Love Explained In A Coffee Shop
Aku melongok ke jam tanganku, waktu menunjukan hampir pukul 12 siang, aku menunggu seorang sahabat untuk sekedar coffeebreak, tetapi ia belum juga datang, tak lama kemudian sebuah pesan singkat masuk kedalam inbox handphoneku, “aku terlambat datang, kamu tunggu aku ditempat biasa, aku masih menyelesaikan meeting”.
Aku menyimpan kembali handphone ku kedalam saku jaket ku, dan berjalan meninggalkan tempatku menunggu.
Hari itu cuaca sedikit mendung, nampaknya hujan akan segera turun, tapi aku tak yakin akan turun hujan, yah kurasa tidak. Sebab beberapa hari belakangan ini cuaca nampak mendung tetapi hujan tak kunjung turun, ah sama saja.
Aneh, aku seperti menanti sesuatu turun dari langit, aku seperti menanti hujan.
Mungkin menanti keajaiban yang lain.
Sesungguhnya aku menanti sebuah suasana yang mengusir kebosananku tinggal beberapa waktu di Paris. Tak lama kemudian aku sudah tiba di tempatku menikmati secangkir cafe serre, the best true expresso. Hampir setiap dua hari sekali aku datang ketempat ini, tempat yang nikmati menyerutup secangkir kopi expresso dan memperhatikan setiap orang yang datang.
Apa yang menarik dari tempat ini, selain cangkir proslein dan expresso yang nikmat sekali, expreso memiliki metode lain dalam menyeduh kopi, espresso sering memiliki konsistensi lebih kental, konsentrasi yang lebih tinggi dan cream yang khas.
“Cafe Expresso please, hot, no sugar, and one brownies please”
“How much?”, aku membayar segera kopiku.
Kemudian aku duduk dibangku kosong dekat jendela, sambil menunggu pelayan menghidangkan pesananku, aku melihat-lihat keluar jendela ke lalu-lalang manusia dengan kesibukannya, aku suka tempat ini, tidak terlalu ramai dihari biasa, aku tidak menyukai keramaiaan, karena dalam keadaan yang sepi aku bisa menikmati diri dengan diriku sendiri, dengan kesendiriaan yang menarik.
Kesendirian yang dihibur dengan memperhatikan manusia-manusia yang sama-sama duduk ditempat kecil ini untuk menikmati the best true expresso.
Biasanya seorang disudut jendela itu seorang pria tua berkebangsaan itali, duduk bersama temannya yang mungkin juga dari Rome, berbicara tak lain hanya masalah sepak bola.
Duduk disofa biasanya mahasiswa-mahasiswa Prancis dan Inggris berbicara tentang politik, juga sex atau segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia mereka. Aku pernah menjadi mahasiswa, jadi aku tahu pasti kehidupan mereka.
Ada seribu satu wajah ditempat ini, seribu satu tingkah laku yang ku baca, mereka mampir menikmati coffee ditempat kecil ini, sebagian dari mereka hanya untuk menghabiskan waktu, sebagian ngobrol-ngobrol, sebagian merenungi nasib, sebagian sedang berbicara bisnis, sebagian benar-benar ingin menemukan keaslian dan kenikmatan secangkir cairan hitam dalam cangkir proselin yang disajikan, dan aku, aku hanya menikmati sifat-sifat mereka, mengamati, memperhatikan, mungkin mempelajari, menghabiskan waktu siangku yang panjang.
Aku selalu duduk ditempat ini kalau tempat ini benar-benar kosong, duduk dekat jendela dekat pintu masuk, membelakangi pintu masuk tepatnya, dan setiap kali orang masuk aku selalu mendengar bel yang diletakkan diatas pintu.
Lalu aku mengeluarkan buku ku dari tas kecilku, mulai membolak-balik halaman buku itu mencoba mengingat sampai dimana aku membaca halaman terakhir dari buku On God And Other Unfinish Things.
Tak lama pelayan pun datang membawakan ku secangkir kopi dan juga sepiring brownise pesananku.
Aku menikmati satu serutup kopi yang agak panas bukan dari cangkir tetapi dari tuangan kopi yang ku letakkan diatas piring kecil brownise, seperti kebiasaan orang jawa atau orang Indonesia pada umumnya, menumpahkan sedikit kopi ke piring kecil meniupnya lalu meminumnya dari piring, aku tak bisa menghilangkan kebiasaan ndeso tadi, walau aku ada di kota metropolitan yang megah, jauh ribuan mil dari Jakarta, dari Semarang.
“Magnificent” , pikirku.
Saat aku menundukan kepala, menikmati tarikan kedua cairan kopi yang mulai dingin dipiring kecil.
Aku memfokuskan diri ke bacaanku.
Aku sedang benar-benar menikmati bacaanku, Goenawan Mohamad sedang mengutip karya Miguel de Cervantes, Don Quixote yang terkenal itu.
Aku jadi ingat sebuah kutipan dari karya Cervantes “Until death all is life. (Where there’s life there’s hope.)”.
Sebelum kita mati semuanya hidup, dan saat kita masih bernafas selalu ada harapan saat bagi kita yang hidup, karena kehidupan jauh memberikan kita pelajaran untuk berjuang, untuk bertempur, untuk bertahan hidup, karena saat kita nanti disana, dikehidupan kita yang lain, yah disana disurga sana, kita tak perlu lagi mempelajari sesuatu, kita tidak lagi berjuang untuk sesuatu, maka saat kita hidup saat pikiran kita masih digunakan untuk berfikir, tangan kita masih dapat gunakan untuk mengerjakan sesuatu, hati kita mengharapkan sesuatu yang lebih baik, lebih baik, lebih baik, maka selalu dan selalu masih ada harapan bagi kita untuk hidup.
Pikiranku tiba-tiba jauh menuju kesesuatu yang lain dari karya Cervantes atau Goenawan, aku sedang berfikir tentang pemikiran-pemikiran yang jauh dari pikiran kedua orang hebat itu.
“Ah.” beberapa saat kemudian, saat pikiranku asik dengan semua pemikiran dan ide-ide, aku berhenti dengan semua pikiran itu.
Aku meletakkan bukuku.
Menikmati lagi kopi yang ada di cangkir proslein ini.
Saat itu pula, mataku melirik ke arah depan ku, seorang wanita duduk menyamping membaca sebuah buku, ia mengenakan backless bermotif bunga, warna biru, sekilas aku melihat tato dibelakang punggungnya, sebuah tatto ular dan bunga rose, tetapi rambutnya yang panjang dan diikat menutupi sebagian dari motif tatto yang menghiasai pungungnya itu.
Aku rasa tatto yang dibuatnya itu dibuat oleh seorang seniman tatto yang professional, begitu detail, begitu halus, walau aku tak bisa melihat tiap detailnya dengan jelas, karena jarakku 2-3 meter dari wanita itu.
Tapi memang tatto itu benar-benar begitu detail dan nampak baik pengerjaanya, dikerjakan oleh seorang seniman tatto hebat.
Aku sendiri bukan pengemar tatto, tetapi aku berharap suatu hari nanti memiliki tatto, ahhh sebuah gambar “Ouroboros” pikirku, tapi entahlah, aku tak punya cukup keberaniaan menghadapi jarum.
Semua orang tentu tak tahu apa itu Ouroboros.
Simbol Ouroboros (ular yang mengigit ekornya sendiri) symbol yang sering mewakili self-refleksivitas atau siklus, terutama dalam arti sesuatu yang terus-menerus menciptakan kembali dirinya sendiri, kembali kepada keabadian yang abadi, dan hal-hal lain yang dianggap sebagai siklus yang memulai kehidupan baru segera setelah mengalami kehancuran atau akhir.
Hal ini juga dapat mewakili ide kesatuan primordial, yang berhubungan dengan sesuatu yang ada atau bertahan dari awal, dengan kekuatan atau kualitas yang tidak dapat dipadamkan atau dihancurkan, aku sedang berbicara tentang stabilitas diri.
