Surat Dari Jakarta (26)
Untuk Mu Yang Terkasih,
Diujung mungkin ditengah perjalananku, aku tak dapat memalingkan kembali pandanganku kepada apa yang ada dibelakang, walau segala kenangan yang indah dan baik selalu ada dibenakku, hari-hari ini aku akan terus dan terus berjalan, kearah mana aku tak tahu, kemana angin membawaku, atau kemana tanganNya menarikku, aku akan berjalan dan terus berjalan karena keputusan dan langkah yang ku ambil. Mungkin karena kehendakNya mungkin karena keinginanku, aku tak tahu.
Yang bisa kurasakan sekarang hanyalah kebesaran dan keagunganNya yang Maha kasih.
Hari ini aku sedang berjalan ke masa-masa yang akan datang didepanku, entah kapan masa-masa itu datang, semula aku berharap engkau ada didalam perjalanan ini, perjalanan yang kudambakan datang bagi kebahagiaan mu, juga aku, tetapi nampaknya aku harus berjalan sendiri mencapai apa yang ada didepanku. Jika aku dinilai buruk oleh dirimu atau semua orang, sesunguhnya sepenuhnya itu bukan karena untuk kesenanganku belaka.
Yah aku memang geram, aku marah, aku kecewa, aku terlukai, aku lelah, bukankah itu yang terjadi saat cinta ada didalam sini harus tercabik dalam-dalam, disalibkan dengan sia-sia, hingga peluh harus bercucuran merasakan pedihnya yang dalam, dan saat tekanan datang rasanya seperti menghadapi kematian, semua itu aku rasakan sendiri, aku pikul sendiri salibnya. Yah aku memang geram, aku marah, aku kecewa, aku terlukai, aku lelah, aku tidak pernah menyetujui keputusan-keputusan itu, aku tak pernah menyukai jalan-jalan yang kau ambil menurutku bodoh, aku tak menyangka begitu butanya kau akan kehendak-kehendakNya, aku membenci sifat-sifat itu, aku membenci sifat-sifat yang tak menunjukan kekokohan dan kedewasaanmu, aku kecewa karena semua yang baik itu harus dibuang dalam pembakaran.
Tapi apa yang bisa dilakukan aku sebagai manusia, karena tiap manusia memiliki kemerdekaanya sendiri, karena setiap manusia memiliki dirinya sendiri, karena setiap manusia memiliki pilihannya sendiri, begitu pula diri mu, tapi maaf apa yang kulakukan ini sepenuhnya bukan karena aku mencari kenyamanan diriku sendiri, hingga harus melangkahkan kaki kejalan-jalan yang ku pilih, sesunguhnya aku lebih memikirkan apa yang menjadi kebahagiaan mu, kebahagiaan mu, kebahagiaan mu, juga kebahagiaan semua orang , walau bukan kebahagiaanku.
Aku lebih menghargai cinta, dibanding keegoisan. Aku lebih mengagungkan cinta daripada kepentingan sendiri. Aku lebih mementingkan kebahagiaan mu dibanding diriku. Karena itulah aku yang memahami bahwa cinta yang terbesar, adalah cinta yang mengorbankan dirinya sendiri, bagi kebahagiaan yang dicintainya.
Untuk itu jangan nilai diri ini dengan segala keburukannya, karena semua yang kulakukan tak sama sekali mementingkan kepentinganku sendiri. Dan dari semua itu aku hanya bisa berdoa, berdoa akan semua kebahagiaan yang kan kau tempuh, karena hanya kebahagiaan itu saja yang bisa membuatku juga ikut dalam pesta kebahagiaanmu.
Pesan ku yang terakhir selalulah jadi pribadi yang jalan dijalan-jalan yang baik, karena tangan-tanganNya akan menjagamu selalu. Aku telah memintaNya menjagamu selalu. Karena aku pun akan ada dijalan-jalanku yang terbaik, entah sampai kapan, entah tanganNya membawaku kemana atau entah apakah tanganmu yang menghentikannya, entah entah aku tak tahu.
Jika memang atas kehendakNya kita dipertemukan atau dipersatukan, biarkan itu menjadi kehendakNya yang ajaib, entah, entah aku tak tahu, karena aku tak sanggup meminta atas keinginanku sendiri.
Baik-baiklah selalu, tersenyumlah selalu, tersenyumlah, bahagialah, karena hanya senyum dimalam terakhir itu ada dalam bayangan anganku selalu, yang tersisa sampai nanti entah kapan.
Dengan segenap cinta dan kasih sayang. Doaku selalu menyertaimu.
7/9/2010 5:00 PM
Markus AP
PS: Maaf aku tak sempat membelikan mu bintang.




Similar/Related Posts