Parodi : Bukan Cinta Monyet (part 1)
Siapa yang pernah denger istilah cinta monyet, semua orang pasti pernah dengar dan merasakannya, kalau di US sana gak ada tuh istilah cinta monyet, yang ada istilahnya puppy love (cinta anak anjing kalau di bahasa indonesiakan), entah kenapa harus monyet dan anjing yang dipake.saya gak tau, tapi istilah ini pasti dipakai untuk cinta yang dialami pada masa remaja, SD-SMP-SMA (mungkin), cinta yang belum dewasa intinya, cinta gaya-gaya anak ABG.
Siapa yang gak pernah mengalaminya? Semua orang pernah, apa lagi saya, dari urusan cinta monyet, cinta segi tiga, cinta segi empat, cinta sama istri orang, cinta diporotin, cinta 24 jam, cinta dihianati, saya pernah saya alami, maklum harus di ingat pengalaman saya banyak, sedikit banyak lebih paham cinta, daripada yang pengalamannya cuma sekali dua kali, jadi jangan deh ngomongin mengenali perasaan atau cinta kalau pengalaman cuma satu dua kali, apa lagi kalau kesetabilan diri sendiri aja gak dipahami….buset deh..don’t talk about love to me.
Coba kita bahas model cinta monyet….
Duh saya ingat sekali, saat kecil anak-anak khususnya laki-laki, kalau suka sama anak cewek, pake cara godain atau nakalin anak cewek itu…itu pas kecil…isengnya adalah tanda tuh anak laki-laki suka…..saya gitu koq…
Anggap aja tadi itu pas SD/SMP tapi setelah SMA , suka sama suka biasanya gak diungkapkan, tapi dari gerak gerik, dari sikap, makanya anak-anak SMA suka banget ikut Basket agar nampak keren,…saya gak suka ikut basket, karena saya tau cuma buat keren-kerenan biar di tontonin cewek-cewek dan lagi saya minder…., tapi toh saya tetap ditaksir cewek tuh, malah paling cantik disekolahaan, karena saya pinter Komputer….there other side in us yang harus di kembangkan…
Pas SMA, kalau kita gak senyum aja sama si jantung hati, eh dia bisa bete, kesel, atau kadang-kadang si dia (wanita) sengaja ngomong sama si cowok lain, akhirnya bikin cemburu si cowok yang ini…
Atau bisa jadi, hari ini menunjukan baik ramah, besok menunjukan jutek…, ngeselin, gak jelas…
Atau oborolan antar cewe…”Eh gimana ya tau kalau si joko suka ma gue”, temen cewek yang lain bilang “Di test aja…, loe begini…tar dia sikapnya gimana”….setelah ditest, kita tahu sikapnya…eh kita senang…”ihhh dia cinta loh sama gue taunya”…ini koq jadi lomba merasakan sensasi untuk kesenangan sendiri sih.
Atau teori tarik ulur…..emang layang-layang….
Koq seneng ya manusia dijadikan layang-layang…
Saya cuma bilang, ini pada saat emang kita muda dulu…SMP/SMA gitu loh…permainannya gak jauh dari tarik ulur, trik-trikan, test-testan, ngeselin, sengaja membuat situasi yang enak atau tidak…test..ngetest…emang EBTANAS….
Massss….jeng…..ini kan trik saat SMA….saat dimana kita tidak dewasa, ini loh yang disebutnya cinta monyet….
Tapi kan kita gak gitu lagi….gak perlu sengaja-sengajaan mengesalkan orang, memancing amarah orang, memancing sesuatu yang buruk dari orang itu, kenapa gak dibesarkan hal-hal yang baik, membangun komunikasi yang baik, membangun dan membangun, membangun pemahaman yang baik….membangun yang baik-baik…tapi harus focus….dan kalau niatnya baik loh ya…..
Saya ketemu wanita bukan baru satu, pacaran gak cuma satu-dua doang, buaaaaanyak (setahun saya pernah sampe 3x ganti pacar), kalau gagal bukan karena saya selingkuh atau tidak romantis, atau saya tidak pengertiaan dan berusaha, saya belajar bahkan dari kegagalan..mungkin tepatnya saya sedang mencari yang tepat:
Bukan yang susah diajak komunikasi, diskusi, terbuka dan belajar,
Bukan yang suka datang tak diundang pergi tak diantar,
Bukan yang sebenar-sebentar mood nya kayak angin berubah-ubah, sikapnya juga berubah ubah sekarang begini, besok bisa berubah lagi
Bukan yang keinginannya tidak jelas,
Bukan yang perasaanya sendiri aja gak paham yang bingung dengan perasaan dan logikanya,
Bukan yang niatnya main-main
Bukan yang didukung malah dianggap menganggu,
Bukan yang tidak bisa mendukung perkembangan kerja saya,
Bukan yang tidak ada disaat saya perlu dukungan,
Bukan yang gak tahu arahnya kemana untuk masa depan,
Bukan yang jiwanya maunya senang saja dan nyamannya saja, tapi tidak mau merasakan susah.dan perjuangan.
Bukan yang tidak bisa merasakan orang lain juga, tetapi yang dirasakan dirinya sendiri.
Saya tahu tak ada orang sempurna, segala upaya pasti udah saya coba untuk menyesuaikan..bukan saya punya standard yang tinggi, saya memiliki standard yang saya fleksibelkan, bukan saya terlalu perfect, bukan saya tidak kompromi dan understanding, bukan saya gak membimbing juga, maka saya bisa lumrahkan hal-hal yang kecil, asal tidak fatal..gak bisa masak ya lumrahkan saja.nanti toh bisa belajar.apa ini bukan kompromi.toh saya sedang tidak mencari seorang DEWI yang lengkap sempurna..tapi apa bisa saya menerima seorang yang kesetiaan aja diragukan.. untuk dirinya sendiri aja gak tau.
Understanding dan kompromi ini perlu.saya melakukan itu..saya pake prinsip “lebih kurang lah”..tiap orang ada lebihnya juga ada kurangnya.saya juga koq ada kurangnya.tapi fair lah kita.kalau lebih ya kita akui dan kita lihat, kita hargai, jangan kurang sedikit aja jadi masalah.sampe ilfill.sampe dibesar-besarkan.jangan-jangan dia lage nyari kesamaan antara saya dan yang dulu-dulu.
Padahal jelas orangnya beda….
Balik ke understanding dan kompromi.
Tapi gimana understanding dan kompromi, kalau tidak ada komunikasi, tau-tau marah atau sengaja tidak membalas karena misalkan saya sering BBM, kemarin-kemarin kalau saya ketiduran jadi masalah….atau tau-tau dibalas sesukanya, atau sengaja tidak membalas, alasannya katanya menganggu dia lagi sibuk sama keluarga, atau bosan…mana saya tahu ia bosan.saya kan gak liat, saya kan bukan cenayang.wong biasanya ya fine-fine saja.
Coba di cut…ini masalah kecil kan…kenapa gak dicari jalan keluarnya dan dibicarakan, dilihat maksudnya, tujuannya dan dicari titik temu nya….
Coba simple nya…”aku gak mau diganggu…karena saya mau mikir”
Paling saya nanya “Kenapa….”
Kalau dia cerita kan saya bisa bantu….bukankah seharusnya ini sikap mendukung….tapi kadang reaksinya adalah “ya mikir..pokoknya gak mau diganggu”.
Tapi kan cus…ada orang yang punya masalah maunya didiemin…ada…tapi umumnya wanita kan mau didukung, didengarkan….kalau case kusus minta didiemin ya mongo-mongo aja….tapi NGOMONG…..jangan tiba-tiba berulah…
Kalau pun prosedur diam ya diam….kasi batas waktu kalau perlu…”AKU MAU MIKIR dua hari….”. Dua hari bener-bener mikir cari solusi…tapi udah dua hari lewat…solusinya gak muncul…mikir apa bertapa!.
Atau case lainnya coba simple ngak kalau ngomong “aku lagi ngumpul nih sama keluarga”..kan lebih baik, toh saya memahami, kalau pun saya nanya lagi “sama siapa aja.” mustinya kan jadi simple, kalau itu sekedar obrolan….kenapa pertanyaan itu tidak di jawab saja, mau bener atau bohong kek..toh saya gak tau.jawab aja sama “papa atau mama, sambil ngerujak”.toh saya gak tau bener apa ngak.bisa aja kan lagi main mama papa an sambil rujak-rujakaan.toh saya gak tau.paling kalau pun dia bilang “Oh lagi ngumpul sama papa dan mama” saya pasti akan jawab “Ohhh” (percaya saja).
Komunikasi kan simple toh…menyampaikan informasi…titik.
Bukankah jadi gak simple dan jadi mengesalkan orang lain kalau pertanyaan yang tadi dijawab “ya terserah aku dong kumpul ma siapa”, atau jawabannya mengantung.gak jelas..artinya kan menimbulkan masalah bahkan malah memancing kecurigaan.
Kalau bener ya bener aja dijawab, apa jangan-jangan lagi gak bener jadi takut jawab yang bener, apa jangan-jangan ada yang disembunyikan sampe akhirnya takut dan merasa takut ketahuaan jadi takut kalau ditanya “dengan siapa”, kalau kita benar ya gak perlu ada keraguaan atau ketakutan mengatakan kebenaran.
Kenapa anggapannya jadi takut dikontrol dan dicurigai…jangan-jangan memang sedang menyembunyikan sesuatu jadi takut ketahuaan.
Semua teman saya yang Dewasa membenarkan pemikiran ini, bahakan salah satunya seorang psikolog, yang sudah menikah….membenarkan pemikiran psikologi terbalik ini.
I know lah, this old trick….
Coba nilai sendiri apa ini dewasa?….cus cus ini sih bukan bicara dewasa cus.ini bicara jujur atau ngak! Wkwkwkwk ya maksud saya kan jujur kan juga bagian dari kedewasaan.kalau kita jujur kan kelihatan kedewasaan kita.
Maka dewasa juga kesadaran untuk membentuk komunikasi yang baik, menghargai, dan gak ada unsur sengaja membuat orang lain kesal.kalau gak ada niat begitu kan semua baik-baik aja..niat yang baik hasilnya baik, kecuali niatnya udah gak baik.
Coba apa saya sedang tidak kompromi dan understanding, apa saya tidak sedang menyabarkan diri.SABAR..sampe saya harus nanya “lagi apa.?” dijawab “lagi baca buku.?” “oh ya sudah lanjutkan.nanti aku hubungi lagi., kamu yang hubungi atau aku?” dia jawab “aku”.
Atau .. “lagi apa.?, boleh ganggu gak”..atau “boleh nelfon gak” atau “boleh ketempat kamu gak”..bukan kah ini understanding dan kompromi.
Masa mau ngobrol aja minta izin…nanya ganggu apa ngak?….saya koq heran ngobrol ma orang Gede an aja gak segini nya….
Toh kalau pun jawabannya “gak boleh…aku lage pergi”, ya saya kan gak mungkin ke sana kan!!!!….tapi jangan dijawab “gak boleh.” (tanpa keterangan), karena bahasa Indonesia yang baik, ada subyek, predikat, obyek dan keterangan.tanpa keterangan kan gak jelas.informasi yang disampaikan apa?….disekolah diajar bahasa gak?.
“Gak boleh, aku lage masak.”
“Gak boleh, aku lage ngumpul…”
Bahasa yang lebih nice lagi “Maaf aku lagi masak, lagi ribet, nanti ya aku hubungi lagi”.
Beda dengan
“Gak boleh”…tok….titik…
Yang menimbulkan tanda tanya…
Kalau orang dewasa memahami ini pasti dia bilang “Ooooooo” gitu ya…
Ingatkan saya pernah ajarkan beda arti antara “Bisa gak buangin sampah” dengan “Mau gak buangin sampah”….yang pertama bisa berarti meremehkan “masa pria gak bisa buang sampah”, yang kedua berarti permohonan, bahwa pria diharapkan untuk membantu, maka efek dan hasilnya pun beda…
Maka bahasa pun juga harus jelas maknannya…
Ingat itu yang dewasa akan bilang “ooooooo gitu ya….”.
Yang tidak kan, malah mutung….”Ya kan gue gak harus ngasi tau gue mau ngapain….hak-hak gue dong”….kalau gitu kan artinya seorang yang sedang “egois” dengan dirinya sendiri dan tidak menghargai orang lain…tidak mengerti perasaan orang lain…
Tapi bisa di mutungin lagi loh “Kan terserah gue dong”
Gue..gue..gue…gue..gue..gue…
Jelas orang seperti ini sedang hidup dengan “ke aku an nya” dan ke egoisan dirinya…sudah tau lah egois itu tanda apa?…
Saya pernah koq jadi orang seperti itu…kenapa? karena ada 4 wanita ngantri dibelakang saya….wihhh dengan tidak dewasanya saya merasa hebat…merasa luar biasa jadi pria….i can sleep to any woman i want…pikir saya, akhirnya saya seenak-enaknya memperlakukan itu juga.
Tapi kemudian saya sadar…begitu egoisnya saya…and it not nice…saya sedang tidak menjadikan diri saya pribadi yang tepat….i change.
So I know the trick lah…
(Bersambung..)
23/08/2010 19:24
Markus AP

(1 votes, average: 4.00 out of 5)


Similar/Related Posts