terms
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
Superman Don’t Cry (cerpen)
By. marcus . April 9th, 2011 at 7:41 pmconditions
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Superman Don’t Cry

 

     Aku keluar dari kantorku tepat jam 5 sore, tak seperti biasanya aku pulang secepat itu, biasanya aku pulang hingga pukul 7 malam, yah aku pulang lebih awal dari biasanya, apa lagi kalau karena hari ini aku janji untuk bertemu dengan seseorang, pertemuan yang sekali lagi tidak terduga.
    Aku memacu diri ingin segera menemuinya….aku tak dapat menahan diri ingin segera menemuinya…

    Dua minggu sebelumnya…..
    Semuanya berawal dari, dua minggu lalu saat aku sedang meeting disebuah restauran di Jakarta Selatan, tanpa sengaja aku bertemu dengan Kay.
    Hari itu aku sedang duduk asik membicarakan urusan pekerjaan dengan rekan bisnis yang juga sahabatku sendiri, keasikan itu pun terpecah saat perhatianku terarah pada seorang wanita cantik yang sebenarnya ku kenal sekali tiga tahun lalu.
    Koq bisa-bisanya ia ada ditempat yang sama denganku hari itu.
    “Woi… ngeliatin apa loe”, kata temanku
    Aku diam
    “Hoi…ngelihatin hantu loe”.
    “Hah hah hah…iya…hantu cantik”
    “Ngacooo…Udeh mulai mabok loe ye…ya udeh, udeh malem, besok aja lanjutin lagi…”
    “Oke..oke”
    Aku terdiam sendiri sesaat, setelah temanku itu pergi.
    “Gue sapa gak ya…”
    Itu yang ada dipikiranku.
    Bagaimana mungkin aku menyapanya? Sudah kira-kira lebih tujuh bulan sejak pertemuan ku terakhir dengannya di Social House dan setelah pertemuan itu kita masing-masing menghilang tak pernah lagi saling menghubungi, mungkin karena kesibukan masing-masing, mungkin karena urusan kita benar-benar sudah selesai…
    Urusan?
    Urusan apa?, urusan cinta?, bisnis?, atau hanya sekedar urusan curhat-curhat? Atau urusan Tuhan yang aku tak tahu dan akan menjadi rahasia Tuhan saja?.
    Aku masih ingat benar-benar makan malam terakhir itu, mana bisa aku melupakan malam itu.
    Aku ingat hari itu hujan.
    Aku masih ingat jelas hari itu seorang wanita melangkah menuju ku yang duduk disofa, rambutnya yang panjang sengaja tidak digerai, wajahnya yang ayu sengaja dibiarkan tanpak natural tanpa makeup yang berlebihan.
    Jujur wajah ini tidak berbeda jauh…dari yang aku kenal sebelum-sebelumnya…tetap sama tidak berubah sedikit pun.
    Senyumnya…yah senyumnya hari itu senyumnya merekah saat melihat ku, membuat kedua tulang pipinya terangkat dan nampak bersinar cerah, seperti bunga mawar sedang berbunga…ahh aku terlalu berlebihan memujannya, yah aku memujanya, bahkan aku pernah mencintainya, dulu, itu dulu….sekarang? aku tak tahu.
    Aku memang memujanya, sebagai wanita yang nyaris sempurna…, bukan karena hanya kecantikannya, bukan hanya karena kepandaiaanya, mungkin karena kekuatannya, karena cintanya,  juga karena kebaikan hatinya… aku memuja segala hal didalam dirinya…
    Aku memang selalu memuja wanita yang memiliki kekuatan dalam menghadapi kehidupan…entah seperti apa kekuatan itu tentu aku menilainya menurut penilaiaan subyektif ku.
    Ah aku membayangkan banyak hal, banyak pristiwa diwaktu lalu yang telah lewat, membayangkan semua itu tepat didetik waktu ku yang singkat saat terdiam.
    Pikiranku berkata Nyapa gak, nyapa ngak?
    Bagaimana jika aku menyapanya dan ia menanyakan kenapa aku kehilangan contact?.
    Bagaimana jika ia telah melupakanku?
    Bagaimana jika aku menyapanya dan aku tersihir lagi dengan senyumannya, bagaimana jika aku tiba-tiba jatuh hati lagi dengannya?.
    Gila…
    Gila…
    “Ah…gak mungkin…gak mungkin….sangat tidak mungkin, tujuh bulan lalu saja tak terjadi apa-apa!”.
    Kata pikiranku.
    Tapi ingat aku masih sering memasang fotonya di BBM, kata pikiranku yang lain.
    Tindakan yang membuat tanda tanya banyak orang, yang lebih sering ku jawab dengan “confidential”
    Dan orang bilang dengan aku melakukan hal itu aku masih mencintainya?….…
    “Hahhh mencintai?”
    Hal gila itu tak membuktikan apapun kalau aku masih mencintainya.
    Buktinya aku tak mengharapkan apapun dari kehadirannya dalam hidupku, apa lagi aku berusaha….dan hidupku baik-baik saja, sekalipun ia tak ada atau ada.
    Dan hingga kata pikiranku yang lain berkata.
    “Ah perduli setan, sekarang atau tidak sama sekali…urusan nanti, nanti lah”, aku pun memberanikan diri menghampiri mejanya.
    Entah kenapa, hari ini berbeda dengan tujuh bulan lalu, dan hari ini sama seperti saat pertama kali aku mengenalnya, kedua lututku serasa mati, lemas, jantungku berdetak kuat, aku serasa tersihir sesuatu….mungkin juga karena aku tak menduga bertemu dengannya disini.
    “Hahahhahahahaha” tawaku dalam hati.

    Tak lama kemudian aku berdiri disamping belakang sebelah kirinya, ia tak berpaling sedikitpun tak sadar kalau ada seseorang berdiri disampingnya.
    “Hai…”
    Ia tak berpaling.
    Dan saat aku memanggil namanya.
    “Kay…kay”.
    Ia pun memalingkan diri kearah suaraku.
    “Haiiiiii….Mark”
    “Kamu disini juga?”
    “Iya lagi nunggu…belom dateng nih, katanya macet, tapi sudah dekat”.
    “Nunggu siapa?”
    Ia terdiam…
    Dan aku pun tak menanyakan lebih lanjut.
    “Gimana kabarmu?”
    “Baik baik…kamu?”
    “Baik juga…”
    “Kamu tidak berubah, masih sama seperti dulu…masih cantik, masih luar biasa”
    “Ah kamu bisa aja…”
    “Koq disini?”
    “Lagi abis meeting, gimana kabar mu? Gimana keadaan mu?”
    “Yah baik-baik aja, sibuk sama kerjaan, shooting”
    “Wah wah wah, makin terkenal aja neh…”.
    “Ah ngak ah…, eh duduk..duduk koq berdiri terus…”
    “Hahahah, gak usah kamu kan nunggu temen, sebenar lagi datang, gimana kalau aku pulang aja, but I promise you, I’ll call you…nomornya masih sama kan?”
    “Ya masih…, bener ya?”
    “Pasti…, baik aku jalan dulu ya…nanti aku call, kalau gak nanti malam, besok pagi pasti aku call”
    “Ok…Nanti malam aja…kebetulan aku pulang kerumah adikku…nanti aku SMS kalau aku dah sampai rumah adikku”.
    “Baiklah…”
    Aku pun mengulurkan kedua tanganku ingin memeluknya, aku memeluknya.
    Memeluknya sebagai tanda perpisahan, tentu hanya untuk malam ini.
    “Good night”.
    “Nite..nite Mark…”.
    Aku pun berjalan meninggalkannya, aku dapat merasakan ia masih mengarahkan pandangannya padaku, sampai didepan pintu keluar aku berpaling dan melihatnya masih melihatku…dan ia tersenyum…
    Tersenyum…
    Tersenyum indah sekali…

    Dan aku pun tersenyum…

***

    Aku menyegerakan diri pulang, seperti ingin segera menemuinya dalam suara walau aku dan dia di ujung dunia kita masing-masing.
    Setelah sampai, aku membenamkan diri mandi air hangat agar serasa segar, dan dalam pikiranku hanya ada satu suara.
    “Apa yang terjadi hari ini… Apa yang terjadi hari ini… Apa yang terjadi hari ini… Apa yang terjadi hari ini…”
    “What happen today…whats going on…”
    Setelah selesai lalu menyibukan diri mencek email sambil menanti smsnya yang ku tunggu-tunggu, dengan  ditemani secangkir coklat panas dan diiringi Nearness Of  You, Michel Bracker…aku masih setia menantinya…menantinya…


    It’s not the pale moon that excites me
    That thrills and delights me
    Oh no, it’s just the nearness of you

    It isn’t your sweet conversation
    That brings this sensation
    Oh no, it’s just the nearness of you

    When you’re in my arms
    And I feel you so close to me
    All my wildest dreams came true

    I need no soft lights to enchant me
    If you will only grant me the right to hold you ever so tight
    And to feel in the night the nearness of you

    “Sialan…” kataku
    “Ah gila….”, kejadian tadi membawa suasana malam ini jadi aneh apa lagi Nearness Of You menambahkan suasana jadi makin kacau dalam pikiranku….
    Waktu sudah hampir jam 11 malam, aku memutuskan untuk tidur, nampaknya ia tak akan mengirimkan satupun sms untuk ku, mungkin saja ia lupa atau ia sedang asik dengan seseorang, atau bisa jadi  ia juga sedang dalam suasana aneh yang sama seperti ku alami malam ini…
    Melancholy Moment…
    Melancholy Night…
    Melancholy Symptom…
    Melancholy Bullshit…

    Dulu kita bisa sama-sama melakukan hal yang sama dan mengalami hal yang sama, walau kita berada ditempat yang berbeda, tapi apa mungkin itu terjadi lagi sekarang…
    Aneh…
    Apa ini?
    Gejolak asmara?
    Cinta?
    Romantisme?
    Nafsu?
    Insanity?

    The heart feels a mixture of passion, lust, fear, sin, love, worry, desire, unpredictable behavior, strong overwhelming emotion…is this the mere insanity of the heart? It’s insanity of our mind?.
    It seems like the true feeling of love tends to give us all a sense of insanity which takes over the mind, body, and spirit.
    When one truly loves someone they tend to feel completely obligated. They become blind to the world around them only seeing the image of their hearts desire. They ignore truths and push away anything bad.

    Goblok…
    Bagiku kegilaan…
    Dan aku pun tak ingin melanjutkan lebih dalam lagi keanehan itu…
    “Control…control…, I don’t want get insane…im good with this…I don’t want be stupid…im not idiot…im genius…im mastering this…”
    Aku selalu dapat mengendalikan diriku…
    Aku tak ingin terilusi dengan pikiranku sendiri..
    Bagiku cinta harus LOGIS, cinta harus sebuah keputusan logis.
    Bukan hanya sekedar perasaan-perasaan aneh… bukan temporary insanity.
    Aku tak ingin masuk dalam temporary insanity.

    “Tidur…tidur…besok kerja” kataku…

    Saat aku ingin tidur, smsnya pun sampai di BB ku.

    “Kamu sudah tidur? Maaf aku baru sampai, kalau sudah tidur ya gak apa, kamu bisa call besok”.

