Kepergian Seorang Penulis
Aku bangun kesiangan, mandi dan siap berangkat kekantor, tapi hari ini aku malas berangkat kekantor, aku menelfon readksiku bahwa aku perlu mencari berita diluar, ia pun menyetujui agar aku diluar kantor saja.
Mungkin bos sengaja agar ia tak melihat tampangku dan suaraku, yang sering kali membuatnya kesal, aku lebih kesal dengannya, sebagai seorang redaksi ia terlalu kaku, terlalu memikirkan banyaknya oplah yang terjual dibanding kebenaran berita, kebenaran sepertinya hanya persoalan laku atau tidak, menghasilkan atau tidak. Aku nongkrong didepan TV sejak aku bangun tadi, merokok, menikmati kopi hitam kapal api.
Sebenarnya aku tidak kemana-mana, hanya tinggal dikosanku, sebenarnya saat ini saat baik bagiku menyelesaikan Novelku, tapi malas, aku seperti tidak ada tenaga apa-apa, malas untuk kekantor apa lagi menyelesaikan Novelku, apa lagi sejak aku ribut dengan Ratna, aku malas ribut, aku lebih baik diam, waktu Jumat lalu aku melihat seorang laki-laki mengantarnya pulang, aku melihat kejadian itu lantas aku pulang, tanpa stress atau frustasi kalau kekasihku jalan dengan orang lain.
Aku ingin mengumpat, marah, benci, tapi sudah malas, sudah capek.
Aku sudah kehabisan kata-kata selain pasrah, pasrah menungu hukuman matiku, dan ia jadi menikah dengan pria yang mengantarnya pulang itu, aku hanya mengisi pikiranku dengan pengertiaan-pengertian, mengertilah aku ini apa, aku hanya wartawan surat kabar, wartawan ecek-ecek, dengan gaji kecil dan masa depan tak jelas, gelarku nampaknya tak bisa membuat aku sukses, aku lulusan fakultas sastra dan filsafat, dua gelarku tak bisa menjadikan aku Boss, di Indonesia ini, kalau pun aku bekerja, mana ada yang mau terima lulusan sastra dan filsafat, dunia kerja di Indonesia hanya memerlukan sarjana bidang Ekonomi, IT, Management, dan itupun sekarang dikuasai oleh lulusan dari Stanford atau UCLA.
Ah peduli setan bicara tentang dunia kerja di Indonesia.
It’s All Bullshit.
Aku berharap menyelesaikan novelku, novel yang mungkin mengubah kehidupanku, isinya tentang kisah hidupku, pertemuanku dengan Ratna, dan perjalananku bersamanya, tetapi orang yang menjadi inspirasiku seolah sekarang lenyap, aku seperti mati tercekik, inspirasiku habis.
Ah peduli setan dengan Novelku.
Aku duduk didepan TV, menatap kosong hanya memelihat berita-berita yang isinya cuma korupsi, konspirasi dan criminal.
It’s All Bullshit.
Saat aku bengong, tiba-tiba handphoneku berbunyi…tertulis “Bos”.
Aku melangkah keluar dari ruanganku, agar suara bising jalanan menunjukan aku sedang dijalan, agar bos ku percaya, kalau aku sedang mencari berita dilapangan.
“Ya bos”.
“Loe dimane Yun?”
“Di lapangan”
“Iye loe dimana?
“Tebet bos”, aku berbohong.
“Lo ke Jl.Cipinang AF No 21 deket kan tuh dari situ”.
“Kenapa bos”
“Ada yang mati disana, pembunuhan mungkin…gue mau loe kesana, dapetin beritanya segera”.
Ah sialan…pikirku, lagi enak-enak berhayal, sebenarnya sedang merenungi nasib, tiba-tiba pekerjaan menanti.
Aku segera mengenakan kaosku, dan membawa tas kamera dan catatanku…
Aku keluar dari kosanku, memanggil ojek langananku yang kebetulan nongkrong didepan rumah dekat pos hansip.
“Min…min”
“Ye bang”
“Anter gue ke Cipinang, buruan…”
“Ok bang”.
Aku pun segera meluncur ke sana.
Jarak dari kosanku di Saharjo sampai ke Cipinang lumayan jauh, tapi hari sudah terlalu siang, tidak begitu macet, tapi panas Jakarta benar-benar menyengat hari itu.
Tak lama kemudian aku sudah ada didaerah cipinang.
“Duh min, mana ya no dua satu, lo Tanya tuh orang”
Si Parmin pun berhenti dan menanyakan alamat yang ku tuju ke tukang rokok dipinggir jalan.
“Mang mana ya no dua satu.”
“Mase ini elok satu, ada juga no 21, banyak no 21, bloknya berapa?”.
“AF mang”.
“Oh itu di elok dua, kesana aja lurus dari sini, terus…kalau sekarang gak diportal”
“Ma kasih ya mang, oh ya suryanya dong sebungkus”.
Si mang tukang rokok pun mengambilkanku sebungkus rokok, dan aku memberikannya uang sepuluh ribu.
“Udeh gak usah kembalinya…ambil aja”.
Si Parmin pun memacu motor bebeknya ke jalan yang ditunjukan si Mang tukang rokok.
Hanya dua menit kurang, saat aku tiba, jalanan sudah rame dengan mobil polisi, ambulan, police line dan orang-orang yang rame mengerumuni rumah itu, komplek ini bukan komplek kumuh, tetapi perumahan yang lumayan baik.
“Min loe tunggu sini”
Aku turun dari motor, dan menuju ke kerumunan orang-orang.
“Siapa yang meninggal?” Tanya ku kepada seorang ibu.
“Seorang yang tinggal sendiri, ia seorang tua”.
“Mati kenapa bu?”
“Gak tau, tetapi yang kita tahu, pembantu yang sering ambil cucian menemukan mayatnya diatas ranjang, itu kata orang-orang”.
“Ohhh”. Aku mencatat keterangan ibu tadi.
“Tau gak namanya?, umurnya berapa”.
“Namanya pak James, umurnya saya gak tau, mungkin sudah 50an”. Aku mencatatnya kembali.
Aku pun melihat seorang ibu-ibu tua renta, mungkin sudah 90an, dipapah seorang pembantu, menangis sambil melongok-longok. ingin menyaksikan si korban yang kayaknya belum diangkut keRumah Sakit.
“Ibu namanya siapa? Ibu kenal, dengan korban?”
“Apa…”
“Mas ibu gak begitu dengar, bicaranya keras dikit”.
“Nama ibu siapa? Ibuuu kenalll dengan korbannn???”
“Saya Nyonya Cun Ti, Ya…saya kenal keluarganya, saya kenal mamanya”
“Seperti apa orangnya?”
“Ia pendiam belakangan ini, sejak kematian istrinya, itu pun kata tetangga, dulu ia begitu ramah katanya, kalau saya kan baru kerja disini mas, baru dua tahun, jadi gak begitu tahu, saya hanya dengar-dengar dari tetanga, dari pembantu-pembantu disini”, kata pembantu yang memapah ibu tadi.
“Ia dulu rajin memberikan ceramah buat ibu-ibu, sering ngobrol Alkitab sama tante, suka membawakan kotbah buat persekutuan doa disini, tapi itu dulu waktu ia masih muda”. Kata nenek Tua tadi.
“Begitu ya bu”.
“Mas kalau mau tahu, tanya saja kepada pak Iwan itu yang naik motor roda tiga itu, bapak itu sering ngobrol dengan Iwan, penjual koran itu., saya sering lihat mereka suka ngobrol dipinggir jalan”
Aku pun menghampiri pak Iwan yang katanya penjual koran, yang usianya sudah kira-kira 50an, ia laki-laki yang cacat, dan motor roda tiga itulah satu-satunya cara baginya untuk bergerak.
“Mas kenal sama korban?”
“Kenal”.
“Seperti apa orangnya?”
“Baik…dulu saya kenal waktu masih muda, belakangan ini saya juga masih sering ngobrol kalau bertemu, seminggu lalu saya ketemu dijalan, katanya abis dari rumah sakit”.
“Memang sudah menikah?”
“Sudah, tapi istrinya meninggal sudah lama, sejak itu ia jarang keluar rumah, kecuali ke warung rokok”.
“Seperti apa orangnya sih?”
“Saya kan Katholik mas, jadi kita cocok, saya masih ingat kita dulu sering ngobrol tentang Tuhan, ia selalu membeli koran saya, walau saya tahu ia jarang membaca koran”
“Koq tau”.
“Tahu lah mas, orang yang benar-benar membaca koran dan tidak pernah, saya sudah 30 tahun jualan koran dan lagi ia sendiri yang bilang…ia gak pernah baca koran”.
“Dekat dengannya?”
“Dulu iya…saya sering ngobrol?”
“Ngobrol apa saja?”
“Wah ya banyak…saya lupa mas”
Tak lama pun kerumunan mulai ribut…rupanya aku melihat polisi mulai siap-siap membawa jenasah.
Aku segera mengeluarkan kamera dari tas ku, berusaha mendekat.
Saat body bag berwarna kuning itu dibawa oleh beberapa orang dan polisi, untuk dinaikan ke Ambulan, aku sudah begitu dekat dengan police line, ah perduli setan, aku pun menerobos masuk.
Aku sempat mengambil beberapa shot saat body bag itu dibawa kedalam ambulan, dan suasana diluar kerumunan itu makin ramai dengan gunjingan. Ibu tadi pun mulai menangis, aku sempat melihat ke arah ibu tadi…ia menangis dan dalam kerentaanya ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk mendekati jenasah itu.
