juga demikian, juga akan melakukan hal yang sama, tetapi sama seperti sang bapak, Tuhan pun tidak lantas berkata “kau bukan lagi AnakKu”. Tidak, Ia tidak pernah demikian. Ia menawarkan hal-hal yang baik bagi kebaikan kita, tetapi kita lebih sering menikmati yang buruk daripada menerima yang baik, walau dengan demikan Ia terus akan mengusahakan kebaikan bagi kita, Ia mengusahakan keselamatan bagi kita, Ia akan memberikan yang terbaik bagi diri kita.
Tapi Ia tak ingin kita BUKAN SEKEDARNYA
Jika demikian, akankah Ia membiarkan sikap kita yang pemarah, jika Ia bukan pemarah, akankah Ia membiarkan sikap kita yang pendendam, jika Ia bukan pendendam, akankah Ia membiarkan kita bodoh, jika Ia begitu bijaksana, akankah Ia membiarkan kita menjadi orang yang tidak sabar, jika Ia begitu sabar, akankah Ia membiarkan kita menjadi pemalas, jika Ia terus-terusan bekerja bagi kebaikan kita?, akankah kita dibiarkan menjadi pengungkap kata-kata kasar, jika IA berkata dengan baik dan sopan.
Akankah membiarkan masa depan kita gelap, jika Ia berjanji akan berkat-berkat bagi masa depan kita yang cemerlang.
Kita semua bisa berkata “Bukankah Tuhan mengasihi kita apa adanya?”
Yah Tuhan memamang mengasihi semua manusia, mengasihi kita apa andanya, tetapi tidak selalu ingin membiarkan kita menjadi sekedarnya, IA ingin kita lebih dari seadanya.
Ia ingin kita lebih dari seadanya.
Ia ingin kita lebih dari apa adanya.
BUKAN SEKEDARNYA
Sebab Allah punya tujuan dalam hidup kita dan tujuanNya agar kita menjadi serupa dengan gambaran AnakNya.
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula , mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
13/7/2011 5:10 PM
Markus AP
Ditulis dari seorang anak dan hamba yang masih memiliki sifat-sifat buruk yang sedang dalam proses dan proses.

(1 votes, average: 4.00 out of 5)

Similar/Related Posts