research
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
Parodi : Life Is Choices
By. marcus . June 25th, 2011 at 12:47 pm
handbook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Parodi : Life Is Choices

     Obrolan ini terjadi siang ini, baru saja.
    Sambil bernyanyi kecil saya menunju toilet, jangan nanya mau ngapain saya ke toilet, dan jelas ada alasannya saya ketoilet…perlu dijelasin?, tentu tidak.
    Kalau ke toilet ya tentu ada alasan jelas, tidak mungkin ke toilet karena disana saya mau makan. Ya ngak…
    Sesampainya saya di toilet, tanpa sengaja seorang manager juga ada di toilet itu…
    Ia menyapa saya sambil bertanya.
    “Gimana cus…baik?”
    “Luar biasa” kata saya… (kaga tau aja dia apa yang gue rasa)
    “Bagus  dong”
    “Walau ada yang gak enak, harus luar biasa…”.
    “Ya begitu…harusnya…”
    “Gue kan belajar, dan harus terus belajar walau ada yang gak enak harus dihadapin dan harus terus tersenyum”.
    “Ya hidup itu belajar dan terus belajar…”
    “Ya harus belajar…”
    “Ya dan hidup itu pilihan” katanya….
    “Yak tepat sekali, seperti gue selalu bilang, life is choice dan setiap pilihan punya konsekuensi yang harus dihadapi, jadi kalau memilih tapi tidak berani menghadapi konsekuensi pilihan ya itu namanya gak siap untuk memilih”.
    “Ya bener…, Tuhan sudah memberi segalanya, jadi pilihan kita untuk jadi pinter, atau bodoh, jadi berhasil atau tidak”
    “Atau bahagia juga pilihan, mau milih bahagia atau tidak”. Kata saya.
    “Ya bener…”
    “Dan jangan salahin Tuhan jika kita tidak memilih, sama seperti ikan sudah tersedia dilaut, kita lapar tetapi tidak mau berusaha mengambil ikan, ya salahnya sendiri”.

    Kita keluar dari toilet dengan bahagia…seperti dua orang bijak yang sedang berbicara dan mendapatkan pencerahan (walau biasa-biasa aja pencerahaannya).
    Sempat saya berkata…
    “Itu yang gue demen dari lo pak, bisa bicara begini…”
    Kalau dibilang jujur hari-hari saya beberapa hari ini benar-benar tidak menyenangkan, ibarat naik roller coster, naik turun, baik turun, maju mundur, kenceng lambat, tapi saya jalani, dan hari ini malah benar-benar makin tidak menyenangkan…tapi ke toilet tadi saya masih bisa nyanyi-nyanyi.
    Saya tidak pasang tampang cemberut, saya tidak cari korban untuk saya maki-maki di kantor, bahkan saya duduk-duduk santai sambil ngopi pagi ini.
    Entah apa kenapa saya bisa begitu hari ini…(mungkin karena campur tangan Tuhan)
    Apa karena sedang dapat pencerahan, atau sedang dibukakan kebenaran…entah lah.
    Tapi yang jelas, saya bersyukur karena ada seorang sahabat yang mengikuti perkembangan dari diri saya dari malam sampai pagi ini.
    Thank you ya mommy Anna, untuk support kesabarannya big grin . big hug big hug

