Senyum Diwajah Ku
Life is meaningless only if we allow it to be. Each of us has the power to give life meaning, to make our time and our bodies and our words into instruments of love and hope. – Tom Head
Jakarta diguyur hujan, hawanya dingin, sejuk menyenangkan, aku berdiri diatas ruang kaca lantai 8 kantorku, memandang jalan menunggu waktu untuk pulang, aku sedang tegang, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, aku mengingat semua hal yang sudah lewat, pikiranku kemana-mana, dan aku masih ingat apa yang dikatakannya terakhir.
"I’m so sorry.so sorry.satu hal yang kamu tau, gak cuma kamu yang merasa sakit Aku juga!"
Yah aku merasakan sakit yang dalam saat kita berpisah dulu, begitu juga ia, kita dua pribadi yang bukan tidak mencintai satu sama lain, kita dua pribadi yang pernah mencintai, ia seorang yang sangat sadar benar seperti apa perasaannya padaku, sadar benar dan mengetahui diriku, pria yang mencintainya saat itu adalah pria yang berbeda dengan seorang yang ia ikuti sepanjang hidupnya.
Aku sedang tidak membanggakan diri, ia memang sadar benar, dan ia pernah mengatakannya.
Mengatakan kenapa tak bertemu aku 14 tahun lalu, dan aku berkata kepadanya, kamu tak akan menjadi kamu sekarang jika kamu tidak melalui 14 tahun itu, dan aku tak akan menjadi aku sekarang jika aku ketemu kamu 14 tahun itu.
Pikiranku saat itu benar-benar kemana-mana, saat itu aku merasakan kesedihan juga kadang merasakan kegembiraan yang membuatku tersenyum, aku masih ingat setiap detail yang dikatakannya, aku pun masih ingat prinsip-prinsip dan semua hal yang aku ajarkan dan katakan kepadanya.
Gila kenapa aku harus berlaku itu, kenapa aku tak membiarkan saja ia menceraikan pria gila itu. Kenapa juga aku tidak menembaknya mati.
Tidak, aku tidak bisa seperti itu, aku melihat banyak hal yang jauh dari kepentinganku sendiri. Dan gilanya, aku mengorbankan sendiri perasaanku, tidak, bukan aku, ia, kita.
Tak terasa hampir setengah jam aku ada disana, akhirnya aku melangkah keluar dari ruangan itu.
Aku berangkat keluar dari kantorku sekitar jam 13:30, meluncur ke sebuah coffeshop disebuah Mall besar di Jakarta, aku tak perlu merahasiakan tempat itu, Starbucks Cafe Grand Indonesia.
Aku memang segaja ke tempat ini bukan untuk ngopi-ngopi santai sambil menulis atau membaca, tempat ini adalah tempat favorite ku, tempat biasa aku nongkrong dan menghabiskan waktu, tapi hari ini bukan untuk ngopi atau menikmati bacaan,
Aku hari ini berjanji bertemu seseorang, sebenarnya janjian kita sudah lama terjadi.
Karena Jakarta masih sepi sehabis semua orang mudik, aku sampai ke sana kurang lebih 40 menit, jujur aku sudah sampai tepat waktu seperti biasa, gak pernah ingin telat untuk janji dengan seseorang, apa lagi untuk janji yang satu ini, toh janjinya jam 2:30 an lebih, aku sudah tiba lebih dulu.
Kalau sampai telat atau lupa akan janji ini aku tak akan pernah memaafkan diriku seumur hidup and I’ll most stupid person on earth, tapi nya tidak, im choose being smart….gak lupa dengan janjian kita..pantes aku gak bisa tidur semalam.mungkin karena mikirin apa yang ada hari ini.
Hari ini jujur aku tampil lebih dari biasanya walau masih terlihat santai, Black Jeans, White Shirt lengan pendek hitam, syal bermotif kotak-kotak, black sweeters turtle neck, angkle bot Piarre Cardin …
Pagi tadi aku sudah mengirimkan pesan di Yahoo messenger, "Jadi nanti", ia pun menjawab "Jadi" dengan tanda smile di akhir kalimatnya.
Aku membayangkan ia yang sedang menjawab dengan sebuah senyuman yang menawan. Aku akhirnya tahu juga bahwa namaku masih tersimpan dalam list nya.
Dalam ketegangan aku berfikir, ah semoga aku tidak menunggu disini dan semuanya batal.
