Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
rss
report
Surat Dari Jakarta (28)
By. marcus . September 9th, 2010 at 10:47 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Surat Dari Jakarta (28)

Aku diruang pikiranku, aku dalam pikiran marah dan geram berkata, hidup bukan opera sabun dengan segala kemewahaanya yang palsu dan menjijikkan, yang mempertontonkan retorika yang kadang sama sekali tidak masuk akal. Jauh dari logika sehat!.
Hidup juga bukan pertunjukan Les Miserables, pada pentas malam di Broadway, yang menjadi komersial sekali, dengan menghilangkan makna dari sebuah karya besar.
Hidup memiliki maknanya yang tidak bisa dikomersialkan.
Atau yang mengelikan kisah Edward dan Gladys, yang bertemu dan tertarik, tapi mengalami kesulitan dalam menyelesaikan perasaan mereka, terutama karena Edward terjebak masa lalunya (A Heart to Mend, Myne Whitman.), aku membaca synopsis bukunya, aku tertawa geli juga sinis.
Hidup memiliki ketegasannya yang tidak bisa dikaburkan.

Maka hidup itu realitas nyata, yang tidak sama sekali sama dengan mimpi-mimpi indah dalam opera sabun atau novel picisan, hidup begitu realitasnya, nyata yang kita jalani sehari-hari, saat bangun pagi dengan segala kenyataanya yang ada. Dan dalam pikiran, entah kosong, entah kita berfikir “apa yang kita mau lakukan hari ini”, atau “apa yang kita ingin kita buat dalam hidup hari ini”.
Dengan kenyataan, nyata, tubuh dengan keringat bercucuran, merasakan teriknya matahari, nyata!.
Dalam kerja keras yang, nyata, buat mengisi perut yang lapar, nyata!.

Kita bisa jadi kemudian tak percaya lagi dengan bualan-bualan tadi, saat kita bisa menyaksikan pedihnya seorang anak pinggiran saat dicukur rambutnya karena seluruh kepalanya penuh kudis, atau menyaksikan seorang yang mencucurkan keringatnya dengan harapan mendapatkan lebaran uang dengan berjualan kata-kata diatas lebaran kertas yang ditulis dengan sangat halus.
Kita bisa jadi kemudian sangat benci dengan bualan-bualan bohong, kepada mereka yang melupakan janjinya perubahan kepada kemiskinan dan menyulap kemiskinan jadi kemakmuran dalam semalam, Bullshit, is all bullshit.

Untuk hal yang paling mudah kita temukan saja dalam kehidupan kita sehari-hari, aku pernah menemukan kenyataan sebuah realitas, nyata, bukan omong kosong, seorang wanita menikahi seorang pria, mereka dikarunia tiga anak, tapi dalam kenyataan itu pria itu yang sama sekali tidak pernah memuliakan istrinya atau keluarganya, ah jangan bicara bagaimana ia memuliakan keluarganya, menolong dirinya sendiri pun sama sekali ia tak sanggup.
Ia tidur larut malam, duduk-duduk tanpa kejelasan, minum kopi, main catur, bangun jauh siang saat matahari sudah meninggi.
Lalu minum kopi, duduk-duduk tanpa kejelasan, tanpa kerja keras, tanpa usaha yang memuliakan keluarga atau istrinya.
Mengharapkan Tuhan merubah, merubahnya dalam semalam?, Tuhan tak akan merubah manusia jika manusia itu tidak menolong dirinya sendiri!. Jangan mempercayai keajaiban jika keajaiban tidak kita buat sendiri!. Jangan berubah jika tidak dari diri sendiri!

Yang menyedihkan dari kisah nyata ini, wanita itu menikahinya lebih dari delapan tahun dengan menangung malu menjadi tontonan seluruh keluarga dan lingkungan. Delapan tahun, bekerja keras untuk memuliakan keluarga dan suaminya, dengan sebuah bisnis konveksi.
Apa tidak kebalik? Apakah dunia sudah terbalik? Apakah kehidupan sudah gila?. Istri menghidupi suami dan keluarganya?

Yang kemudian menjadi lebih menyedihkan dari kisah nyata ini, pria yang dinikahinya itu, menghabiskan malam-malam atau siang-siang bukan lagi diranjang pengantinnya sendiri. Gila! Sakit! Bastard!

Diakhir kisah nyata itu, keluarga yang dipertahankan selama delapan tahun hancur berantakan, jadi bubur tak bisa jadi nasi lagi, sisa dari semua itu hanya, penyesalan yang dalam, sakit hati yang meradang, wajah yang tertunduk malu, kepada kehidupan dan Tuhan.

Kemana perginya moralitas, kemana perginya hati nurani, kemana perginya maskulinitas, kemana perginya loyalitas, kemana perginya rasa terima kasih, kemana perginya cinta! Gila! Sakit! Bastard!.

Kemana perginya kepandaiaan otak yang katanya well educated! Tetapi melihat dengan mata saja tidak percaya!

Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah bualan-bualan, tampang lugu, kelucuan seperti banci, tutur kata halus, perlakuan baik-baik, tanpa ketegasan laki-laki, cukup? Sedangkan kenyataanya berbeda, kenyataanya disembunyikan, kenyataanya dipolesi dengan topeng-topeng kepalsuan, kemunafikan, pemutar balikan fakta, seolah kebenaran, Bullshit!.
Apakah cukup semua itu  tanpa disertai moralitas, hati nurani, kepandaiaan, kesadaran, kerja keras, persistence, kesempurnaan, belajar dari kesalahaan, loyalitas,  kecintaan dalam kelogisan yang sehat!.
Sorry to say, I don’t like bastard, I hate it so much, I said once to them ‘you have small brain in your skull’, but you can bring it one to me, maybe I shot it or maybe I transformed become a saint!

Aku pernah menulis "What wrong with people this day, they think love is enough to feed whole family, they think bastard can change in one night”.

Aku makin hari makin menemukan banyak kegilaan seperti ini. Apakah aku yang gila dengan tidak menjadi mediocrity?.

What wrong with people this day!

9/9/2010 10:14 PM
Markus AP

“Success is the result of perfection, hard work, learning from failure, loyalty, and persistence.” – Collin Powell

 

PS: Aku berharap aku dapat menghabiskan waktu ku di 20 West 20th Street, membuang semua energiku dalam detak jantung dan adrenalin yang memuncak saat merasakan muzzle brakes and flying cartridge out from your father glock! Kemudian istirahat menikmati secangkir mocha latte.! I miss that time!

service

2 Responses to “Surat Dari Jakarta (28)”

Sabar sabar don’t waste your positive energy, so you miss my glock?

@irh : I’m tired, with people around here, im sick of it!

Leave a Comment

 

support
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation
podcast