Parodi : Sweety…Oh Tweety
"Being so sweet with your partner, only need communication with de positing a part of yourself in another". – Markus AP
Saya ngiriiiiii, super ngiriii, sangat ngiri, apa ngak ngiri coba kalau mendengar atau melihat obroan sahabat saya dengan suaminya….well saya gak perlu menyebutkan namanya sahabat saya siapa, nanti saya dijitak kan sakit atuhhhh hahahahah…
Baiklah kita coba dengarkan obrolannya!
“Yank, udah liat film nya apa?”
“Belom”
“Dasar…hahaha I Love You, Honey”
“Love you too sweetheart”
Uhuyyyyyyyyyy ….. mau dong mauuu, ngiri deh gue….![]()
![]()
, so sweet banget kan…
bikin ngiri aja
, rasanya kayak apa tuh kalau kejadiaan sama saya…bukankah hidup itu indah, bener-bener indah, dunia benar-benar milik berdua.
Romantissss abis…
Kayak anak remaja yang lagi jatuh cinta, padahal sahabat saya sudah belasan tahun menikah, jadi sesungguhnya jika ada yang bilang bahwa romantisme itu hilang setelah menikah beberapa tahun…saya rasa itu konsepsi yang tidak 100% benar, buktinya masih ada tuh pernikahan atau hubungan yang lama masih aja penuh kemesraan dan kehangatan, ya salah satu contohnya ya keluarga sahabat saya itu. Itulah kenapa keluarganya selalu menjadi sebuah contoh dan panutan bagi saya, kalau perlu ditulis agar jadi contoh untuk banyak orang. Kalau perlu diumumin pake Toa ke seluruh pelosok Jakarta…ahahahaha
Well maybe become the best couple 2011…
Karena obrolan itu saya membayangkan diri mengalaminya (lagi) dengan pasangan saya (entah siapa), bukan saya gak pernah loh seperti itu, saya pernah koq begitu (dulu)…gini-gini jago neh….., tapi karena mendengarkan obrolan itu jadi pengen mengalaminya lagi…aihhhh lucunya…so sweetttt bangetttttttttttttsss deh hihihi.
“Makanya cuss cari istri”
“Hahahaha, iye kalau ada yang mau…hahahahahah
”
“Masa sih ga ada yang mau???”
“Ada koq ada…ngantri malah…ngantri beras maksudnya
“
Saya melihat percakapan dari sahabat saya, bukan hanya dari sisi romantisme nya saja, tetapi melihatnya ke sebuah komunikasi yang baik yang dikemas dalam sebuah kemanisan yang baik, romantisme yang baik.
Saya pernah menulis quote demikian :
"In any level of relationship clear communication with clear talk, clear meaning, good language, nice intonation, good manners, and without we expect they are knowing our mind, will produce nice and good relationship, civilized person"
Clear talk artinya, mengunakan bahasa yang jelas, tidak pakai bahasa isyarat, tidak pake singkatan, tidak pakai icon, apa lagi bahasa kalbu….atau bahasa hantu…wahhh membingungkan.
Coba kalau pasangan selalu pake bahasa kablu, atau icon? Pusing kan!!!! cekot cekot neh kepala
Dengan jelasnya sebuah percakapan (bahasa), tentu kita bisa mengetahui jelasnya makna (clear meaning), dengan sebuah percakapan yang baik sesunguhnya kita sedang menyampaikan maksud yang kita inginkan .
Dan maksud yang baik pula dilihat dari cara kita menyampaikan nya dengan bahasa yang baik, tidak pake singkatan, tidak pake bahasa bencong, tidak pake bahasa gaul.
“Bahasa bencong itu gimana sih cus”.
“Ih cape deh… gitu aja gak tau
Nih…nih contohnya … Akika mapcus mau belenjong blenjong ma lekong eike”
Pusing kannnnnnn, gue aja belom tentu tau, kalau gak searching di google.
Bahasa dengan manners yang baik contohnya tidak “loe loe” tidak “gue gue”, atau menyampaikan dengan jelas maksud kita, misalkan kita lagi ngobrol tiba-tiba harus mengerjakan sesuatu, maka manners yang baik adalah menyampaikan kepada lawan bicara kita “Maaf…sebentar ya, ada yang mau aku kerjain, nanti aku panggil lagi”…ihhhh bete deh kalau tau-tau ngilang…hahahah kayak hantu aja
.
Yang selanjutnya intonasi sebuah percakapan juga menentukan antusiasme kita berbicara pada lawan kita…intonasi yang halus, tanpa penekanan, tanpa keterpaksaan, tanpa emosi, tanpa kekesalan membuat lawan bicara kita juga nyaman berbicara dengan kita.
Coba perhatikan, jika ada dua orang bercakap-cakap, seorang berbicara dan seorang diam (pendengar), mana yang memberikan antusiasme kita untuk berbicara pada lawan bicara kita.
1.Yang mendengar tanpa memberi respon
2.Yang mendengar dengan antusias dan memberi respon “hmm” “terus” “lalu” “kemudian” atau sedikit memancing memberi tanggapan.
Tentu semua orang akan memilih yang no 2 untuk diajak bicara lagi kemudian.
Coba perhatikan lagi, jika ada dua orang bercakap-cakap, seorang berbicara dan seorang diam (pendengar), mana yang lebih menyenangkan untuk diajak bicara?
1.Intonasi yang baik
2.Intonasi yang tidak baik
Memang mungkin intonasi kita tidak dimaksudkan untuk kelawan bicara kita itu (misalkan karena sesuatu hal tiba-tiba ada yang membuat kesal kita), tapi hendaknya kita bisa benar-benar membedakan situasi antara keadaan yang membuat kesal kita, dan saat kita berhadapan dengan lawan bicara kita.
Males kan kalau nadanya jutek, males kan kalau nadanya keras, atau merintah-merintah (padahal kita ga tau kenapa masalahnya)…arghhhhhhhhhh ![]()
![]()
gue juga bisa jutekkk loh
Kalau bisa pake senyum dong biar so sweet dikit…
Bukankah sangat menyenangkan mendengarkan pasangan kita atau teman kita dengan intonasi yang nice…apa lagi so sweet banget, menyamankan, menenangkan, gak pake jutek-jutekan apa lagi nadanya mencurigai…hahahahhaha kayak maling aja dicurigai…
Bagi saya komunikasi, bahasa adalah jembatan mengetahui pikiran seseorang, komunikasi yang baik mengembangkan sebuah hubungan yang baik, komunikasi yang baik menjadikan kita juga civilized person (pribadi yang beradab), menunjukan keindahaan dari kepribadiaan kita.
Satu hal yang berbahaya yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang juga sering tidak dipahami oleh kebanyakan orang.
1.Kita sering tidak jelas menyampaikan maksud.
2.Kita sering tidak tegas menyatakan sesuatu
3.Kita sering berfikir orang lain tahu apa yang kita maksud dan kita fikir
4.Komunikasi yang baik selalu terjadi dua arah, diusahakan oleh dua atau lebih arah, bukan salah satu.
Sesungguhnya ini sering menjadi masalah dalam semua level hubungan… khususnya point 3, kita sering memikirkan sesuatu keinginan tetapi tidak menyampaikannya, berharap orang lain tahu apa yang kita mau.
Well…I think harus sekolah baca pikiran dulu kali ya…hahahahahah,
not everybody know what in our mind.
Dan seperti yang saya bilang tadi, kalau sebuah percakapan dikemas dengan baik seperti yang saya tulis tadi dalam quote saya, apa lagi mengemasnya dengan romantisme, apa lagi kalau pake panggilan sweety, tweety, puppy, honey, sweetheart, love, star, sunsine (panas dong)….wow…oh indahnyaaaaa oh indahnya ,…. bukankah nampak begitu indah dan baiknya sebuah hubungan.
Coba kita ubah sedikit obrolan sahabat saya itu dengan versi yang “kacau”. ![]()
“Kamu udah liat film nya apa?”
“Belom”
“Gimana sih kamu…koq gak dilihat, jadi nonton gak, payah neh”
“Hahhhhhh maksud mu??? Aku kan sibuk dari tadi ngurus anak-anak”
“Hah…ya mana aku tahu kamu sibuk, kamu udah bilang belom, kamu gak bilang tuh kalau lagi ngurus anak-anak…” ![]()
*Tiba-tiba saya masuk* (Pake background music James Bond)
![]()
“Wis wis wis…bubar bubar…cut cut cut…mau nonton koq jadi berantem….mana nih sweety…tweety…sweetheart….puppy nya?, ayo ulang-ulang adegannya….pake yang pertama aja lebih bagus….., masa hidup sudah susah dibikin ribet dengan hal kecil….ayo komunikasi yang baik, yang jelas…kalau bisa yang manis dikit kekkkkk, masa gitu aja musti diajarinnnnnnn”
“The single biggest problem in communication is the illusion that it has taken place.” - George Bernard Shaw
“Communication works for those who work at it.” - John Powell
15/3/2011 1:11 PM
Markus AP


Similar/Related Posts