Setelah sampai aku memesan, Mocca Latte dan Expreso Cake, lalu duduk menunggu nya, disebuah sudut, tepat dibawah lukisan, hari ini aku menahan diri untuk tidak merokok, aku tahu aku tak dapat merokok dihadapannya saat ini, seorang yang sedang hamil tak baik kena asap rokok.
Sambil menunggu, aku membaca sebuah buku yang sengaja aku bawa dari tadi….sebenarnya gak sampai dua halaman, ia yang ditunggu-tunggu memang datang tepat waktu.
Seorang wanita cantik, melangkah menuju aku.
Bukan..bukan wanita cantik, seorang malaikat surga yang menawan dan elok, jalan menuju ku.
Ya….seorang wanita melangkah lurus menuju ku yang duduk disofa, rambutnya yang panjang sengaja tidak digerai, ia mengikatnya rapi, wajahnya yang ayu sengaja dibiarkan tanpak natural tanpa makeup yang berlebihan.
Senyumnya yang merekah saat melihat ku, membuat kedua tulang pipinya terangkat dan nampak bersinar cerah, seperti bunga mawar sedang berbunga…
Aku berharap menjadi lebah yang sedang menikmati madu dari mawar.
Aku berlebihan sekali nampaknya. Akankah aku berlebihan mengambarkan kepribadiannya, dan kecantikannya? bukankah seseorang pasti menganggumi kepribadian juga kecantikan.
Mengaggumi kecantikan sama dengan kepribadiannya.
Mengaggumi keperibadiaan sama dengan kecantikannya.
Ia memiliki keduanya, itu yang jarang ditemukan didalam kehidupan ini, jika seseorang mendengar atau membaca perkataanku, pasti mereka tak percaya, pasti mereka akan merasa bahwa ini terlalu dilebihkan, mereka mungkin iri, mencibir, tetapi ini kenyataan.
Ia memiliki kepribadian yang dewasa ditempa oleh pengalamannya belasan tahun, ia bukan anak kemarin sore yang baru merasakan pacaran, ia seorang wanita dewasa yang mengalami peliknya pernikahaan, karena seorang pria yang menyakitinya sepanjang hidup, karena seorang pria yang dicintainya menghianati, ia belajar, ia diuji, ia ditempa dan menjadi dewasa, ia menjadi pribadi yang elok se elok kecantikannya.
Bukan hanya itu, seluruh keluarganya, adiknya juga pribadi-pribadi yang elok, itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang menawan, semenawan kecantikannya.
Aku membalas senyumnya, dengan sedikit kaget, tertegun sebentar, lalu melambaikan tangan dan berdiri.
Ia pun melambaikan tangan kirinya…karena tangan kanannya memegang tas dan Blackberry nya yang tergengam dijemarinya.
Jujur wajah ini tidak berbeda jauh…dari yang aku kenal sebelum-sebelumnya…tetap sama tidak berubah sedikit pun.
Seketika itu juga aku membayangkannya saat dulu saat berdiri dihadapanku, saling berpandangan, kita enggan untuk berpisah, tetapi ia tersenyum sambil menepuk pipiku, seperti layaknya anak kecil yang tak ingin kehilangan ibunya.
Ah ia tahu benar aku seperti apa, aku yang tak mau kehilangan waktu-waktu bersamanya, ia tahu benar seperti apa perasaanku dan pikiranku, ia tahu benar, walau saat kepergianku ke New York, aku banyak merenungkan akan ketidak tahuannya tentang diriku, sesunguhnya ia tahu benar seperti apa diriku, dan aku tahu seperti apa pengorbanan yang dilakukannya buat semua orang juga aku.
Dan aku tahu benar, aku seperti itu saat aku mencintai seseorang, bukan hanya dia, tetapi wanita-wanita sebelum dan setelah dia.
Aku selalu mencintai seorang wanita dengan cara yang sama, dengan kesetiaan yang sama, dengan kekaguman yang sama, dengan pengagungan yang sama, dan besarnya cinta yang sama, aku tak tahu kenapa aku bisa demikian, mungkin karena begitu manisnya Tuhan selalu memberikan ku cinta, dan setiap cinta yang datang selalu membekaskan sebuah ingatan yang tersimpan jelas.
Aku tahu pasti seperti apa aku, dan apa yang aku lakukan saat aku mencintai.
Bukan hanya ia, tetapi wanita yang datang sebelum ia, juga wanita yang datang setelah ia.
Hari ini tubuhnya yang elok dibalut sweeter ungu dan rok panjang, aku tak menduga kita sama-sama mengunakan sweeter serasa sama-sama seperti dua mahasiswa yang sekolah di London bertemu dicoffeshop sehabis kuliah.
"Hiiiii…. udah lama nunggu?" sambil menjulurkan tangannya
Aku segera menjabat tangannya, dan memberikan ciuman di pipi kanan kirinya…
"No Dear.."
Ia kaget mendengar itu. Aku pun cepat sadar, spontanitasku yang seakan masih sama seperti dulu. Gila….gila….
"Maaf kataku…"
Ia pun tersenyum, dan senyum itu tidak berubah, masih sama.
"Udah lama nunggu?"
"Baru koq…duduk.duduk..mau minum apa? Gimana kabarnya? Sudah lama ya? Ya ya mau minum apa? Gimana keadaan kamu? Gimana…."
Aku yang begitu cangung, deg-degan dan gerogi membuatku menghujami pertanyaan yang lengkap seperti seorang wartawan yang menanyai seorang artist.
You see, ini sebuah eforia, atau kegembiraan, atau sesuatu yang aku ingin keluarkan dari pikiranku.
"Tenang" , ia pun duduk dibangku didepanku…
Aku pun seketika diam…
Lalu ia buka suara…
"Hi…"
"Hi…pa kabar?"
"Baik" katanya…
"Naik apa?"
"Aku diantar tadi sama adekku…"
"Oh"
"Ok kamu pa kabar marky?"
"Baik..baik.., eh mau pesen apa nih?"
"Hmmm….Cappucino".
"Hot or Ice?"
"Hot aja…
"Anything else…?"
"Nggak itu aja dulu".
Aku pun melangkah ke depan untuk memesankan minumannya, dan tak berapa lama kembali dengan membawa cangkir cappucino pesanannya.
"Thank you ya…", sambil memasukan black berrynya kedalam tas.
"Gimana kabar kamu?" kataku.
"Yah baik."
"Masih sibuk?"
"Iya"
"Iklan?"
"Ya.., tapi itu 8 bulan lalu, sejak ini gak terlalu."
Ia mencoba menjelaskan keadaannya, yang sekarang berbeda dengan dulu, apa yang berbeda darinya, ia tetap sama, tetap tegar, tetap cantik, tetap bersemangat, dan senyum diwajahnya tetap sama.
"Ohhh., kamu benar-benar gak pernah berubah.masih sama, masih seperti dulu".
"Hmmm " Oh Tuhan dia tersenyum indah, and that time Pattella ku rasanya mau lepas bukan hanya itu tetapi juga semua sendi-sendiku ku serasa mau lepas dari tempatnya.
"Kamu sendiri gimana?, masih nulis-nulis?"
"Wah masih dong, gak bisa lepas itu".
"Oh, masih foto?
"Masih, kamu aja yang gak pernah baca puisi-puisiku…lagi"
Dia terdiam…
"Tapi gak sangka…"
"Gak sangka apa?"
"Nggak..nggak apa…", aku masih gak menyangka apa yang terjadi hari ini, tapi aku tak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku.
Ia pun mengangkat cangkir cappucino yang ada didepannya…meminumnya melewati bibirnya yang halus itu.
Yah lalu oborolan kita pun berlanjut, lebih banyak bicara tentang kesibukan kita masing-masing, aku yang sibuk dengan kerjaan, dan tulisan-tulisanku, ia dengan kesibukannya dengan casting dan mengurus rumah.
Waktu terasa cepat saat itu, memang kita tidak mau berlama-lama ditempat umum yang terbuka, aku menjaga dirinya dan kehormatannya, kita pun beranjak meninggalkan tempat itu, aku mengajaknya makan malam di Social House at Harvey Nicolas, East Mall Grand Indonesia, aku sudah memesan tempat sebelumnya, meja untuk dua orang, seorang pelayan mengantarkan kami ke meja yang sudah disiapkan, tepat dipinggir jendela, menghadap Bundaran Hotel Indonesia, kalau malam tempat ini indah sekali, luar biasa, aku selalu menikmati suasana yang agung, yang akan aku selalu ingat, dimanapun itu.
Ia pun memesan makannya, aku pun juga, tak lama pesanan kami pun datang, kita tak banyak bicara saat menikmati makan malam itu, mungkin terasa aneh, dua orang yang sudah lama tak berjumpa, tiba-tiba makan malam ditempat seperti itu, ah entah lah, toh aku sedang tidak menginginkan sesuatu, kita sama-sama tahu seperti apa diri kita masing-masing.
Saat ia selesai dengan makan malamnya, juga aku. Kita mulai saling bercerita banyak hal, masih seputar pekerjaan dan kesibukan masing-masing.
"Kamu tahu, aku selalu melihat kamu, hampir setiap hari".
"Dimana?, ah kamu mengada-ada".
"Iya, aku melihat mu setiap hari di iklan yang terpasang di bus kota".
"Ohhh, hahahhahahaha " ia tertawa.
"Setiap hari…kamu bisa bayangkan, aku setiap hari melihat iklan itu, dan setiap kali aku melihatnya aku tersenyum".
"Ah kamu ada-ada saja…"
"Kapan lalu malah seorang teman membuatku menunggu TV, yang katanya kamu ada disebuah iklan di TV".
"Ah…, lalu"
"Aku kan malas nonton TV, aku tak pernah mendapatkan iklan itu, mungkin sudah tidak tayang…"
Lalu ia mulai bertanya
"Jadi apa yang kamu dapat setelah balik dari sana waktu itu?"
"Hmmm aku menulis tentang kamu…"
"Oleh-olehnya mana?" ia tersenyum sambil berkelakar.
Aku tertawa…
"Buku Grisham aja belum aku kasih ke kamu, aku masih menyimpannya saat kamu pesan waktu itu, ingatkan saat aku ke toko buku dan kamu memesan buku itu".
"Kenapa kamu gak bawa…"
"Ah aku lupa juga…gak kepikiran", yah tentu saja aku lupa, karena yang sedari kemarin yang kupikirkan hanyalah pertemuan ini.
Ia sekali lagi tersenyum
"Nanti deh, or i posted to you, pake Tikki kan bisa".
"Jangan…, lain kali aja"
"Baiklah"
"Jadi kamu kesana hanya untuk itu?, saat itu aku marah dengan sikap keras kamu"
"Tahu kah kamu betapa aku tegangnya menghadapi keadaan itu, saat itu aku butuh refreshing, seorang sahabat memberikanku pinjaman apartementnya di Manhattan, jadi kenapa tidak jika aku pergi kesana, dan saat itu aku tidak mengerti kenapa kamu melakukan itu, aku baru tahu kemudian"
Wajahnya seksama memperhatikanku.
Aku tersenyum.
"Kamu masih sering nongrong di Dante sendiriaan?"
"Sudah jarang".
"Kenapa…"
"Kamu tahu lah…"
Aku sadar keadaanya membuatnya sulit untuk selalu bisa bepergian.
Aku diam
"Kamu sudah menemukan seseorang?"
"Hmmm, ya saat itu…"
"Bagus…, lalu"
"Hahaha…" aku tertawa.
"Kenapa tertawa" wajahnya berubah.
"Tak ingin aku menjawabnya…, malas".
"Pasti kamu sayang sama dia".
"Hahahah…pasti itu".
"Lalu…"
"Entah lah…", wajahku berubah benar-benar, malas membahasnya.
Hari ini aku bertemu dengan seorang yang pernah aku cintai, tetapi bukan berarti aku bisa begitu saja membuang apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak segila itu, dan aku tidak segila orang yang melupakan semua hal yang baik.
Aku tidak segila itu, aku merasakan besarnya cinta, aku masih merasakan beban yang berat, tapi aku tidak semunafik dan segila itu, melupakan yang baik, mencari kejahatannya lalu membencinya, walau semua orang melihat apa yang dilakukannya padaku, tapi bisakah cinta membenci, aku tidak sedang membenci, aku tak bisa membenci, aku sedang kecewa, kecewa kepada keangkuhan, kecewa pada semuanya.!
Ah biar saja. Biar.
Hanya aku dan Tuhan yang tahu pasti seperti apa isi diriku, dan pikiranku.
Tuhan saja yang tahu apa yang mau dilakukanNya. Seperti Tuhan selalu melakukan nya padaku.
Aku jadi ingat obrolan kita dulu.
"Akankah aku menikah?"
"Ya, kau akan menikah? Dengan seseorang someday, Ya nanti pasti pada waktuNya"
"With Who?", berharap ia menyebut "aku" atau namanya.
"God will answer your question?"
"Saat aku patah hati, aku meletakkan mimpiku dalam kubur, saat aku mulai mencintai aku bangkit dari kematian, tapi apa yang terjadi setelah aku bangkit? Atas nama cinta aku berdiri, tapi apakah aku bahagia saat akhir? Semua cerita yang ku tulis selalu berakhir tragis dan sedih"
Sekali lagi ia menjawab
"Only God Know". aku mengenang obrolan itu, sekarang aku terdiam, aku berfikir mungkin doanya benar-benar belum dijawab Tuhan untukku, harapannya belum benar-benar diberikan Tuhan untukku, aku terdiam sekali lagi.
Lalu ia mulai lagi berbicara.
"Apa yang kamu katakan memang benar"
Aku terdiam, saat melihat wajahnya kehilangan senyum.
"Tentang apa?"
"Semuanya"
"Tentang kamu?"
"Ya, semuanya…"
"Aku hanya manusia, tak selalu benar, tapi aku selalu berusaha melalui semua dengan benar".
Ia pun tersenyum dengan sebuah pemahaman.
"Kamu masih sama seperti dulu, selalu berbicara dengan makna".
Aku tersenyum.
"Yang penting hidup kamu lah, kamu lebih keliatan lepas dari beban kamu, walau semua nya masih sama, aku tau koq, kamu sudah bisa tersenyum kembali, itu saja sudah cukup untuk ku, aku masih bisa melihat kamu tersenyum".
"Ya pasti, kamu gak tahu aja…"
Aku mencoba mereka-reka apa yang dikatakannya.
"Kalau saja…", ia berkata dengan nada yang pelan.
"Sudah…sudah, jangan pernah sesali apa yang sudah kita jalani kan dalam hidup, bukankah aku selalu berkata itu…lakukan apa yang baik buat kamu, jangan pernah menyesalinya, suatu hari kita akan mengerti", kataku
Ia diam.
"Hidup itu indah kan, jika kita mau melihatnya lebih jelas, tapi jangan lupakan diri kamu untuk selalu dekat denganNya".
Ia diam
Wajahnya berubah, seperti merasakan kesedihan yang dalam, penyesalan yang juga hadir diwajahnya yang sedari tadi tersenyum.
"Ada hal-hal yang aku tak mengerti, kemudian aku mengerti, ini lebih baik, daripada aku tak mengerti, banyak orang yang tak mengerti apapun dalam hidupnya, aku bersyukur aku bisa mengerti".
Ia mendengarkan dengan seksama.
"Kita melihat arah yang sekiranya kita baik, kita menyangkanya lurus, tetapi berujung pada kehancuran, kita dibodohi, kita dibutakan, kamu tidak, kamu sedang berjalan dijalan yang Tuhan bawa, sekalipun tidak pernah menjadi sesuai yang kita mau, tapi kamu melaluinya demi semua orang, bukan keegoisan seorang atau diri mu sendiri".
Lalu aku terdiam, aku tak mau banyak bicara.
Ia pun tersenyum.
Lalu aku mulai meringankan pembicaraan, lalu aku mulai bicara banyak hal lain, aku bicara tentang "Life Quadrant" sesuatu yang gak pernah didengarnya, semua orang pun tidak, mungkin hanya orang-orang terdekatku, tapi yang jelas dunia ini pun tidak pernah mendengar itu, aku menemukan sendiri istilah itu, aku menemukan bukan karena aku membaca atau mencontek penemuan orang, aku benar-benar menemukannya, sebuah hasil pemikiranku.
Ia terperana mendengarkan ceritaku, mendengarkan penjelasanku, bagaimana mungkin aku bisa merumuskan kehidupan dengan cara pandang matematis, mungkin.
Ia terperana diam tanpa perkataan apapun,
Mungkin kemudian hari aku pun akan membukukannya, dan mengajarkan kepada dunia tentang pengajaran itu, dan mengubah hidup banyak orang.
Sekali lagi waktu cepat terasa, benar-benar cepat.
Akhirnya kita berdua pun harus segera terpisah, kali ini aku tak merasakan seberat lalu, tapi aku masih bisa merasakan apa yang ada didalam pikirannya.
"Iya waktunya pulang…, Thank You untuk makan malamnya…"
"You Welcome…"
"Adikku sudah menjemput"
"Ya aku tahu…"
Aku mengantarnya ke lobby utama, kami saling berjabat tangan.
"Baik-baik ya kamu…" kata ku.
"Iya…" ia pun tersenyum menawan….senyum yang tidak pernah berubah dari wajahnya dan kebaikannya.
Aku benar-benar bisa merasakan kesedihannya saat kita berjabat tangan, tapi aku tersenyum, tersenyum bahagia atas ketegarannya dan kekuatannya, aku serasa benar-benar bahagia, bahagia karena Tuhan menjawab doa ku, membuatnya benar-benar kuat melalui kehidupannya yang berat.
Aku menjadi bangga kepadanya, bangga bukan karena kecantikannya, atau kepribadiannya, tetapi kekuatannya dan kedewasaanya, aku merasa tidak pernah sia-sia, mengenalnya, ia telah membuatku benar-benar bersyukur dan bangga.
Ia pun hilang dari pandanganku, saat ia pergi naik Honda Jazz abu-abu gelap.
Saat itu aku jadi ingat sebuah mimpi, mimpi dimana aku melihatnya duduk di sebuah rel kereta api, dengan wajah yang lelah dan bersedih, aku melewatinya, lalu kembali melihatnya, lalu berjalan lagi mengambil segelas air mineral, dan memberinya minum, seorang sahabat tahu tentang kisah mimpi ku ini.
Aku tahu, ia akan melalui jalannya lagi, ia sempat terlelah, tapi ia tetap tegar menghadapi jalannya.
Aku melangkah meninggalkan Lobby.
Berjalan tegak melangkah dengan yakin tanpa menengok kebelakang, aku merasakan kekuatan, merasakan kebahagiaan, merasakan kebanggan. Dalam hati aku berdoa, berdoa dan berdoa, agar ia selalu diberikan kekuatan, hari itu aku tahu, Tuhan memberikanku sebuah hadiah yang baik, sesuatu yang hanya aku ketahui bagi diriku sendiri, aku kemudian juga tahu aku tahu apa yang aku lakukan, aku tahu aku ada dijalan yang mana. Lalu aku berdoa dan berdoa lagi, bagi dirinya, berdoa agar menarik seluruh kebaikan surga bagi yang kucintai, agar ia diberikan kekuatan, agar dia diberikan kebaikan, dan aku tahu saat itu Tuhan sedang tersenyum, dan aku juga tersenyum. Rainbow upon my face. Be thou the rainbow in the storms of life. The evening beam that smiles the clouds away, and tints tomorrow with prophetic ray.
You and I Both – Jason Mraz
Was it you who spoke the words that things would happen but not to me
Oh things are gonna happen naturally
Oh taking your advice I’m looking on the bright side
And balancing the whole thing
But often times those words get tangled up in lines
And the bright lights turn to night
Until the dawn it brings
Another day to sing about the magic that was you and me
Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just read of
Others only read of the love, the love that I love.
See I’m all about them words
Over numbers, unencumbered numbered words
Hundreds of pages, pages, pages forwards
More words then I had ever heard and I feel so alive
You and I, you and I
Not so little you and I anymore
And with this silence brings a moral story
More importantly evolving is the glory of a boy
Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just dream of
And if you could see me now
Well I’m almost finally out of
I’m finally out of
Finally deedeedeedee
Well I’m almost finally, finally
Well I’m free, oh, I’m free
And it’s okay if you have go away
Oh just remember the telephone works both ways
And if I never ever hear them ring
If nothing else I’ll think the bells inside
Have finally found you someone else and that’s okay
Cause I’ll remember everything you sang
Cause you and I both loved what you and I spoke of
and others just read of and if you could see now
well I’m almost finally out of.
I’m finally out of, finally, deedeeededede
well I’m almost finally, finally, finally out of words.
Jakarta, 18 September 2010 – 25 September 2010
Markus AP
Note : Dipersembahkan kepada Tuhan, dan mereka yang kucintai, ia yang sangat kucintai.Thank You For Being My Inspiration, my breath of life, beat of my heart. Judul awal cerpen ini : Rainbow upon my face.

(2 votes, average: 4.50 out of 5)

Similar/Related Posts