    Aku pun tak menunda segera menghubunginya…
    “Hi…”
    “Hi, baru sampai?”
    “Ngak sih sudah dari tadi…, belom tidur?”
    “Belom…, kan nunggu kamu sms…”
    “Oh ya…, maaf …maaf” dengan suaranya yang manis
    “Is ok gak perlu minta maaf…gak apa koq”
    “Jadi gimana?”
    “Gimana?”
    “Ya…”
    Entah kenapa kita berdua terrasuki setan cangung…, bingung mau membicarakan apa…kita sama-sama terdiam.
    “Kamu belum ngantuk?” kataku…
    “Kamu ngantuk?, kalau ngantuk tidur aja besok ngantor kan?”
    “Oh ngak..ngak”
    “Kamu?, kamu ngantuk”
    “Belum juga, aku sering tidur lewat jam 2”
    “I know, masih ya?, masih sering tertidur lewat waktu gitu”
    “Masih…”
    “Hahaha..”
    “Koq ketawa?”
    “Ngak apa, kamu gak berubah, masih aja sama, masih seperti dulu…”
    “Apanya nih yang gak berubah”.
    “Ya…semuanya…masih suka tidur lewat malam, masih suka speechless, masih suka dengan kopi…”
    “Kopi…???”
    “Iya aku kan tadi liat kamu pesan kopi…”
    “Oh…, lalu?”
    “Yah masih cintik masih anggun seperti dulu…”
    “Hahahahahah, halahhh gomballllllllll…lebay..lebay…”
    “Koq gombal…kamu tau kan aku gak bisa gombal, mungkin awalanya iya, tetapi jika kegombalanku direspon serius, maka aku pun jadi serius…jadi sebenarnya aku gak bisa gombal…aku selalu mengatakan apa yang aku harus katakan”
    “Hahahhaha…kamu masih sama juga seperti terakhir kali ketemu…”
    “Oh ya…samanya?”
    “Masih kritis…masih bawel”
    “Hanya itu?”
    “Iya…., tapi jauh banyak berubah…”
    “Berubah?”
    “Apanya berubah…”
    “Entah lah….mungkin hanya perasaanku aja”
    “Hmmm mungkin kamu benar, tetapi aku tetap gerogi menemui mu tadi…kedua kakiku lemas”
    “Ahhh masa….mulai deh gombal nya…”
    “Hahhahahahahahahahah…”
    “Serius…tapi bener koq…emang begitu…it’s for real”
    “Tapi aneh ya….koq kita bisa ketemu ditempat itu…koq bisa kebetulan”
    “Apanya yang aneh…gak ada yang aneh, bagiku tak ada yang kebetulan dalam hidup”.
    “Ya ya ya… aku ingat…”
    “Ingat?”
    “Iya….tak ada yang kebetulan dalam hidup, semuanya atas recana Tuhan…”
    “Hahhahahaha, itulah yang ku suka dari kamu, kamu masih ingat yang aku katakan…”
    “Yah sebagian…aku masih ingat koq sebagian…”
    “Yah tak apa walau sebagian…”, aku merasa tersanjung mendengar itu…
    “Hahhahahaha…ya pak guru …masih ingat koq hahaha”
    “Jadi menurutmu…apa rencana Tuhan dengan pertemuan kita kali ini…?”, kataku
    “Hmmmm entah lah…”
    “Kamu baik-baik saja kan?”
    “Hmmmm, udah ngomong yang lain”
    “Ok”
    “Jadi apa kesibukanmu…”
    “Yah masih sama, masih ke kantor tiap hari”
    “Nulis? Motret?”
    “Hmmm nulis belakangan ini sedikit, motret masih….walau agak jarang…, aku lebih banyak menyibukan diri dengan urusan kantor dan bisnis…”.
    “Koq jarang nulis?”
    “Gak ada inspirasi nya sih…gak ada orang yang bisa jadi inspirasi” nadaku menggoda
    “Hahahahahah, mulai deh gombal lagi…”
    “Hahahaha…ngak koq…it’s for real, aku masih nulis, walau aku menulis quote”
    “Apa itu quote”
    “Ah susah menjelaskannya, nanti kapan-kapan aku tunjukan, aku kirim ke email kamu…”
    “Ya ya ya, tapi jangan ke email…aku jarang buka”
    “Ok ok”
    “Jadi menurut kamu apa maksud Tuhan?”
    “Hah…oh…aku gak tau…. tapi yang jelas tak ada yang kebetulan dalam hidup…semuanya selalu ada dalam pikiran dan rencanaNya”
    “Lalu”
    “Jadi banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi dari pertemuan kita”
    Aku terdiam…
    “Kita…kita hanya bisa menjalani satu dari sekian banyak kemungkinan, menjalani satu dari sekian banyak pilihan…dan kita sudah harus siap menghadapi jika kemungkinan dan pilihan yang kita percayai dan kita jalani tak sesuai dengan kenyataan”
    “Gitu ya….hmmmm
    Kita terdiam…saat aku berhenti menjelaskan pertanyaanya.
    “Jadi kamu bisnis apa?”
    “Hmmm ada…setidaknya menyibukan diri…kamu kan tahu aku tak dapat diam”
    “Bagus dong…”
    “Yah biasa aja…udah ah jangan ngomongin kerjaan..hihi”
    “Kamu gak ngantuk?”
    “Kamu ngantuk ya…..”
    “Iya nih……”   
    “Wah ngobrol ma aku bikin ngantuk ya…”
    “Hahhahaha, gak gitu kali…kamu kan juga besok kekantor”
    “Ah itu gampang…., ya udah kalau kamu mau tidur”
    “Thanks ya Mark…”
    “Buat?”
    “Ya buat obrolannya…”
    “Hmmm, ya udah kamu tidur deh”, kataku
    “Ok…”
    Kita sama-sama terdiam
    “Ok… aku tidur dulu ya…”
    “Wait wait….gimana kalau ada waktu aku ajak kamu ngopi atau ketemu gitu…”
    “Hmmmm, boleh…next month gimana hari sabtu gitu…?”
    “Wah lama juga…”
    “Ah kan sebentar lagi…”
    “Sekarang tanggal berapa sih?”
    “AH kamu … masa gak inget tanggalan…hahahhaha”
    “Iya kan kamu tau aku paling gak pernah lihat tanggal…lihat aja sekarang sudah bulan dua”
    “Sekarang tanggal 19”
    “Oh…jadi berarti tanggal 4-5an ya…, ok ok…”
    “Ya udah nanti contact-contactan lagi aja…, aku tidur dulu ya…dah ngantuk nih…”
    “Ok…nite nite…”
    “Good night ya Mark…, kamu tidur juga ya…”
    “Ok…nite…”
    Aku mengakhiri pembicaraan kita, dengan senyum diwajahku.
    Dan pikiranku mulai sibuk berkata.
    “What the hell im doing”…dan heran apa yang aku lakukan….edan…aku mengajaknya keluar???…”
    Ah apa jadinya nanti.
    Apa yang terjadi jika aku jatuh hati lagi dengannya? Apa lagi dari sekian banyak wanita yang ku kenal mungkin ia satu-satunya yang tidak menyisakan kesan yang buruk,  walau aku pernah kecewa dan lelah saat itu, tapi aku menyadari itu sepenuhnya bukan karena kesalahaan.
    Apa yang terjadi antara aku dan dia diwaktu lalu sepenuhnya karena keadaan..yah karena keadaan…., bukan karena aku dan ia yang tak pernah sehati, atau tak saling mencintai….kita pernah saling mencintai.
    “What the hell im doing…, im going insane…”
    Well apa yang bisa aku lakukan jika memang kegilaan itu datang, apakah aku akan terjebak dalam ilusi? Perasaan-perasaan yang aneh? Kegilaan-kegilaan yang melelahkan?.
    Seperti biasa aku sudah terbiasa dengan kegilaan-kegilaan seperti ini, apa lagi jika memang ini yang Tuhan rencanakan, mungkin…bisa jadi…
    Biarkan saja aku menghadapi kegilaan itu lagi….
    Tapi aku tahu kali ini aku tak akan menjadi GILA.
    Semua kemungkinan itu dapat saja terjadi, tetapi seperti banyaknya kemungkinan bisa saja tidak terjadi seperti yang kita harapkan.
    Manusia hanya bisa menjalani salah satu dari semua kemungkinan tersedia, menjalani satu yang telah ia tetapkan untuk ia jalani…entah atas pilihan yang logis atau karena perasaan-perasaan.
    Persoalannya sering kali manusia tak dapat menerima jika apa yang dijalaninya tak sesuai dengan kenyataan.
    Manusia menjadi kecewa
    Marah,
    Patah hati,
    Depresi,
    Tertolak,
    Terluka hebat….
    Bagiku, aku harus menyiapkan diri untuk apapun yang terjadi, entah itu baik, ataupun itu buruk….
    Aku telah terbiasa…aku telah mengalami yang lebih berat, tak ada salahnya jika aku mengalaminya lagi….dan ini kegilaan, kenekatan…
    Tapi yang bisa aku lakukan saat ini aku harus menyiapkan diri untuk tidak ter eforia dengan harapan…tak ingin tengelam dalam ilusi-ilusi, walau perasaan mungkin saja bergejolak hebat…seperti yang pernah kualami diwaktu-waktu lalu.
    Akhirnya pun aku tertidur…karena aku lelah berfikir…

    ***

     Beberapa hari lalu aku menghubunginya, untuk mengingatkan janjian kita hari ini, dan tepat dua minggu sejak malam terakhir aku bertemu dengannya dan obrolan kita malamnya…ia tak lupa tentang permintaanku untuk bertemu dengannya, apa lagi aku…aku yang memulai tentu aku tak akan lupa atau melewatkan untuk bertemu dengannya…apa lagi beberapa hari lalu ia ingin sekali bercerita-cerita tentang banyak hal…entah apa itu.
    Hari ini, aku memacu meninggalkan kantor, aku tak ingin terlambat, aku tak tega membiarkan ia menungguku, sekalipun jika ia menunggu ia akan cukup sabar menungguku, ia tak akan mengeluh atau complaint, entah dari mana ia dapatkan kesabaran itu.

    Aku melangkah dengan cepat keluar dari parkiran, ingin segera menjumpainya..
    Aku berjanji menjumpainya di Cork and Screw, Plaza Indonesia, dari jauh aku telah melihatnya berdiri didepan pintu.
    Gila…aku melihat malaikat hari ini.
    Malaikat cantik dibalut dress warna hitam dengan corak batik by Etro, dan sepatu hak tinggi by Linea.
    Aku begitu detail melihat penampilannya, pembawaanya…

    “Hey darling…, udah lama nunggu”
    “Hi…”
    Aku mengecup kedua pipinya, seperti seorang yang sudah lama tak berjumpa.

    Aku sudah memesan tempat ditempat yang ku pilih, aku memilih duduk dekat kaca besar menghadap bundaran HI, agar dapat menikmati lampu-lampu jalanan, juga kemacetan dan mereka yang terjebak dalam kesemrawutan Jakarta.
    “Silahkan kataku”
    “Thank you…”
    Ia duduk, setelah aku mempersilahkan nya duduk…
    “Wah hari ini kita ngak samaan warnanya”
    “Hah?, samaan? Oh oh baju kita…”
    “Ya..”
    “Terakhir kali kita hitam-hitam…kali ini aku santai, aku belakangan suka berpakaiaan santai walau ke kantor…”
    “Sesantainya kamu tetap nampak rapi dengan kemeja…”
    “Kamu merhatiin aja…”
    Seorang pelayan sudah berdiri disamping meja menunggu pesanan kita.
    “Hmmmm, makan apa ya…., saya pesan Duck Coffin and Blueberry Affair, kamu Kay?”
    “Aku pesan…sama aja deh…hehe”
    “Ah satu lagi saya pesan Mineral Water dua, kamu mau nambah apa lagi?”
    “Ngak…ngak ada nanti aja…”
    “Ok, kayaknya cukup nanti aja kalau ada tambahan lagi…”
    “Baik pak…” kata pelayan.
    “Jadi gimana…gimana kabarmu?”
    “Baik…, kamu?”
    “Baik juga…biasa lah…, sibuk ya dua minggu ini”
    “Iya…”
    “Shooting?”
    “Hmmm”
    “Wah makin terkenal aja nih…”
    “Hahahaha, ah ngak ah….biasa aja….”
    Aku sejenak terdiam…
    “Ah salah…”
    “Hah….apa yang salah…”
    “Ngak…ngak…”
    “Ada apa?”
    “Nothing…”
    Wajahnya tiba-tiba berubah…
    “Nothing…gak ada yang salah dengan mu, hanya tempat ini…”
    “Kenapa dengan tempat ini, tempat ini bagus…aku suka…”
    “Aku senang kalau kamu suka tempat ini”
    “Ahhhh aku tau…pasti tempat ini ada sesuatu…”
    “Ngak gak ada … “
    “Ayo ngaku…jujur…”
    “Hahahaha, ok ok…ya ada…aku pernah mengajak seseorang ke sini, tepat dihari ulang tahunku…”
    “Oh ya…? Wah special dong”
    “Tidak…tidak sama sekali, malah aku sempat dapat firasat, itu makan malam pertama dan terakhir ku dengannya…”
    “Ada apa?”
    “Ahhh cerita lama”
    “Apa? Certain dong….”
    “Kamu ingat gak, waktu kita makan malam di Social House tujuh bulan lalu…”
    “Ingat…”
    “Dan kamu bertanya, siapa yang bersama ku saat itu…”
    “Ya ya…”
    “Aku mengatakan bahwa aku tidak dengan siapapun, bahkan baru saja melewati masa-masa yang tak menyenangkan”
    “Iya aku ingat…lalu…”
    “Yah tepat di meja itu, tanggal 31 Agustus, satu hari sebelum ulang tahunku, aku makan malam dengannya…, setelah itu kita jalan-jalan, lalu ngopi…, malam itu semua baik-baik saja…menyenangkan…ia menyukai sekali hari itu”
    “Jika baik-baik saja kenapa berakhir?”
    “Yah, aku sempat menjumpai Papanya di Bandung, berkenalan dengan seluruh keluarganya…”
    “Lalu…”
    “Hahahhaha….aneh kan kehendak Tuhan, semua yang nampaknya baik-baik, jadi tak baik…cinta…sering kali buta dan membuat kita bodoh”
    “Maksudnya…”
    “Hahahhahah”
    “Kamu yang buta…?”
    “Aku? Aku koq buta…hahahaha aku pernah buta tapi tidak buta lagi sekarang…”
    “Lalu…”
    “Aku yang meninggalkannya, tepat tanggal 20 Agustus…aku meninggalkannya”
    “Kenapa?, kenapa jika semuanya baik-baik kamu yang meninggalkan”
    “Kan aku bilang bahwa cinta buta, aku sih gak buta, aku tidak tolol…hanya saja aku tak ingin menjadi sebuah pilihan diantara aku dan seorang laki-laki brengsek, yang dipertahankannya”
    “Ohhh gitu…”
    “Hmmm”
    “Sama seperti aku dong”
    “Tidak…berbeda…mirip tapi tak sama…mungkin aku tak akan kecewa berat jika aku tidak memiliki harapan-harapan, tapi aku bersyukur aku memiliki harapan, daripada hidup tanpa harapan, tanpa kepastian…tapi aku tetap tak pernah suka hidup dalam ilusi dan kebohongan”
    “Hmmm, kamu memang dasar Realis abis”
    “Hahahhahahaha”
    “Lalu menurutmu apa itu cinta?”
    “Hahhh??? Cinta????? Wait wait…nanti aja bahasnya….makan dulu, pesanan kita datang”

    Aku dan dia menikmati hidangan makan malam kita yang menyenangkan…
    Makan malam yang romantis….menurut sahabatku…
    GOMBAL.
    Bagiku makan malam yang penuh kegilaan juga keindahan…
    Kita tak banyak berbicara selain menikmati bebek pangang dengan kacang panjang, black paper, dan sesekali berpandangan atau memandang keluar jendela.
    Memandang senyumnya itu menambah nikmat hidangan makan malam hari itu.
    “Wait..wait…”
    Aku mengambil tissue sambil membersihkan noda black paper di didekat bibirnya yang manis.
    “Thank you…” katanya sambil tersenyum malu.
    Gilakkkkk, kegilaan dari spontanitasku.
    “What hell im doing….” Kata hatiku.
    Setelah kami menikmati hidangan itu, aku terdiam, tak bisa berkata apapun…
    Ia diam.
    Dua manusia dalam kesunyian tanpa kata-kata…lucu….

    “Koq diam?, kamu belum menjawab pertanyaanku”
    “Hmmmm….ya ya….apa tadi?, cinta? Apa itu cinta?”
    “Ya…cinta”
    “Kamu mempercayainya Kay?”
    “Ya…dulu…”
    “Sekarang…?”
    “Entahlah…menurutmu apakah aku masih mempercayainya?”
    “Pastinya…”
    “Lalu apa itu cinta?”
    “Makanan kali…”
    “Hahhaha…Makanan?”
    “Ya… makanan kali…atau perasaan mungkin…tapi bagiku cinta itu kegilaan”
    “Koq kegilaan?”
    “Ya cinta itu temporary insanity, illusion, eforia”
    “Koq bisa begitu…”
    “Yah…kebanyakan….”
    Aku diam dan melanjutkan lagi kalimatku
    “Bayangkan saja, apa yang membuat kita sadar kalau kita sedang jatuh cinta?, sadar tak sadar?”
    “Gak tau…”
    “Kebanyakan dari kita hanya menyerah percaya pada perasaan-perasaan bahagia, tak jelas, berbunga-bunga, kesal, kangen, nafsu…..The heart feels a mixture of passion, lust, fear, sin, love, worry, desire, unpredictable behavior, strong overwhelming emotion…benarkan?.”
    “Hmmm”
    “And you can’t trust that feeling? Or you also trust your mind?”
    “Maybe…”
    “No…you can’t trust that…, coba pikirkan…kita percaya bahwa kita sedang dalam cinta lewat tanda-tanda bahwa kita memikirkannya setiap saat, merindukannya setiap detik…lucu…”
    “Ya seperti nampaknya” katanya
    “Menurutku itu kebodohan…kegilaan, masa cinta membuat kita menjadi manusia yang tidak normal, menjadi gila….terilusi dengan perasaan nya sendiri”
    “Bukankah itu menariknya seseorang yang jatuh cinta, apa kamu sendiri tidak pernah seperti itu?????”
    “Ya memang menarik, menyenangkan…aku pernah koq … aku pernah, aku product dari keadaan itu, aku tahu pasti seperti apa, aku pernah berada didalam keadaan itu, aku tahu pasti seluk beluk semua perasaan itu”
    Aku kembali terdiam…
    “Tapi aku sadar aku tak ingin terus-terusan terkendali dengan perasaan-perasaan saja,…ingat ‘SAJA’ kataku….”
    “Maksudnya…”
    “Ya aku tak ingin hanya dengan perasaan-perasaan saja…aku tak ingin terus-terusan membuat diriku sendiri bodoh karena terjebak oleh perasaan-perasaan saja….coba berapa banyak orang menjadi aneh saat ia jatuh cinta…mereka menjadi gila menanti telfon pacarnya, perasaanya jadi kacau, kekawatiran yang berlebihan, dan karena semua itu pekerjaanya bisa jadi berantakan…aku pernah ada disana, aku tahu pasti seperti apa….kenapa cinta yang indah menjadi depression, mentally unstable, anxeity”
    Aku diam kembali.
    “Tapi coba renungkan…saat semua itu membelengu…bukankah perasaan itu yang menutup akal sehat kita?, kita menjadi cepat mengikuti emosi dan perasaan…dan karena akal sehat kita telah tertutup…mungkin kita pun tidak bisa lagi mengetahui, apakah ia sungguh-sungguh mencintai kita atau kita sebenarnya sedang TERTIPU, banyak orang nampak merasa merasakan cinta, tetapi ia tak sadar ia tertipu, terbodohi kalau rupanya ia memperlakukan kita hanya sebagai asset dari nafsunya”
    “Hmmm”
    “Coba pikirkan karena alasan cinta…katanya cinta sih…seseorang sekali pun disakiti, ditinggalkan, seluruh uangnya habis, ditipu, tapi ia tetap mengharapkan pribadi itu kembali dan berubah, berharap dapat bahagia dengan seseorang yang menyakitinya…., sambil berkata ‘manusia bisa berubah’…’Tuhan bisa merubah’…siapa yang membodohi siapa? Apakah orang itu atau diri kita sendiri….atau kita terjebak oleh Ilusi kita sendiri”
    “Hmmm”
    “Memang bisa saja kita jadi obyek dari kebohongan, yang terilusi oleh janji-janji palsu, dongeng-dongen keindahan dari romantisme yang palsu, konsep pikir yang salah, terjebak pada pola pikir yang lama, ingat  bukankah kita memiliki kesadaran, memiliki akal sehat….untuk tidak mau tertipu….tertipu semua yang PALSU”
    “Hmmm benar juga sih..…lalu lalu”
    “Mana kesadaran saat perasaan berlebihan dari cinta itu datang?”
    “Entah?”
    “Kemana..mana…hilang zapppp seperti angin, kita dikuasai hanya perasaankan? Dan semua kesadaran tiba-tiba mengilang…ini yang selalu aku sebut Temporary Insanity…kita menjadi TIDAK WARAS, sekali lagi karena kita telah tengelam dengan kesemuaan perasaan saja…, mana kesadarannnya…mana logikanya…mana kewarasannya…atau cinta hanya emosi-emosi yang tak jelas…TENTU tidak kan…”
    “Cinta buta…”
    “Cinta atau romantisme?, cinta tidak membutakan, cinta tidak menyakiti, kita yang buta, kita yang menyakiti diri sendiri”
    “Benar juga”
    Aku terdiam
    “Aku pernah menjadi bagian dari harapan yang membahagiakan tetapi kenyataan yang tidak ada. Ilusi kebahagiaan yang sesunguhnya aku sedang ciptakan sendiri atau aku diberikan harapan yang sesunguhnya SEMU, yah seperti yang terakhir…..dan akhirnya aku harus keluar dari sebuah keadaan yang tak pasti, karena diberi harapan-harapan semu, aku ingin kenyataan daripada hanya sekedar terilusi, aku mau realitas”
    “Tapi kan yang terakhir nampaknya bukan kesalahanmu….”
    “Yah itu, kasus itu….aku tak ingin berada ditengah kekacauaan dari orang yang pikirannnya kacau…siapa yang waras, siapa yang tak waras? Apa perlunya yang waras mengikuti yang tak waras, bukan dibalik-balik seseorang yang waras dibilang tak waras”
    “Maksudnya?”
    “Yah jelas kan, masa yang waras mau mengikuti yang tak waras? untuk itu aku harus memutuskan melangkah, pergi, go away, menjauh…aku tidak mau ikut-ikutan tidak waras…mending aku pergi daripada berada ditengah kekacauaan dan sandiwara, kepalsuaan, drama, kebohongan….apa aku sudah gila mau menghabiskan waktu ku untuk sesuatu yang percuma…waktu terus berjalan…kehidupan dinamis bergerak…aku harus terus bergerak, aku tidak mau stuck pada kondisi yang tidak waras”
    “Tapi tak banyak orang yang sadarkan…???”
    “Ya karena tak banyak orang sadar…tak banyak orang sadar akan hal itu, tak sadar atau tak mau sadar? Sama saja, tak sadar masih lebih baik daripada tak mau sadar atau sudah tahu tetapi tetap tak mau sadar…tapi semua itu membuat seseorang jadi sering kali tertipu….diakhir mereka menangis, menulis dalam wall status facebooknya kalau ia terlukai…tanpa sadar ia merendahkan dirinya sendiri, so pathetic”
    “Masa ada yang begitu?”
    “Mengenai apa?”
    “Status facebook”
    “Ada…yang menulis tenang ratapannya di public…bahkan ada yang lucu beberapa waktu lalu, seorang model cantik aja menulis ‘Aku koq gak laku-laku, udah obral gak laku-laku’…, aku tertawa geli melihat itu…ia merendahkan sekali dirinya sendiri, kecantikan rupanya tidak selalu dilengkapi qualitas pikiran dan hati….so pathetic”
    Aku mengambil waktu sebentar menikmati Bluebarry Affair ku…

    “Hmmmmm….lihat kita saat itu, kita pernah saling mencintai, kita berdua sama-sama dipengaruhi perasaan tetapi juga pikiran, dan saat kita sibuk dengan kesibukan masing-masing kita tidak terjebak kekawatiran dan pada saat kita sama-sama menyapa kita masih saja dipenuhi kerinduaan, kelembutan, ketulusan, kecintaan…dan kita ada disana karena keputusan kita”
    “Hahahah masa?”
    “Ingatkan disaat kita dipenuhi kesibukan masing-masing sebagaimana dirimu tak pernah sesekali pun mencurigaiku atau sebaliknya”
    “Iya ya…”
    “Apakah kita terjebak egoisme?, kita tidak tidak… kita tidak terjebak egoisme…walau pernah marah dan kecewa atas keputusan mu, tapi aku kemudian berfikir aku tak dapat egois memiliki mu untuk diriku sendiri, pada akhirnya kita sama-sama mengorbankan cinta kita masing-masing….ingatkan kamu pernah berkata, dipesan terakhirmu ‘Im so sorry. So sorry satu hal yang kamu perlu tahu, bukan hanya kamu yang sakit tetapi aku juga’ ”
    “Ohhh Mark”
    “Egoisme adalah setan yang berbahaya…setan yang mengerogoti hati kita…karena egoisme seseorang selalu ingin merasa dipenuhi kebutuhan perasaannya…hingga ia sibuk hanya melulu kebutuhan perasaanya saja, dan karena itu ia menuntut agar dipenuhi dulu, tapi kemudian ia lupa juga memenuhi kebutuhan pasangannya akan penghargaan, kepercayaan, kasih sayang dan banyak lagi…aku bersyukur saat itu kita tidak seperti itu…kamu benar-benar dapat menggerti pikiranku kamu selalu mengapresiasi semua hal tentangku”
    “Ah masa sih…”
    “Iya koq Kay…that’s you, that’s why I admire you…”.
    “Hahah”
    “Kamu tahu aku pernah menulis begini ‘An ex is called an ex because he/she is an [ex]ample of what you don’t want in the future’ , tapi tidak dalam kasus aku dan kamu…aku berharap suatu hari nanti aku menemukan seseorang yang mirip dirimu, dengan segala kedewasaan, pengertian, hati…sesempurna diri mu”
    “Lebay deh… hahahaha, aku tak sesempurna itu Mark”
    “Sungguh…saat itu adalah titik dimana aku menemukan seseorang yang tepat…jika nanti orang itu pun kamu sendiri well aku tak akan membiarkan mu terlepas lagi…aku akan mencintaimu dan menjaga mu…maaf bisa jadi orang lain loh yaaa , yang kemudian hari bakal aku temui”
    “Mungkin orang lain bukan aku…hahahahahah”
    “Ingat…hidup penuh kemungkinan kan…kalau orang itu kamu gimana?”
    “Hahhahahaha, ya kalau aku kenapa? Tapi apa mungkin dengan keadaanku?”
    “Bisa jadi…kenapa tidak mungkin….hahahah, ingatkan kamu pernah berkata kepadaku ‘kenapa aku tak mengenal mu lima belas tahun yang lalu’ bukankah kamu sedang berbicara kemungkinan kan? Tapi jangan sampai kita terjebak menyalahkan Tuhan dengan ‘kenapa gak begini dan kenapa gak begitu’ ”
    “Ya ya ya aku ingat…”
    “Bagiku itu sesuatu yang indah masih ku ingat, kita mengharapkan sesuatu yang indah, walau kenyataan tidak…dan sekali lagi atas alasan dan rahasia Tuhan”.
    “Lalu kalau itu aku gimana?”
    “Wah tentu aku orang terbahagia didunia….tentu aku benar-benar tak akan melepaskan mu lagi…aku akan menjaga dan mencintai dengan keseluruhan hatiku…seluruh sisa waktu hidupku…kamu kan ingat aku suka lyric When I Falling In Love ….hahaha bagiku itu prinsip“
    “Mulai deh gomballl…hahahah”
    Aku diam…
    “But thank you Mark…”
    “Hmmm”
    “Tapi bisa jadi bukan aku…”
    “Ya…”
    “Lalu apa yang terjadi setelah peristiwa yang terakhir?…”   
    “Aku? Hanya dalam waktu satu minggu aku pulih…satu bulan masih melalui hari-hari terbangun ditengah malam, dan kamu tau….mama ku sampai ngomong…’kamu lebih tegar sekarang’ “
    “Lalu setelah itu? Selama delapan bulan setelah kejadian itu?…”
    “Apanya?”
    “Kenal seseorang lagi selain ia?”
    “Hmmm hahahahah….entah berapa banyak wanita setelah itu ku kenal, tapi kemudian aku berhenti sebelum memulai terlalu jauh…kebanyakan dari mereka menuntut dicintai, diperhatikan, seperti yang ku bilang tadi…Egoisme…”
    “Bukankah semua wanita ingin dicintai?”
    “Ya…tapi jangan lantas Egoisme diutamakan…seperti yang ku bilang, kita sering menuntut untuk diperhatikan tetapi lupa untuk memenuhi kebutuhan pasangan kita”.
    “Apa dengan begitu saja kamu membuang semua perasaan itu”.
    “Ya…defense mechanism”
    “Apa itu?”
    “Mungkin semacam insting mempertahankan diri…”
    “Dari?”
    “Bukankah kita akan mempertahankan diri saat kita akan disakiti, aku mempersiapkan diri atau mungkin menghindari jika aku melihat seseorang tak akan bisa bisa bersama berjalan bersamaan, atau sama sekali tidak mencintai secara dua arah”
    “Jadi semua itu hilang begitu saja?”
    “Ya dan harus…”
    “Bagaimana mungkin kamu membuang begitu saja perasaan-perasaan itu?”
    “Yah berapa banyak orang tak ingin menghilangkan perasaan-perasaan yang menganggu?, hidupnya tiba-tiba dipengaruhi oleh karena perasaan dan keadaan…contah seseorang yang patah hati, ia habiskan waktunya hanya untuk mencari jawaban ‘kenapa’, ‘ada apa dengan ia’, ‘apa salah ku’, ‘kenapa Tuhan tidak berikan dia padaku’, ‘kenapa gak begini kenapa gak begitu’ ‘kenapa…kenapa…kenapa’ diri kita habis dengan bertempur dan bertempur dengan pikiran dan perasaan kita, menangis dan menangis karena diri kita, sakit hati atau karena kenangan masa lalu yang masih jelas, kita habis dengan diri kita sendiri, kita menghabiskan waktu, tenaga, semuanya…..sekalipun diri kita tahu, kita tahu…sudah tahu bagaimana melalui semua yang menyakitkan itu…nyatanya, kebijaksanaan kita sering kali kalah karena kita selalu mendahulukan sisi diri kita yang mengasihani diri sendiri….kita tidak cukup tega untuk membuat diri kita mampu berdiri”
    “Semua itu proses….harus melalui proses”
    “Hmmm proses?…, harus?”
    “Haruskah kita melalui proses? Atau proses itu karena pola pikir kita sendiri?, Berapa banyak orang berfikir begini, ‘bahwa setelah penderitaan atau patah hati, kita HARUS melalui proses? Karena proses adalah cara untuk mendewasakan’, aku percaya proses (saat aku masih banyak belajar), tapi bukankah jika kita telah belajar sebelumnya dan kita benar-benar telah pernah melaluinya, kita tak perlu lagi melalui proses yang sama? bisakah kita berfikir sisi yang berbeda dan jauh pola pikir klasik (terjebak dalam pola pikir yang selalu sama dan lama), ‘Harus melalui????’.
    Pertama tak ada seorang pun bahkan Tuhan menentapkan kita untuk HARUS melalui proses berat, proses pemulihan dan proses belajar dan bla..bla..bla seperti yang sering kita katakan saat setelah penderitaan atau patah hati, apakah IA berkata demikian agar kita melaluinya? Tidak….tak ada, kita hanya terpola dengan pemikiran umum, bahwa ‘proses adalah cara melalui pendewasaan’, bukankah jika kita telah melalui dan kita sudah dewasa kita tak perlu mengulang proses yang sama?.
    Kedua proses hanya terjadi bagi mereka yang belum dewasa, sama seperti seorang bayi dalam proses belajar jalan, bukankah kita yang dewasa matang dan berpengalaman sudah mengetahui banyak hal dan tinggal melakukannya? Ingat bukan akan melakukan, atau proses melakukan, tapi sudah dilakukan, sudah selesai.
    Ketiga pada saat kita yang dewasa berkata ‘saya sedang dalam proses’, itu hanya ilusi nya sendiri dan terjebak pada pola pikir lamanya atau ia sedang mengasihani diri sendiri. 
    Keempat jadi sesunguhnya tak ada proses yang harus dilalui, tak ada proses itu, kita hanya perlu keluar dari penderitaan yang juga tanpa perlu proses, ya keluar saja, secepat kita mengedipkan mata, ini hanya bicara ada dan tiada, hari ini ada kemudian tiada lagi penderitaan. Tidak ada itu proses!”
    “Kamu bisa berfikir semua itu”
    “Ya…aku hanya melihatnya dari point of view yang berbeda…”
    “Dan lagi a man who is mastering of himself can control everything in him, he can end a sorrow and broken heart as easily as he can invent a pleasure and love. I don’t want to be in my own illution and stupidness , I don’t want mercy my self, I dont want be so pathetic. I use my sorrow as winning point, not to enjoy it, but to dominate it and control it.,  when i feel sorrow, it’s must end today, right now, i don’t need trying, i just end it, overcome it, control it, make it zap and gone, like a magic, not need tommorow to try again, if i try again, exacly im traped in my own illution still enjoying my self pity, i just not hard enough with my self, NOT HARD ENOUGH. IT MUST END NOW!"
    Ia membelalakan mata mengerutkan dahinya berfikir keras apa yang aku sedang jelaskan.
    “Mark … Mark …kamu memang berbeda…”
    “Hmmm masa…, apanya?”
    “Bicaramu, pembawaanmu, pikiranmu kadang sulit untuk dicerna, you too hard with your self …dan yang sekarang kamu jadi Superman”
    “Hahahhahahah haduhhhh Clark Kent yang dapat berubah kapan pun jadi Superman…tapi aku? hahahahahahah”
    “Hahahahah”
    “Gimana jika aku Clark Kent dan kamu Louis Lane…”
    “Gimana jika Superman dan Supergirl…kamu memerlukan seseorang yang sepikir dengan mu, yang sekuat kamu, mengerti pikiranmu”.
    “Ada satu….atau dua, aku telah sempat menemukannya…”
    “Siapa?””
    “Ya kamu…, atau jika aku menemukannya mereka semua kemudian menjadi sahabat-sabahat ku…lucu bukan?”
    “Kamu menangis saat itu?”
    “Menangis????”
    “Iya saat melewati semua itu…”
    “Ahahahhaha Superman don’t cry … honey”.
    Ia tak tahu, bahwa aku pernah menangis melalui segala kepedihan, tetapi kemudian aku berhenti menangis, aku mengalahkan diriku sendiri dengan menolak menjadi lemah, berdiri teguh dan terus berdiri sekalipun aku lebih sering diterjang oleh ombak yang menghancurkan.
    Ahhhh…ia tak tahu semua yang telah ku alami…
    Hingga aku menjadi diriku hari ini.

    ***

    Oborolan kita yang menarik itu, tak terasa telah memakan waktu malam itu jadi cepat sekali.
    Mungkin jika ratusan malam pun kulalui seperti itu, tak akan pernah habis membahas persoalan kehidupan, tapi ratusan malam akan sangat menyenangkan dan membahagiakan untuk dilalui saat aku duduk dan berbicara terbuka, bebas, mengungkapkan semua pemikiran ku yang gila, bersamanya.
    Ia menatap dengan seksama dan penuh penghargaan mendengarkan ku, dan aku pun menghargai semua pemikirannya yang terbuka yang kadang masih belum dapat menangkap pemikiranku.
    Tapi bukan itu yang lebih membahagiakanku…
    Yang lebih membahagiakanku adalah bersamanya duduk melalui malam itu sekali lagi…

 

Stuck Like Glue – Sugarland

Mmmm better…mmm better…
Absolutely no one that knows me better
No one that can make me feel sooo goooood
How did we stay so long together?
When everybody, everybody said we never would
And just when I, I start to think they’re right
That love has died…

[Chorus]
There you go making my heart beat again,
Heart beat again,
Heart beat again
There you go making me feel like a kid
Won’t you do it and do it one time?
There you go pulling me right back in,
Right back in,
Right back in
And I know-oo I’m never letting this go-ooo

I’m stuck on you
Whutooo whutooo
Stuck like glue
You and me baby we’re stuck like glue
Whutooo whutooo
Stuck like glue
You and me baby we’re stuck like glue

Some days I don’t feel like trying
Some days you know I wanna just give up
When it doesn’t matter who’s right, fight about it all night
Had enough
You give me that look
"I’m sorry baby let’s make up"
You do that thing that makes me laugh
And just like that…

[Chorus]
There you go making my heart beat again,
Heart beat again,
Heart beat again
There you go making me feel like a kid
Won’t you do it and do it one time
There you go pulling me right back in,
Right back in,
Right back in
And I know-oo I’m never letting this go-ooo

I’m stuck on you
Whutooo whutooo
Stuck like glue
You and me baby we’re stuck like glue
Whutooo whutooo
Stuck like glue
You and me baby were stuck like glue

 

Mid Maret 2011 – 9/4/2011 7:33 PM
Markus AP   

28 Responses to “Superman Don’t Cry (cerpen)”

yasmin syahrevi

*kunci mulut rapat-rapat* kecuali lg PM…dan mr. marks lg buka conseling…hehehe… big grin

@yasmin syahrevi : laughing saya gak lagi tutup mulut tuh, skrg malah lagi tutup pintu rapat-rapat, dalam ruangan kerja saya…tongue

ada yg bisa dibantu bu? masalah keluarga? cinta? suami?

yasmin syahrevi

hahaha…kunci pintu rapat-rapat…ngapain tuh *suspicoius* kalo mau conseling…mesti daftar dulu ngga pak? pake ngantri juga ya? kalo gt aku daftar jadi client nya ya pak…tapi kerahasiaan kasus terjamin kan boss dont tell anyone dont tell anyone dont tell anyone

@yasmin syahrevi : mau tauuuu aja…. hihihi tongue

Ya seperti layaknya kalau ke puskesmas atau ke dokter ya harus daftar, dan kalau lage gak rame ya ngak perlu antri…

Tenang tenang rahasia terjamin…

waw, keren .. walau endingnya ga tau kelanjutan hubungan tu

pa kabar omm? da lama gw ga pernah mampir ke blog si omm jadi ga ngikutin banyak cerita nya

ko kali ini ceritanya berat ya huhhhhhh, bikin yg happy ending dong omm

@neta : thank u big grin kelanjutannya hmmm thinking thinking agak susah dijelaskan….ikuti aja terus siapa tau sy bikin lanjutannya tongue

@lucia : kabar baik lus, iya neh kemana aja, udah lama gak pernah mampir,,, wah kelewataan jauh hihihihi… *mang kereta*

iya nih nanti deh bikin cerita yang happy ending…lage nyari ide *atau pengalaman* hihihi tongue

Leave a Comment

 
feed

notice
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation
tour