Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

contenthome
Surat Dari Jakarta (25)
By. marcus . August 25th, 2010 at 9:53 amnews
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Surat Dari Jakarta (25)

Di tiap pagi aku terbangun dari tidur lelap ku, tiap bangunan itu mengesalkan dan menjengkelkan sekali, aku yang dalam keadaan ini tak bisa diam dan bungkam, segala isi pikir dan perasaan ingin aku keluarkan, dan kemudian aku berharap aku bisa tidur nyenyak seperti ISA saat kapalnya tergoncang oleh badai.

Banyak yang ku ingin dari pribadi ini seperti diriNya, diri ini ingin mengambil teladanNya, mungkin karena keinginan dalam ini, pengertian ku akan cinta pun seperti pengertianNya, cinta tidak melulu menyenangkan diri sendiri, cinta bahkan mengorbankan diri buat kebahagiaan orang yang dicintai, sekalipun kebahagiaan kita tidak ada didalam kebahagiaanya, bahkan mengorbankan seluruh kebahagiaan kita.

Bukankah IA yang berkata “biarlah cawan ini lalu dari padaku bukan kehendakku tapi kehendakMu” lalu IA pula yang hidup selama tiga tahun bersama murid-muridnya, IA pula yang tahu kemudian seorang muridnya duduk makan bersamanya, hidup dan melalui kehidupan dalam suka dan duka bersama, murid itu pula yang kemudian menciumnya dan menjualnya demi kepingan uang.

IA yang berkata “Cinta yang terbesar adalah cinta yang menyerahkan nyawanya bagi yang dikasihinya”, bukankah IA pula yang sedang membiarkan tubuhnya disayat, dicambuk, dilempari batu, diludahi, diinjak-injak, dilupakan, saat darahnya mengalir dari lukanya, dan rasa pedihnya yang dalam tembus kedalam tulang meyakitkan, ia pula yang merasakan sesak terjual, dan ditinggalkan, keadaan itu sepertinya ia kena Tulah, ditindas dan dikutuk Tuhan.

Tak ada penyiksaan seperti itu sebelumnya, tidak ada….Aku membayangkan itu ngeri…”Tuhan aku tak sanggup seperti itu”, aku yang mengalami kekecewaan dalam yang merobek perasaan, hal ini tak sebanding seperti pengalamanNya. Dari itu saja aku merasa diri ini kecil dihadapanNya, aku ini apa? Aku tak ada apa-apanya dibalik kebesaran sang “AKU”. Maka mustinya aku bersyukur disaat-saat ini, karena IA sedang begitu dekat, begitu rindu, begitu merasa semua beban ini pernah IA rasa, maka aku mustinya berkata “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasaNya turun menaungi aku. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”

Hari ini jika mungkin, aku ingin memandang aku ini tidak ada lagi selain sang “AKU”.

25/8/2010 5:46 AM
Markus AP

Leave a Comment

 
about

YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA
copyright