handbook
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

guidelines
search
Wanita Dalam Tubuh Dewi (7)
By. marcus . August 9th, 2010 at 7:40 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Wanita Dalam Tubuh Dewi (7)

Di pinggir hutan, saat pagi yang indah dan bunga-bunga bersemi tak layu, sang pertapa telah bangun dan menatap langit ditimur, tak lama kemudian bangunlah pria yang menyertainya beberapa saat ini.
Lalu ia berkata kepada sang pertapa.
“Tuan sudah bangun, akankah kita lanjutkan perjalanan kita yang tinggal sedikit lagi”.
“Ya kita akan berangkat sebentar lagi, sebelum berangkat, aku menanti seseorang menjemput kita, sebelum itu aku akan menceritakan apa yang akan terjadi”.
“Siapa tuan”
“Seorang malaikat akan menjemput kita”.
Pria itu terdiam. Karena ia sendiri adalah malaikat yang menjadi manusia.
“Kita akan menghadapi tiga bala tentara iblis”
“Siapakah mereka”
“Penipu, Sesat, Dan Kehancuran”.
Pria itu terdiam, ia sudah tahu nama-nama bala tentara iblis, ia sudah mengerti kekejaman dan kepandaiaan mereka dimedan perang, tetapi apa yang membuatnya tak gentar, cinta yang ada didalam hatinya, cinta yang membiarkan nya melewati kesulitan juga maut, membiarkannya dicabik sampai mati, untuk menyelamatkan sebuah kehidupan.
Pria itu terdiam, walau dibenaknya tak tahu bagaimana menghadapi mereka.
“Aku tahu kau tenang, dan aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan menghadapi mereka, karena sebuah pesan datang padaku pagi ini bagaimana menghadapi mereka”
Tak lama kemudian seorang datang membawa pedati dan kerbau, lalu berkata
“Salam sejahtera bagi tuan pertapa”.
Sang pertapa berkata
“Salam sejahtera bagi yang mulia”
Tanpa banyak kata, sang pertapa berkata “Mari kita berangkat.
Sang pertapa dan pria itu naik ke atas pedati yang ditarik kerbau.
Tanpa terasa gerak atau goncangan dari pedati, pedati itu melesat cepat seperti badai, seperti cahaya.
Lalu penarik pedati itu berkata
“Sudah sampai, tuan, anda sudah sampai dimana anda akan menghadapi kezaliman, ada pesan untuk tuan, berdirilah teguh memegang kebenaran, karena kebenaran yang selalu menjadi terang bagi tuan, aku sudah menghantar tuan sampai dekat dengan kota seperti sodom”
“Terima kasih yang mulia”
Sang pertapa bersujud.
Pria itu pun bersujud.
“Berdirilah, karena aku juga hamba, hamba dari tuan ku”
Sang pertapapun berdiri, dan memandan kota seperti sodom dari atas bukit tak jauh dari kota itu.
Sang pertapapun, mulai berkata
”Saatnya pertempuran dimulai….bersiaplah, percayalah, karena dari hati yang percaya akan selalu dijauhkan dari keraguan dan ketakutan”.
Sang pertapapun mengangkat kedua tangannya menghadap langit, mengucap syukur, lalu ia mengambil ranting kayu dan mengangkatnya kelangit.
Seketika itu juga, langit menjadi cerah. Cahaya besar turun menaungi bukit, cahaya yang terang menyilaukan. Sesaat kemudian angin badai menerpa seluruh dataran gurun, disertai perasaan yang mencekam dengan kengerian dan ketundukan, suara teriakan-teriakan terdengar dari dalam kota, dan lonceng-lonceng dipukul tanda persiapan perang.
Teriakan-teriakan itu pun memekik kencang berkata
”Lihat…Sang sesat datang…sang sesat datang, ia berdiri diatas bukit”
” Lihat…Orang gila datang…orang gila datang, ia berdiri diatas bukit”
”Bunuh…bunuh”
”Bunuh…bunuh”
”Bunuh…bunuh”
”Salibkan…salibkan”
”Salibkan…salibkan”
”Salibkan…salibkan”
”Bakar…bakar”
”Bakar…bakar”
”Bakar…bakar”
Seketika pula bala tentara “Penipu, Sesat”. Telah bersiap didepan gerbang kota.
Penarik pedati itu pun berkata
“Tak ada nabi yang dihormati, tak ada nabi yang dikenali”
Sang pertapa berkata
”Aku hanya hamba, aku mengikuti kehendak tuan mu, aku tak butuh penghormatan dari manusia, karena lebih penting apa yang dipadang oleh mata sang penciptaku, lebih penting apa yang dikatakan sang penciptaku”.

Bala tentara “Penipu”, terdiri dari seratus ribu tentara, pria-pria berparas tegap, mengenakan pedang, dan kata-katanya tidak lurus.
Bala terntara “Sesat”, terdiri dari seratus ribu ekor sirgala hitam, bermata merah, bernapas api, dan kata-katanya tidak benar.
Tanpa aba-aba, bala tentara “Penipu” memulai serangan yang dengan sangat rapi.

Melihat itu sang pertapa duduk menulis-nulis di atas tanah, matanya memejam, tiba-tiba langit menjadi gelap gulita, awan gelap datang dari segala penjuru, guntur menyambar nyambar, bumi bergoncang dan membelah, dari langit petir petir menyambar ke tanah seperti panah-panah dari langit, petir itu menghantam bala tentara “Penipu”, kemudian sesaat kemudian goncangan yang dasyat, membelah sungai “Kutuk”, hingga airnya pun habis, dan tulang belulang yang nampak dari dasarnya, diatas dasar sungai yang kering.
Saat itu dosa seisi kota itu dihitung.
Kezaliman mereka pun dihitung.
Semua kejahatan yang terjadi di sungai itu di perhitungkan.
Lalu terdengarlah suara dari langit.
“Aku tak tahan lagi, maka hari ini dosa seisi kota aku hitung”.
Semua yang hidup mengecut hatinya, anjing-anjing bersembunyi, hewan-hewan seolah meratap, manusia didalam kota itu ketakutan yang sangat, sang pertapapun membenamkan wajahnya menghadap tanah, rasa tunduknya dan hormatnya yang ia rasakan.
Lalu ia memekik
”Ambilah nyawaku…, karena aku ingin menghadapMu”
Lalu tiupan angin sepoi menyelubunginya.
Lalu seketika semua reda, hanya tinggal bau hangus dan korban-korban dari bala tentara ”Penipu” yang telah sampai dikaki bukit.
Ketakutan seisi kota menjadi lengkap, karena seratus ribu bala tentara “Penipu” binasa dalam sesaat. Melihat itu, suara long-longan sirgala “Sesat” pun makin keras, tak lama kemudian bala tentara “Sesat” memulai serangannya. Walau hanya seekor serigala, seekor saja dapat membinasakan seratus manusia seketika.

Sang pertapa berdiri melihat serangan itu, lalu ia mengucap syukur, lalu berkata-kata dengan kata-kata yang tak terkatakan manusia.
Lalu ia berkata kepada pria itu.
“Bersiaplah karena kesesatan tiba, jika kita mati, kita hidup dengan berkata benar, maka biarkan kebenaran tak akan pernah disesatkan”.
Pria itu pun ikut mengucap syukur dan mengangkat tangannya ke langit.
Lalu terdengarlah suara dari langit.
“Jangan takut, karena AKU bersamamu, tak sehelai rambut pun akan gugur, AKU sudah mengangkat semua bebanmu, maka AKU pula yang menjagamu”.

Saat bala tentara “Sesat” telah sampai dikaki bukit dan siap menyerang ke atas.
Tiba-tiba langit terbuka, cahaya begitu indah muncul dari langit yang terbuka.
”Lihat…lihat”, kata sang pertapa.
”Ya aku lihat”.
”Bala tentara Malaikat turun dari langit, seribu malaikat suci turun dari langit”.
Malaikat berbaju zirah, memegang pedang, berpakaiaan putih, sayapnya indah bercahaya putih suci.
Dalam waktu yang seketika, seribu malaikat itu menyerang bala tentara ”Sesat”.
Pertempuran sengit pun terjadi tak seorang malaikatpun terluka, tetapi pertempuran yang sengit itu, telah menguras sebagian bala tentara ”Sesat”.
Saat itu pula, goncangan dari bawah tanah, mengoncang seluruh dataran, kubah Emas yang diagungkan penduduk kota pun runtuh, didalam kuil patung hitam dewi Khali terbelah dua, semua orang ketakutan, semua orang dihakimi oleh dirinya sendiri, semua orang dihakimi oleh kejahatannya sendiri, semua orang dihakimi oleh ketakutannya sendiri, semua orang dihakimi oleh ketidak percayaanya sendiri, ketakutan menghantam mereka, kelaliman menghujani mereka.
Semua orang ketakutan, semua orang matanya terbuka tetapi terlambat, semua orang menyadari tetapi tak ada lagi kesempatan, dan sesal yang akhir datang dihati mereka, ketakutan bisa pergi, tetapi sesal yang dalam datang terakhir dihati mereka.
Setelah semua itu terjadi. Pertempuran pun berhenti, seluruh bala tentara ”Sesat” binasa. Seribu malaikat suci berdiri memenuhi bukit membuat benteng hidup melindungi sang pertapa.
Lalu terdengarlah suara dari dalam kuil.
“WAKTUNYA BELUM TIBA”
Lalu terdengarlah suara dari langit.
“TETAPI TAK KUBIARKAN KEJAHATANMU MERENGUT MANUSIA”.
Lalu terdengarlah suara dari dalam kuil.
“Tunggu pembalasanku pertapa…”
Seketika itu pula kota itu lenyap dari pandangan mata karena tertelan kedalam bumi, bumi telah menelan kota itu. Langit menjadi cerah, semua menjadi sunyi kembali. Gurun itu seperti dilahirkan kembali. Embun dan hujan pun menerpa seluruh gurun.

Pria itu berkata kepada sang pertapa.
“Bagaimanakah nasib wanita itu”.
Sang pertapa berkata.
“Hidup..hidup.. kehidupan, adalah pilihan, kematian adalah misteri, langit yang cerah tak dapat dipilih, bunga yang layu tak akan tau kapan waktunya, tapi setiap jalan, setiap kehidupan adalah pilihan”.

20/7/2010 1:11 PM
Markus AP

Similar/Related Posts

  • No related posts found.

Leave a Comment

 
support

profile
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA language