Aku Yang Diam
“Aku ingin diam, berfikir, merenung, mungkin menangis”, kataku.
“Ok, jangan banyak berfikir”.
Aku keluar dari ruanganku yang sepi, menuju lantai paling atas gedungku, terdiam dipinggir gedung, menatap rumah-rumah, gedung-gedung, kesibukan dan kehidupan dibawah sana.
Langit cerah, tidak mendung, seakan langit tidak mengetahui apa yang aku rasakan, siapa yang bisa merasakan apa yang aku rasakan?
Semua orang hanya akan bilang “Tuhan yang bisa”
Maksudku selain “Tuhan”.
Adakah manusia yang bisa?
Adakah yang bisa mengetahui isi pikiranku, isi hatiku, apa yang aku rasakan, apa yang aku hadapi, apa yang aku lalui, mengetahui seluruh perasaanku, harapanku, dan keinginanku?.
Di hari dan detik aku tak tahu kehendak Tuhan, aku bingung, aku tidak bisa menjawab, adakah yang bisa mengetahuinya?
Aku harus bersabar, karena katanya kasih itu sabar, dalam pertimbangan hatiku memang aku membutuhkan kesabaran, aku yang selalu dinamis, tiba-tiba seperti kakek-kakek yang menunggu kematiannya.
Logikaku bertempur dengan rasa tenangku, yang kadang bercampur dengan rasa sedih.
“Sabar?”
“Sabar sampai kapan?”
“Sabar untuk apa?”
Dan suara lain berkata
“Berdiam dirilah dikakiKu”
“Sabar, baru begitu saja…AKU berjam-jam tergantung dipaku, itu belum seberapa”
“Tapi bukankah kasih artinya sabar menangung segala sesuatu…”
Aku diam…logikaku diam….
Aku harus sabar…sabar yang sementara ini aku pahami dari definisi manusiaku.
Aku harus sabar…walau logikaku berkata “Sabar?” “Sabar sampai kapan?” “sabar untuk apa?”
Aku ingin marah tetapi aku tak bisa marah. Karena kasih tidak boleh marah.
Aku ingin kesal tetapi aku tak bisa kesal. Karena kasih tak boleh kesal
Aku ingin lari tetapi kataNya aku tak boleh lari. Kalau aku lari aku tak sabar.
Aku ingin berbicara tetapi aku tak bisa berbicara. Aku tak punya hak apapun.
Aku seperti domba yang diikat dan siap disembelih.
Aku seperti dibalik teralis penjara, memliki segenap harapan tetapi aku tak dapat mewujudkannya, karena aku terpenjara, hak ku direngut.
Adakah yang bisa melihat ini semua?
Adakah yang bisa memahami rasa berat, tekanan yang tak enak diulu hati, sesak, napas yang tersengal, seakan ada yang menganjal didada ini.
Ini masih tidak seberapa, aku pernah mengalami yang lebih berat dari ini, aku mengalaminya bukan hanya sehari, lebih dari sehari tetapi selama lebih dari delapan bulan lamanya merasakan hal yang tak enak itu, aku menjadi diam, terdiam, menahan, berusaha, berjuang, sering kali tak sanggup, sering kali berusaha kuat…akhirnya aku menyerah, bukan aku, lebih tepatnya tubuhku yang menyerah dan aku harus terbaring di sebuah kamar dilantai 3, gedung Semar rumah sakit St.Caroulus.
Yah adakah yang bisa?
Adakah yang bisa?
Adakah yang bisa?
Adakah yang bisa merasakannya, merasakan bukan hanya melihatnya, mencoba memahami tetapi hanya sebagian, tapi ia menjadi aku, aku menjadi dia.
Ia benar-benar mengalami segenap apa yang ada didalamku.
Ia akan memahami semua pikiranku, berproses sama seperti pikiranku , pikiranku yang dapat bekerja seribu proses dalam sekian mili detik
Ia akan melihat semua apa yang aku lihat, aku melihat sesemua hal yang orang lain tak bisa lihat.
Ia akan melihat semua yang aku rasakan, walau aku sering tidak terlalu mempercayai apa yang aku rasakan.
Ia akan melihat semua yang aku lakukan bagi yang aku cintai, bukan dari sebuah teori-teori, tetapi dari realitas-realitas keseluruhan diriku yang mencintai seseorang dengan keseluruhannya.
Baiklah, aku tak perlu meminta ia menjadi aku, aku menjadi ia.
Bisa kah ia merasakan aku yang berat didada ini, sedangkan ia disana jauh tiba-tiba merasakannya.
Seperti aku pun bisa merasakannya.
Kata “Ia” disini bukan ia dalam sebuah pemahaman satu orang, tetapi berlaku bagi semua orang.
Seorang pernah bertanya…kenapa kau bisa begitu.