    Baiklah…
    Kembali ke laptop…
    Hidup itu pilihan, kata kebanyakan orang, bagi saya hidup itu bukan hanya pilihan, tetapi pilihan-pilihan.
    Tak ada dalam hidup ini tanpa pilihan.
    Mau makan saja kita bisa milih….tentu milih yang enak..gak mungkin kan kita mampu makan enak tetapi malah milih yang gak enak…Kalau duit kurang banyak, yah enak sesuai dengan duitnya. rolling on the floor rolling on the floor
    Hanya lahir, mati saja yang tidak bisa milih….karena itu dipilihkan Tuhan, saya lahir dikeluarga saya sekarang ini saya tidak bisa milih…tetapi saya bersyukur, karena saya punya keluarga yang mengajarkan saya untuk jadi laki-laki kuat dan berpegang pada prinsip-prinsip dan kebenaran.
    Nanti kalau saya pun dipanggil pulang, saya tidak bisa memilih kapan atau dimana, atau seperti apa caranya…itu jelas saya tak tahu, apalagi meminta ditunda…jelas saya tak dapat menunda panggilan pulang itu. Saya hanya bisa siap menunggu saat-saat itu.
    Jadi jelas hanya ada dua hal yang tidak bisa dipilih oleh kita.
    Jadi semua hal dalam hidup pilihan, kecuali dua tadi.
    Kalau begitu, kita sukses, kita pinter juga pilihan, memilih jodoh, …bahkan kita bahagia pun itu pilihan.
    Banyak orang berfikir bahwa kebahagiaan itu anugrah…
    Dan kalau tidak dapat anugrah ia berkata “Tuhan belum kasi kebahagiaan”.
    Koq Tuhan disalahkan dalam hal ini? Lucu….
    Tidak tidak begitu…
    Tuhan memberikan kita hati, pikiran, tindakan, untuk mengapai kebahagiaan…untuk melakukan apa yang baik buat kita.
    Kan jelas ada pepatah berkata “Tuhan tak akan mengubah nasib seseorang sampai seseorang itu mengubah dan bertindak untuk mengubah nasibnya”.
    Pertanyaanya siapa yang sudah mengapainya? Siapa yang berusaha untuk mengubah? Siapa yang sadar untuk mencapainya?
    Begitu juga dengan jodoh, kita bisa mencintai seseorang…berkata cinta…eits…anggap saja lah bukan cinta, tetapi perasaan, perasaan mendalam (sebab kan sebagian orang gak tau apa itu cinta), ia bisa memiliki perasaan atau apalah istilahnya, ia bisa untuk melakukan itu, tetapi perasaan itu tidak serta merta hanya pada perasaan saja.
    Ia pun lalu memilih, apakah aku akan memberikan status, atau menjalani perjalanan bersama orang yang tadi “dicintai”.
    Atau kemudian maju ke hal-hal lain. Atau mau jalan-jalan aja ditempat. Tapi ini saya loh, bisa jadi orang lain berbeda dengan saya.! No Comment Wis!
    Jadi hidup bukan hanya pilihan, tetapi pilihan-pilihan…(bukan single tapi jamak).
    Bahkan berani memilih dari sebuah pilihan itu juga pilihan…artinya kita memilih sesuatu, dan saat memilih itu kita berani, berani pun juga pilihan. Bahkan tidak memilihpun atau lari dari pilihan pun itu juga pilihan. Jadi semua hal pilihan.
    Jika ada yang berkata ia tak punya pilihan…”salah”. Karena hidupnya telah disediakan pilihan-pilihan. Bahkan firman Tuhan berkata “Mau kekanan atau kekiri pilihlah, berkat atau kutuk”. Dapat diartikan, mau buat hidup ini baik atau tidak baik. Pokoknya semua pilihan deh. big grin

    Maka jika seseorang sudah memilih, berani memilih, ia harus juga siap untuk menjalani, ia juga harus siap memilih untuk memberikan yang terbaik atau menyia-nyiakan apa yang sudah ia pilih.
    Artinya sebuah pilihan ia harus menghadapi pilihan-pilihan lainnya.
    Ini contoh saja…
    Jika saya memutuskan untuk bekerja, maka saya harus bertangung jawab pada pekerjaan dan bekerja semaksimal mungkin. (Lihat ada pilihan-pilihan dari sebuah pilihan).
    Tidak mungkin saya mau bekerja, lalu saya malas-malasan, seenaknya.
    Artinya saya tidak cukup bertangung jawab atas pilihan saya yang pertama.
    Contoh lainnya…
    Jika saya siap menjadi suami, maka saya juga harus sadar dan siap memilih sikap hidup saya dan semua tindakan saya harus menjadi suami yang baik.
    Bukan begitu bukan?

    Contoh lainnya lagi…
    Jika saya mencintai seseorang, maka jelas saya akan memberikan hati saya, perhatian saya, semuanya, bahkan uang saya, tangung jawab saya, niat baik saya, bahkan saya berusaha membangun hubungan itu baik, menjaga hubungan itu baik…bahkan mengusahakan kebaikan bagi hubungan itu. Saya mencintai dan bertindak mencintai.
    Lihat berapa banyak pilihan yang saya ambil dari sebuah pilihan?
    Jelas tidak mungkin jika saya memilih mencintai seseorang lalu saya menyakiti orang yang saya cintai…bahkan tidak terpikir oleh saya untuk tidak menjaga perasaan dan hatinya…sangat tidak mungkinnnnnnn.

    There is no love without balance action, because if you love someone you must act to love someone, but if you love someone but you hurting him it’s not love – Markus AP

    Lucu kan masa saya bertindak “Ohhh im so love you” or “I have deep feeling for you” tiba-tiba tindakannya berlawanan.
    Jika pilihan lalu hasilnya berlawanan    , saya jadi bertanya…saya jadi bingung, mumet.    
    Kalau gitu pertanyaanya itu milihnya udah dipikir atau cuma lip service (maap)?.
    Apa jangan-jangan kita masih saja belum bisa mengambil konsekuensi dan bertangung jawab atas apa yang kita pilih. Tapi bisa jadi  ngelesnya bilang “Kan gue gak pernah milih toh kang”.

    Maka jika saya sudah memilih untuk mencintai, saya juga harus siap untuk menerima yang baik dan buruk.
    Jika kemudian hari saya disakiti…ya saya harus terima (sakit sih sakit, bisa sampai nangis darah rolling on the floor rolling on the floor ) tapi saya harus siap untuk menegarkan diri…gak perlu mewek-mewek melas-melas dan mohon-mohon.
    Saya selalu diingatkan dengan quote saya sendiri dan yang saya selalu sering dengungkan…

    Love is a painful risk to take but the risk must be taken no matter how scary or painful, for only then you’ll experience the fullness of humanity and that is love. Only love can hurt your heart, fill you with desire and tear you apart. Only love can make you cry and only love knows why. If you’re not ready to cry, if you’re not ready to take the risk, if you’re not ready to feel the pain, then you’re not ready to fall in love.