“Hey Yun, loe ye udah tahu police line…loe lewatin aje”
“Eh kapten Rahman”
“Loe emang kalau ada orang mati aja loe cepet…”
“Siapa kep yang mati…dibunuh kep?, sebabnya apa kep?”
“Bukan hanya orang tua, kayaknya sih gak ada tanda-tanda pembunuhan…”.
“Kalau gak ada pembunuhan kenapa pada heboh kep?, kenapa kapten sendiri ke sini”
“Gue gak tahu deh, perintah atasan, untuk menyisir TKP dan memeriksa sampai tuntas, perintah langsungnya mengamankan jenasah”.
“Orang penting kep?, Intel?, Teroris? Purnawirawan?”
“Bukan, orang biasa, hanya orang tua”.
“Lalu kenapa sampai ada perintah langsung?”
“Gak tau deh gue…, gue cuma jalanin perintah…”.
“Ah bohong nih kapten?”
“Serius gue gak bohong, buat apa sih gue bohong Yun…, loe liat sendiri nih gambar-gambar dari kamera digital gue, ada bekas tusukan gak?”.
“Bener kep?”
Aku pun mengambil kamera itu dan melihat beberapa jepretan dari jenasah yang ditemukan tadi, aku melihat seorang tua tertidur diatas kasurnya, kedua tangannya diatas perut, matanya mengatup, mulutnya mengatup, ia nampak terseyum diwajahnya. Tak ada tanda-tanda, kekerasan, tak ada tanda-tanda tikaman atau tembakan.
“Bener nih kep wajar matinya?”
“Gue belom tau yun, nunggu visum”.
“Dia bukan orang penting? Bukan pejahat?”
“Bukan Yun, dia orang biasa, hanya orang tua, tinggal sendiri, yang meninggal. Kalau wajar atau tidak gue gak tau…ya elahhh Yun, loe ini gak percaya amat ma gue…, gini deh, Forensik sudah ambil samples, loe kalau mau liat, nanti aja kalau kita udah bubar, tapi inget loe jangan ambil apa-apa, jangan ninggalin apa-apa…, kunci nih rumah ada di pembantu yang biasa ngambil cucian…, itu tuh orangnya”, aku melihat ke seorang muda yang berdiri didekat pintu dalam rumah.
“Bener kep?”
“Iye…gue cuma mau bantu loe”
“Tumben kep, biasanya kapten paling gak mau saya masuk-masuk ke TKP”.
“Yunus, dengerin, mungkin loe yang tepat untuk melakukan tugas ini, bukan kita, gue cuma minta lakukan tugas loe, kalau loe mau bikin kasus ini jadi berita, jadikan berita yang bener, kalau loe mau cari berita lain, loe lupain tuh orang tua, mungkin gak akan menjual buat Koran loe”.
Aku heran si kapten Rahman yang biasanya galak, tiba-tiba seperti menjadi malaikat penolongku.
Tak lama kemudian, suara sirine Ambulan pun berbunyi, dan jenasah itu dilarikan ke rumah jenasah, di RSCM untuk di visum. Tak seberapa lama pun kerumunan bubar, polisi menutup pintu dengan police line, dan mengembok pintu rumah.
“Yun gue balik ke kantor ye, loe kalau perlu apa-apa loe kasi tau gue…”
“Oke Kapten”
“Oh ya bu, bantu ini orang, berikan keterangan yang diperlukannya”. Kata Kapten Rahman kepada pembantu cucian itu, ibu itu pun menangguk.
Aku tersenyum kepada ibu itu.
Hari mulai sore, semua orang sudah pergi dari TKP, aku minta si Parmin pulang, aku tak mau ia menungguku sampai malam, toh ia akan kehilangan banyak pelangan, kalau hanya menungguku, aku memberikan ia uang lima puluhan dan menyuruhnya pulang.
Sore itu aku sengaja menunggu ditukang rokok dekat pembuangan sampah, dekat juga dengan bedeng rumah ibu pencuci baju tadi, bedeng itu dekat juga dengan sebuah kali kecil, yang berbatasan dengan komplek ini.
Aku sudah memintanya membukakan pintu rumah itu, ibu tadi bilang akan kembali menemuiku kalau sudah agak malam.
Jarak tukang rokok sampai kerumah itu tidak jauh, hanya beberapa meter, hari sudah hampir gelap, ibu tadi membuka pintu rumah, dan kita masuk kedalam, aku mengunakan sarung tangan karet, agar tidak meninggalkan sidik jari apapun.
Saat aku masuk kedalam rumah, aku melihat rumah itu begitu bersih, terurus, sebuah kursi kayu tua, TV yang nampaknya sudah tak pernah dipakai, lalu sebuah kalender yang juga sudah lewat satu tahun.
“Yang membersihkan rumah ini siapa bu”
“Pak James membersihkannya sendiri, saya sering lihat ia menyapu, kalau saya sedang ambil cucian.”
“Ibu dah kenal lama?”
“Sudah, dari saya kecil, ibu saya dulu pembantu dirumah ini, saya juga dulu masih bekerja dirumah ini, tapi sejak istri pak James meninggal, pak James lebih senang mengurus sendiri rumahnya”.
“Dimana korban ditemukan oleh ibu?”
“Dikamar itu, kamar depan itu…”
“Kalau kamar belakang?”
“Itu dulu kamar adiknya, yang kanan, yang kiri, itu kamar nya pak James”
“Loh bukan itu kamar pak James?”
“Itu kamar kerjanya”.
“Kemana keluarganya? Kemana adiknya?”
“Adiknya sudah pindah ke Jerman lama sekali”.
“Anak pak James?”
“Anak pak James entah satu atau dua, yang saya tahu satu, sudah diboyong suaminya ke Amerika”.
“Jadi anaknya gak tahu kalau ayahnya meninggal”.
“Gak tahu juga deh mas”.
“Bagaimana kondisi korban?, ada bekas tusukan atau apa?”
“Tidak..tidak…gak ada mas…”.
“Kapan ibu terakhir melihatnya?”
“Dua hari lalu saya lihat masih hidup koq, cuma wajahnya agak pucat, katanya ia sedang kurang enak badan”.
“Sakit?”
“Nggak kayaknya, paling masuk angin, tapi saya pernah dengar ia batuk-batuk berat”.
“Hmmm”.
Aku pun melangkah ke kamar belakang, kamar disebelah kanan, yang rupanya sekarang menjadi gudang, disana banyak sekali barang-barang, cat minyak, kanvas, kanvas, lukisan yang belum selesai, sebuah Enlarger, dan baki-baki untuk memproses foto.
Aku tak pernah melihat alat itu secara dekat, aku hanya tahu dari literature, teknologi digital jaman sekarang sudah meninggalkan alat sekuno itu, aku benar-benar berfikir ini sebuah peninggalan arkeologi jaman lalu, sebuah Enlarger tua.
Aku pun meninggalkan ruangan yang nampak jadi gudang itu, masuk kekamar yang sebelah kiri, kamar terbesar, aku melihat sebuah frame besar tergeletak dilantai, ditutupi kain hitam, aku membuka kain itu, foto pak James dan istrinya, saling berpandangan dan tersenyum bahagia diwajah istrinya, tapi wajah pak James nampak kaku, hampir tanpa senyum.
Ranjang besar dari kayu jati, tertutup kain putih, begitu pula meja, dan meja rias besar kuno yang tertutup kain, aku melihat buku-buku dilemari dekat pinggir pintu, buku-buku kuno bertuliskan tahun 1960-1970, buku-buku medis dan anatomi.
“Loh pak James itu dokter?”
“Bukan mas, ia hanya pensiunan, dan penulis?”
“Penulis?”
“Iya, setau saya sih, sebab ia sering duduk diruangan kerjanya, kalau pintu tidak ditutup saya melihanya sedang mengetik-ngetik sesuatu di komputernya”.
“Oh…”
“Sering saya diajak berbicara, meminta pendapat, tapi saya gak ngerti mas apa yang diomongin”.
“Lalu yang mengurus cucian ibu?”
“Iya…saya, saya mengambil cucian kotor, lalu membawanya, paling saya membantu untuk memberes-bereskan sedikit apa yang kelihatan berantakan, tapi pak James sering gak mau saya melakukan itu, ‘biar saya aja katanya’, ia biasa meninggalkan uang bayaran cucian di meja tamu depan setiap dua minggu sekali, setiap senin”.
“Oh”.
“Ia sudah bilang, kalau senin bisa ambil uang untuk bayar cucian, tapi kalau cuciannya sedikit saya sering hanya mengambil separuh aja bayarannya, saya kasihan mas, ia kan pensiunan, sudah tua, hidupnya sendiri, mungkin ia butuh”.
“Begitu ya….”
Aku heran, kenapa aku menjadi tertarik dengan kematian orang tua itu, orang tua yang gak punya nama apa-apa didunia politik atau bisnis, hanya orang tua yang mati, tanpa jelas sebabnya, aku berharap tahu hasil visium, jika memang ini pembunuhan akan menjadi misteri yang membuat koranku laku, tapi aku sedang tidak memburu berita demi oplah jualan kantorku, tapi aku sedang tertarik ada apa dengan pria ini.
Lalu aku melangkah ke kamar depan, pintunya tak dikunci, police line menutupi pintu itu, aku melepas garis polisi itu.
Membukanya, ruangan itu begitu gelap, jendela tertutup, hanya kipas ventilasi menyala terus-terusan yang membuat sirkulasi diruangan ini teratur.
“Dimana lampunya?”
“Dekat meja itu, dekat monitor computer, lampu meja, setahu saya lampu yang ini mati”.
Ruangan yang gelap membuatku tak dapat melihat apapun, aku mencoba melangkah perlahan, kakiku menyengol sesuatu dilantai, berkas cahaya dari jendela kecil diatas pintu membuatku sedikit melihat tapi aku tak melihat jika ada sesuatu dilantai, aku mengeluarkan handphoneku, dan memencet salah satu tombolnya, agar layarnya menyala.
“Oh buku…” kataku
Aku menyengol tumpukan buku dilantai, aku mengarahkan diri ke monitor yang berada didekat jendela, lalu meraba lampu meja yang ada diatas meja, aku menyalakannya, ruangan menjadi terang, aku bisa melihat sekarang, sebuah monitor diatas meja kayu jati besar, nampaknya sebuah meja kerja sudah sangat tua, sebuah bangku, dan CPU yang terletak dilantai, aku melihat tumpukan buku dilantai, buku di meja, buku diatas CPU, diatas monitor, melihat cangkir disebelah kanan dekat Tape yang juga diatas meja.
Aku berdiri menatap tembok, melihat sebuah poster besar bertuliskan “Apres Lobscurite” tulisan dalam bahasa prancis, bertanda tahun 2006, lalu melihat ijasah, piagam dan penghargaan yang terpasang tinggi didinding agak atas, dibawahnya sebuah figura bergambar seorang wanita duduk besamanya, wajah dalam foto itu nampak bahagia, lalu aku melihat sebuah tulisan diatas kertas karton berlist merah bertuliskan cina dan berbahasa Indonesia sebagai terjemahan..“Orang yang berbuat baik, walau rejeki belum tiba, tetapi bencana telah menjauhinya, Orang yang berbuat jahat, walau bencana belum tiba, tetapi rejeki sudah menjauhinya”.
Aku melihat dua buah tiket bioskop lusuh yang tulisannya hampir pudar, tertempel didinding “The Bourne Ultimatum, Agustus 18, 2007”, dan sebuah tiket lagi, hampir robek bertuliskan “Salt, Agustus 14, 2010”, aku tak mengerti kenapa orang tua ini, menempelkan dua tiket lusuh itu, aku benar-benar tidak mengerti, aku pikir ia orang yang aneh, kenapa ia menyimpan kedua tiket itu?.
Lalu aku melihat sebuah kertas lusuh bertuliskan ayat-ayat dari kitab suci yang disusun rapi, ada empat ayat disana, lalu sebuah kertas bertuliskan tulisan tangan. “Cinta terbesar adalah menyerahkan dirinya bagi yang dicintai”, lalu didekat tiket bioskop tadi tertempel kertas lusuh bertuliskan “Aku mengalami ulangan kejadian lalu, kejadiaan itu terulang lagi aku lahir dibulan ini, hancur dibulan ini, mungkin menikah dibulan ini, mungkin mati dibulan ini, Agustus 2010”. Aku mengelengkan kepala tak mengerti apa maksudnya, lalu aku memalingkan diriku, ke ranjang didekat meja kerja itu, diatas ranjang yang bersih, hanya ada selimut, guling dan bantal, dengan seprai berwarna putih, dan sebuah Alkitab lusuh disamping bantalnya….
“Disini ditemukannya?”
“Iya mas…”
Aku ingat wajah nya yang tenang dalam senyum, dari foto yang diambil kapten Rahman, aku berfikir ada apa dengan kematiananya?.
Ah perduli setan dengan orang tua itu mati kenapa.
Siapa yang perduli, hanya seorang pembantu penyuci baju, seorang nenek, dan seorang tua penjual Koran yang mengenali dirinya.
Kemana anaknya? kemana istrinya?, oh ya, istrinya sudah lama meninggal, ia hanya orang tua yang ditinggalkan, tetapi aku tak bisa mengambil kesimpulan bahwa ia orang tua yang mati wajar, dan kesepian dan ditinggalkan, aku belum mendapatkan bukti hasil visum atas kematiannya.
Lalu aku kembali focus kepada meja kerjanya, sebuah buku tua karya Turgenev diberi pembatas, lalu Marx, Nietzsche, Whitehead, Betrand Russel. Ini semua buku-buku kuno yang sudah ditinggalkan orang-orang dimasa ini, buku-buku yang sudah menjadi sejarah dunia.
Aku duduk dibangku itu, sambil membuka buku karangan Turgenev, yang sudah lusuh itu, aku melihat buku itu dicetak tahun 1984, ku balik-balik halamannya, dan rupanya dua buah foto menjadi pembatas beberapa halaman yang isinya banyak digaris bawahinya dengan pensil.
Sebuah foto tua dan lusuh seorang wanita muda cantik, tinggi, dan sebuah lagi foto seorang wanita yang berbeda dengan foto sebelumnya, juga cantik. Aku tak mengerti kenapa ada dua foto yang berbeda, dibuku ini, apakah ia sedang menyimpan foto wanita-wanita yang pernah menjadi kekasih gelapnya, atau ia hanya seorang gila.
Entahlah. Aku tak perduli, aku hanya memuaskan rasa penasaranku, akan kematiananya.
Aku memandang keliling ruangan, ruangan pengangap, berantakan dengan buku-buku, tapi mungkin disinilah ia lebih sering berdiam diri dalam kesendiriaanya, seperti ada kekuatan magis ditempat pengap dan gelap ini, seperti penjara, seperti tempat pertapaan, ada kegembiraan dan kesedihan diruangan kecil ini.
Aku mengeluarkan rokok dari sakuku, menyalakannya, menghisap asap itu kedalam paru-paru, mengamati setiap sudut, siapa tahu ditemukan bukti sebab kematiannya.
Entah kenapa ruangan ini lebih menarik bagiku daripada ruangan lain, aku seperti merasakan bahwa disinilah aku bisa menemukan bukti kematiaanya. Tapi tidak, aku tetap merasakan kekuatan yang magis dari tempat pengap dan gelap ini, seperti penjara, seperti tempat pertapaan, ada kegembiraan dan kesedihan diruangan kecil ini.
Tak lama rokokku habis terhisap perlahan-lahan, aku melihat kebawah lantai, aku menghidupkan CPU yang terletak dibawah lantai, diatasnya tergeletak asbak dengan penuh puntung rokok.
Saat system sudah sampai ke menu utama aku mengarahkan mata ke desktop dilayar komputernya, sebuah system tua yang sudah ditinggalkan, aku melihat sebuah shortcut didesktopnya…bertuliskan MYBLOG, shortcut yang mengarah ke drive D, pada systemnya.
Aku membukanya, begitu banyak file document tersimpan didalamnya, ratusan, mungkin seribu, aku begitu ingin tahu apa yang tersimpan dalam file-file itu, aku butuh cara mengalihkan perhatiaan si ibu pencuci baju.
“Bu, bisa belikan saya rokok, rokok saya hampir habis?”
Aku berbohong padahal aku baru saja membeli rokok tadi.
“Baik mas, rokok apa?”
“Surya bu” aku memberikannya uang dua puluhan.
“Baik mas”.
Ibu itu pun keluar dari kamar, dan pergi keluar rumah.
Aku buru-buru mengambil flash disk, dan memasukannya kedalam USB hub yang terletak diatas meja, mengkopi seluruh file itu kedalam flash diskku, tak lebih dari lima menit seluruh file sudah tercopy.
Aku buru-buru mematikan komputer itu, saat aku dengar si ibu tadi sudah datang dan masuk kedalam rumah.
“Nih mas rokoknya…dan kembalinya”
“Ambil aja kembalinya bu, dan ini sedikit uang buat ibu, ini kartu nama saya, ada nomor handphone saya disana, kabari saya jika ada apapun tentang pak James”.
“Terima kasih mas, mas ini wartawan kan, tolong jangan tulis yang jelek-jelek tentang pak James, kasihan, ia hanya orang tua”.
“Hmmm…, saya gak tahu bu…, saya hanya ingin menulis kebenaran”
Aku pun segera keluar dari rumah itu, mencoba meninggalkan kebodohan yang bisa jadi tak menghasilkan apa-apa bagi pekerjaanku.
Aku bisa jadi bukan sedang mendapatkan berita kriminal, aku berharap ini kasus seorang Intel yang mati diracun, atau seorang otak kejahatan yang mati dibunuh, atau mungkin seorang pembunuh yang mati entah kenapa…mungkin saja aku hanya mendapatkan sebuah kematiaan seorang tua, yang tak punya nama apapun didunia manapun, entah politik atau bisnis.
Ia bukan siapa-siapa, ia hanya seorang tua, yang sendiri, ditinggal mati, dan mati dihari tuanya, untung dia tidak sampai busuk diatas kasurnya sendiri, kematiaanya yang segera diketahui oleh ibu pencuci baju.
Jakarta pasti macet kalau sudah malam, orang-orang pulang kantor, jalan Casablanca saat aku pulang dari Cipinang, kembali ke Saharjo, benar-benar macet, aku baru tiba hampir dua jam kemudian, sudah hampir jam sepuluh malam.
Aku malas mandi, aku membaringkan diriku disofa, menyalakan TV, yang tak kutonton apa isinya, aku hanya berharap kesepiaan ruanganku, tertolong dengan suara-suara dari TV, aku muak suara TV sebenarnya, siaran Porno seperti sebuah siaran yang biasa dimasa ini, berita pembunuhan jadi sebuah konsumsi segar yang sebenarnya membosankan dan memuakkan bagiku.
Jaman telah berubah, masa ini sudah jauh seperti masa ayahku dulu, jaman ini benar-benar tak ada lagi yang namanya cinta, etika atau apapun yang baik.
