Surat Dari Jakarta (21)
Saat hari telah malam, sang guru suci duduk berdoa diatas bukit, ia menghabiskan waktunya untuk menatap langit, menjumpai BapaNya, sebelum itu ia meminta murid-muridnya naik ke atas perahu dan bertolak dari pantai, saat tengah malam, murid-muridnya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai, sang guru tak ikut diatas perahu, ia membiarkan muridnya berangkat dulu naik perahu, tepat tengah malam itu juga perahu muridnya di goncangkan oleh angin sakal.
Rembrandt dalam lukisannya (Christ In The Storm On The Sea Of Galilee), melukiskan kejadiaan itu sebagai kekacauaan yang mencapai titik paling menakutkan dalam hidup. “Nyawa dihadapkan pada maut”,
Langit gelap, angin dan gelombang mengoncang-goncangkan perahu. Tapi yang menarik bukan apa yang terjadi pada alam dan kehidupan, bukan terjadi pada kegentingan yang siap merenggut nyawa.
Tiba-tiba sang guru suci datang, bukan pada saat kegentingan itu tiba, tidak, ia datang berselang waktu tiga jam kemudian. Tepat jam tiga pagi.
Dalam kisah itu aku berfikir, bagaimanakah mungkin Ia membarikan muridnya terombang ambing menghadapi kematiaan dan ketakutan, penderitaan dan goncangan, lebih dari tiga jam lamanya.?
Seorang ayah tak akan membiarkan seorang anaknya yang akan jatuh ke sebuah lubang, tak ada seorang anak yang ingin orang tuanya sakit menderita.
Tapi hal ini bukan persoalan manusia dalam konsep berfikirnya, kita sedang menatap sebuah terang untuk melihat konsep pikirNya yang berbeda.
Dan benar- tepat jam tiga pagi, Ia menghampiri muridnya yang berada diatas perahu bukan dengan sebuah perahu yang dapat juga tengelam dan diterpa ombak, ia melangkah diatas air seperti layaknya seorang yang mengatasi semua terpa ombak dan kegentingan.
Tapi aku kemudian menjadi geli dan berfikir kembali, apa yang terjadi pada murid-muridnya disaat kegentingan itu, apa lagi saat melihat gurunya datang? Sebab tertulis
Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.
Lalu seperti layaknya guru suci yang mengatasi semua terpa ombak dan kegentingan ia berkata kepada semua muridnya.
"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
Tetapi aku kemudian berfikir kembali, bagaimanakah mungkin sekian banyak murid hanya satu yang menjawab sapaan sang guru dengan sangat berbeda.
Murid itu Berkata ”Apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."
Tentu bagi sang guru hal itu juga merupakan sesuatu yang luar biasa…lalu sang guru berkata kepada muridnya itu ”Datanglah”. Maka seketika itu pula sang murid turun dari perahu dan berjalan menghampiri sang guru.
Aku dalam gambaran ini benar-benar kagum kepada keberaniaan sang Murid, ketulusan dan kepolosan sang murid, ia benar-benar mencoba untuk menjadi sama seperti sang guru, itu kenapa sang guru tidak berkata ”Jangan”, ”Tidak”, tetapi ia berkata ”Datanglah”.
Tapi kemudian imajinasi dan pikiranku menjadi sangat geli melihat kisah itu, karena sang murid tidak dapat benar-benar mencapai gurunya dan berjalan berdampingan dengan gurunya diatas air, Ia benar-benar telah berhasil melangkah dan berjalan diatas air, tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!", kemudian sang guru mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
Lalu aku menjadi jauh berfikir lagi, bahwa kehidupan, persoalan, tantangan, segala hal yang mendesak diri kita memang dapat diatasi dengan iman, dan keberaniaan, tetapi selalu yang menjadikan kita tidak dapat mengatasi semua tantangan itu bukan karena kita kurang keberaniaan, tetapi karena kita ”Merasakan” persoalan lebih besar dari diri kita, “Merasakan” tantangan telah menjepit diri kita, sama seperti sang murid yang merasakan tiupan angin dan ia takut, dan saat ia takut ia mulai lah jatuh dan tengelam. Jadi benang merah dari kejatuhan itu bukan pada keberaniaan yang kurang saja, tapi kita membiarkan diri kita merasakan tiupan angin mengalahkan iman kita dam kepercayaan kita untuk menang dari persoalan, menang dari kehidupan.
Aku menutup catatan ini bukan melihat pada ketakutan, atau persoalan yang maha besar dalam hidup kita, tapi apa yang dipesankan sang guru kepada muridnya saat awal “Datanglah” dan saat sang murid tengelam dan Ia mengulurkan tangannya… : "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
Maka di akhir kisah itu saat sang guru dan murid itu naik keatas perahu, maka angin itu pun menjadi reda.
Sang guru itu pula pernah berkata Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
11/8/2010 2:08 PM
Markus AP
Note : Matius 14:21-32



Similar/Related Posts