Bahkan Carl Jung menafsirkan Ouroboros memiliki tipikal jiwa manusia. Manusia yang terus dan terus berevolusi, bahkan ber revolusi. Aku selalu sangat percaya tentang ini, aku selalu percaya akan evolusi manusia, bahkan revolusi manusia. Evolusi atau revolusi yang tidak hanya di terotiticalkan, tetapi benar-benar dikerjakan dalam diri kemanusiaan.
Ah..tapi aku lebih berani menghadapi kematiaan daripada menghadapi jarum. Tentu aku tidak akan membuat symbol itu dibagian tubuhku yang manapun. Mungkin aku lebih mampu menghadapi getirnya kehidupan daripada menghadapi dirajah dengan jarum.
Ah no way.
Tapi tatto yang ada diwanita itu nampak indah, seindah raut wajahnya yang rupawan.
Wanita itu nampak muda dan cantik, mungkin usianya sekitar 30 an, mungkin, aku tak tahu pasti, aku hanya menduga…ia meletakkan buku nya dimeja lalu menikmati cangkir kopi yang ada didepannya.
Dari caranya meminum kopi dia nampak beretika terbiasa dengan ritual minum kopi seperti kebanyakan orang eropa.
Tapi aku harus jujur, mataku tak pernah bisa pergi dari memandangi mahluk cantik itu, aku tidak hanya menganggumi kecantikannya, tetapi lihat, buku yang dibacanya, sebuah buku yang memiliki ketebalan yang cukup tebal, nampak lusuh sampulnya, mungkin ia tidak selalu membacanya, hanya membaca saat-saat ia menikmati kesendiriannya di coffee shop ini.
Entah apa judulnya, tapi ia nampak terpelajar, pandai, dari caranya memegang buku, memandangi tiap kalimat dalam buku itu dengan teliti…sorot matanya yang memandang penuh perhatian…ah dari caranya ia menatap buku itu aku tahu ia benar-benar seorang yang terpelajar dan teliti, seorang yang suka membaca.
Aku memperhatikan tiap detilnya, bahkan betapa eloknya ia membiarkan rambutnya terawat.
Lihat aku sedang membangun sebuah kesimpulan-kesimpulan dari analisa-analisaku.
Dan aku rasa aku tak pernah melihatnya ditempat ini, aku tak tahu. Aku sedari tadi tak melihatnya, mungkin ia duduk beberapa saat lalu, saat aku sedang menikmati bacaanku, hingga semua kepikukan atau wanita cantik itu ku hiraukan.
“Hmmm”. Aku mengagumi diriku sendiri, bagaimana mungkin aku yang sibuk dengan duniaku sendiri tiba-tiba tidak dapat mendeteksi kehadiran mahluk cantik itu?. Gila benar aku ini.
Lalu, ia mengangkat tangannya memanggil pelayan, memesan secangkir lagi kopi, dari caranya bicara dengan pelayan dan dari keramahan pelayan itu, aku tahu ia sering berada ditempat ini, mungkin setiap saat ia ingin sendiri.
Lalu ia berkata lagi…
“Merci beaucoup, et je vous demander un verre d’eau s’il vous plait”
Lalu pelayan itu dengan ramah, menyampaikan, sudah lama ia tak melihatnya disini.
Aku salah kali ini, aku rasa ia pelangan tetap tempat ini.
Tak lama setelah obrolan itu, pelayan pun datang membawa cangkir kopi keduanya.
Sekali lagi aku selalu kagum dengan wanita dengan kecantikan dan kepandaiaannya, apa lagi keindahannya dapat benar-benar kukagumi saat ia benar-benar sedang tertuju pada buku yang dibacanya, apa lagi yang dibacanya sesuatu yang berat, dari karya Bertrand, atau Whitehead misalnya, aku sedang berasumsi saja, kalau pun ia membaca Bertrand maka aku bisa yakin akan kepandaiaanya. Tapi aku tak tahu apa yang dibacanya.
Sekali lagi aku sedang membangun analisa-analisaku!.
Apa yang terjadi, dan benar-benar terjadi saat aku berdiri melangkah dengan hati yang berbebar, dengan tangan yang dingin, dengan pikiran yang kacau, memberanikan diri menghampirinya.
Dan saat aku berdiri disampingnya.
Aku berkata
“Mai je suis assis ici”, dan dengan tatapan yang manis ia tersenyum dan mempersilahkan aku duduk.
Lalu aku mulai membuka sebuah pembicaraan tentang buku yang dibacanya.Bertrand mungkin, memuji buku yang hebat itu.
Aku membahas minat bacaku, membahas apa yang aku kerjakan di kota nan indah ini, Paris.
Lalu pembicaraan pun menjadi menarik, saat ia berbicara tentang Militansi agama yang terjadi berhubungan dengan 11 September, dan pandangannya begitu tajam, brilian, sesuatu yang tak kuduga dari seorang wanita yang cantik, tapi juga cantik pemikirannya.
Lalu aku berkata “I would never die for my beliefs because I might be wrong., Bertrand Rusell said that”.
Dan ia berkata “Ya.kita bisa saja salah, mengartikan mati bagi sebuah kepercayaan, dan banyak ajaran mengajarkan agama mengajarkan cinta, tapi apakah Tuhan yang sama mengajarkan kita membunuh manusia lain karena berbeda keyakinan, lalu dimana cinta sesunguhnya? yang sesunguhnya Tuhan adalah cinta itu sendiri”.
Aku lalu terdiam.
Lalu ia berkata “Apa yang kau tahu dari cinta?”.
Aku benar-benar seperti tersambar petir. Aku diam
“Hmmmmm” mengelengkan kepala.
Mengatupkan mulut.
Malas membahas subject yang satu ini.
Dan ia pun tertawa, “I okey, you can said, I been heard many people explain about love, teoriticaly, and Im also heard silly thing about love”.
Aku tertawa.
Lalu aku berkata.
“I don’t know about love.but I can explain what love can do to us”.
“What is that.”
Aku mengambil cangkir kopinya.
“May I”.
Aku meletakkan cangkir itu dihadapanku.
Lalu mengambil sendok gula, dan menuangkan gula satu sendok kedalamnya, “satu sendok mungkin akan masih terasa pahit”, aku menuangkan dua sendok kedalamnya, “mungkin akan terasa pas sekarang, tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis”.
“Love do this to us”.
“How?”
“Ya.cangkir kopi ini seperti hati manusia, hati manusia yang tidak pernah merasakan cinta, hati manusia yang merasakan sakit, merasakan kekecewaan, lalu gula ini adalah cinta, entah cinta dari manusia atau dari Tuhan, satu sendok mungkin tak akan mengurangi rasa pahit, tetapi sedikit memberikan rasa yang lain daripada kepahitan yang total, dua-tiga sendok mungkin rasa pahit itu ada, tetapi menjadi lebih seimbang dengan rasa yang manis, mungkin kita menambahkan lagi beberapa sendok, hingga rasa pahit itu benar-benar hilang, tetapi kopi ini bukan lagi kopi, tetapi air gula, hati itu bukan lagi hati, karena hati merasakan keduanya saat yang berbeda, atau saat yang bersamaan”.
Ia terperana dengan senyum diwajahnya.
“One thing..the most element we need, hot water as the heart, taste of the coffee, and sugar, Second thing we can logicly calculate.how many sugar we need”.
“How?”
“Air yang panas, akan membuat gula cepat menyatu dengan kopi, air yang dingin memerlukan usaha untuk gula menyatu dengan kopi, dan yang paling penting yang kita bisa kalkulasikan dan logika kan, berapa banyak gula yang kita butuhkan, berapa banyak yang kita ingin masukkan kedalam cangkir”.
Ia terperana dengan senyum diwajahnya.
“Satu lagi..”
“What?”
“Gula yang terbaik, gula yang berjenis banyak itu, rasa manispun berasal dari banyak jenisnya, memberikan juga rasa yang manis yang berbeda, memberikan juga ukuran yang berbeda”.
“But we can use honey, not always a sugar”.
“Perfect.brilian…kita bisa pake syirup manis juga”
Aku mengangumi kepandaiaanya keluar dari kotak kebiasaan, ia berpikir sesuatu yang tidak terpikirankan oleh kita, bukan hanya gula yang membuat manis, tetapi juga madu, syirup dan banyak lagi. Aku benar-benar mengangumi wanita ini. Sesunguhnya aku sedang mengumpan sebuah pemikiran, menangkap pemikirannya yang dalam.
Tiba-tiba pembicaraan pun tidak lagi ada didalam ruang kecil yang pikuk dengan keramiaan orang ngobrol dan menikmati secangkir kopi.
Aku ada dijalan, menyusuri Rue De La Roquette, lalu berbelok ke kiri Rue De Commandant Larry.
Disaat kita menyusuri jalan itu, ia berkata
“Je suis magnifique avec vos expliquer”
“Merci”
“Can you tell me more about love”.
Aku tersenyum.
Lalu saat kita tepat berada di jalan Rue de commandant larry.
“Lihat rumah itu, rumah dengan taman didepannya.”, kata ku.
“Yes”.
“Kita sedang melihat sebuah taman yang indah, taman dengan banyak sekali mawar disana, seorang yang apik benar-benar merawat taman itu, mempercantiknya dengan benih-benih mawar, menaburkan benih-benih mawar, menyiramnya, memberinya pupuk, mengusirnya dari penganggu, coba bayangkan apa yang terjadi sebelum mawar-mawar itu ada disana?, taman itu taman yang kosong tanpa apapun”
“And then?”
“Mungkin cinta seperti taman itu, seperti seorang yang menanami taman itu dengan benih-benih mawar, merawatnya benar-benar dengan segenap hati dan kecintaan, dengan semangat dan passion, disaat mawar itu benar-benar mekar diseluruh sudut taman, kita hanya akan menikmati keindahaan, kedamiaan, kekaguman, kebahgiaan menikmati warna-warna indah dari mawar yang mekar sempurna ditaman itu”.
“This some kind equation of love?”
“Maybe, you can interpret for yourself.”
“Hmmm”
“Pikirkan, apa yang terjadi jika taman itu tidak dimiliki oleh seorang yang tidak dapat menikmati keindahan, kedamaian, kekaguman, kebahagiaan bahkan passion mengurus taman itu?, apa yang terjadi jika seorang anak laki-laki bermain bola bersama kawan-kawannya ditaman yang indah itu, atau seorang anak-laki-laki bermain kejar-kejaran dengan anjing kesayangannya yang berukuran besar mungkin seekor German Shepherd, yang lincah, atau mungkin seekor beruang lepas dan memporak porandakan taman tadi”.
Ia pun tertawa dengan perkataanku itu.
“Yah apa yang terjadi?”
“Le parc est horrible”
“Yes.taman itu mengerikan sekali jadinya”
“Tapi taman itu pun bisa jadi begitu indah saat taman itu tidak hanya ditanami oleh satu jenis mawar, atau mungkin kaktus, atau semak, atau bunga matahari, ahhh mungkin aku hanya tipe yang menyukai keseragaman, hanya satu warna mungkin cukup untukku”.
Ia terdiam.
“Dalam hidup ini, cinta yang baru saja aku jelaskan tadi, tergantung pada begitu banyak variable, tergantung pada begitu banyak equation yang membentuk hasil dari akhir nya, dan semua itu juga tergantung masa lalu, juga masa depan kita membentuknya, one single action it’s change all concept of life and time, but we all expect something beautiful at the end…even demon thinks to win battle agints heaven”.
“Ahhhhh, now you stunning me”.
“Hmmm.not only love, remember..but everything”.
Ia terdiam, dengan mata yang tajam memperhatikan.
“Ah satu lagi yang tertinggal, taman itu punya cerita”
“Story?”
“Cerita tentang pengurus taman itu, yang kepanasan, kelelahan, mungkin tertusuk duri, kebosanan, mungkin sejenak kehilangan minat mengurus taman dan beralih ke hobby yang lain, tapi diakhir jerih payahnya, ia selalu dapat menikmati keindahan, kedamaian, kekaguman, kebahagiaan bahkan rasa passionnya mengurus taman itu”.
Aku terperana dengan senyum diwajahnya.
Dan entah proses apa yang terjadi, aku telah berada diruang tamunya yang sederhana, dengan lukisan tiruan murahaan Le bassin aux Nympheas – karya Monet didinding, sebuah piano tua disudut, aku memperhatikan empat buku yang berada diatas meja, sebuah bangku menghadap jendela, aku tak tahu kalau rumahnya berseberangan dengan taman tadi, aku bisa melihat jelas taman tadi dari sini. Lalu aku tersenyum sendiri dengan semua hal yang lewat tadi.
Dan tak lama setelah itu, ia keluar dibalut mantel tidur. Mungkin keringat sehabis jalan telah membuatnya gerah dan membuatnya mandi.
Tangan nya tiba-tiba memegang tanganku, dengan kekagetan yang dasyat, dan kerasnya tangannya membuatku terhenti didalam diam, aku seperti tersengat oleh tatapan Medusa, tetapi Medusa harus berakhir ditangan Perseus, dan entah proses apa yang terjadi aku sudah ada diatas ranjangnya dalam keadaan pakaiaanku yang berantakan, rambut yang awut-awutan, ia melepaskan mantel tidurnya, menelanjangi dirinya dihadapanku, mencumbuku lagi dengan daya yang benar-benar membara lebih dari sebelumnya, kuserapahi tubuh itu, dengan yang penuh desah, peluh saling berlarian dan debar jantung berpacu dikejar waktu. Semua yang terjadi tadi seketika hilang karena apa yang baru saja terjadi. Mungkin bukan hanya sekali tetapi beberapa kali, saat itu kita menyatukan diri dalam sebuah penyatuaan, kita menyatukan diri disaat hariku benar-benar membosankan.
Menjelang malam hanya kita berdua yang terjaga berdiam memandang langit-langit serasa lega. Dengan peluh yang masih belum kering, nafas yang belum benar-benar teratur, tapi diwajahnya ia seperti tersenyum saat menatap langit-langit, sedangkan aku dalam ragu dalam gugup, dalam ketidak tauaan harus bagaimana, hanya dapat melirik menatap wajah yang tersenyum itu.
Berfikir, apakah ia sedang menikmati sebuah pembalasan, atau sedang benar-benar merasakan kepuasan yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba, suara pintu menggangetkanku, empat anak mahasiswa masuk dari pintu coffee shop, berbicara dengan nada yang menggagetkan tentang pertandingan sepak bola semalam, aku terjaga dari hayalanku.
Aku pun ingin segera beranjak dari tempat itu, aku tak ingin iblis segera menguasaiku. Aku bergegas membereskan semua yang ku bawa, meninggalkan tips, dan berdiri.
Saat aku berdiri, wanita itu pun juga sedang siap berdiri, kami berpapasan dipintu keluar, dan aku mempersilahkannya keluar terlebih dahulu, dan ia pun melemparkan senyum, senyum yang sama seperti waktu ia menatap langit-langit.
Sejam kemudian aku sudah ada diapartemenku, membenamkan diriku dibawah air yang mengalir dari shower, membersihkan diriku seolah apa yang tadi ada dipikiranku terjadi benar-benar, tak lama aku keluar dari kamar mandi, menyedu secangkir teh dan duduk didekat jendela memandang keluar tapi tak ada taman dihadapanku, hanya jalan dan rumah-rumah.
“Hey Genius.ngapain loe senyum-senyum sendiri, abis dapat lottre?”
Kata sahabatku.
“Ahhh gak apa, gue gak denger loe masuk?”
“Ada apa nih? Dapat Inspirasi”
“Gak, gak gak ada apa-apa?, yah mungkin sebuah inspriasi”
“Ooo, bagus lah”.
“Gue rencana untuk ngopi lagi besok”.
“Loe mau gue temenin besok?”
“Ahhh.no no, kalau loe sibuk is okey.” wajah ku sambil tersenyum.
Juni 2010 – 10 Oktober 2010 6:04 PM
Markus AP
Starbucks Grand Indonesia
Note : Judul awal : An Angels In Coffee Shop


Similar/Related Posts