Aku jadi ingat dengan kejadian malam dimana aku melihat Ratna pulang diantar seorang pria.
“Cinta?” kataku
Sinis pikirku, “cinta mana ada di jaman sekarang?”, cinta sama dengan uang, cinta sama dengan penghianatan, cinta sama dengan kebodohan.
“Tai lah dengan cinta”
Aku memukul-mukul kepalaku, berdiri, dan masuk kedalam kamar mandi…mencuci mukaku yang kotor karena angin dan polusi Jakarta.
Lalu aku mandi, mandi dengan seluruh pakaiaan masih ku kenakan…
Aku membasahi seluruh tubuhku…
Lalu duduk dilantai yang basah dan air yang masih mengalir dari shower.
Aku menundukkan kepala.
Membenamkan kepalaku diantara kedua lututku, air tetap mengalir membasahi seluruh tubuhku, dan rasa sesak didadaku makin menjadi, aku tak bisa lagi mengindahkan semua yang kulihat, dengan rasa cuekku, dan tak perduliku lagi dengan perlakuaanya, aku marah dengan semua perlakuannya.
Aku marah. Aku marah. Aku kecewa. Aku menangis.
Aku benar-benar menangis dalam keadaan seluruh badanku basah dan dingin. Aku ingin membencinya, aku ingin membenci ia yang kucintai, tapi makin aku membencinya, aku makin menangis, aku tak bisa membencinya, aku mencintainya. Tapi mana cinta, mana Tuhan, mana cinta saat aku melihatnya pulang diantar seorang laki-laki.
Mana cinta?.
Aku tetap tertunduk membenamkan kepalaku diantara kedua lututku, air tetap mengalir membasahi seluruh tubuhku, dan rasa sesak didadaku makin menjadi, aku tak bisa lagi menghindari.
Aku kecewa.
Aku terluka hebat.
Lalu aku ingat wajah orang tua itu, orang tua yang mati tapi tak sampai busuk, wajah orang tua yang tersenyum bahagia saat matinya, juga senyum yang sama bahagianya saat ia bersama dengan seorang wanita yang duduk disebelahnya.
Aku berdiri, mematikan air showerku, keluar dengan seluruh tubuh basah, dan baju yang masih melekat ditubuhku. Lalu aku menganti bajuku, membuat kopi dan duduk lagi didepan TV.
Aku memasukan flashdisk ku kedalam laptop ku, membuka file yang tadi ku copy, aku tak mungkin membaca seluruhnya.
Aku melihat dari setiap file yang rapi dinomorinya, ditiap file itu terdapat catatan, puisi, prosa, artikel, journal seni, catatan hariaan, semuanya campur jadi satu, aku yakin isinya tentang semua hal tentang orang tua itu.
Ah orang tua itu punya nama…yah James namanya.
Ia menulis catatan ini sejak tahun 2000, aku membuka random perlahan-lahan filenya, ingin tahu apa yang ia kerjakan, berharap menemukan catatan mungkin catatan tentang intelelijen atau konspirasi lainnya, mataku tertuju baris demi baris tulisannya.
Ia banyak menulis tentang seni, sastra, puisi, cerita pendek, prosa, ia bahkan menulis banyak tentang Tuhan, kehidupan, kebenaran, cinta, cinta yang murni seperti novel picisan masa-masanya, cinta yang menyedihkan dan menyayat seperti pengalamanku, ia dalam tulisannya begitu lugas, begitu yakin, begitu simbolik, terus terang, kasar, tapi begitu bermakna dalam, ia menyiratkan sesuatu yang jauh dari pikiran pembacanya, sendiri hampir tak dapat menangkap maksudnya, walau aku sendiri seorang penulis.
Aku jadi ingat, kepada Novelku sendiri, aku sedang menulis kehidupanku, kehidupanku bersama Ratna, aku sadar aku sendiri sedang menulis novel Picisan. Tapi aku bisa sadar, mungkin dimasanya cinta yang seperti itu masih ada, dan dijamanku, aku tak menemukannya, jamanku ini penuh dengan kemunafikan, kepalsuaan, dan aku muak dan jijik dengan jamanku.
Mungkin indah ya hidup dijaman pak James, pikirku, tapi toh dicatatannya yang lain ia menunjukan kesediahnnya, juga karena cinta, juga dihianati karena cinta. Aku terus membaca semua tulisannya, walau aku sadar aku tak menemukan apapun petunjuk atas kematiannya atau kejahatannya.
Aku membuka file-file yang terakhir-terakhir,
Sebuah catatan harian bertanggal 2 Desember 2032 , aku melihatnya seperti sedang berdialog dengan seseorang yang dicintainya
Waktuku seakan dekat, entah kapan, tetapi aku merasakannya, bahwa aku akan segera menemuinya, entah kapan.
Sebuah catatan harian bertanggal 21 January 2031, setahun lebih lalu.
Sayang, hari itu aku berhenti merokok, saat aku menikahimu, aku tak ingin mati lalu meninggalkanmu, karena aku ingin berlama-lama hidup bersamamu, sekarang aku tahu seharusnya aku tak berhenti merokok, sebab kau pergi lebih dulu meninggalkanku, maaf jika aku mulai merokok lagi sejak kepergianmu, aku berharap perlahan aku pudar, berharap aku menyusulmu dengan kebodohanku.
Sebuah catatan harian bertanggal 21 May 2028, dua tahun lebih lalu.
Aku mendengar kabar kepergiannya menghadap Tuhan, dan tahun-tahun belakangan ini aku mendengar banyak yang kucintai pergi. Yang lebih menyedihkanku, tahun-tahun tentang kehidupannya, aku sepertinya tahu semuanya akan terjadi, jauh-jauh hari. Aku pun tahu hidupku seperti apa kemudian. Jauh-jauh hari
Aku mengarahkan mataku ketiap baris-baris yang lain.
Sebuah catatan harian bertanggal 31 Agustus 2028.
Sayang, ingatkah ada seorang yang pernah berkata kepadaku bahwa aku gila, sakit jiwa, tidak waras, mungkin bukan seorang, mungkin lebih, tapi aku tak perduli orang-orang itu, tapi yang paling menyakitkanku kata-kata itu keluar dari seorang yang paling aku cintai.
Hari itu kakiku lemas, ulu hatiku sakit sekali, dadaku sesak, aku sedih, aku manangis mengetahui hal itu.
Aku berkata kepada seorang sahabat ku “aku berdoa untuknya, tetapi ia menyebutku dengan sebutan buruk itu”, ia ikut merasakan kesedihanku, ia marah, tetapi aku memintanya untuk tidak marah.
Hari itu juga aku menangis dihadapan Tuhan sambil merasakan pedihnya, aku berharap aku meninggalkan kehidupan ini, aku tak mengerti kenapa orang yang paling kucintai adalah orang yang paling menghinaku dengan sebutan itu, bahkan orang yang paling membenciku, bajingankah aku?, kotorankan aku?,aku meminta kelepasan dari Tuhan atas sesakku hari itu, dan hari ini aku masih mengingat saat-saat itu, aku jadi tersenyum, disaat aku benar-benar telah gila karena sendiriaan sejak kau pergi kerumahNya.
Sebuah catatan harian bertanggal 8 September 2028
Sayang, aku sendiri, aku merindukanmu, baik-baikah kau disana, apakah Tuhan memberikan mu sebuah rumah yang indah, aku ingat aku punya rumah disana, dengan banyak buku, seluruh temboknya rak buku, rumahku ada diatas bukit yang hijau indah, mampir lah sayang untuk membersihkan buku-bukuku, aku belum dapat menempatinya, aku masih disini menanti waktuku.
Aku menutup file itu, membuka dua-tiga file lagi dari tahun-tahun yang lewat.
Sebuah catatan harian bertanggal 25 September 2007
Aku bermimpi semalam, seperti sebuah gambaran yang jelas,entahlah apa maksudnya. Sudah 3 hari ini aku lelah, dan sakit, aku perlu istirahat!.
Sebuah catatan harian bertanggal 27 Oktober 2007
Aku terbangun karena mimpi…I dream of her.
Sebuah catatan harian bertanggal 1 November 2007
Dalam puisiku tanggal 01/11/2007 aku menulis Catatan : Aku benar-benar kehabisan kata-kata, semangat jadi pudar, dalam keadaan yang seperti ini, inspirasi jadi mati, aku tak tau lagi harus berbuat apa, aku bingung karena keadaan, kebenaran dan kejujuran yang diputar balik, fitnah yang menghantam, jerembab yang mencekik, tapi cintaku padanya tak pernah habis, tak pernah digantikan benci, jauh didalam sini tersimpan harapan, cinta dan kesunguhan yang disaksikan Sang Khalik, jauh dimata ini tertetes air mata yang disaksikan Sang Maha Adil. Satu-satunya hanya Tuhan saksi ku, kebenaranku.
Sebuah catatan harian bertanggal 15 November 2007
Aku menjemputnya dibandara kemarin…kita bicara banyak di taxi, banyak. Dari hal yang membuatku shock sampai sesuatu yang membuatku bingung, aku terluka, tapi entah kenapa hatiku tetap tenang dan merasakan damai, aku tertawa dalam hati…ah aku mengsyukuri kasihNya dan kehendakNya.
Kasih tu mengalahkan logikaku sendiri…
Sebuah catatan harian bertanggal 30 November 2007
Aku sempat masuk rumah sakit dari tanggal 23 lalu, sampai kemarin, panas 42 tinggi sekali, aku harus dilarikan ke rumah sakit. Diagnosa dokter, None….
Kenapa gak terdapat satu penyakit, yang membuatku mati? Mungkin karena Tuhan masih cinta padaku, aku diberi umur panjang, agar aku hidup. Aku diberi lihat apa itu cinta, aku telah melihat kepalsuaannya.
Sebuah catatan harian bertanggal 3 Desember 2007
She still hunt me in my dream,
Setelah pulang dari RS waktu itu aku kurang fit dan kurang tenang, aku harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru dalam waktu yang cepat! I MUST SURVIVE…I got a dream.!
Sebuah catatan harian bertanggal 7 April 2009
Hari ini aku melakukan hal gila… aku marah besar, tak pernah aku marah semarah ini, dan aku sempat melihat hal yang aku tak perlu ku lihat….
Tapi hari itu aku tak kehilangan cinta, tak kehilangan hati, tak kehilangan apapun dalam diriku…hanya menyesalkan kenapa harus begitu…kenapa harus menghancurkan cinta yang ada.
Sebuah catatan harian bertanggal 8 April 2009
Siang tadi at lunch time, aku bicara untuk terakhir kalinya.
Aku menyerahkan semua jalan itu biar ia lalui, aku mau lihat ia bahagia, aku mau dia bahagia, aku mau dia tidak menghancurkan hidupnya dengan kehilanganya, aku mau dia bahagia, aku mau dia benar-benar bahagia…
Dan diakhirpun aku berkata…aku mencintainya …
Semoga Tuhan menyertainya…aku selalu berdoa untuknya, selalu untuknya, Semoga kebahagiaan akan selalu bersamanya…
“Saya tidak pernah melihat kamu sebahagia ketika bersama Dia. Saya rela, karena saya ingin kamu bahagia, begitu kata Ia” Cerpen : Cerita pendek tentang cerita cinta pendek – Djenar Maesa Ayu
Sebuah catatan harian bertanggal 26 April 2009
Aku selalu berjuang dalam banyak hal….aku ingat pengalamanku dua tahun lalu.
Sebenarnya aku tak sanggup lagi menghadapi orang yang tak sanggup berjuang.
Sebuah catatan harian bertanggal 15 Juli 2010
Kemarin ia tertidur dalam pelukanku, aku tidak, aku mencium bau harum rambutnya, aku tak ingin melepaskan pelukan itu, kalau mungkin aku mati hari ini.
Sebuah catatan harian bertanggal 31 Juli 2010
Aku menikmati makan malam yang indah hari ini, hari kelahiranku, aku berharap bisa melewati makan malam seperti ini, selalu, tak perlu ada keromantisan, karena bersamanya saja adalah kebahagiaan. Entah apakah Tuhan mengabulkan saat-saat itu bisa selalu ada. Tapi aku merasakan sebelum itu, bahwa malam itu makan malam terakhirku bersamanya.
Sebuah catatan harian bertanggal 27 & 30 Agustus 2010
Hari-hari yang berat aku lalui…ia masih seperti hantu bagiku.
Aku bermimpi aneh semalam. Apa arti perkataanya? Mungkin ini mimpi yang kesekian. Lalu apa arti delapan bulan yang dikatakannya.
Aku terdiam mencoba merenungkan akan kalimat hantu yang dikatakannya, apakah ia benar-benar telah hidup dengan mencekam dalam kesehariaanya…lalu aku meneruskan membaca catatan hariannya.
Sebuah catatan harian bertanggal 17 Sepetember 2010
Seorang yang pernah tak mempercayai semua omonganku, hari itu mengakui bahwa semua yang kukatakan hampir setahun lalu terjadi. Ia memang tak mengatakan penyesalannya, tapi ia menunjukan itu dari sikapnya. Aku berdoa agar ia terus menjalani apa yang sudah dipilihnya, semoga Tuhan memberikan ia kekuatan.
Sebuah catatan harian bertanggal 18 September 2010
Sudah hampir tigapuluh hari, aku terbangun tengah malam, aku melewati siksaanku tiap malam, entah karena mimpi, atau keterjagaanku yang tiba-tiba, aku benci saat-saat ini. Kenapa tidak ditikam saja aku dengan sebuah belati, daripada aku tersiksa dengan terbangun tengah malam atau waktu hampir pagi.
Sebuah catatan harian bertanggal 20 Sepetember 2010
Apa arti kesedihanku pagi hari kemarin, aku merasakan kesedihan, tetapi aku sedang tidak sedih. Siapakah yang sedih? Tuhankah sedang sedih?Aku bertanya kepada seorang sahabat tentang arti kesedihan itu, ia berkata itu bisa jadi hanya Sympathy hurt saja. Aku tak mengerti artinya, tapi seperti sebuah kekuatan yang tak pernah dapat dijelaskan oleh logika. Hari-hari lalu aku sering merasakan hal ini, diwaktu yang hampir tak kuketahui, entah malam atau pagi, bukan hanya kesedihan, tapi rasa rindu, rasa marah, tapi aku sedang tidak merasakan itu semua, bukan aku sedang merasakan itu, tapi aku merasakan itu, lalu siapakah yang sedang marah? Tuhankah sedang marah?. Entahlah, aku tak mengerti semua itu.
Sahabatku mengirimkan sebuah pesan, menjelaskan apa arti Sympathy hurts, bahwa sympathy hurt suatu kondisi dimana seseorang tiba-tiba merasakan sakit/beban tanpa sebab dikarenakan orang yang dia sayangi juga tengah merasakan hal yang sama. Biasanya ini terjadi pada dua orang yang memiliki hubungan emosiaonal sangat erat, misalnya antara saudara kembar, ibu dan anak, atau lovers. Aku hampir tak mempercayai itu, apakah benar demikian yang kurasakan diwaktu-waktu lalu, yang datang tak jelas waktunya, sedang aku tidak sedang merasakan keadaan itu, tapi aku merasakannya?.
Sebuah catatan harian bertanggal 26 September 2010
Semua peristiwa itu seperti sebuah ulangan dari semua peristiwaku lalu, pada akhirnya aku harus mengorbankan diriku, bagi kebaikan orang-orang yang kucintai, mungkin kemudian hari aku akan melalui peristiwa yang sama dan sama sampai Tuhan meluluskanku, saat itu penyalibanku berakhir. Seorang sahabat yang mengetahui perjalananku, tahu pasti, aku sedang menjalani sesuatu.
Dua buah catatan harian bertanggal 9 Oktober 2010, ia menuliskan keindahan sebuah tempat, yang menurutku indah .
Aku sudah satu jam berada ditempat itu, dan tepat saat matahari terbenam, aku menatap seluruh kota dari atasnya, begitu indah tempat itu saat matahari terbenam, dan cahaya matahari menembus masuk walau terhalang oleh besar-besarnya huruf-huruf eguor niluom.
Tak banyak orang tahu apa artinya dari huruf-huruf besar yang terbalik itu, aku tahu apa arti, ada sebuah cerita ada dibalik huruf-huruf besar itu, kisah tentang Christian, seorang penulis inggris yang datang ke daerah hitam Montmartre di paris dan bergabung dengan Bohemian revolution ditahun 1899, ia kemudian jatuh hati dengan seorang wanita bernama Satine yang dikagumi oleh semua orang. Tapi ia dikuasai oleh Toulouse-Lautrec seorang yang membuatnya menjadi bintang besar pentas dunia malam di Montmartre.
Hanya seorang, mungkin dua orang yang benar-benar tahu artinya.
Hari ini aku ada ditempat itu, benar-benar ditempat ini, benar-benar indah. Aku hanya diam, diam menikmati keindahananya, aku berharap aku tidak melihat keindahan ini sendiri, aku ingin menikmati hari ini sambil memeluknya dan tak pernah melepaskannya, sampai aku mati nanti.
Catatan harian bertanggal 16 Oktober 2010,
Aku sudah berada ditempat itu lagi, dan tepat saat mata hari terbenam, aku menatap lagi seluruh kota dari atasnya, begitu indah tempat itu saat matahari terbenam.
Hari ini aku ada ditempat itu, benar-benar ditempat ini, benar-benar indah. Aku hanya diam, diam menikmati keindahananya, Aku berharap aku tidak melihat keindahan ini sendiri dan sendiri, aku ingin menikmati hari ini sambil memeluknya dan tak pernah melepaskannya, sampai aku mati tak ada lagi.
Aku terhenti setelah membaca catatan tadi, aku hampir terharu, aku berfikir jika aku hidup disaat itu, dan aku mengetahui semua yang akan terjadi dihari-hari nanti, semuanya akan berubah, tapi siapa yang menyadarinya?, siapa?, kehidupanku sendiri sekarang hanya seorang wartawan, dengan gaji kecil dan masa depan tak jelas, gelarku nampaknya tak bisa membuat aku sukses.
Aku menghentikan pikiran menyedihkan itu. Lalu mengarahkan mata lagi kepada catatan orang tua itu.
Sebuah catatan harian bertanggal 21 November 2010
Jika ada kehidupan didunia pararel lain seperti kata Enstein, aku berharap ada disana. Menemukan hidup yang aku inginkan. Tapi bagaimanakah aku ada didunia pararel itu. Itulah yang ku suka dari membaca Russel yang menjelaskan kekomplexan pemikiran enstein.
Sebuah catatan harian bertanggal 25 Desember 2010
Misa malam natal ini, aku berdoa, hanya berdoa bagi kebaikan mereka yang kucintai. Agar Tuhan, memberikannya kebahagia, kebahagiannya jadi kebahagiaanku, walau aku tidak jadi bagian dari kebahagia mereka.
Sebuah catatan harian bertanggal 15 July 2011
Mungkin kemudian nanti aku menikahi seorang yang tak pernah aku cintai. mungkin, Gila, aku gila jika aku berbuat itu, jika aku melakukan itu aku tahu aku tak akan pernah bahagia saat itu bahkan sampai nanti!.
Aku menjadi bosan membaca catatan-catatan hariannya, aku tak tahu siapa yang sedang ia katakan, dalam catatan hariannya sendiri ia hanya menuliskan inisial-inisial, ia mengunakan kata aku, ia atau dia, aku tak tahu, siapa ia, siapa dia, yang jelas aku tahu kata “aku” yang digunakannya, untuk dirinya sendiri, lalu siapa wanita yang begitu dicintainya. Siapa wanita kemudian dinikahinya?. Semua dalam benakku bertanya dengan ketidak jelasan catatan harian itu, aku merasa hanya ia yang paling tahu, rahasia tentang kehidupannya, ia seorang Nosterdamus bagi dirinya sendiri.
Dan aku benar-benar jadi bosan setelah lebih dari lima puluh catatan harian dari lima puluh hari yang berbeda, akhirnya aku menutup file-file tadi, membuka file-file lain, ratusan mungkin sudah ribuan puisi yang ditulisanya, gila benar, ia menulis sebanyak ini lebih dari tiga puluh tahun, berapa banyak jilid buku akan jadi, jika semua ini dijadikan buku, mungkin jika saat itu ia membuatnya menjadi sebuah buku, ia telah menjadi penerima hadiah nobel bidang sastra, tetapi semua itu hanya tersimpan didalam filenya, apa yang membuatnya hanya tersimpan, mungkin jika kehidupannya indah dengan orang yang dicintainya, ia benar-benar telah kukenal hari ini.
Tapi ia hanya orang tua yang kesepian, ditinggal mati, dan tak punya nama.
Aku membuka sebuah cerpen yang tidak pernah selesai, diselesaikannya…, aku membacanya dari awal sampai akhir dari cerpen yang tak selesai itu, banyak potongan yang tak jelas, tapi aku terperan pada baris awal dari cerpen itu.
Aku sedang tidak ada di NewYork, atau dibelahan dunia manapun untuk menata kehidupanku kembali atau untuk sekedar liburan.
Aku sedang tidak ada disebuah apartemen milik sahabatku saat mengalami keterpurukan atau menghabiskan tegukan demi tegukan James Daniels.
Aku hanya menghabiskan waktu yang pendek keluar kota, dalam kesendiriaan, menyemangati hidupku sendiri, membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku laki-laki yang bisa berdiri dengan segala kekuatannya, membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku laki-laki yang terpuruk bukan karena menghianati, aku membuktikan diri bukan laki-laki yang dihempaskan dan dibuang karena tidur dengan wanita lain.
Tapi karena cinta aku dihempaskan, disampahkan, atau entah lah apapun pandanganku….tapi aku hidup, aku berhasil hidup.
Aku sedang tidak ada dibelahan dunia manapun. Kecuali menikmati waktu ku yang pendek diluar kota.
Hari ini, aku memulai menuliskan cerita kita, mungkin lebih tepatnya ceritaku, entah untuk apa, atau mungkin aku sedang menyimpan sebuah sejarah didalam sebuah tulisan, atau aku sedang memenuhi hasratku sendiri bahwa benar kisah kita hanya jadi sebuah cerita…entah lah.
Jika ia ada hari ini dihadapanku, aku akan berkata, ”aku telah menyelesaikan cerita kita dalam sebuah tulisan”. Mengecup keningnya, dan hilang ditelan kegelapan.
Cerpen itu tak pernah selesai, tak ada akhir dari kisah itu, tak ada kejelasan yang jelas dari cerpen itu, tetapi baris awal itu telah membuatku tercelik. Malam itu aku berhenti membaca file-file tadi, aku tersenyum, berfikir tentang orang tua ini, orang tua yang sendirian, yang ditinggal mati, tak ternama, ia telah melalui beribu hari, hingga harinya dipanggil pulang, melalui semua indahnya kehidupan, indahnya cinta, aku pun masih tak tahu seperti apa kematiannya.
Aku memulai laporan reportaseku, menuliskannya bukan seperti reportase, lebih seperti essay, ah aku tak perduli, aku tahu apa yang aku ingin lakukan, aku menyelesaikannya saat matahari hampir terbit, mandi lalu siap untuk berangkat, berpakaiaan rapi mungkin lebih rapi dari biasanya, aku mampir ke warung nasi didekat ujung gang, sarapan pagi, seharian kemarin aku belum makan.
Tak lama dari itu aku berangkat kekantor, dan tiba dikantor setengah jam kemudian.
“Eh loe monyong…kemana aja loe”.
“Kerja lah…”
“Mana laporan loe…”
“Nih…”.
“Tumben loe dah print?”
“Ya udeh…, mang kenapa?”
“Oke, gue baca dulu…, loe jangan ngabur kemana-mana”.
Aku duduk dimejaku, melihat-lihat meja yang lebih sering kutinggalkan.
Dua menit kemudian,
“Eh monyet…apaan-apaan nih….ini apa?, loe gila ya..loe orang gila ya? Sinting loe?, ini bukan reportase…ngerti!!!, loe lagi nulis cerpen?, loe pikir kantor ini kantor majalah wanita?, hey ini kantor berita, we need hot news…goblok!!!…. sudah lah, gue gak masukin berita kematian orang tua itu, I don’t need that story, gue lebih baik masukin berita mantan president kita ditangkap lebih menjual dari pada kematian orang tua yang gak jelas itu, udeh loe jauh-jauh dari muka gue…Muak gue liat loe”.
Aku berdiri dari tempatku
“Hey ass hole..im quit…, I don’t need working in this shit hole,…im enough with all this crap, im enough with you…and don’t ever you call me insane, don’t ever call me stupid…I don’t need all this fake nonsanse”.
Bos ku terdiam, aku melangkah keluar dari kantor busuk itu, aku mengambil cetakan yang dilemparkannya diatas mejaku.
Hari itu aku seperti terlepas dari kemunafikan, aku terlepas dari dunia yang ku benci dengan penuh kepalsuannya.
Aku kembali ke kosan ku, membaringkan diri disofa, menarik nafas panjang… merasakan kebebasanku.
Lalu membuka laptopku, browsing-browsing di bing.com, mencari kisah yang diceritakan pak James dalam catatannya. Aku jadi ingin tahu dimana tempat yang disebutnya indah itu.
“Ah aku tahu…” aku menemukannya dimana tempat itu, diJakarta ini.
Aku membaringkan kepalaku lagi sebentar, membayangkan aku dan hidupku, apa yang mau kulakukan bagi hidupku kemudian.
Lalu aku melihat handphoneku dimeja, lalu mengambilnya, mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Ratna.
“Bisakah aku menemui mu”.
Lama pesan itu pun dibalas.
“Aku tak tahu, mungkin tunggu aku kembali dari Surabaya, empat hari lagi, tempat biasa”
Aku punya waktu banyak untuk menyiapkan diri, dalam benakku seribu satu pikiran, yang kuinginkan dan tak kuinginkan, aku tak mengharapkan aku menghadapinya dengan pertengkaran lagi, aku tak ingin melihat kesinisan wajahnya, keangkuhannya dan kesombongannya, aku muak dengan semua itu, aku menahan diri dari pristiwa malam yang kulihat itu, itu sudah cukup, aku mencoba membuang semua bayangan itu. Aku mengharapkan sesuatu yang tidak seperti itu. Aku tak mengerti. Aku harus bagaimana.
Tak lama kemudian aku membayangkan lagi aku sudah berada ditempat biasa aku menemuinya. Aku melihatnya dari jauh, ia sedang duduk menikmati segelas Ice blend, sambil membaca majalah. Seketika aku membayangkan apa yang akan terjadi dalam sepuluh menit kedepan dalam bayangan itu.
Aku menghampirinya,
“Hi, sudah lama nunggu?”, kata ku
Dia terdiam, menatapku dengan biasa saja, tanpa senyum, lalu aku duduk dihadapannya.
“Mau bicara apa lagi?”. Dengan nadanya yang meninggi. Dan sepertinya aku tahu apa yang akan dilakukannya.
Aku terdiam,
“Ayo jangan diam, bukankah kamu yang ingin bicara”
“Kamu tak ingin bicara padaku?” kataku
“Kamu yang ingin bicara kan?”
Aku terdiam, aku sepertinya tahu hal ini akan terjadi.
Aku melembutkan suaraku lalu berkata
“Aku tak menduga, kamu seperti ini, kau pikir dengan semua sikap mu, itu sebuah kemenangan, tidak, itu bukan apa-apa, semua yang kau lakukan itu dan ini, tak ada artinya apa-apa, itu bukan kebanggan yang membangakan, tapi tak apa lah…aku tahu, aku cuma ingin kebahagiaan kita, tapi sekarang aku ingin hanya kebahagiaanmu”.
“Maksud mu…?” ia meninggikan nadanya.
“Lihat, kau masih sama”.
Aku berdiri, tersenyum padanya, lalu pergi.
Lalu aku menyadarkan diriku, menyesali aku pernah mengirimkan pesan singkat untuk bertemu denganya, tapi aku sadar bisa jadi semuanya tidak demikian, bisa jadi semuanya berbeda.
Aku menghampirinya,
“Hi, sudah lama nunggu?”, kata ku
Dia terdiam, menatapku dengan dengan senyum, lalu aku duduk dihadapannya.
“Koq diam? mau bicara apa ?”. Dengan nadanya yang kukenal.
Aku terdiam,
“Ayo jangan diam dong, bukankah kamu yang ingin bicara”
“Kamu tak ingin bicara padaku?” kataku
“Aku ingin bicara padamu, siapa bilang aku tak ingin bicara padamu”
Aku terdiam, aku melembutkan suaraku lalu berkata
“Aku ingin kebahagiaan kita, aku ingin hidup bersamamu, aku mencintaimu”.
Ia terdiam, menahan senyum, dengan wajah yang ku kenal. Seperti seorang yang benar-benar kukenali.
Lalu aku menyadarkan diriku sekali lagi, sambil berkata.
“Ah aku tak tahu…”, tapi kepalaku berputar pada kedua hal tadi…hingga akhirnya aku tertidur, karena sakit kepalaku.
Aku terbangun jam sembilan malam, aku melongok ke Handphoneku, sebuah sms ada diinbox ku. Lalu aku membacanya.
“Mas Yunus, lusa penguburan Pak James, jam 9 pagi, siapa tahu mas mau datang, dikubur di Bogor, di Gunung Gadung”.
Aku berfikir, haruskah aku datang pada penguburan itu, lalu aku membalas.
“Saya mungkin datang”
Pagi aku terdiam sendirian, lalu membuka-buka lagi semua catatan orang tua itu, aku membacanya tiap detail, aku merenungkannya lebih dalam, tanpa terasa waktu makin siang, lalu aku mandi dan mempersiapakan diri untuk keluar jalan-jalan, untuk mencari udara…waktu saat itu makin mendekati sore.Lalu aku tahu kemana aku pergi.
Tak lama aku sampai ketujuanku. Aku berdiri disebuah gedung megah yang sudah hampir dirobohkan, sebuah Mall yang tua, semua orang sudah meninggalkan Mall ini beberapa tahun lalu, lalu aku menyelinap masuk dan menuju tempat dimana aku harus tuju, aku melewati tangga darurat empat-lima lantai, hingga aku sampai dimana yang orang tua itu pernah katakan.
“Ah ini tempatnya…”
Aku sekilas melihat ke luar jendela besar itu, aku benar-benar melihat kemegahan Jakarta dari tempat ini, aku melihat sofa merah yang sudah sobek-sobek di teras dimana aku berada, lalu aku duduk aku membayangkan Pak James berdiri dimemandang kearah luar, memandang ke arah jendela itu, aku membayangkan ia memeluk orang yang dicintainya, aku membayangkan ia sendiriaan ada disana memandang keluar dengan wajah tersenyum, dan mungkin menahan semua yang dirasakannya.
Hari sudah hampir sore, aku berdiri, dan memandang keluar dari jendela besar itu.
Cahaya matahari yang hampir tengelam, masuk menembus, hanya bayangan siluet eguo niuo, yang nampak, tulisan itu sudah hilang keutuhannya, ia telah kehilangan huruf M dan L dan R. Tapi aku merasakan kehangatan sinar matahari itu, aku merasakan keindahan tempat ini masih indah seperti dua puluh-tiga puluh tahun lalu.
Aku berharap aku yang ada disini bersama Ratna, tapi aku tersenyum, karena mungkin ia ada ditempat lain.
Aku berharap pak James juga ada disini bersama orang yang dicintainya, tapi aku tersenyum, karena ia ada ditempat lain, ada dirumah Tuhan bersama yang dicintainya.
Tempat ini benar-benar indah, aku merasakan kedamaiaan yang begitu besar, aku tahu kenapa ia ingin diam dan hanya menikmati cahaya matahari. Mungkin ia sedang merasakan kebesaran cinta, merasakan kebesaran Tuhan.
Sayang tempat ini akan dirubuhkan.
Matahari mulai hilang dibalik cakrawala, aku berfikir aku esok-esok masih dapat menikmatinya. Sampai tempat ini benar-benar rata dengan tanah.
Aku pulang dengan sebuah kebahagiaan. Aku mulai paham semua nya, aku mengerti.
Aku sampai di kosanku dengan kelelahan, aku lalu membaringkan diri sebentar, lalu aku tertidur.
Esoknya aku bangun subuh-subuh, menyiapkan diri, membawa flasdisku, aku harus pergi ke penguburan pak James, aku naik bus dari Cawang, lalu naik angkot lagi menuju Gunung Gadung. Aku sempat menanyakan dimana tempat penguburannya, dan aku tahu blok tepatnya dimana.
Hari itu matahari tidak menampakan sinarnya, langit nampak mendung, angin menerpa pepohonan, dedaunan gugur karena sapuan angin.
Aku melihat semua orang sudah ada disana, aku berdiri agak jauh dari mereka, aku tak ingin mereka kaget dengan kehadiranku, aku melihat pak Iwan dipapah dua orang, mengenakan baju batik, juga Nyonya Cun Ti yang sudah tua juga dipapah oleh pembantunya.
Aku melihat dua laki-laki tinggi tegap dan berwibawa, seorang membawa foto pak James, seorang lagi memegang sebuah kertas dan alkitab tua milik pak James, ditengahnya ada seorang pria muda dan wanita muda, dibelakangnya seorang pria dan wanita memengang pundak keduanya.
Lalu seorang wanita tua dengan seorang pria tua dan dua laki-laki muda berdiri berdiri agak jauh dari dari liang kubur, dua pria lainnya sudah tua berpakaiaan putih-putih juga berdiri disamping liang, aku melihat tiga wanita tua dengan pakaiaan yang mewah, mengatur apa yang diperlukan, lalu beberapa pria tua menyiapkan juga yang diperlukan, wajah mereka tak menunjukan kesedihan, tak ada seorang pun yang menangis, wajah mereka nampak tegar.
“Mas datang juga akhirnya…”
“Oh ibu…”
“Naik apa mas?”
“Naik angkot dan bus kesininya…”
“Oh”
“Siapa yang memegang foto dan yang memengang kitab itu bu”
“Oh itu ponakan pak James, mereka dua keponakan yang disayangi oleh pak James, waktu kecil saya sering lihat pak James membawanya jalan-jalan di komplek, pak James lebih sayang kepada keponakannya dibanding anak-anaknya”.
“Oh”.
“Lalu siapa yang dua ditengah mereka”
“Itu anak Pak James, yang dibelakangnya suami dan istri masing-masing”.
Aku melihat Kapten Rahman ada diantara mereka
Kapten menghampiriku.
“Loe dateng juga Yun”
“Iya kep”
“Kapten, siapa wanita dengan tiga laki-laki itu”
“Oh itu sahabat pak James, ia baru pulang dari Jepang, mereka tinggal di Bandung, ia bersama suami dan kedua anak laki-lakinya, dan yang dua laki-laki tua itu, adik pak James”
“Kenapa kapten ada disini”
“Biasa Yun, gue kan kapolsek Jakarta Timur, gue diperintah langsung Jendral Suyanto, yang gue tahu salah seorang dari ketiga wanita tua itu, yang meminta kepada Jendral Suyanto”.
“Siapa sih Kapten, orang ini”.
“Gak tau gue Yun, gue kalau tau udeh gue kasi tau kan, loe sendiri dapat apa?”
“Gak ada kep, saya sudah bukan lagi wartawan, yang gue tahu, mungkin ia menikah dengan orang yang tak dicintainya, lalu ia ditinggal mati istrinya, ia sendiri, yang kutahu ia banyak menulis…entah lah saya gak tau…”.
“Hah…., gimana ceritanya loe bisa berhenti?…, udah gue gak mau tau”.
Lalu suara keras, pendeta pun memulai acara itu. Lalu seorang berbisik kepada pendeta, dan pendeta itu pun berdiam diri tak meneruskan bicaranya.
Lalu seorang ponakan pak James, maju selangkah, ia siap membuka kertas yang dibawanya.
Sebelumnya ia berkata
“Terima kasih, kedatangan Omm, dan Tante, disini, hari ini tanggal 21 Agustus 2033, kita mengantar saudara kita, Omm saya, yang lima hari lalu pergi meninggalkan kita, saya tidak mau berpanjang lebar, karena saya tahu, Omm James tak ingin saya bicara betele-tele saat ini, saya hanya ingin mengenang, apa yang Omm James selalu katakan kepada saya, mungkin kepada kita semua, untuk tegar, untuk tidak menangis, untuk berdiri teguh, untuk selalu melihat jauh kedepan, saya ingat waktu kecil Omm James selalu marah jika saya menangis, ia tak pernah memukul saya, hanya dengan suara kerasnya saya bisa diam, rupanya Omm James mengajarkan saya untuk menjadi saya hari ini, mungkin saat itu saya berfikir Omm James jahat, tapi kita semua tahu, jauh didalam hatinya, ia begitu mencintai kita semua, ia begitu mencintai saya, dan semuanya, mungkin itu yang paling bisa saya kenang dari Omm James, Omm James ingin kita semua tidak menangis hari ini, itu pesannya selalu kepada saya jauh-jauh hari sebelum kepergiannya”.
Dan benar tak seorang pun menangis, mereka tampak tegar, mereka tampak menerima.
Lalu ponakan pak James membuka kertas yang dibawanya.
“Saya tahu Omm James tidak suka tata cara yang bertele-tele, beberapa waktu lalu saya menyimpan semua yang Omm James kerjakan sepanjang hidupnya, waktu kecil saya pernah melihatnya mengerjakan itu, ia meminta saya, semua disini memilikinya, mengerti akan makna dalam kehidupan dan saya menemukan apa yang pernah ditulisanya, ia jauh-jauh hari telah menuliskan seperti apa kepergiannya, saya rasa tak ada kata-kata dari kita semua yang bisa menyenangkannya, selain ia sendiri yang pernah mengatakannya”.
Lalu ia terdiam. Lalu mulai membaca.
Dedaunan berguguran dari pohon entah pohon apa, sedang matahari sembunyi seakan menangis disudut ruangan, padahal dipagi hari seharusnya ia bersinar, tetapi awan mendung menyekatnya, dan hari itu seakan pristiwa golgota terulang lagi, langit menjadi gelap mencekam, entah apa kemudian langit memuntahkan tangisnya membasahi bumi, tapi bukan karena menangis karena anak manusia pergi, tapi memang saat itu musimnya.
Hari itu hanya ada mereka yang kucintai disana, melihat kedalam liang lahat, jauh kedalamnya mereka menatap pilu, menatap berat kebawah, didalam liang terbaring tubuh yang berbeban, yang lelah, terluka, juga kuat menahan semua, yang kemudian akan selesai saat nanti akan tertutup bumi, ia akan tidur didalam gelap dibawah bumi, bersatu mencinta memeluk bumi, bersatu bercinta memeluk bumi, bersatu bersama bumi, bersatu melebur bersama bumi, pergi mencariNya yang kucintai.
Hari itu mungkin hanya ada yang kucintai disana, mungkin tak ada sang kekasih disana melayat, hanya untuk melihat tubuh ini tertutup bumi atau mengucap selamat jalan, hari itu hanya ada yang kucintai disana, yang mengenalku sepanjang hidup, yang mencintaku sepanjang detik, tapi mungkin tak ada sang kekasih disana, menangisi aku bercinta bersama bumi, aku menyatu bersama bumi, melebur jadi satu bersamanya, bersatu mencapaiNya, saat akhir.
Aku mau pulang dengan cara seperti itu, jika aku memang harus pulang, aku pulang, tak ingin menolak atau menahan, ingin bahkan segera ingin, tapi aku mau pulang tidak dalam sakit yang menggerogoti, tidak dalam malu yang mengotori, tidak dengan derita yang mengejang leher atau dada, aku mau pulang saat semua masih kupegang erat dalam dada, dan aku mau pergi dengan cara yang biasa, tak ada kegaduhan, tak ada sesuatu yang khusus, tak ingin dengan keagungan, hanya dengan cara yang biasa, bahkan yang khusus pun belum tentu ada, tak perlu ada, tak ingin ada.
Bagiku, bagi hidupku, bagi nafasku, bagi detik-detik nafasku pergi, bagi saat mataku memejam, bagi saat kesadaran ku sirna, aku mau mati dengan cara yang biasa, dalam tidur diruangku, sendiri dalam gelapku, sendiri dalam terangNya, mungkin mati dalam renunganku merenungiNya, merenungi CintaNya, merenungi senyumNya, aku mau mati saat aku mencintaiNya, tidak mencintaimu, tidak mencintai manusia, tidak mencintai materi, tidak mencintai kedudukan, tetapi tetap mencintaNya, dengan kerinduaan menyapaNya, hanya denganNya, walau hidup sering jauh dariNya.
Aku mau mati dengan cara yang biasa, tidak dalam sakti yang mengerogoti, tidak dalam malu yang mengotori, tidak dengan derita yang mencekik, aku mau pergi dengan cara yang biasa, aku mau pergi saat dalam tidur diruangku, sendiri dalam gelapku, sendiri dalam terangNya, mungkin dalam renunganku merenungi cintaNya padaku, dan cintaku padaNya.
Abu kembali ke abu, tanah kembali ke tanah.
The morning bright
The morning bright
With rosy light
Has waked me from my sleep;
Father, I own
Thy love alone
Thy little one doth keep.
All through the day,
I humbly pray,
Be Thou my Guard and Guide;
My sins forgive
And let me live,
Blest Jesus, near Thy side. Amen.
20 January 2010
James
Semua orang tetap tak ada yang menangis, semua orang diam, nampak tegar.
“Saya percaya, Omm James saat ini ada dirumahnya diatas bukit, rumah yang selalu dinantinya, saya tahu ia sedang menikmati waktunya membaca sehariaan, selamat jalan Omm James”
Aku kaget saat mendengar kalimat itu, karena aku mengingat jelas potongan prosa yang ditulisanya berjudul “Surga”.
……Kata orang surga itu terang, lebih terang dari matahari, tak ada mendung, tak ada gelap, karena matahari bukan matahari, terang itu bukan berasal dari matahari, hangatnya tak seperti matahari, hangatnya penuh cinta juga penuh damai, terang itu mengusir pedih.
Kata orang surga itu tenang, setenang dan lebih tenang, saat kita tak pusing tentang kekasih, tak pusing tentang tubuh yang sakit, atau uang yang tinggal sedikit, tenang lebih tenang, dari malam yang sunyi, tanpa suara apa-apa, tenang setenang pelesir dipantai parang tritis, lebih tenang setelah bercinta setengah mati.
Kata orang surga itu tak ada derita, kita tak lagi merasa sedih, tak lagi merasa menangis, tak lagi merasa miskin, tidak lagi miskin, tak ada lagi maut, tak ada lagi mati, tak lagi merasa beban, tak ada beban, tak ada penat, tak ada sakit, sesak, sayat tak terasa, pedih apa lagi, semua yang sulit-sulit didalam pikiran, dada, hati, katanya sirna, tak ada.
Lalu bagaimana kita bisa berempati dengan perasaan orang jika kita tak mengenal derita?, atau mungkin disurga sana kita menjadi orang yang tak merasakan apa yang dirasa orang lain, karena memang berempati itu sama dengan derita itu sendiri.
Kata ku surgaku, ada diatas bukit, rumah berdinding batu berisi buku, tempatku duduk dalam damai sepanjang hidupku, segera ingin aku kembali padaMu setelah nanti matiku…..
Lalu saat petinya masuk kedalam liang. pendeta memberikan berkat, berdoa didalam nama Bapa Putra Dan Roh Kudus. Semua orang tetap tak ada yang menangis.
Mungkin semua orang tahu, kebahagiaan yang dicapainya sepanjang hidup, juga kegetirannya menjalani hidup.
Tapi aku hampir menangis, sepertinya orang tua itu benar-benar aku kenali sekarang, aku benar-benar kenal pribadinya, walau aku baru mengenalnya dalam waktu yang singkat.
Tanah demi tanah menutupi peti itu, aku pun berusaha seperti mereka dengan ketegaran, walau aku sebenarnya menahan air mataku
Tak lama penguburan itu pun selesai, mungkin itu penguburan paling cepat yang pernah ku ketahui.
Aku menghampiri ponakan pak James, “Mas saya wartawan, saya mau mengembalikan ini, ini milik pak James, ini semua pekerjaanya” aku menyodorkan Flash disk itu kepadanya.
“Tidak mas, saya rasa Omm James mau itu menjadi milik mas juga, simpan saja, jaga baik-baik”.
Aku pun terdiam, aku memasukan kembali flash disk itu kesakuku…lalu aku meninggalkan tempat suci itu.
Sepanjang jalan aku hanya melihat keluar jendela, mengenang hari ini, aku tak tahu aku harus berkata apa tentang orang tua itu, tak banyak orang yang datang, selain orang-orang yang mencintainya dengan ketulusan, juga dicintainya dengan kesunguhan.
Aku tersenyum saat itu saat aku memahami sesuatu, aku seperti mati dan lahir kembali, aku hidup, aku lahir. Aku mengerti sesuatu dari melihat kepergian yang hampir tak pernah kuketahui selama ini, hari itu aku bersyukur kepada Tuhan, aku tak mengerti tiba-tiba aku mengerti, aku bersyukur kepada Bos ku yang paling menjengkelkan, karena menerimaku bekerja pertama kali, aku bersyukur aku ditugaskan pergi meliput kejadian itu, aku bersyukur kepada Kapten Rahman yang membiarkanku masuk kerumah itu, hingga aku harus membaca semua yang dikerjakan orang tua itu, aku bersyukur aku mengenal Ratna, mengenal Parmin, mengenal pak Iwan yang baru kukenal beberapa hari itu, aku bersyukur dengan ponakan pak James.
Aku melihat sebuah gambaran besar dari setiap pernik-pernik kecil kehidupan yang kujalani, aku menyadarinya. Aku terlahir kembali hari ini, dengan melihat seluruhnya dengan jelas.
Empat jam kemudian aku sudah sampai di Jakarta, aku langsung pergi kemana aku harus pergi. Berdiri menunggu matahari terbenam, aku tahu hari ini aku tak lagi sama. Dan aku menulis diawal novelku.
“Jika aku tahu, aku tak akan menulis novel ini, tetapi aku menuliskannya, dan aku mengsyukurinya, hidup bagiku menetapkan apa yang sekarang, dan aku menetapkan diri untuk menulis ini, karena aku tahu hidup seperti sebuah cerita, aku menuliskan ceritaku, waktu yang lalu menetapkan aku hari ini, hari ini aku mau menetapkan waktu kebahagiaanku untuk nanti, walau aku tak tahu apakah ada orang yang mengerti waktu kebahagiaanku nanti, tapi aku selalu berharap selalu ada, dan kita sama-sama bahagia diwaktu kita nanti”.
Jakarta, Cipinang,
22 – 23 September 2010
Markus AP
To.Rosana
Note : Cerpen ini mungkin cerpen sastra paling panjang yang pernah aku tulis dalam waktu yang singkat, aku hanya mengikuti apa yang aku harus tuliskan, aku memberi judul awal, “kematian seorang penulis”. Aku menggantinya.


Similar/Related Posts