advertise
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
newse-mail
Menilai Karya Photo
By. marcus . June 18th, 2011 at 7:22 pm
home
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Menilai Karya Photo

    Hari ini saya jadi sedikit melirik kedunia seni dan insan yang berkeseniaan, (pada khususnya pada media photography), sejak awal photography ditemukan, photography menjadi satu-satunya yang mungkin panjang diperdebatkan apakah karya yang dihasil dari kamera itu dapat disebut seni. Karena jelas berbeda dengan seni lukis atau patung, atau seni tari dan seni lainnya.
    Pada seni lukis karya yang dihasilkan oleh seni lukis tidak tergantung pada alat yang bernama kuas, jika Picaso menciptakan sebuah lukisan dengan kuasnya berbeda dengan Susmiadi, pelukis bulu dari Sanggar Seni Kreatif di Jember, Jawa Timur yang menciptakan sebuah lukisan dengan bulu, jadi jelas kuas bukan sesuatu yang mutlak menciptakan lukisan.
    Itu kenapa seni pada kesenian lain selain photography ekspresi berkeseniaanya menjadi nampak jelas, bahkan harus, kalau dapat malah harus nampak baru dan mendobrak. Atau kalau bisa memberikan Cultrue Shock seperti yang dikatakan Dick Hartoko, dalam Bukunya Manusia dan Keseniaan.
    Itu kenapa karya Popo Iskandar, dengan deformasi yang mengandalkan efek-efek goresan yang spontan dan transparan, karya nya berobyek kucing seakan baru bangkit dari tidur dan mengibaskan badannya.
    Atau karya Van Gogh, yang Impresionis, walau pada perkembangannya ketidakpuasannya terhadap pengekangan ekspresi seni oleh pakem impresionisme membuat ia beralih menjadi ekspresionisme.
    Berbeda dengan photography, photography jelas multak membutuhkan kamera sebagai alat, untuk menghasilkan sebuah foto. (pin hole camera juga termasuk kamera walau cara kerjanya primitf).
    Itu kenapa dalam photography (bahkan dalam semua pendidikan photography), pakem-pakem (golden rule), untuk menghasilkan sebuah foto menjadi sesuatu yang harus, mutlak untuk dipelajari dan ada dalam sebuah karya foto.
    Saya tidak menentang adanya pakem-pakem dalam photography, seperti komposisi, framing, prespektif, warna, gelap terang  dan lain sebagainya, sebab semua ini pun ada dalam seni visual pada umumnya (bahkan diajarkan kepada mahasiswa seni rupa).
    Tapi pertanyaan saya, apakah seni atau berkeseniaan dalam photography hanya berkutat pada persoalan pakem?.
    Misalkan “Foto ini bagus karena harus ada framingnya, karena komposisinya begini dan begitu.”
    Sedangkan jelas photography yang disebut manjadi bagian dari seni visual, harusnya jauh melihat itu, melihat bahwa karya foto merupakan karya yang dihasilkan dari ekspresi berkeseniaan seseorang.
    Baiklah, semua pakem memang telah jelas tertulis dan perlu dilakukan bagi photographer muda untuk mengasah dirinya menghasilkan sebuah karya “BAGUS” atau “INDAH” atau “CAKEP” (tetapi tidak selalu harus bagi photographer yang berkembang mengeksprorasi jagat imajinasinya atau dirinya, karena jelas masih ada sense, feel, rasa, gaya/style dan ekspresi photographer untuk dapat menghasilkan sebuah karya, dan harus dicatat, hal ini pribadi sifatnya, subyektif tidak dapat di obyektifkan atau dipakemkan).
    Maka perlu diingat Indah cakep dan bagus tadi, relative loh menurut sudut pandang siapa yang melihat?.
    Secara teknis mungkin bisa dilihat dan dinilai, dan memang indah dan cakep itu dipengaruhi oleh sisi-sisi teknis atau pakem tadi tetapi tidak mutlak.
    Lalu bagaimana dengan feel, rasa, soul, ekspresi seseorang yang diletakkan kedalam karya fotonya?.
    Apakah ini sudah didefinisikan secara jelas? Tidak.
    Feel seorang photographer berbeda dengan photographer lainnya.
    Gaya seseorang photographer berbeda dengan photographer lainnya.

    Sama dengan apakah juga keindahn tubuh wanita (misalkan) hanya bisa diekspresikan dengan sosok gambar wanita telanjang dada? Jelas tidak juga sebab saat kita bicara penekspresian sesorang lewat karyanya, pakem-pakem dan keharusan-keharusan itu benar-benar bisa dilangar.
    Saya selalu berkata “Ekspresi” tidak dapat dibelengu oleh aturan pakem-pakem.
    Atau malah-malah jika kita terus-terusan berkutat pada persoalan pakem-pakem dan teknis, kita malah jadi Tukang yang memang mengerti jelas keteknisan, dibandingkan menjadi seorang seniman yang mencoba mengekspresikan sesuatu bahkan keluar dari kebiasaannya yang teknis, untuk menjelajah dunia rasanya (bisa jadi imajinasinya, feelnya, soulnya, entah apalah yang dirasakan si pencipta sebuah foto tadi)

    Saya pernah membuat sebuah catatan seni tentang karya Edward Weston (salah satu ulasan saya saat saya studi tentang Erotisme photography), catatan ini saya buat karena saya tertarik dengan studinya dengan erotisme itu sendiri, dan yang menarik dari apa yang Edward Weston lalukan, bahwa ia menghasilkan karya-karya erotisnya bukan dari tubuh-tubuh wanita (atau pria) yang telanjang dada seperti kebanyakan photographer studi tentang erotisme (anatomy) atau nude photography,
    Edward Weston malah membuat karya-karya erotisnya dari benda-benda yang jelas bukan wanita, tetapi menurut prespektifnya melihat (bahkan kita), nampak seperti lekuk tubuh wanita (misalkan).
    Saya bisa menyebutnya sebagai salah satu pioner studi tentang erotisme. Kita bisa temukan karya-karya weston, yang mengimplementasi beberapa hal yang ditemuinya dirumahnya dan memotretnya secara close up, pada benda-benda yang sedehana dan umum yang ia temukan maka kita akan melihat bentuk benda tadi akan nampak indah, erotis dan sensual, beberapa karyanya yang terkenal adalah nautilus shells dan green peppers, dan kita bisa menemukan dari obyek-obyek yang ditemui weston ini akan nampak sekilas seperti tubuh wanita/bodyshape…tapi memang tidak serta merta kita bisa menyebutkan bahwa karya-karya fotonya yang tadi merupakan karya Nude, sebab obyek yang dipilih weston pada saat itu bukan tubuh wanita tapi kita bisa melihat bahwa weston berusaha menemukan sesualitasi itu pada obyek non tubuh, alasan inilah yang membuat saya bisa dengan jelas menyatakan bahwa studinya akan erotisme sendiri tidak hanya ia explore pada tubuh itu sendiri tadi pada upaya menemukan sensualitas pada obyek lain,  salah satunya bisa kita  lihat pada karyanya Green paper…pada karya ini kita benar-benar bermain pada presepsi dan imajinasi kita, dan imajinasi tadi bisa memancing kita melihat sensualitas yang artistik…dan memiliki nilai estetika nya sendiri.
    “I have been photographing our toilet, that glossy enameled receptacle of extraordinary beauty. Here was every sensuous curve of the ”human figure divine” but minus the imperfections.” Edward Weston

Saya berfikir photography saat ini telah jauh lebih kaya, bukan karena teknologinya yang berkembang, tetapi seharusnya cara kita melukis cahaya lewat sebuah kuas kita yang disebut kamera telah menghasilkan sebuah “KARYA” (subyektif), untuk itu juga cara pandang kita kepada pengespresian tiap individu, tidak seharusnya dibelengu oleh pakem-pakem melulu. Tidak hanya melulu melihat foto sebagai hasil rekam kamera, tetapi sebagai KARYA pengespresiaan seseorang lewat kamera.
Untuk itu kita wajib membiarkan saja pengespresiaan seseorang berkembang sesuai dengan usahanya menghasilkan sebuah karya, untuk itu kita tidak bisa berkata kepada sebuah karya ini kurang feel, kurang soul, walau kita bisa berkata ini sedikit under atau ini kurang kekanan atau kekiri sedikit.
Tapi biarkan kita menilai mengapresiasi sebuah karya seseorang hanya ada di koridor yang teknis, dan mencoba menyelami prespektif berkeseniaan seseorang, melihat sudut pandang karya seseorang.
Saya masih ingat dengan Pak Tino yang pernah membawakan acara gambar mengambar dulu di TVRI, saat akhir acara pak Tino dengan baik hatinya selalu memberikan komentar “Bagus” kepada gambar-gambar anak-anak yang dikirimkan kepadanya, tentu saya berfikir, pak Tino tidak sedang berbaik hati menilai semua dengan bagus, tetapi pak Tino sendiri berusaha untuk mengerti melihat bahakan merasakan apa yang diespresikan anak-anak tadi, menghargai karya mereka sebagai usaha mengungkapkan dirinya lewat sebuah karya. Dan melihat juga mencoba mengerti sudut pandang penciptaan sebuah karya, sesungguhnya akan memperkaya diri penilai atau penikmat karya tadi.

18/6/2011 7:19 PM
Markus AP

Similar/Related Posts

Leave a Comment

 

participate
conditions
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation