Surat Dari Jakarta (20)
Disebuah taman, ditengah kegelapan, diwaktu malam yang sepi, mungkin mencekam, mungkin menakutkan, mungkin menjengkelkan, mungkin pikirannya melihat kebelakang mungkin pikirannya melihat kedepan, mungkin ia memikirkan dirinya, mungkin ia memikirkan sebuah harapan, sebuah hal yang besar bagi orang lain.
Disebuah taman, ditengah kegelapan, diwaktu malam yang sepi, mungkin mencekam, mungkin menakutkan, mungkin menjengkelkan, ia berkeluh kesah seperti layaknya kita, ia berkata seolah seperti kita manusia pada umumnya “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.", bagaimana mungkin ia yang diagungkan sepanjang masa, merasakan seperti kita yang lemah, bodoh dan hina ini.
Tapi itu kenyataannya….ia merasakan sedih dan merasakan rasa ingin mati.
Lalu ia pun seperti kita, ditengah saat yang mencekam, ditengah sepi dan kegelapan yang menakutkan, kita pergi menghadap sang pencipta dengan lutut yang menghadap ketanah, dekap tangan yang kuat, mungkin dengan tangis yang dalam, peluh yang membesar seperti darah.
Ia pun berkata-kata, bahkan berkata dalam kemungkinan, seperti layaknya kita. Berkata dalam harapan diri sendiri, Berkata dalam keinginan yang tidak Tunggal.
"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Tetapi Ia tidak melulu mengeraskan hatinya pada kekerasan manusia, ia dua kali berkata yang sama, lalu Ia melembutkan hatinya dan menundukan diriNya kepada kehendak sang Bapa. Hingga akhirnya IA berkata, bukan lagi dalam kemungkinan. Ia berkata dalam ketidak mungkinan, Ia berkata kepada penyerahaan yang Total, ia benar-benar menyerahkan total kepada BapaNya.
“Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"”
Penyerahaan bukan pilihan kita, karena sesunguhnya kita tak memiliki pilihan lain selain pilihan sang Pencipta.
10/8/2010 2:16:33 PM
Markus AP



Similar/Related Posts