podcast
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

marketingcareers
Surat Dari Jakarta (23)
By. marcus . August 18th, 2010 at 10:02 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Surat Dari Jakarta (23)

Malam ini aku mengerti sedikit apa arti kelahiran yang dikatakan Isa saat ia berbicara dengan seorang bijak, kelahiran yang lahir bukan dari rahim, atau masuk kembali kedalam rahim dan dilahirkan kembali, tetapi kelahiran yang dilahirkan dari sebuah proses penyucian, aku lebih suka mengunakan kata transformasi, transformasi yang tidak dikerjakan oleh tangan-tangan manusia, atau jiwa-jiwa manusia, yang tak akan tertukar dengan penyamaran dan kedok.
Tetapi dari sebuah proses keilahiaan, yang agung dan murni, aku menyukai proses ini, proses yang menyakitkan seperti layaknya kelahiran alamiah, tetapi kemudian timbullah kebahagiaan. Aku sedang dalam proses itu. Dan aku mengsyukuri proses itu walau sekalipun menyakitkan.

Lalu dimalam ini, aku merenungkan lagi arti kematian, mana yang lebih penting antara “aku” dan “Aku”, aku yang penuh dengan segala kekurangan dan kesombongan, atau Aku yang telah membesarkan kehidupan aku, Aku yang agung dan maha besar diatas semua ke “aku” an, Aku yang tidak terbandingkan dengan diri “aku” yang mana pun, karena “aku” yang ini penuh dengan segala keburukannya, sedangkan “Aku” yang penuh dengan segala kehebatannya, aku yang ini dan itu penuh dengan segala cela dan kebohongan, tetapi “Aku” yang itu telah menjadi tuan atas segala kebaikan dan kejujuran.
Tetapi saat seorang “aku” meletakkan dirinya dibalik ke megah an sang “Aku” maka aku tak ada lagi, saat seorang “aku” menundukan dirinya dihadapan sang “Aku”, aku tak tampak lagi, aku kehilangan segalanya, aku kehilangan kekuatannya, sebab sesunguhnya aku ini miskin, telanjang dan buta, tetapi menjadi kaya, berjubah dan melihat karena “Aku”, maka yang nampak hanyalah “Aku”, kebesaran dan kekuasaanya yang mengatasi segala ke aku an.
Itulah kenapa Musa sanggup mengangkat tongkatnya keatas lautan, dan lautan itu terbelah, itulah kenapa Nuh yang mendengarkan sang “Aku”, ia dan seluruh keluarganya diselamatkan. Dan bagiku, aku ingin aku tak ada lagi, biarkan aku ini ada dibalik kemegahan sang “Aku”, biarkan aku ditundukkan dibawah kekuasaan sang “Aku”, aku yang ini mati, aku yang mati karena biarkan “Aku” yang hidup didalam aku. Sekali lagi aku aku aku yang ini mati, karena sang “Aku” ingin hidup dan mengatasi aku.

18/8/2010 10:21 PM
Markus AP

service

Leave a Comment

 
language

mail
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA