Memory Of Gur’yev
Entah berapa lama lagi, kereta kuda yang membawaku meninggalkan tempat kelahiranku Gur’yev akan berangkat, yah aku meninggalkan ibu dan kedua adikku, aku meninggalkan sahabat kecilku, aku meninggalkan Ivan, aku meninggalkan malaikat-malaikat kecilku, aku meninggalkan Nadia yang kucintai dan semua yang telah menjadi malaikat dalam hidupku, meninggalkan dewi dan dewa-dewa pelindungku.
Aku ingat benar hari kemarin, saat aku memandang matahari yang terbenam di kejauhaan, dan setiap jemari kakiku merasai pasir pantai yang bersih, terbenam didalamnya, lalu mendengar debur ombak yang halus yang kemudian sapuannya membasuh setiap jemari kakiku.
Aku ingat benar hari itu, saat untuk terakhir kalinya hembusan angin sepoi yang dingin menyelubungiku dengan ketulusan, hembusannya membersihkan sedikit penyiksaan didalam dadaku.
Aku sempat berkata kepada sahabatku.
“Ivan, indah benar memandang matahari dipantai ini, tapi esok aku akan meninggalkan mu, kutitipkan ibuku kepadamu, kutitipkan malaikat itu kepadamu, dan kutitipkan dia yang kucinta padamu”
“Kenapa kau harus pergi? Cinta itu telah menghanguskanmu, cinta telah mengaruniaimu kebodohan, mengalungimu dengan air yang pahit, cinta telah membuatmu lupa akan kenyataan kalau kau masih memiliki kehidupan, walau cinta itu sakit”
“Aku tidak hangus, mungkin aku telah mati, yah lebih tepatnya aku telah menjadi mayat dan mati lima bulan lalu”.
“Kenapa kau tak hadapi saja kenyataan, juga kematiaan mu, kembalilah hidup!”
Aku terdiam
“Ivan, aku ingat saat aku dan ia berjalan dipantai ini, jemari kaki kita tertutup pasir, tangan kita saling berpegangan erat, hati kita bersatu, jiwa kita melebur, dan pikiran kita kalut oleh kekawatiran bawa cinta ini tak akan berlangsung lama, ada jiwa-jiwa yang berusaha membunuh kita, membunuh cinta nya dan cintaku, dan benar hari-hari kita benar-benar perlahan dibunuh.”
“Yah dan sekarang ingin kubunuh wanita itu, ia tidak saja telah merenuggut seluruh nyawamu, menyiksa jiwamu, menipumu, membuangmu, ia telah mencampakaan cinta mu yang tulus seperti sampah”
“Sudah lah, apakah dengan kau membunuhnya, akan membangkitkanku? Akankah kematiannya akan membuatku menjadi hidup. Dan bisakah cacianmu kepadanya, menyatukan kita, biarkan aku menjalani kematiaanku seperti yang kau katakan tadi…aku yang mati, tetapi tidak dia, bukankah begitulah cinta, seorang diantaranya harus menyerahkan kebahagiaan bagi kebahagiaan orang yang dicintainya”
Ivan terdiam dengan raut wajah yang marah, dan tak mengerti isi hatiku. Ia sahabat yang mencoba memahami isi hati sahabatnya yang lain.
“Ivan sahabatku, dengan akalku aku menghadapi kenyataan, tapi tak seorang pun paham apa yang ada didalam sini, tak seorangpun pahami isi hati ini, tak ada yang paham kompleks nya isi hati ini, tapi aku menganggapnya sederhana…isi hati ini hanya mencintainya”.
Ivan pun menjadi benar-benar terdiam, ia mencoba memahami tiap raut wajah dan senyumku yang tertahan, ia telah menjadi malakikat yang menyertaiku selalu melalui setiap perjalanan hidupku juga kegetiranku.
“Aku tak lari, tetapi semoga kau memahami”.
“Sahabatku…aku memahamimu…” katanya, walau ku tahu ia tak akan mudah memahamiku, ia hanya menerima apapun yang kulakukan demi kebaikanku.
Hari ini, aku tak pernah lupa hari kemarin, tak pernah lupa apa yang aku katakan kepada Ivan dihari kemarin, aku melihat Ivan memegang kedua pundak adikku Miska, ibu tak mengantarku pergi, ia lebih tau bahwa aku harus pergi, ia telah menjadi malaikatku yang paling perkasa, yang berusaha memahami segala kegetiranku dengan sikap nya yang tegas dan selalu doa-doanya tak pernah berhenti buat kebahagiaan anaknya yang dikasihi…yah ia telah menjadi pribadi paling tegar bagiku.
Bahkan saat aku terbaring sakit, Ibu benar-benar lebih tegar, ia tahu bahwa sakitku bukan karena apa yang kuidap karena penyakit, tetapi karena hal lain.
Karena lelah menangung pikiran yang berat, karena lelah menangung perasaan yang terus-terusan menyesak, dan tubuh ini pun berhenti sejenak karena aku lebih sering tidak dapat menyantap makanan apapun disaat aku sedang sedih.
Ibu tahu itu semua…karena hati anaknya hancur, karena jiwanya dirobek, cintanya dibuang seperti sampah, diinjak-injak oleh babi dalam kubangan yang kotor.
Saat ini aku terus menatapi jendela dikiriku, melihat kejalan sedikit berharap akan adanya keajaiban, tetapi seketika harapan akan datangnya keajaiban menjadi sirna, dan aku hampir tak pernah mempercayai adanya Tuhan, karena aku selalu mempertanyakan Tuhan kenapa jika cinta itu adalah diriNya sendiri, kenapa cinta juga membekaskan torehan yang menyayat didalam sini? Tidakkah Ia bisa mengerti kegetiranku? Tidakkah Ia bisa mengubah segala hal? Tidakkah Ia bisa membuat keadaan berubah indah.
Semua pertanyaan itu membuatku tak dapat menjawabnya sendiri, tetapi aku juga mengsyukuri segala pristiwa yang akan kukenang saat aku tua nanti atau pulang kepada penciptaku dalam waktu yang singkat.
Aku terus memandang keluar, tak ada semua yang kupikirkan terjadi, seketika kereta mulai bergerak, perlahan, gambaran jalan dikiriku mulai bergerak, Ivan pun terhapus hilang dari jendelaku, aku melambaikan tangan kepadanya, kepada Miska, aku berteriak.
“Baik..baiklah, jaga malaikat kecilku, temanilah ibu selalu, jika Tuhan menghendaki aku akan kembali”.
Miska menangis matanya memerah, tetes-tetes air mata mengalir, ia seperti kehilangan seorang kakak yang pergi dan mungkin tak kembali, Ivan pun berusaha menunjukan dirinya yang tegar sebagai seorang sahabat, tapi aku tau, hatinya sama-sama hancur seperti aku telah dihancurkan oleh cinta dan oleh keadaan.
Garis-garis pohon mulai bergerak tanpa bentuk, dan gerak kereta kuda yang makin melaju, membuat garis-garis pemandangan dan warna diluar sana menjadi makin tak jelas, tapi gerak kereta kuda menjauhi Gur’yev, tak membuatku benar-benar sembuh.
Sepanjang jalan aku hanya melihat keluar jendela.
Sesekali tetes air mata mengalir keluar, dan hati berkata.
“Tak ada yang perduli jika aku menangis atau mati,kenapa aku harus mencintai lalu dibiarkan terhempas, ya tak ada yang perduli…tak ada yang perduli”.
Masih ingat dalam ingatanku jelas, suara Nadia saat ia berkata
“Sayang…aku mencintaimu, aku menyayangi mu” tetapi aku tak pernah paham, kenapa kehidupan kami seperti kisah yang dituliskan Turgenew dalam bukunya “Pervaia Liubov” tentang tokoh gadis Zianida dan aku menjadi tokoh Voldemar yang lugu, dan tolol, aku tak tau kenapa kisah cinta yang seharusnya indah dalam cerita itu, tetapi dipenuhi kegetiran…kenapa cinta yang begitu mulia dipenuhi penderitaan.
