e-mail
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
news
Dear Olenka (cerpen)
By. marcus . May 17th, 2011 at 6:00 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dear Olenka

 

     Aku duduk setengah tertidur disofa di apartemenku, di Paris, kebosanan, kelelahan karena kesibukan seharian,  yang bisa kulakukan setelah segala kesibukan itu aku meracuni diriku dengan segelas Jack Daniel, lalu aku menghibur diriku sendiri dengan memainkan beberapa lagu dengan tenor Mark VI ku.
    Yah itu cara ku untuk mengusir segala kebosanan dan kelelahan.
    Lalu setelah itu membaca beberapa halaman kisah Olenka yang mencintai Kukin dalam karya Anton Chekhov, bagian yang ku suka dari kisah itu adalah saat  Kukin melamar Olenka.

    In the evenings and at night she could head the band playing, and the crackling and banging of fireworks, and it seemed to her that it was Kukin struggling with his destiny, storming the entrenchments of his chief foe, the indifferent public; there was a sweet thrill at her heart, she had no desire to sleep, and when he returned home at day-break, she tapped softly at her bedroom window, and showing him only her face and one shoulder through the curtain, she gave him a friendly smile …
    He proposed to her, and they were married. And when he had a closer view of her neck and her plump, fine shoulders, he threw up his hands, and said:
    "You darling!"
    He was happy, but as it rained on the day and night of his wedding, his face still retained an expression of despair.

    And I am in my own despair.

    Aku menunjukan keresahanku sendiri hari ini, malam ini aku benar-benar mengalami ketegangan yang tinggi saat menanti beberapa jam lagi saat yang penting bagiku, sudah hampir pukul 10 malam, dan aku belum dapat tidur.
    Sejak tadi sore berkali-kali aku menelfon Ria, menanyakan apakah semuanya sudah disiapkan dengan baik, apakah ada masalah dengan undangan, apakah semua bunga sudah siap.
    Hari ini aku tak dapat pergi memeriksa persiapan, dari siang aku memberikan kuliah terbuka disebuah hall atas undangan Nationale Superieure d’ ARTS, dan karena terlalu lelah, aku aku kembali ke apartemenku, aku membiarkan Ria mengurus semuanya sendirian.
    Aku mengangkat handphone dan menelfon Ria. Waktu itu juga…
    “Ayo angkat….”
    “Hellllooo” dengan nada pelan.
    “Sudah kamu siapkan buku tamu?, bagaimana undangan?”
    “Sudah Bosssss, ….you know what time it is?”
    “I know…10 PM, so what?, jadi bagaimana dengan undangan?”.
    “Sudah sudah sudah…..udah aku mau tidur…lelah masih ada yang harus dibereskan lagi esok pagi”.
    “Apa lagi yang perlu dibereskan?”
    “Banyakkk, dan aku mengurusnya sendiri”
    “Baiklah, uruslah…”.
    Tiba-tiba telpon ditutupnya…

    Aku ingin sekali dapat tidur…tapi malah pikiranku jauh pergi membayangkan Olenka, Olenka dengan yang berambut hitam terurai halus seperti sutra, dari bibirnya yang kecil sering terdengar tutur kata yang halus, manis, memberikan semangat yang membahagiakan dan tentu ia selalu dapat berkata dengan bahasa yang sopan, dan caranya berjalan yang paling ku suka melangkah anggun tegak seperti sedang berjalan diawan-awan, dari caranya berjalan tak menunjukan sedikitpun kelemahan atau kekacauaan.
    Wajahnya…entah…ia tak sekedar manis, tapi juga cantik, mungkin melebih kecantikan Afrodit, senyumannya mengalahkan Monalisa, keceriaannya mengalahkan bunga apapun diatas planet ini.
    Otak dan hatinya…itu yang paling kukagumi dari sosok Olenka…ia luar biasa…seperti arti namanya yang berarti diberkati.
    This name means that she is popular, loved by all who are not jealous of her beauty, smart when she puts her mind to things, athletic, and a multi-tasker who is sometimes over confident in themselves. Olenka’s are very good kissers and give amazing hugs. They are hard to gain trust from, and once you lose it, have fun getting it back.
    Tetapi Olenka dalam benakku bukan Olenka dalam cerita “The Darling” karya Anton Chekhov.
    Saat itu aku mendengar langkah kaki yang pelan menghampiriku. Tapi kemalasanku, enggan untuk melihat siapa yang datang.
    Lalu ia berbisik
    “Sayang, menantiku?”
    “Hmmm”.
    “Apa yang kau lakukan?” sambil pelukannya melingkari leherku.
    Aku hanya mengangkat buku yang ada disampingku.
    “Oh…Anton Chekhov, akhirnya kau membacanya”.
    “Ya, seharusnya aku membacanya dari dulu….saat pertama kali kau belikan buku itu”
    “Hahaha
    “Ada namamu didalam buku itu…”
    “Ya aku tahu…”
    “Olenka!!!”
    ”Ya”
    “Dan aku juga ada didalam cerita itu”.
    “Kukin?”
    “Ya, mungkin…walau itu bukan namaku”.
    “Tapi setidaknya Kukin yang mencintai Olenka”…katanya.
    “Jika Kukin mencintai Olenka yang itu aku tak perduli, tetapi jika Kukin mencintai Olenka yang ada disini, yang ada disisiku saat ini, aku bisa mati…, aku bisa menembakmu lalu menembak diriku sendiri….”.
    “Hahahahha” tawanya
    Sedang aku diam
    Lalu ia mengeraskan pelukannya, membaringkan kepalanya dikepalaku, lalu berbisik.
    “Kau terlalu berlebihan sayang…Olenka yang ini tak akan pernah mencintai Kukin manapun, selain mencintai mu, aku selalu mencintaimu…”.
    Aku tersenyum, tersenyum bahagia…
    “Bagaimana kau bisa menemukan buku itu?”
    “Aku dibesarkan dengan membaca Checkov atau Tolstoy, ayahku memberikan nama itu karena ia juga menyukai karya-karya Checkov”.
    “Begitukah?”
    “Ya…”
    “Bagaimana dengan mu hari ini? …”
    “Baik…, semuanya lancar, aku tadi bertemu Piere di Caffe, ia menanyakan kabarmu, aku heran kenapa ia selalu berkata ‘kau masih sama lelaki itu, siapa namanya….’ dan aku selalu sebal saat ia berkata itu, ingin sekali menampar pipinya, atau melemparnya dengan sepatuku….”
    “Oh………jangan lakukan itu sayang, aku tak perduli apa kata mereka”
    “Begitukah?”
    “Mungkin…”
    “Lalu bagaimana dengan ceramahmu hari ini?”
    “Baik…semua juga lancar, ada beberapa wartawan yang datang, sebagian besar Mahasiswa”.
    “Bagus lah…, tentu kau lelah hari ini….”.
    “Ya…”
    “Aku ingin mandi air hangat…lalu kembali padamu…”
    Aku tersenyum…
    Olenka melepaskan pelukannya, meninggalkanku, lalu masuk kedalam kamar….

    Aku mengenal Olenka, Olenka Ariadne Kotlovitch, lebih hampir enam tahun lalu, saat pertama kali ia melangkah anggun berdiri didepan backdrop warna hitam, di studio ku di Paris, saat itu aku akan melakukan shot untuk fashion spread sebuah majalah Fashion ternama.
    Sorot matanya, wajahnya, rambutnya, caranya menanyakan apa yang harus dilakukannya untuk bergaya, juga bagaimana ia begitu cepat menangkap maksudku, ia telah membuatku kagum kepada profesionalannya sebagai model baru.
    Ia lahir di Kharkov, dua puluh enam, dua puluh tujuh tahun lalu, anak seorang pensiunan guru masa pemerintahan Mikhail Gorbachev, mungkin masa kecilnya hidup dinegeri tirai besi yang keras membuatnya tegar didunianya sekarang, saat kepergian ayahnya, Olenka tinggal dengan pamannya di Kiev, sampai ia cukup dewasa untuk pergi kedunia barat, belajar dan bekerja sebagai model.
    Itulah kisahnya yang singkat…

    Setelah selesai sesi pemotretan itu aku mengajaknya keluar makan siang, ia menolaknya, karena ia baru mengenalku dan lagi ia masih ada pekerjaan yang harus ditepati.
    Aku sedikit kecewa……sejak pertemuan pertama itu aku tak lupa dengan mimiknya…tetapi kemudian ia hilang dalam benakku, sebulan kemudian.
    Dua bulan berlalu, seorang wanita melangkah anggun berdiri didepan kameraku, disebuah gedung lantai 4 di jalan Quai de l’Horloge, gedung yang sedang direnovasi, dan disewa untuk pemotretan fashion spread sebuah majalah fashion, gedung itu menghadap sungai dan jembatan atau jalan Pont Neuf.
    Wanita itu adalah Olenka.
    “Kau ingat dengan ku?”
    “Tentu…”
    “Baiklah kita mulai saja…”….
    “Ok”
    “Ok…light ready…”
    Aku menghentikan obrolan kita, aku dikejar deadline, maka harus kubereskan segera pemotretan hari itu.
    Setelah selesai sesi pemotretan itu aku mengajaknya keluar makan siang, hari  begitu cerah, matahari tinggi menyengat, dan yang membahagiakanku ia mengiayakan ajakanku.
    Lalu kita menikmati makan siang di Ma Salle a Manger?, tak jauh dari situ.
    Hari itu mungkin aku baru benar-benar mengetahui lebih jelas tentang dirinya, mengetahui semua kesibukannya, juga usahanya membagi waktu antara modeling dan kuliah sastra.
    Yah ia bercita-cita ingin mengajar sastra suatu hari nanti.
    Ia juga bercita-cita menjadi seorang model ternama.
    Tapi yang kusuka darinya adalah saat Olenka berbicara tentang Tostoy dan aku bercerita pula tentang Gorky dan Turgeneve.
    Aku masih ingat pula saat ia berkata “Kau seperti ayahku saat berbicara dengan semangat tentang buku yang dibacanya, atau tentang Gorky, tetapi ayahku tak pernah bercerita tentang Turgeneve, suatu hari nanti kamu harus bercerita tentangnya”.
    Aku melihat semangatnya yang belia.
    Senyumnya yang menawan.
    Cita-citanya yang tinggi.
    Mimpi-mimpinya yang luar biasa.
    Keteguhannya menghadapi kehidupan dan dunia kita yang sama, dibalik kesibukan kita yang hampir serupa, dunia yang kadang menyebalkan, menjijikan….tapi ia begitu terlihat kuat menghadapinya tanpa terpengaruh segala godaannya.
    Gila, aku masih bisa menemukan seseorang dengan segala kemurniannya.
    Dari obrolan itu disanalah aku mulai mengenal benar cara pikirnya, cita-citanya, semangatnya…juga senyumnya.
    Ia pun dapat melihat semangatku.
    Masa laluku.
    Keinginanku.
    Perjalananku.
    Pikiranku.
    Mimpiku.
    Semuanya.
    Dan ia hanya terdiam lalu memberikan ku semangat dengan cara yang indah, tanpa mencela sedikitpun.
    Oborolan siang itu telah menghabiskan waktu yang tidak sebentar, ia meninggalkanku dengan sebuah senyum diwajahnya dan senyum bahagia diwajahku.
    Dan pertemuan selanjutnya, tidaklah sulit bagiku…aku seperti telah mengenalnya lama, begitu pula ia mengenalku.
    Perkenalan kita yang singkat, mungkin hanya sebulan lebih, sampai aku membawanya makan malam  ditempat dimana pertama kali kita makan siang, ia menolak untuk ku ajak ke tempat lain, selain tempat yang sama dimana ia menemukan keasikan besamaku. Pertama kali.
    Setelah makan malam, aku memberinya sebuah ciuman dikening, dan memberinya sebuah ciuman dibibir nya yang manis, dengan semangat dan gelora, dan kesadaran bahwa aku telah jatuh cinta padanya.
    Ia pun tahu bahwa ia pun merasakan hal yang sama.
    Mungkin hari itulah awal dimana semua perjalanan yang indah itu dimulai.
    Hari itu dimana aku menghabiskan malam sampai pagi memeluknya, erat seperti tak ingin kehilangan.
    Malam yang mengelora, membara hebat.
    Malam yang penuh semangat dan perasaan yang berbeda disatukan menjadi satu.

    Aku tersenyum mengingat awal-awal perjalanan kita.

    Bukan kebetulan kita berdua berada didalam dunia yang sama, dipertemukan dalam dunia yang benar-benar sama, industry fashion, tapi walau ia yang menghabiskan waktunya dari satu fashion show yang satu ke fashion show yang lain, dan aku yang menghabiskan waktu ku mengajar atau memotret untuk industry fashion, tapi aku dan Olenka selalu ada waktu untuk bisa bersama.
    Apa lagi sejak setelah malam itu, ia lebih sering kembali ke Apartemenku sehabis show, mengurusku, mengurus semuanya, dan tiap malam ia selalu ada dipelukanku.
    Di waktu-waktu yang kosong, saat aku tak ada pemotretan, ketemu klient atau  mengajar, dan saat ia kembali dari kuliah, kita berjanji ditempat yang sama, menikmati makan siang bersama, ngobrol kesana kemari tentang semua hal tentang dunia kita…..
    Atau saat hari-hari libur, kita keluar kota pergi menikmati indahnya ladang anggur di Rhone Valley, atau terbang ke Kiev mengunjungi paman Olenka, makan malam bersama Paman dan Bibinya yang sudah tua…merasakan keramahan sisa dari keluarga Kotlovitch.
    Atau bisa jadi kita tidak kemanapun selain tinggal didalam Apartemen seharian, aku sibuk dengan memainkan Mark VI ku, membersikan lensa, mengkurasi foto-foto, dan ia membaca atau menulis sesuatu. Atau ia mengurus cucian, aku mencuci piring. Atau menjadikannya model bagi foto-foto pribadiku.
    Dan ada saat saat yang membuat aku atau Olenka sedih adalah saat-saat ia harus pergi jauh terpisahkan jarak, mungkin saat ia ke Milan untuk show, atau aku pergi ke New York untuk urusan Seminar atau pemotretan.
    Tetapi saat kita kembali bersama, kita menghabiskan satu dua hari dalam malam-malam yang penuh gelora, membara dan ia berakhir dalam pelukanku tertidur dengan wajah bahagia, yah itu semua telah membayar semua kesedihan kita.

    Suatu hari saat kita tidak benar-benar ada kesibukan.
    Aku melihatnya duduk dimeja kerjaku, mengenakan kacamata, sedang membaca sesuatu, keasikannya membaca telah seolah mentiadakan aku dari kehidupannya. Aku mengambil kameraku dan merekam kejadian itu. Lalu menghampirinya, yang hampir tak menyadari kehadiranku…
    “Sedang apa my love…”
    Ia terdiam…
    “Apa yang sedang kau baca…”
    “Oh ini…”
    “Ya apa?”
    “Oh…Tolstoy”
    “Hmmm, a happy married life”
    “Kau tau tentang itu?”
    “Ya aku pernah membeli bukunya, tetapi tak pernah sempat membacanya sampai selesai…”
    “Ya..aku ada tugas yang harus ku selesaikan?”
    “Oh…”
    “Lalu apa pendapatmu tentang itu?”
    “Tentang tulisan itu?”
    “Ya tentang Masha…, Marya Alexandrovna, yang menikahi Sergei Mikhailich yang lebih tua darinya…”
    “Tentang sifatnya?, tentang karakternya?”
    “Semuanya…”
    “Menurutku kisah itu memang menarik karena perbedaan usia mereka. Masha yang emosinya masih suka meledak-ledak mungkin karena usianya yang masih sangat sangat muda sedangkan Sergei lebih tenang mengingat usianya yang hampir 40 tahun itu.”
    “Lalu…”
    “Pada awal pertama pernikahan mereka, hal-hal tersebut belum menjadi masalah bagi mereka berdua karena mereka masih toleran terhadap sifat masing. Masalah mulai datang setelah beberapa bulan kemudian Masha bosan dengan kehidupan pernikahan mereka di desa dan menginginkan liburan yang menyenangkan di kota besar. Sergei memenuhi permintaan Masha tersebut. Tiba di kota besar itu kehidupan Masha mulai berubah. Marsha mulai bergaul dan mempunyai teman dari kalangan atas  Masha menjadi popular karena kecantikannya hingga banyak lelaki yang jatuh hati padanya. Sergei menghadapi hal ini dengan sikapnya yang tenang dan dingin. Ia lebih memilih diam sementara Masha menikmati pergaulan itu.”
    “Hmmm, katanya kau belum membacanya…”
    “Aku sudah membacanya tetapi tak pernah sampai akhir aku selesaikan….”
    “Kapan kau membacanya…?”
    “Satu tahun setelah pertemuan kita, mungkin kalau aku tak salah ingat”.
    “Tapi aku tak pernah melihat mu membacanya…”
    “Aku membacanya di kampus, saat aku ada diruangan kantorku setelah selesai mengajar”.
    “Kenapa kau tak menyelesaikannya….”
    “Entah…aku jadi segan membacanya”
    “Tersindir?”
    “Hah…”
    “Masha…. Sergei….”
    “Hahahhahaha….hmmm oh oh…maksudmu, Masha adalah kau, dan Sergei adalah aku? Masha yang muda dan Sergei yang tua? Atau Masha yang menjadi populer dikalangan atas dan Sergei yang membiarkan semua itu?”
    “Hmmm”
    “Hahahahahah….”
    Olenka berubah diam, wajahnya menunjukan kekesalan…
    “Tak lucu…, aku sebal”
    Aku diam, aku tak pernah mendengar kalimat “Aku sebal”, dan baru kali ini aku mendengarnya…aku seketika sadar dan memeluknya erat…
    “Sudah lah…kau bukan Masha, aku bukan Sergei…”
    “Akankah kau secuek itu, dan sedingin itu?”
    “Aku,? Aku tak pernah melarang mu melakukan apapun yang terbaik untuk hidupmu”
    “Ya kau hampir tak pernah marah kepadaku…”
    “Ya karena kau tak pernah melakukan kesalahan apapun…untuk apa aku marah”
    “Tapi kau bisa marah kepada muridmu, kepada klient mu yang ngeyel”
    “Apa kau mau aku marahi, sedangkan kau tak melakukan kesalahan apapun?’
    “Tentu tidak…, tapi kan aku manusia…”
    “Ingat tidak, saat kau punya masalah dengan Agency?”
    “Ya aku ingat…”
    “Aku membiarkan mu menyelesaikannya sendiri, atau sampai aku memberikan tempat mendengarkan keluhan mu, memberikan saran seperlunya, aku diam agar aku dapat melihat dirimu menyelesaikan masalah itu”
    “Tapi aku bingung dan tak dapat menyelesaikannya”
    “Apa yang kau lakukankan setelah itu?”
    “Hmmmmm”
    “Bukankah malam-malam kau mengajakku untuk membahasnya, dan kau mendengarkan saranku…”
    “Ya…dan aku melakukan yang kau sarankan…”
    “Dan kau menyelesaikannya kan?”
    “Ya…”
    “Apa jadinya jika masalah itu tidak kau selesaikan?”
    “Akankah kau marah juga?”
    “Mungkin…apalagi jika kau lari dari masalah…aku tak suka orang yang lari dari masalah, mungkin aku akan marah dan juga kecewa, tapi aku tak mungkin marah kepadamu jika kau melakukan semuanya dengan benar, sekalipun kau tak tahu bagaimana menyelesaikan masalah itu tapi kau tahu caranya bagaimana membicarakannya denganku…”
    “Ahhh dasar prefectionis….”
    “But I love you in perfect way…”
    Ia mulai menangis, matanya mulai basah dengan air mata…aku memeluknya dengan erat sekali, mencium rambutnya…dan Olenka memelukku erat.
    “Boleh aku bertanya….” Kata Olenka
    “Tanyalah, tak ada pertanyaan yang tak akan kujawab…”
    “Benar…???”
    “Ya”
    “Tidak kau suka dengan anak-anak…”
    “Hmmm, aku suka dengan anak-anak, kenapa?”
    “Tidak…”
    “Yakin?”
    “Hmmm”
    “Tenang, aku mengerti maksudmu, aku telah memikirkan tentang itu…, aku telah memikirkan tentang sebuah keluarga…walau aku tak tahu, apakah kebahagiaan kita hari ini, akan sebahagia kita nanti…, akankah kau dapat mengurus anak, mengurusku, saat kau menjadi bintang besar yang berkilau…dan saat banyak laki-laki kaya datang menawarkan kegemerlapan”
    “Laki-laki kaya…hahahaha”
    “Ya….”
    “Aku tak ingin menjadi  bintang yang kemilau, jika aku harus mengorbankan kebahagiaan keluarga kita nanti…kebahagiaan mu, kebahagianku”
    “Yakin…???”
    “Kau tak percaya???”
    “Bukan tidak percaya, aku hanya mau melihat kau meyakini apa yang kau katakan, tapi aku juga tak dapat membiarkanmu mengubur semua cita-citamu, mimpimu, semua potensi mu”
    “Tapi aku tetap dapat menjadi guru…, aku tak akan mengorbankan kebahagiaan keluarga kita, kebahagianku, kebahagianmu demi cita-citaku sendiri…aku ingin seperti ayah yang ada disisiku, walau ibu tak ada disisi ayah sejak aku kecil, dan aku mau ada disisi mu, …, juga anak-anakku nanti…”
    Aku mulai menitihkan air mata, aku memeluknya makin erat dengan kebahagiaan yang tak pernah aku temukan…aku benar-benar menangis saat itu….ingin dapat memenuhi harapannya.
    Itu yang kucinta dari dirinya, ia tahu benar bahwa cinta mengorbankan ke ‘akuan’ kita masing-masing, mencintai adalah membakar habis ke egoisan, dan berdiri pada kita, bukan aku, aku kamu..
    Aku bersyukur kepada Tuhan, aku menemukan seseorang yang tahu benar akan pemahaman-pemahaman yang tak banyak orang ketahui, dimana semua orang mengejar yang seharusnya tak mereka kejar.

    Dan suatu hari Olenka membuktikan apa yang pernah dikatakannya.
    Aku belum terbangun pagi saat itu, Olenka telah bangun dan berdandan, ia membangunkanku dengan berbisik…”Sayang aku mau ke kampus…”
    Aku bangun melihatnya telah cantik dan segar….
    “Nanti malam aku harus ikut?”
    “Ya…harus…”
    “Ahhh, aku malas sebenarnya berkumpul dengan mereka…”
    “Tapi sayang, ini penting buatku…, ini Ford…semua model akan berpesta…”
    “Ya ya….liat nanti…”
    “Ingat kau harus datang…kalau tidak…., awassss” sambil bercanda…
    “Ya…sayang…”
    “Aku sudah siapkan pakaiaan mu untuk nanti…”
    “Kenapa kita tidak pergi sama-sama…”
    “Tak bisa, abis dari kampus aku ada pemotretan dan lalu aku harus ke sana…”
    Ia menghampiriku dan menciumku…lalu pergi keluar dari kamar…
    “Aku jemputttttttt…”
    “Gak usah….aku bisa sendiri….”
    “Hufffffff….”
    “Jangan lupa undangan ada diatas TV, dan bereskan tempat tidur…” teriaknya…
    “Baikkkkkkkkkkkkkk nyonya……..”
    Aku lalu kembali tidur…

      Sore harinya, aku telah mandi dan siap untuk berangkat ke fashion show.
    Olenka telah menyiapkan Jas Hitam, dan semuanya yang ku perlukan untuk malam nanti, sesunguhnya aku segan untuk pergi, aku tak menyukai keramiaan dunia fashion, walau aku juga makan dari fashion industry.
    Tapi aku memutuskan datang, bukan untuk beramah tamah dengan model atau fashion designer, tapi untuk Olenka, untuk ia yang paling kucintai.
    Aku segera berangkat menuju tepat dimana fashion show itu diadakan…semua wartawan dan photographer telah meliput semua yang hadir, malam ini benar-benar meriah, designer, fashion editor, photographer, models, agency, fashion buyer semua hadir, aku duduk tiga baris dari Catwalk….hari itu aku hanya ingin melihatnya diatas Catwalk.
    Acarapun dimulai…
    Model, demi model melangkah di catwalk dihadapanku, ini bukan pertama aku menghadiri acara seperti ini, tetapi baru kali ini aku melihat rancangan Ford yang luar biasa, aku ingin melihat rancangannya membalut tubuh Olenka, indah mungkin!.
    Dan akhirnya aku melihat Olenka keluar dari balik tirai, ia melangkah dengan yakin, wajahnya yang berseri, tubuhnya yang dibalut Black leather bicker jackets, black lether skin tight skirt with hand stitching, black fishnet lace back boots, ia begitu menawan..anggun..nampak kuat berkarakter.
    Aku tersenyum bangga dengan penampilannya malam itu.
    Dua tiga penampilannya berikutnya tetap membuatku bangga, walau mungkin kanan kiriku masih menganggap kurang dengan rancangan Ford, aku tak perduli, Olenka yang aku lihat dibalik semua keindahan rancangan itu.
    Setelah acara selesai aku menantinya, ia telah berganti dengan pakaiaan yang dibawanya.
    “Maaf membuat mu menunggu…”
    “Tak apa…”
    “Yuk…, acara kita sudah dimulai…”
    Aku melangkah kedalam ruangan yang tidak terlalu besar, Olenka merangkul lenganku, ia tersenyum kepada semua yang hadir, kepada rekan-rekan modelnya.
    Aku berbisik menyebutkan nama-nama orang-orang dari dunia fashion yang kukenal. Hampir semua mata menatap kearah ku dan Olenka, sebagian berbisik dan begunjing tentang kita.
    Ini yang ku tak suka, aku tak suka dengan mimik wajah dan gunjingan…
    Kekejaman yang ada dibalik kata-kata, yang sangat disayangkan keluar dari wajah-wajah manis yang telah ditelan oleh fashion industry dan kegemerlapannnya.
    “Sayang, ini Romaneko, ia menawarkanku untuk jadi membintangi beberapa iklan”
    Aku mengulurkan tangan…
    “Oh…dear Olenka, so vous venez avec votre vieux singe”
    Aku membelalakan mata dan menarik tanganku…wajahku berubah.
    “So this why you don’t want have dinner with me?”
    Aku diam dan Olenka diam…
    Olenka memperhatikan wajahku yang berubah…
    Aku menahan diri.
    Lalu Olenka, menarikku untuk berkumpul dengan Piere dan teman-temannya…, Romeneko tetap berteriak dengan bahasa Rusia, dengan nada yang kesal, mabuk dan cemburu.
    Aku ingin sekali meninju wajahnya…
    Tapi aku dengan tenang menahan diri, aku tak ingin merusak acara itu, merusak nama baik Olenka, Olenka pun sudah menunjukan ketidak sabarannya, wajahnya berubah mendengar ucapan kotor Romeneko tadi…aku mengambil segelas lagi wine dan memberikannya kepada Olenka.
    “Diamkan saja…, ini minum…”
    Aku tetap erat merangkulnya…hingga dengan kuat ia menarik rangkulan itu…berjalan ke arah Romeneko…aku hampir tak dapat menahannya, kecuali mengikutinya berjalan dibelakangnya sambil berusaha menariknya..….
    Saat ia berhadapan dengan Romeneko
    “Tuan yang terhormat Romeneko…sangat disayangkan, mulut anda tidak seperti reputasi anda, kau tidak tahu siapa yang kau sebut sebagai singe…mulut anda telah membuktikan rendahnya pendidikan anda dan tata krama anda…”
    “What you said bit….”.
    Saat ia berkata itu aku hampir meninjunya, Olenka menahanku dengan tangan kirinya dan seketika itu juga Olenka menguryurnya manusia laknat itu dengan wine yang dipegangnya…, semua orang terdiam melihat itu…semua orang bergunjing tentang Romeneko, Olenka dan aku…
    “Mulut anda mengongong keras seperti anjing…memalukan sekali tuan Romeneko”
    Wajah Romeneko berubah malu….
    Olenka berbalik menarikku keluar dari acara itu…
    Seketika wajahnya terlihat bahagia saat bisa melakukan itu pada Romeneko.
    Dalam perjalanan pulang, dalam Taxi Olenka terdiam memandang keluar jalan, aku mengengam jemarinya…ia mengengam jemariku dengan keras.
    “Kau masih kesal…”
    “Sedikit…” katanya..
    “Aku tak pernah melihat mu seperti tadi…”
    “Maafkan aku sayang, tak seharusnya aku memperkenalkanmu dengan bajingan itu, tak seharusnya aku memaksamu kesana”.
    “Sudah lah…aku sudah terbiasa dengan itu…”
    “Kau lihat wajah bajingan itu…”
    “Ya, dan kau tahu dengan tidakan mu tadi apa yang akan terjadi…”
    “Ya, aku tak perduli…aku tak ingin ia mengolokmu…siapa dirinya?, Tuhan? Aku tak perduli…aku telah mendapatkan semua yang lebih dari semua pekekerjaan itu…kita bisa pergi dari neraka ini, kembali ke Jakarta, tinggal di Bali, atau mana saja”
    Aku memeluk Olenka erat, bangga melihatnya hari ini…sedih melihatnya mengorbankan mungkin semua cita-citanya.

    Malam itu Olenka memeluk erat aku, ia tertidur pulas, wajahnya bahagia, aku belum dapat tertidur, aku melepaskan pelukannya, dan berdiri melihat keluar jendela.
    Malam itu langit indah, bulan bulat, berseri.
    Aku tidak sedikitpun berseri, aku bersedih.
    Aku berfikir banyak.
    Aku berfikir tentang semua hal.
    Aku berfikir untuk kebahagiaannya, cita-citanya.
    Aku berfikir apakah aku harus meninggalkannya agar ia meraih masa depan dan cita-citanya….tapi apa aku bisa hidup? Apa ia dapat hidup?, setelah perpisahan itu, yang jelas aku bisa mati, tak akan ada dua cinta yang telah menjadi satu dapat dipisahkan begitu saja, kehidupan itu akan mati seketika.
    Aku tak akan bisa hidup tanpa Olenka…mungkin.
    Begitu juga Olenka…mungkin.
    Ia telah mengorbankan masa depannya, cita-citanya, reputasinya.
    Tidak mungkin aku meninggalkannya, selain menyertainya.
    Malam ini, aku terdiam lelah, menanti moment penting ku esok. Berangan semua perjalanan yang kita telah lalui, aku bahagia, aku sedih, aku teramat sangat sedih, tetapi dibalik kesedihan itu aku bahagia, aku telah mencintainya melebihi diriku sendiri.
    Aku mengambil secarik kertas dan menuliskan.

    “Dear Olenka, tak ada bintang yang melebihi engkau, tak ada kebahagiaan hidup yang melebihi apapun saat aku bersamamu, aku akan bahagia dapat melihatmu esok”.
    Aku menuliskan alamat diakhir catatan itu, alamat dimana ia harus datang esok.

    Aku sedih menuliskan ini, meletakkannya didalam tasnya…
    Tak lama kemudian…
    Suaranya memanggilku
    “Sayang…”
    Aku terdiam…
    “Sayang…kau sedang apa?”
    Aku buru-buru menghapus butir air mata disudut mataku…
    “Kau menangis?”
    “Tidak…”
     Aku berpaling melihatnya, tanpa apapun…wajahnya berseri tampak cantik, ia menghampiriku menarikku…menarikku kedalam kamar.
    Melepas seluruh pakaianku.
    Lalu Olenka mencumbuku dengan gelora yang membara .
    Desah, menjadi melodi paling indah mengusir ruang kosong yang sepi.
    Dan tubuh yah tubuh itu penuh dengan penuh saat kita menjadi satu, peluh saling berlarian dan debar tak dapat terhitung detaknya.
    Kita menyatukan diri disaat hariku yang menegangkan.
    Menjelang pagi hanya kita berdua yang terjaga berdiam diri saling berpandangan dengan perasaan lega, bahagia, dipenuhi cinta.
    Dengan peluh yang masih belum kering, nafas yang belum benar-benar teratur, tapi diwajahnya ia tersenyum saat ku, sedangkan aku, bahagia selalu bisa bersamanya…..
    Semua yang terjadi tak seketika berhenti, saat aku dan Olenka mengulanginya lagi..lagi dan lagi.

     Aku terbangun agak sore, ia tak ada disisiku, nampaknya ia telah pergi sejak pukul 3 tadi, hanya sebuah Note bertuliskan “Aku tidak membangunkanmu…kau nampak lelap tertidur, aku ada janji dengan dokter”.
    Tak lama kemudian suara telp berbunyi…bertuliskan Ria.
    “Ya…”
    “Aku mencoba menelpon mu sedari tadi pagi hingga siang…kenapa gak bisa?”
    “Kenapa?”
    “Ke mana saja?”
    “Tidur…”
    “Halowww….tidak lupa kan hari ini?”
    “Tidak…., sudah aku mau mandi…aku mau pergi ngajar”
    “Hahhhhhhhh, hari ini sabtu sayang…..”
    “Oh my god…aku lupa…”

    Aku bergegas mandi, bersiap pergi….

    Satu jam kemudian, aku berdiri disebuah ruang besar, dipenuhi banyak tamu, bunga segar disudut ruangan telah siap,  semua orang memberikan selamat kepadaku…aku gelisah, aku seperti sedang menanti seseorang…aku menanti Olenka.
    Mengharapkannya datang hari ini.
    Dan saat acara sudah hampir dimulai…
    Aku berdiri didepan gelisah tak dapat memulai atau mengatakan apapun.
    Hingga.
    Seorang wanita cantik melangkah memasuki ruangan…dibalut flesh colored silk georgette, hand embroidered and hand painted. Ia begitu anggun cantik, ia berdiri dikejauhan, tersenyum bahagia…bahagia melihatku.
    Dan aku tersenyum melihatnya.
    “Ehmmm….terima kasih untuk semua yang hadir disini, tak ada yang lebih membahagiakan melihat sahabat, teman, rekan, hadir pada hari ini, tetapi yang sangat membahagiakan saya adalah dapat mempresentasikan semua yang tampil dihadapan anda, karya yang hanya menampilkan satu subyek, satu pribadi, pribadi yang hidup, dekat dalam kesehariaan saya…pribadi yang telah menjadi insipriasi terbesar dalam kehidupan saya, pribadi yang memberikan tenaga, semangat, kekuatan, dan yang terpenting cinta…, 200 karya yang dikerjakan selama dua setengah tahun ini tidaklah cukup merekam seluruh sisinya,  kesibukannya, keindahannya, kebahagiaanya, tangisnya, semangatnya, pengorbanannya…200 karya yang kurang, tetapi mewakili seluruh jutaan kenangan dalam benak saya, jutaan kenangan yang tidak akan pernah bisa dihapus kapanpun…karena kebagaiaan itu dengan ini Pameran Foto berjudul Dear Olenka saya buka…”
    Semua yang hadir bertepuk tangan…
    Wanita cantik itu tersenyum disudutnya…tersenyum bahagia.
    Ia tak menduga, seluruh keisenganku memotretnya selama ini, telah menjadikan semua itu hadiah bagi perjalanan kita. Perjalanan dua tahun pernikahan kita.
    “Terima kasih sayang…”
    Sudah tiga tahun Olenka meninggalkan dunianya, mengorbankan cita-citanya, meneruskan kuliahnya dan menyelesaikannya, ia telah mengajar Sastra, dua tahun pernikahan tanpa dikarunia seorang anakpun.
    Ia tersenyum bahagia, bahagia sekali, aku lebih bahagia bersamanya, istriku yang tercinta…
    Lalu ia berbisik…
    “Sayang…aku juga ada hadiah untuk mu…”

 

 

Starbucks Grand Indonesia
Febuary 2011 – 17 April 2011
Markus AP

Untuk Masa Laluku…Dan Masa Depanku.

40 Responses to “Dear Olenka (cerpen)”

@irh…..biasa mbak, lg kena angin tenda biru, qiqiqi….(hmmmm ceritain nggak yaaa….) kita doakan saja mbak, semoga cita2nya markycus utk menimang seorg istri segera dikabulkan Tuhan….
@markycus….klu dibikin film, pemeran pria nya Al Pacino ketuaan nggak yaa big grin

@anna : hahahah, wah bikin gosip neh hahahah tenda biru itu bisa jadi lagi imunisasi masal di kelurahan loh….amin amin amin semoga…

Ahhh setuju mom, Al Pacino mah cocok…cool keren…mirip aku LOL rolling on the floor rolling on the floor

Lama ga mampir kemari….jadi kangen…
okeh….cerpen lo emang bagus, but seems i ever heard about the man’s dream….seems like someone’s dream that i know….no no no…i guess i really know who is he….hahahhaha
lecture??? little house replaced by apartment, don’t u think that’s so YOU????
but most of all….i always like ur writing like the other…..xoxo

udah ah…pulang dulu

@Viona : hahahah kemana aja lo? but thank’s for reading… big grin

So who is he? u know him? tell me then tongue

@mbak anna wah ada gosip apa mbak? aq koq ga tau? wah marky mencurigakan ni rahasia2an

@irh : gak ada koq tongue suer bener suer… wave wave

well this very romantic story

ak suka omm nice story

ditunggu cerita-ceritanya yg lain

@cis : hi jengs, thanks for visiting….klw ceritanya dibikin sedih tar diprotes rakyat, nanti ya kalau ada lagi dikabarin….hahahah tongue

sesuai dengan rencana yang mungkin takkan pernah terwujud..lol (u know it exactly).. endingnya cuman jadi mimpi doank nie… markussss…. btw, thumbs up for u…..ciaOOOOOO

@nanda : hi darling… big grin thx for reading…endingnya kali ini harus manis dan indah….ga mau sedih…

jadi km nangis bacanya…hikss crying

Leave a Comment

 

termspodcast
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation
suggest