Surat Dari Jakarta (27)
Suara langkahku memecah ruang kosong, tanpa kehidupan, tanpa siapapun, aku sendirian ditempat itu. Lalu dari balik jendela, dilantai delapan, aku melihat langit biru, melihat kesibukan, melihat kehidupan, melihat gedung-gedung pencakar langit. Aku menarik dalam-dalam setiap asap kedalam paru-paru, menghela napas, mengeluh, berdoa, bersyukur, mengeluh, berdoa, bersyukur. Kemudian mengagungkan Tuhan dalam segala keberadaaNya, lalu aku berfikir, merenungkanNya.
Lalu aku berfikir, merenungkan hal-hal yang lain.
Yah belakangan ini aku lebih sering berfikir, merenungkan dan menuliskannya, merenungkan apa-apa yang nampaknya tak bisa aku pahami,yang tak dapat masuk kedalam akal sehat atau logikaku, dari itu semua pemikiran dan perenungan itu kemudian aku menarik kesimpulan, bahwa hal-hal yang tak kupahami itu adalah kebodohan dan ketololan yang terjadi dalam kehidupan umum. Aku tak mengerti bagaimana mereka dapat berfikir seperti itu, bagaimana mereka hidup seperti itu?.
Aku menulis "Paradox nya dalam kehidupan, saat kita berbuat baik orang malah menganggap itu bukan kebaikan, saat kita berbuat mulia orang malah menganggapnya kehinaan, saat kita berbuat bijak orang malah menganggapnya kegilaan, bukankah kita hidup didunia yang gila? haruskah kita menjadi bagiannya, saya rasa tidak".
Siapakah yang gila sesungguhnya, mereka yang menganggap diri sama seperti semua orang, mereka yang menjadi mediokratis atau mereka yang menjadi dirinya sendiri dan tidak ingin menjadi sama seperti dunia ini?. Jika dunia ini begitu penuh dengan kemunafikan, kepalsuan, kebohongan, dan jauh dari kebenaran-kebenaran, apakah kita mau menjadi bagiannya?. Siapa yang melihat siapa yang buta sebenarnya?. Apakah yang melihat itu adalah mereka yang menjadi sama seperti semua orang didunia ini, yang menganggap mereka yang tak sama, sebagai aib, sok suci, sok malaikat?, atau mereka sebenarnya sedang tidak ingin bersentuhan dengan kebenaran, karena hidup mereka jauh dari kebenaran dan hati nurani. Lucu!
Jadi apakah aku yang gila, atau dunia ini yang gila?, atau aku yang gila ditengah dunia yang normal, indah, elok baik-baik saja dan seperti surga ini?, atau seperti yang dibilang Thomas Szas "Insanity is the only sane reaction to an insane society." Ah aku tak perduli apapun sebutan itu, biar saja aku yang gila, ditengah dunia yang indah, elok, baik dan seperti surga ini.!
8/9/2010 1:04:10 PM
Markus AP
Starbucks Cafe, Grand Indonesia



Similar/Related Posts