    Dan menjadi diri yang kuat itu juga pilihan…pilihan yang harus saya ambil.
    Sama seperti saya harus memilih, untuk menjadi seseorang yang sabar, karena ajaran dalam agama saya, Kasih itu sabar (maklum abis denger dari pendeta berkobtah tentang sabar), bahwa kasih itu sabar, tidak cemburu, tidak pemarah.
    Sabar…baik im pass this…diperlakukan apa saja saya terima…
    Tidak cemburu….baik, walau susah saya harus terima…
    Tidak pemarah….baik, walau tidak mudah saya harus meredam kemarahan saya…baik saya jalani…
    Susahnya boooo….
    Tapi kan saya sudah memilih untuk menjalani apa yang firman Tuhan katakan…
    Tapi kasih (yang diajarkan agama saya) juga , “tidak menyimpan kesalahan orang lain, Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”
    Yang artinya, baik saya berusaha sabar, tidak marah, tidak cemburu, tetapi saya juga tidak boleh menyimpan kesalahan orang lain dan membiarkannya saja, jika saya melihat kesalahan saya harus menegur…ya saya harus lakukan itu, (tentu dengan niat baik membangun)…, lalu saya juga tidak bisa diam saja atas ketidak adilan, dan jika ada kebenaran yang dilindas, saya diam saja…
    Itu namanya bukan kasih…kita tidak bisa mengambil definisi kasih itu tadi sebagian-sebagian…harus genap, harus sepenuhnya.
    Dan jujur tidak mudah menjadikan diri saya pada koridor yang ada diatas….
    Susahhhhhhhhhhh, sakittttttttt, tidak enak…..
    Orang lain bisa menyakiti saya, saya bisa memaafkan, walau sulit saya pasti maafkan, jika ia datang mengakui kesalahan saya akan maafkan (karena ajaran agama saya mengajarkan untuk mengampuni)…, tetapi jelas mengalahkan diri sendiri itu tidak mudah, sama seperti membuang ego, menjaga diri dan hati orang lain juga tidak mudah.
    Tapi sesakit-sakitnya, saya harus terima atas apa yang saya pilih toh…saya harus berperang melawan diri saya, itu yang saya pilih.
    Tapi perlu diingat, walau saya sabar , sanggup menanggung segala sesuatu dan lain sebagainya, tetapi saya tidak bisa membiarkan kebenaran dilindas, ketidak adilan dibiarkan, kesalahan juga ditutupi atau dibiarkan saja.
    Dan itu juga pilihan…
    Dan jelas pilihan saya, saya harus melengkapi semua yang dikatakan oleh kebenaran tadi.
    Jika saya pun salah, saya memiliki pilihan, menundukan ego saya untuk meminta maaf atas kesalahan saya, dengan bukan berkata “jika saya salah saya minta maaf”, tetapi “karena saya salah, saya minta maaf, saya sadar kesalahaan saya”, maka saya harus memilih berani meminta maaf.
    Ini pun juga pilihan yang harus saya ambil.
    Maka bagi saya sendiri…dalam hidup saya, saya selalu membuat pilihan-pilihan, mengambil pilihan-pilihan. DAN menerima apapun konsekuensi dari pilihan saya. Baik buruk apapun itu.
    Dan semua pilihan yang saya ambil adalah pilihan-pilihan logis, rasional, sekalipun nampaknya tidakkannya extrim, tetapi atas sesuatu yang rasional, saya kadang harus mengorbankan diri saya dengan tidakan-tindakan tadi.

Kesimpulan : hidup itu pilihan-pilihan, dan yang diperlukan mengambil setiap pilihan adalah keberaniaan (ketegasan), dan setiap pilihan memiliki konsekuensi yang harus dijalani, diterima.

    Nah setelah membaca tulisan saya …bagaimana dengan anda?
    Sebab anda dihadapkan pada pilihan juga…
    Pilihan anda hanya ada tiga, membiarkan saja sambil lalu, belajar dan mengubah, atau malah menyengajakan diri mengambil jalan yang berlawanan dengan apa yang saya katakan….itu pilihan juga toh?.

    Semua terserah anda…it’s your life is your choices.

    25/6/2011 12:36 PM
    Markus AP

 

Life not just choice but choices – Markus AP

We are what we choose – Markus AP

You control you life, you change your life, and to control or to change your life you need to choose to control/change it or not to control/change it – Markus AP

God give you heart and brain, use it, to choose wisely – Markus AP

Every aspect of your life is about to choose, to choose the best for you – Markus AP

GOD never touch or interference with your free will, what is free will? free will is the power to choose for your own life – Markus AP

partner

38 Responses to “Parodi : Life Is Choices”

Arghhhhhhhhhhhhhh Ich hasse dich,,,Ich hasse dich, Ich hasse dich, wenn du stur at wits end suit your self

@irh : happy please don’t be mad at me, just pray for me happy

Life is a choice …. Marky … I have no idea what happen to you ..one thing for sure I always hope the best for you…
*BB lo gak aktif …lagi semedi ya? panik nih*

@Shandra : Don’t worry darling, im okey…good guy will not be easy to lose! hahahaha apaaannn coba…

touching banget bacanya sampe mewek. crying ntah kenapa takut sama pilihan yang salah atau gimana
untungnya ya nemu yg beginian sedikit membuka mata dan hati insyaAllah. bismillah aja dah thank you cus for share this awasome one love it hehe big grin

@dewi : bless u … bless u, bless u can open your heart and learning…may GOD be with you… happy

Very nice insight… Now i can live my life in a different way… Keep it a good work Markus,..hihihihi

@Erika : thank you for your comment, i wish this will use for you ..

Leave a Comment

 
search

careers
guidelines
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation