marketing
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

jobs
Surat Dari Jakarta (21)
By. marcus . August 11th, 2010 at 5:10 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Surat Dari Jakarta (21)

Saat hari telah malam, sang guru suci duduk berdoa diatas bukit, ia menghabiskan waktunya untuk menatap langit, menjumpai BapaNya, sebelum itu ia meminta murid-muridnya naik ke atas perahu dan bertolak dari pantai, saat tengah malam, murid-muridnya sudah beberapa mil  jauhnya dari pantai, sang guru tak ikut diatas perahu, ia membiarkan muridnya berangkat dulu naik perahu, tepat tengah malam itu juga perahu muridnya di goncangkan oleh angin sakal.
Rembrandt dalam lukisannya (Christ In The Storm On The Sea Of Galilee), melukiskan kejadiaan itu sebagai kekacauaan yang mencapai titik paling menakutkan dalam hidup. “Nyawa dihadapkan pada maut”,
Langit gelap, angin dan gelombang mengoncang-goncangkan perahu. Tapi yang menarik bukan apa yang terjadi pada alam dan kehidupan, bukan terjadi pada kegentingan yang siap merenggut nyawa.

Tiba-tiba sang guru suci datang, bukan pada saat kegentingan itu tiba, tidak, ia datang berselang waktu tiga jam kemudian. Tepat jam tiga pagi.
Dalam kisah itu aku berfikir, bagaimanakah mungkin Ia membarikan muridnya terombang ambing menghadapi kematiaan dan ketakutan, penderitaan dan goncangan, lebih dari tiga jam lamanya.?

Seorang ayah tak akan membiarkan seorang anaknya yang akan jatuh ke sebuah lubang, tak ada seorang anak yang ingin orang tuanya sakit menderita.

Tapi hal ini bukan persoalan manusia dalam konsep berfikirnya, kita sedang menatap sebuah terang untuk melihat konsep pikirNya yang berbeda.
Dan benar- tepat jam tiga pagi, Ia menghampiri muridnya yang berada diatas perahu bukan dengan sebuah perahu yang dapat juga tengelam dan diterpa ombak, ia melangkah diatas air seperti layaknya seorang yang mengatasi semua terpa ombak dan kegentingan.

Tapi aku kemudian menjadi geli dan berfikir kembali, apa yang terjadi pada murid-muridnya disaat kegentingan itu, apa lagi saat melihat gurunya datang? Sebab tertulis
Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.

Lalu seperti layaknya guru suci yang mengatasi semua terpa ombak dan kegentingan ia berkata kepada semua muridnya.
"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Tetapi aku kemudian berfikir kembali, bagaimanakah mungkin sekian banyak murid hanya satu yang menjawab sapaan sang guru dengan sangat berbeda.
Murid itu Berkata ”Apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."
Tentu bagi sang guru hal itu juga merupakan sesuatu yang luar biasa…lalu sang guru berkata kepada muridnya itu ”Datanglah”. Maka seketika itu pula sang murid turun dari perahu dan berjalan menghampiri sang guru.

Aku dalam gambaran ini benar-benar kagum kepada keberaniaan sang Murid, ketulusan dan kepolosan sang murid, ia benar-benar mencoba untuk menjadi sama seperti sang guru, itu kenapa sang guru tidak berkata ”Jangan”, ”Tidak”, tetapi ia berkata ”Datanglah”.

Tapi kemudian imajinasi dan pikiranku menjadi sangat geli melihat kisah itu, karena sang murid tidak dapat benar-benar mencapai gurunya dan berjalan berdampingan dengan gurunya diatas air, Ia benar-benar telah berhasil melangkah dan berjalan diatas air, tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!", kemudian sang guru mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Lalu aku menjadi jauh berfikir lagi, bahwa kehidupan, persoalan, tantangan, segala hal yang mendesak diri kita memang dapat diatasi dengan iman, dan keberaniaan, tetapi selalu yang menjadikan kita tidak dapat mengatasi semua tantangan itu bukan karena kita kurang keberaniaan, tetapi karena kita ”Merasakan” persoalan lebih besar dari diri kita, “Merasakan” tantangan telah menjepit diri kita, sama seperti sang murid yang merasakan tiupan angin dan ia takut, dan saat ia takut ia mulai lah jatuh dan tengelam. Jadi benang merah dari kejatuhan itu bukan pada keberaniaan yang kurang saja, tapi kita membiarkan diri kita merasakan tiupan angin mengalahkan iman kita dam kepercayaan kita untuk menang dari persoalan, menang dari kehidupan.

Aku menutup catatan ini bukan melihat pada ketakutan, atau persoalan yang maha besar dalam hidup kita, tapi apa yang dipesankan sang guru kepada muridnya saat awal “Datanglah” dan saat sang murid tengelam dan Ia mengulurkan tangannya… : "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Maka di akhir kisah itu saat sang guru dan murid itu naik keatas perahu, maka angin itu pun menjadi reda.

Sang guru itu pula pernah berkata Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

11/8/2010 2:08 PM
Markus AP

 

Note : Matius 14:21-32

 

search

10 Responses to “Surat Dari Jakarta (21)”

Jd, klu kita sudah memohon pada Tuhan, menyerahkan segala persoalan kita pd Tuhan, kita harus percaya sepenuhnya klu Tuhan akan menolong atau sudah menolong kita…
dan….cara Tuhan menolong kita, kadang tdk kita mengerti…..

@anna aka elisabeth : yah bisa jadi seperti itu, tapi coba perhatikan sisi yang lain…
1.sang guru membiarkan badai itu datang, ia baru datang 3 jam kemudian

2.ia pun datang tidak seketika langsung meredakan badai, ia membiarkan dirinya hadir, tapi tidak meredakan angin itu…sebenarnya ia bisa kan? kenapa? apa ia sengaja, apa ia menunggu respon muridnya

3.dan jika ia menunggu respon muridnya, tapi tidak seorang muridpun berteriak “tolong” tetapi mereka malah menganggap gurunya hantu, kita sering sekali menyalah artikan hal-hal baik sebagai hal2 buruk, kita sering menyalah artikan kebaikan sang ilahi sebagai hal yang buruk, kita dibutakan oleh pengelihatan kita, maka percuma sekalipun malaikat datang ia tak akan mendengar….

4.tapi yang menarik seorang murid merespon sang guru bukan dengan teriak minta tolong, tetapi ia mau melewati air dan badai…..

5.tapi seperti layaknya manusia, “merasakan” lebih sering menjatuhkan kita daripada membuat kita berhasil….

What u think?????

Ada proses dlm Tuhan menjawab doa2 at permintaan kita…..kdgkala Tuhan tidak lgsg menjawab doa permohonan kita….kdgkala, Tuhan menunda jawaban utk doa2 kita…..menurutku, disini Tuhan mau kita lebih bersabar menghadapi segala persoalan kita…Tuhan mau kita menjadi lebih kuat menghadapi badai…melalui proses menunggu ini, Tuhan mau iman kita kepadaNya semakin kuat dengan terus berharap padaNya….karena Tuhan tidak akan memberikan pencobaan diluar batas kemampuan kita…Tuhan tidak akan memberikan ular kepada yg minta roti….

@anna : itu pemikiran umum dan semua yang kamu katakan itu benar…atau bisa jadi badai harus ada agar kita berdoa pada permintaan yang itu? kita memiliki kekuatan yang tertentu, pemikiran yang tertentu, sikap tertentu, iman tertentu, sesuai dengan takaran pembentukanNya.
Karena penting bagi sang ilahi, menjadikan kita sebuah pribadi dengan takaran konsep pikirNya. Sebab apa gunanya jika Ia memberikan pertolongan, hikmat kepada seseorang yang konsep pikirnya belum sampai pada konsep pikirNya, maka kita bisa lihat…Ia dibilang “hantu”, sedang hanya satu orang yang menguji itu hantu atau bukan….
Ada tertulis…tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.(Ams 1:7)

Aku pernah membaca sebuah penjelasan dari kisah itu, bahwa angin yang datang itu bukan angin biasa, kata yang digunakan saat angin itu terjadi sama seperti pengalaman terjadinya angin badai saat nabi yunus diatas perahu, dimana angin itu ditentukan ada oleh sang ilahi untuk ada…. aku berkesimpulan….kisah yang dilukisakan oleh Remberant ditulis oleh rasul Matius, merupakan sebuah sesi pendidikan bagi murid-muridNya….

pak, tapi kan manusia dlmm tekanan pasti akan selalu berdoa ttg dirinya sendiri dan “aku..aku..aku”

@irh : hmmm lumrah manusiawi sekali tapi selalu ada tapi…..manusiakah manusia jika manusia tidak membuka pengertian-pengertian, pemahaman-pemahaman, sama halnya jika hari ini lo bisa melalui yang kecil, pasti lo diberikan lah besar, saat lo bisa melalui hal besar, maka hal-hal lain yg sama besar akan mudah dilalui….this understanding need us to open our mind and knowledge…

Aku setuju dg km….mangkanya Tuhan tidak segera menjawab doa2 kita, krn Tuhan mau kita semakin mengerti dan semakin tekun berdoa… melalui proses menunggu itu Tuhan mau kita belajar semakin bijaksana memaknai suatu persoalan…. Klu kita minta tolong pada Tuhan kita hrs memohon kasih karunianya, hrs datang menghampiri tahta kasih karunia Tuhan supaya kita menemukan belas kasihan Tuhan utk mendapat jalan keluar (baca deh Ibrani 4 : 16)…klu seandainya kita Tuhan selalu dg segera menjawab doa2 kita, maka proses belajar itu jd ngga ada, kan…. Keadaan yg berat akan membentuk kita, kadangkala kita merasa Tuhan membiarkan kita menghadapi masalah besar utk kemudian mendapatkan berkat2 Tuhan…..Tuhan kdg terlihat membiarkan kita berada dlm suatu masalah, krn Tuhan mau iman kita kpdNya semakin sempurna….. Jadi, Hal2 berat yg Tuhan ijinkan utk kita alami, itu agar kita mendpt berkat dari masalah itu….misalnya berkat kesabaran, melatih kita utk lebih sabar…intinya kita dilatih utk semakin serupa dg sang guru….kuncinya, kita hrs selalu mempunyai pikiran yg positif dan selalu hampiri kasih karunia Tuhan dan dapatkan pertolongannya….tp, klu kita sudah minta tolong kepada Tuhan, maka kita harus mau diatur oleh Tuhan…yakinlah bahwa Tuhan mampu mengatasi semua masalah…..

@anna : kapan lalu aku mendengar sebuah ceramah menarik dari seorang preacher,,, jeff siapa gitu,susahnya itu dimanusianya, klw tuhan mah felksible ngak ribet, manusia itu sukanya, kalau lagi enak lupa ma tuhan, padahal kalau ia ingat maka enaknya akan ditambahi, buruknya lagi dari manusia karena lagi enak, lupa sama tuhannya, maka tuhan gak mau….maka tuhan biarkan masalah datang….agar ingat tuhan…ini umum…

tapi ada lagi sudut pandang lain…ya sudut pandang yang km sebutkan tadi…membentuk, mencipta kita menjadi kadar tertentu dari yang Ia pikir…

tapi ada sudut pandang lain…perhatikan ayub yang tidak punya cela, tetapi ia di kenai musibah…hingga pengalaman ia, menjadi petunjuk bagi kita yang bodoh, agar kita melihat bahwa “penderitaan” berat kita sudah ada yang lebih besar menghadapinya, bahkan apa yang kita alami tidak sebesar pengalaman pedihNya.

ada sudut pandang lain…apa yang kita pikir, kita lakukan, tuhan tahu, apa yang terjadi pada kita karena keadaan, lalu kita bertindak karena keadaan itu, tuhan tahu, reaksi kita atas keadaan juga tuhan tahu…aku berkata Tuhan punya multi dimensional yang luas, contoh ini terjadi pada kasus bileam ingat kisah keledai bileam…

aku dalam hidupku…ngaku ngaku, aku gak sabar…maaf tuhan…everything for me move fast…think fast, work fast, life is fast, tuhan tahu itu, aku kadang diajar sabar, tetapi hal yang cepat tadi dilihat Tuhan sebagai keuntungan untuk mengajar, mengubah dll….when i learn something, aku berhasil atau tidak, pasti aku diberikan sebuah proses yang lain untuk dipelajari…kenapa? ia tahu, aku suka bawel, apa yang aku pelajari pasti aku kasi tau ke orang lain…i always get new toy to play, new problem to solve, new teaching to learn…

bicara penyerahaan…jujur susah, tapi makin hari kita dilatih dalam proses ini, it not so hard anymore….

kata iklan my life is never flat…….

persoalan! tidak semua orang punya sudut pandang yang begitu

@irh : tidak punya bukan berarti tidak bisa untuk punya, kenapa kita lebih suka melemahkan diri kita, berkutat dengan diri kita sendiri, dan keterbatasan kita, kenapa kita tidak melewati keterbatasan kita, mengalahkan kekurangan kita dan keterbelenguaan kita kepada ketidak punyaan sudut pandang?….jadi apakah kita ingin dan mau untuk memiliki sudut pandang yang demikian….or “begitu”

Leave a Comment

 

privacy
research
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA e-mail