Aku menjawab “karena aku pernah menyakiti seseorang yang kucintai karena sebuah kebodohan kecil, karena hal kecil ia marah, ia menangis, ia kecewa, ia mengalami sakit didadanya, ia tak henti-hentinya menangis, sekalipun aku berusaha memeluknya menenangkannya, aku berusaha, tapi detik itu aku tiba-tiba tahu apa yang dirasakannya, aku bukan tahu, tetapi merasakannya, aku seketika menjadi dirinya, aku seperti seseorang yang tiba-tiba bisa melihat kedalam pikirannya dan perasaannya…aku seperti Clark Kent yang tiba-tiba berubah menjadi Superman yang memiliki kekuatan yang baru.”
Tapi aku bukan superman.
Aku hanya manusia biasa, seorang laki-laki biasa.
Hari itu aku pun menjadi sedih, dan kecewa dengan diriku, dan sejak saat itu, itulah titik balik aku tidak ingin melakukan tidakkan bodoh apapun.
Aku bertekad membahagiakannya (walau akhirnya ia menyakitiku), kemudian hari aku selalu bertekad bahawa kebahagiaan orang-orang yang kucintai lebih penting daripada kebahagiaanku sendiri.
Hari itu pulalah “Integritas” “Kesetiaan” menjadi yang tertinggi bagiku.
Seberapa pun aku dikecewakan, aku tak pernah ingin mengubah apa yang mengubahku itu, kembali lagi menjadi lebih buruk.
Satu kakiku menjuntai dipinggir gedung, sedangkan kakiku lainnya menapak disisi dalam gedung, jika ada angin keras menerpaku, mungkin aku akan jatuh seketika, aku membayangkan aku yang jatuh dari atas gedung, merasakan detak-detak ketakutan yang hanya sepersekian detik, lalu diam, aku tak ada, seketika pergi kelangit.
Berakhirlah apa yang aku rasakan, berakhirlah juga perjalanan.
Ah gila, aku memikirkan itu aku jadi benar-benar takut, tapi bukan aku yang membunuh aku, tapi angin, Tuhan, yah Tuhan lewat angin.
Ingat, aku tak membunuh diriku, tetapi ANGIN.
Lalu aku membayangkan aku didalam peti, yang belum ditutup, semua orang yang kucintai hadir, semua orang menangis.
Kedua malaikat kecilku mungkin menangis, ia tak bisa lagi bermain PS bersamaku, ia tak bisa lagi meminta susu coklat yang selalu ku simpan di kulkas, ia tak bisa lagi memintaku untuk memandikannya, main kuda-kudaan, atau pergi ke Time Zone.
Aku tak bisa melihatnya tumbuh besar menjadi laki-laki hebat dan kuat seperti yang aku harapkan, tapi aku akan melihatnya dari sana, diatas sana dirumahku dari batu yang berisi banyak buku-buku.
Sahabat-sahabatku harus hidup dengan tidak lagi mendengar pendapat-pendapatku, pemikiran-pemikiranku, dan aku tahu siapa-siapa yang akan sangat terpukul dan hidupnya tak akan sama lagi setelah peti itu ditutup.
Entah siapa lagi yang akan menangis? Siapa lagi yang akan merasakan betapa tidak menyenangkannya setelah kepergiaan yang tiba-tiba itu.
Saat hidup manusia nampak tidak berarti,tetapi jika manusia akhirnya hanya bisa meninggalkan namanya, dan jasadnya bercampur bersama tanah, mungkin semua hal akan menjadi nampak lebih jelas apakah arti satu orang bagi kehidupan banyak orang. Apakah arti satu orang bagi kehidupan seseorang.
Aku sempat berfikir semua itu.
Aku membayangkan aku yang terbaring didalam peti. Aku yang berakhir mengarungi perjalanan kehidupan ini. Aku yang mencapai garis akhirku, dengan segenap kekuatanku menjadi yang Ia inginkan.
Tapi waktu ku belum berarkhir.
Aku cuma membayangkan itu terjadi.
Bayangan yang sejenak menakutkan, tetapi kemudian tidak menakutkan bagiku. Karena semua orang dapat mengalaminya, aku harus siap atas apa saja yang akan terjadi.
Tetapi tak ada angin yang meniupku jatuh
Sayang tak ada angin, benar-benar sangat disayangkan tak ada angin, kenapa tak ada angin….dan memang Tuhan tak ingin ada angin.
Karena Tuhan hanya ingin aku diam, merenung, berdoa kepadaNya walau aku merasakan segala rasa berat, tekanan yang tak enak diulu hati, sesak, napas yang tersengal, seakan ada yang menganjal didada ini.
Aku berfikir dan berfikir, aku merenung dan merenung, tanpa ada jawaban…akhirnya Aku berdoa dan berdoa.
Dalam segala ketidak tahuanku aku harus seperti apa lagi.
Berdoa…untuk kesegeraan kekuatanNya.
Entah berdoa apa lagi….karena aku hampir lupa apa yang aku katakan, karena IA sudah tahu apa yang aku inginkan.
Lalu IA berkata “bertahanlah”.
18/7/2011 5:39 PM
Markus AP


Similar/Related Posts