Parodi : Interpersonal Harmony
Dalam segala level hubungan harus diakui memang tidak selalu bisa berjalan mulus, dan baik, rambut di kepala memang bisa sama hitam, tetapi sifat seseorang tidak akan pernah sama, apa lagi kalau rambut kepalanya udah putih maksudnya udah tua gitu loh *bukan disemir ya*, tetapi belum bijaksana juga, atau seseorang dengan tingkat egoisme yang tinggi, level pendidikan, strata social, dan lain sebagainya komunikasi dan hubungan itu akan lebih sulit lagi urusannya, urusan siapa bener siapa akan menjadi hal yang bisa dan sangat sering terjadi.
pusing dah loe.
Ini salah satu contoh saja.
Artikel saya kali ini yah mengajak kita untuk melihat, juga memperbaiki bentuk komunikasi, mendevelop diri agar bisa berinteraksi lebih baik.
Tentu semua itu proses yang tidak berhenti, dan dibutuhkan kesabaran extra.
Ok, untuk memperpendek basa-basi yang basi…kita mulai saja perhatikan cerita dan dialog ini.
[Sebelum mulai, catatan, kesamaan Tokoh pristiwa, apapun tidak bermaksud menyingung siapapun loh]
Suatu hari Pak Tarno baru saja pulang dari kantor, karena kesibukannya dikantor benar-benar padat, dari ngurus pegawai yang mingat bawa lari anak orang sampai ibu dari anak yang dicari itu datang kekantor ngomel-ngomel sama Pak Tarno, lalu ngurus juga stok kopi di pantry yang habis, sampai ngurusin gaji 657 karyawan yang belum dibayar pada protest, ditambah lagi dengan seabrek surat yang belum di tanda tangan karena admin nya cuti, dan omelan dari Direktur Utama yang gak mau tau pokoknya kerjaan harus beres.
Coba bayangin headache gak tuh si Pak Tarno…jabatannya sebagai Manager “Segala Macam Urusan”, tidak lah mudah…masih mending kalau dia cuma keliling bawa tongkat dan kotak sambil “Simsalabim jadi apa pok pok pok tolong ya”.
Heran kenapa juga urusan dikantor gak disulap aja….
Dengan sepeda motornya yang sudah tua, sampailah Pak Tarno dihalaman rumahnya, rumahnya sudah gelap, nampaknya sang istri tercinta dan cantik banget, sudah tidur…mungkin.
“Koq mungkin cus?”
“Ya iya lah emang gue ngintip Bu Tarno tidur apa kaga…”
“Iye ye
“
Teriaklah Pak Tarno kepada istrinya yang tercinta dan cantik banget tadi…
“Mahhh…”
Tak ada sambutan dari sang istri. Anak-anak sedang pergi ke rumah neneknya karena libur panjang, jadi rumah sepi, hanya Pak Tarno dan sang istri yang entah kemana kaburnya.
“Mahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”, Suaranya keras melengking…
Badannya yang lelah, karena perjalanan jauh kantor-rumah dan kepadatan pekerjaan membuatnya benar-benar capekkkkkk dan kesal.
*Pikirnya…ini mana sih mamah, koq gak ada….*
Lalu muncul lah sang istri yang cantik banget tadi, dengan dasteran, sambil berkata…
“Apa sih teriak-teriak…udah malem malu sama tetangga”.
*Pikir Pak Tarno…tetanga yang mana, wong kanan kirinya rumah kosong…”
“Mahhhh TOLONG bikinkan air panas, papi mau mandi, sama siapkan baju dan makan…”
“Papah itu kemana? Koq pulang jam segini udah jam 11 malam, makanan sudah saya masukin kulkas, bikin air sendiri lah…berisik aja, gak tau orang lagi tidur apa…lagi enak-enak mimpi ketemu Keanu dibangunin…”
Mendengar itu wajah pak Tarno merah padam, lalu saya berbisik sama pak Tarno “Sabar pak sabar….orang sabar disayang Tuhan…, sabar ya pak…”
Karena perut lapar dan sudah capek dan pusing…wajahnya gak lagi merah padam, tetapi juga biru, kuning, hijau.
“Koq biru kuning hijau cus”
“Iya…teserah gue dong”
![]()
Karena menahan sabar, pak Tarno akhirnya berkata.
“Mamah ini piye toh, papi ini baru pulang kantor capek, banyak urusan udah gitu banyak orang pada protest, kerjaan banyak…perjalanan jauh”.
“Lah terus” kata sang istri.
“Ya mbok ngerti…”
“Hmmm”
“Lalu…, koq berdiri sana aja…air nya mana, makan nya mana?”
“Ahhhh bawel…bikin sendiri…udah malem, capek…”
“Lah mamah emang kemana aja seharian…”
“Pergi Arisan, Spa, Shoping, ngabisin duit papah”.
“Hahhhhhhhhhhhh, kamu ke Spa?, Arisan? Ngabisin duit?”
“Papah ini loh ya, sudah malem, ganggu orang tidur aja…mana lagi ngimpi dibangunin”.
“Ngimpi? Ngimpi papi?”
“Ngakkkkkkkkkkkkkkkkkk”
“Loh koq gitu sih…”
“Napa!!!!”
“Mamah ini gak cinta apa sama papi”
“Auk ah gelap….”, Sambil ngeloyor masuk kamar…
Melihat itu, pak Tarno sedih,
, kalau bisa mewek pasti mewek, kalau bisa nangis pasti nangis….tapi karena badannya terasa lengket dan lelah, akhirnya ia masak air sendiri, ngangetin nasi sendiri, ambil baju sendiri, masak telor ceplok dan indomie sendiri….hatinya ngedumel, tapi pikiran masih kacau karena mikirin urusan kantor.
Kesian banget sih lu Pak, tau gitu mending sendiri aja…
“Lu ga boleh gitu cus…ngajarin ga bener….lu enak masih sendiri, lom ngerasain tar loe kalau ngerasain”.
“Yeyyiiii” ![]()
Setelah mandi, makan dan berberes, masuk lah Pak Tarno ke kamar…
“Mah…koq tidur…mami teh papi di pijit” *Manja bener Pak Tarno yak*
“Ogahhhhh”
“Mahhhh”
“Ogahhhhh”
“Cus cus…Pak Tarno ini orang sunda apa jawa sih…., tadi pake Piye toh, sekarang pake Teh”.
“Campuran kayaknya antara Jerman sama Prancis (Jejer Sleman dan Pinggiran Ciamis)……, lu tanya sendiri aja ma Pak Tarno”.
Malam itu tidak ada acara pijit-pijitan, tak ada acara mesra-mesraan, tak ada kemanisan-kemanisan yang menyenangkan, yang ada mereka membahas dengan sengit, disertai kengeyelan-kengeyelan masalah mimpi, pijit, air panas, 657 karyawan protest, arisan, duit abis dan lain sebagainya….sampai subuh….
![]()
OK CUT…saatnya serius….
Sebab kalau diterusin tar kapan saya jelasinnya….yang ada dengerin orang ribut gak jelas kemana arahnya….mumet kan…
![]()
Dialog seperti diatas dapat terjadi dalam rumah tangga, bahkan disegala level berhubungan.
Anda bisa diskusikan, perhatikan obolan diatas apa yang salah, dan kenapa konflik bisa terjadi, untuk mengembangkan kemampuan kita berkomunikasi.
Seperti saya sampaikan diawal, bahwa rambut kepala bisa sama hitam, tetapi tidak semua orang bisa punya sifat yang sama.
Setiap orang punya batasan-batasan yang berbeda-beda, punya kesabaran yang berbeda, punya daya tangkap komunikasi yang berbeda, punya presepsi-presepsi yang berbeda, punya kadar egoisme, sifat, level pendidikan, strata sosial yang berbeda. Tidak semua orang bisa memiliki kesamaan dalam segala hal dengan diri kita. Dan tiap orang memiliki keinginan di apresiasi, dihargai, yang berbeda-beda.
Dengan semua hal yang serba berbeda tadi, komunikasi dan hubungan baik kita dengan orang lain (bahkan yang terdekat sekalipun) tidak lah mudah.
Berkali-kali dalam banyak kesempatan saya selalu berkata bahwa dalam segala level berhubungan baik atau (interpersonal relationship), dibutuhkan tiga bagian (menurut saya) yang penting untuk selalu di kembangkan dalam diri kita.
SALING….belajar. Yang artinya, bahwa dua hubungan manusia, selalu melalui proses interaksi dan belajar, maka akan lebih baik proses interaksi itu dipenuhi selalu keinginan belajar tentang pribadi yang satu dan lainnya. Akan sangat menarik mempelajari sifat, hubungan dan lain sebagainya dari orang lain, selain memperkaya diri kita juga sekaligus, merefleksi diri kita, mengambil yang baik bagi diri kita.
SALING….menggerti atau memahami atau empati atau bersinergi. Yang artinya, kemampuan melihat, merasakan, berdiri tidak selalu disisi diri kita tetapi orang lain, mencoba melihat menurut kacamata orang lain. Bisa dikatakan kemampuan kita membaca “pikiran”, atau suasana hati.
SALING….berkomunikasi baik (baik verbal, visual). Yang artinya, memilih, mengunakan, dan menyampaikan baik kata, kalimat secara tepat, dengan cara yang baik dengan intonasi dan penyampaiaan yang baik dan tepat. Pengunaan kata “Tolong”, “Maaf”, “Terima Kasih”, dengan intonasi yang tepat, bisa jadi adalah cara awal mempelajari komunikasi yang baik. Menghindari pengunaan kalimat-kalimat yang tidak tepat, menyampaikan maksud/intention secara jelas dan tepat. Mengdiskusikan masalah jika terjadi masalah, menyampaikan pertanyaan dengan jelas (keterus terangan yang baik). Menghindai pembahasan-pembahasan yang tidak berarti, mengargumentkan hal-hal yang tidak perlu/kecil.
Maka dalam interpersonal relationship, kemampuan berkomunikasi, kemampuan memahami orang lain, kemampuan mempelajari sifat orang lain, menjadi sangat penting untuk diterapkan dan itu harus selalu terus di asah, dikembangkan, ditingkatkan…seperti yang saya bilang tadi dibutuhkan PROSES yang panjang…tapi apa salahnya jika kita harus melalui proses, demi kebaikan diri kita dan demi kebaikan kita dalam bersosial dan berinteraksi dengan sesama.
Kuncinya adalah kata SALING, dengan SALING, maka bisa ditemukan harmonisasi dalam berhubungan, tidak melulu “gue mau dingerti” “tidak melulu saya benar” “siapa benar siapa”.
Harmonisasi tadi termasuk didalamnya konsep win win dan melatih kesabaran, dengan konsep win win kita menemukan keselarasan dan kepentingan bersama, kebaikan bersama, tak ada yang dirugikan, tak ada yang dikalahkan, tak ada yang dicederai.
Lalu ada pertanyaan yang selalu muncul…”Gimana jika lawan atau orang lain tidak bisa mengerti tentang prinsip SALING ini”, jawaban saya, tentu kita tidak bisa menuntut orang lain memiliki pengertian ini, tetapi apa salahnya jika apa yang kita pahami ini, kita terapkan dulu untuk diri kita…bukankah menjadi pribadi yang lebih baik itu adalah hal yang baik…kita tidak perlu melihat orang lain…”koq gue terus, dia ngak…”, no no no.
Saya berkata bahwa …Every goodness must start from our self.
Sebab segala usaha yang membaikan diri kita sekalipun tidak dihargai orang lain atau tidak dipahami orang lain, tentu usah yang membaikan diri kita itu dipandang dan dinilai oleh Tuhan.
Selain itu, jika kita dalam mencapai sebuah perubahan baik dalam diri kita, baik sadar atau tidak sadar. Tentu suatu hari itu akan membawa efek positif bagi kita, maka tidak menutup kemungkinan kita akan dipertemukan dengan personal-personal lain yang memahami pentingnya SALING tadi.
Tentu harmonisasi tercapai dalam hubungan kita dengan pribadi-pribadi indah lainnya.
Social and interpersonal relationship harmony depends on effective communication – Markus AP
Jika kita mengembangan konsep berfikir positif efektif untuk menjalin hubungan yang baik maka interaksi sosial dan hubungan interpersonal kita dengan mahluk sosial lainnya juga akan menjadi hubungan yang harmony, indah, baik, saling menguntungkan – Markus AP
Our’s failure in relationship sometime it’s because bad intention dan mis interpret words, we need to develop our communication skill – Markus AP
We have two ears and one mouth so that we can listen twice as much as we speak. – Epictetus
Communication works for those who work at it. - John Powell
The way we communicate with others and with ourselves ultimately determines the quality of our lives - Anthony Robbins
Communication is depositing a part of yourself in another person. – Anonymous
28/5/2011 11:16 PM
Markus AP
Tulisan berhubungan komunikasi sejenis dapat dibaca di artikel saya yang lain.
Parodi : Sweety…Oh Tweety http://myblog.themarkusap.com/?p=1690
Sweet Communication (1) http://myblog.themarkusap.com/?p=225
Sweet Communication (2) http://myblog.themarkusap.com/?p=226
Buku-buku yang pantas dibaca
Don’t sweat small stuff – Kristine Carlson and Richard Carlson’s
Men From Mars Woman From Venus – John Gray
7 Habits of Highly Effective People & The 8th Habit – Stephen R. Covey


Similar/Related Posts