Tapi dalam kegetiranku, aku memahami, Nadia yang begitu karena ibunya Marya Nikolayewna, yang bangsawan, yang mengharapkan anaknya menikah dengan pangeran Faydor yang juga dari keluarga bangsawan, sedang aku?, aku hanya anak seorang juru tulis bukan dari kalangan nigrat.
Tetapi memang cinta telah merubuhkan tiap tembok penyekat, Nadia pernah mencintai ku begitu dalam, begitu juga aku, tetapi kehadiranku, telah menjadi dadih yang merenggut senyum dan kebahagiaanya.
Kehadiranku telah menjadi penyiksa bagi jiwanya yang labil, sedang aku telah menjadi mayat yang mati karena cinta yang ada dalam diri kami, telah dihancurkan oleh kekolotan dan oleh keningratan.
Aku tak lagi mencium bau harum tanah dan alam Gur’yev, tetapi aku tetap mencium bau harum tubuhnya yang pernah selama sepekan tinggal diruanganku, tubuhnya yang elok, wajahnya yang rupawan.
Aku tetap dapat mencium bau harum tubuhnya walau ia tak ada disana setiap harinya.
Gur’yev sudah 3 jam jauhnya dibelakangku, ibu memintaku meninggalkan Gur’yev dan menuju Moscow, mengunjungi Paman Alexie yang tinggal disana.
Aku tertidur beberapa saat di kereta, tetapi terbangun saat kereta melewati lubang dan guncangannya mengagetkanku, seketika aku lupa apa yang menyesakkanku, tetapi seketika pula aku teringat kata-kata terakhirnya berkata.
“Berdoalah, semoga ada keajaiban bagi kita”.
Aku mengharapkan keajaiban, aku mengharapkannya dari Tuhan, walau ingin sekali kulempari pintu surga dengan lumpur, karena ketidak mengertiaanku dan pertanyaanku, kenapa cintaku begitu menyesakkan, kenapa kita tak dimudahkan.
Tapi sesungguhnya seluruh kekuasanNya telah melingkupi diri kami, semua jawaban telah dijawabkanNya, tetapi Nadia tak pernah mampu meninggalkan seluruhnya, karena mungkin ia mempertanyakan apa yang didapatkannya dari seorang anak juru Tulis?.
Kenyataan inilah yang sangat menyakitkanku.
“Apa yang dia dapat dari seorang anak juru tulis?”
Dan entah kenapa aku benci juga dengan wajah-wajah yang kukenal, aku selalu benci dengan wajah-wajah Dr Solyesky, Pangeran Faydor, Tuan Sergey, wajah-wajah yang selalu ada disekeliling Nadia, wajah-wajah anjing penjilat, wajah-wajah juga persoalan yang selalu hadir ditengah-tengah kita, sedangkan aku hanya bisa melihat dari jauh, bagaimana mereka memperlakukannya seperti seorang ratu, sedang aku tak pernah bisa membuatnya tersenyum, walau aku mencintainya dan ia mencintaiku.
Entah…apakah ia masih mencintaiku.
Semua kenangan yang ku ingat, tak pernah kulupakan, rambutnya yang panjang, senyumnya, dan semaraknya, juga perangiannya yang tak pernah terpahami, tetapi kemudian aku memahami, bahwa ini semua karena perbuatan iblis yang tak pernah senang dengan kebahagiaan yang kita kan capai.
Aku mengeluarkan sebatang rokok dari saku jas ku, membuka jendela kereta, dan tiap tarikan asap itu, kunikmati dalam-dalam, ku hujamkan menuju paru-paruku. Dua tiga batang telah kuhabiskan sepanjang 1.5 jam perjalanan.
Aku mengeluarkan buku catatanku, menuliskan beberapa catatan didalamnya, tapi aku hampir tak lagi dapat mengeluarkan vocabulery atau kalimat indah untuk kujadikan puisiku….aku kehabisan kata-kata.
Aku telah kehilangan semuanya.
Masih terasa lemah yang kurasakan dalam semangat yang hilang.
Aku telah merasakan apa itu cinta, yang membahagiakan, juga telah membuat setiap sendiku terasa lemah, aku merasakan cinta yang membuatku bersyukur, dan saat itu pula aku ingat sajak Aleksandr Pushkin.
I loved you: and, it may be, from my soul
The former love has never gone away,
But let it not recall to you my dole;
I wish not sadden you in any way.
I loved you silently, without hope, fully,
In diffidence, in jealousy, in pain;
I loved you so tenderly and truly,
As let you else be loved by any man.
Ku merasa sedih dan bahagia saat membaca puisi itu, kerisauanku ditembus terang nya cinta, kerisauanku ditembus terang karena Nadia, dan saat itu pula tetes air mata mulai datang seperti pencuri, dan seketika aku berkata dalam hati, kenapa aku begitu cengeng, aku lebih sering menangis sambil mengumpalkan gundah, mengepalkan tangan dengan kemarahaan, aku lebih sering juga menangis sambil tersenyum, dan aku menangis saat aku menyatakan cintaku kepada Nadia.
“Aku mencintaimu” dalam sebuah kata-kata yang terkatakan atau saat mengatakannya dalam hati.
Semua ingatan cerita di Gur’yev telah menorehkan sejarah dalam kehiduapanku.
Semua tentang kita seakan tak akan bisa terhapuskan, yah aku ingatan saat kita berdua bergandeng tangan menyusuri pasar yang ramai, atau saat kita berdua dipantai dengan senyum dan kebahagiaan yang tak pernah mau aku akhiri.
Atau saat aku ingat saat ia meneteskan air mata melepaskanku meninggalkan Saratov, tempat kelahirannya, malam itu kukecup keningnya, menjadi pesan terakhirku dan kuselipkan selipat puisiku dijemarinya yang halus….selang beberapa lama ia mengirimiku surat berkata bahwa ia tak dapat tidur dan menangis sepajang malam membaca puisiku.
Aku selalu ingat kejadiaan Saratov, aku selalu ingat saat itu.
Sepanjang perjalanan waktu ini, aku tak dapat tertidur pulas, karena aku meninggalkannya jauh dari dekapanku.
Kepalaku menjadi pening, dadaku terasa berat, tak ada yang dapat ku ajak bicara disepanjang perjalananku menuju Moscow.
Tetapi aku mencoba berdialog dengan garis-garis pohon diluar sana, dan mencoba berkata kepada warna-warna yang berganti searah gerak keretaku menuju Moscow.
Tapi semua hal nampaknya menjadi penyiksaku…bukan menjadi penenang diriku.
Sesungguhnya aku tak ingin meninggalkan Gur’yev, tetapi ia telah membuatku pergi meninggalkan Gur’yev. Ia telah mengusirku jauh dari kehidupannya dengan jalan-jalan yang dipilihnya.
Jika sejarah bisa diulang, aku ingin mengulangnya, mengulang saat-saat indah yang tak terlupakan, saat indah yang tak dapat ku lupa, dan aku berharap ia tak mengulangi kesalahaanya.
Hari cepat berganti menjadi gelap, kusir kereta menghentikan kuda, dan menyalakan lentera untuk penerang, aku memintanya berhenti untuk tidak melanjutkan perjalanan, aku menanyakan apakah aman untuk bermalam di alam terbuka seperti ini. Mereka tau benar bahwa daerah itu aman, kita pun bermalam dialam terbuka, mereka pun beristirahat, karena sepanjang siang hingga petang mereka tak berhenti. Aku berdiam didalam kereta, penerangan lentera membantuku untuk menulis catatanku, entah malam itu aku benar-benar tak dapat tidur, mungkin karena berat sesungguhnya meninggalkan Gur’yev, sedangkan perjalananku menuju Moscow masih jauh. Tapi saat waktu tepat pukul 12:20, aku pun tertidur, diselimuti selimut tebal bulu, hari itu benar-benar dingin.
Keesokan harinya para kusir kereta telah bangun pagi-pagi benar, jam 6 pagi matahari masih belum nampak dengan jelas, aku telah terbangun karena kesibukan mereka membereskan perlengkapan mereka.
“Tuan Milkaelosky sudah terbangun…bagaimanakah tidur semalam…”
“Aku nyenyak tidur, cuma yang ku harapkan tak hadir malam ini”
“Maksud tuan?”
“Sudah lupakan…aku hanya berangan aku bertemu peri cantik tadi malam”
“Hahahaha, tuan bisa saja…, lebih baik tuan istirahat, perjalanan masih panjang”
“Baiklah…” aku pun mencoba membuat diriku tertidur, tidur telah membuatku berhenti berfikir, tidur telah membuatku tak merasakan semua hal yang ada didalam diriku terhenti, dan kuingin sesungguhnya untuk tidur selamanya untuk menghentikan semua perasaan ini selamanya, tetapi sang malam tak bisa melarikanku selamanya, aku hanya bisa berdoa agar sang maut yang membawaku pergi selamanya, tapi sang maut enggan datang walau doaku pun sudah sampai ke surga sana.
Aku membaringkan diriku, dan aku pun tertidur lagi.
Saat itulah, penderitaanku bertambah, aku bermimpi sesuatu yang aneh, sesuatu yang tak pernah aku harapkan.
Aku melihat hamparan padang yang luas, langit begitu biru cerah, burung-burung terbang seperti ingin pergi menuju matahari, aku berdiri ditengah padang itu melihat seluruh hamparannya indah mempesona, tiba-tiba aku melihat Nadia berlari dengan rambutnya yang panjang bergerai, ia berlari sambil memanggil namaku, senyum dan keceriaanya sejenak membuatku tenang, tawanya saat itu membuatku bahagia, dalam mimpi itu aku begitu bahagia, aku seperti merasakan berada disurga, lambaian tangannya seperti mengajakku mengikutinya berlari, aku ingat dalam mimpi itu aku berlari mengapainya, lalu mengengam tangannya yang halus seperti sutra, dan berlari melalui padang itu.
Indah, bahagia, menyenangkan, aku merasakan kebahagiaan dan damai yang tak pernah kurasakan.
Seketika itu pula, disaat aku menikmati kebahagiaan itu, tiba-tiba semuanya menjadi gelap, aku seperti berada disebuah ruangan penyiksaan, aku melihat wajah-wajah Dr Solyesky, Pangeran Faydor, Tuan Sergey dalam mimpiku, seolah seluruhnya berusaha untuk membunuhku dengan padangan sinis mereka, sepertinya aku telah menjadi anjing yang mereka benci, yang lebih ku sedihkan Nadia berdiri diantara mereka dengan wajah yang tertunduk, ia tak bergerak, seolah dirinya tak sanggup berdiri bersamaku menerima penganiayaan itu, saat itu perasaan ini begitu mencekam dengan tekanan dan ketakutan
Aku terbangun dengan mimpi yang menakutkan itu.
Aku terbangun, jantungku berdetak keras.
Aku seperti sedang benar-benar menghadapi maut.
Dan aku tau hatiku pun menjadi remuk, yah hatiku benar-benar remuk, apakah aku telah mencintai seorang yang salah? Seorang yang tak memiliki kekuatan apapun untuk mempertahankan cinta, sedangkan cinta yang ada didalam dirinya selalu dipertanyakan, ia selalu berkata “apa cukup dengan cinta”.
Bagiku sendiri cinta selalu melebih apapun juga, cinta adalah kekuatan yang paling besar seluruh semesta ini, cinta telah membuat seseorang mengalahkan apapun, bahkan dirinya sendiri, cinta bahkan dapat mengorbankan dirinya sendiri.
Tapi entahlah mungkin aku terlalu kolot dan terlalu lugu, terlalu bodoh, dan seperti pandangan hina mereka, seperti “anjing kampung”.
Aku selalu mempercayai prinsip-prinsip yang idealis, sedangkan mereka Dr Solyesky, Pangeran Faydor, Tuan Sergey, bahkan nyonya Marya Nikolayewna berfikir hal-hal yang nyata, dengan membuang apa itu cinta!, ah mungkin juga Nadia…aku tak tahu.
Tetapi aku tak pernah membenci cinta, aku tak pernah membenci Nadia, atau mereka sekalipun, aku selalu berusaha menguji cintaku, cintaku telah mengalahkan diriku untuk tidak membenci orang yang ku cintai, aku tak dapat membenci orang yang lebih sering menarik rambutku hingga terlepas dari akarnya, aku tak dapat membenci orang yang lebih sering mengatakan “lakukan apa yang kau mau”, tanpa memahami seluruh isi hatiku, tetapi juga orang yang mencintaiku tetapi ia pun sering mengatakan “aku tidak mencintaimu”.
Aku mencintainya.
Aku mencintainya.
Aku mencintainya, bahkan aku selalu mencintainya, sunguh mencintainya, walau seluruh isi dada ini terasa berat, dan seakan ingin mati.
Aku mencintainya.
Tuhan tahu aku mencintainya.
Aku mencintainya.
Aku mencintainya.
Seketika itu pula, kakiku terasa lemah, seluruh badanku terasa lemah, jantungku berdetak dua kali lipat karena mimpi itu, aku pun tak sadarkan diri, dan akhirnya aku pun benar-benar membaringkan diri dengan pandangan kosong, sepanjang perjalanan.
Tanpa terasa, waktu terus berlalu, aku pun tak menikmati gerak garis-garis pepohonan diluar, dan warna-warna kabur yang sesungguhnya indah searah gerakku menuju Moscow meninggalkan Gur’yev.
Hari yang menjadi gelap lagi pun tak ku rasakan, aku terus tak dapat berdiri dengan kuat, hanya tertahan pada pandangan kosong, dan aku pun terlelap lagi.
Esok pagi keretaku telah memasuki kota Moscow, suara-suara orang dijalan menjadi jelas, suara kereta-kereta kuda lainnya juga menjadi jelas, keramaiaan pun menjadi jelas.
Dan kusir berteriak kepadaku
“Tuan..tuan kita sudah sampai di Moscow…”
Aku pun membangunkan badanku dan melihat keluar, aku benar-benar menganggumi kemegahaan Moscow, dan kereta ku pun mengarah ke rumah paman Alexie, tak berapa lama aku pun tiba dirumahnya.
Beberapa orang pelayang berlari membukakan pintu keretaku, beberapa lainnya mengambil barang-barang, seorang pelayan, dan seorang gadis cantik berpakaiaan gaya vicotrian, menyambutku.
“Tuan muda…, Tuan besar sudah menunggu didalam, menanti anda untuk menikmati secangkir teh…”
Gadis itu pun tersenyum manis, aku tak kenal siapa dia.
Aku pun membalas senyumnya dengan senyumku yang cangung.
Aku menghampiri paman di taman belakang rumahnya yang megah, aku melihatnya sedang membaca buku.
“Paman…”
“Ah…keponakanku Milkael, bagaimanakah kabarnya kakak ku tercinta….”
“Ia sehat paman…”
“Aku sudah bilang padanya dalam suratku yang terakhir untuk ia tinggal bersamaku saja, daripada ia tinggal di tempat yang jauh dirumah yang kecil”.
“Ibu mencintai Gur’yev paman, ia tinggal disana dengan bahagia…”
“Ah susah bicara dengan ibumu, apa lagi denganmu…, kau selalu saja sepikir seperti ibumu…kau memang mirip seperti ibumu, teguh, dan keras, oh ya, mana surat untuk paman dari ibumu…”
“Ah…aku hampir lupa….”
Aku mengeluarkan surat ibu yang tersimpan di saku jasku…
“Ayo..cepat..cepat…aku merindukan berita dari ibumu…”
“Ini paman…”
Paman Alexie membuka ampop surat itu dan segera membacanya, dengan pandangannya ke isi surat itu, ia berkata kepadaku…
“Oh ya…aku hampir lupa, itu Elisabeth, ia seorang inggris, ia bekerja untukku…asisten pribadiku, duduklah disana dan berbicara padanya…”
Aku pun menundukan kepalaku, tanpa sepatah kata apapun. Dan membiarkan paman membaca surat dari ibu.
Lalu aku berkata kepada paman….
“Paman, aku ingin kekamar dulu…”
“Ya ya ya, aku hampir lupa…Elisabeth, panggil kepala pelayan, urus seluruh keperluan untuk tuan muda…., temani tuan muda, dan urus keperluannya”
Aku diantar ke sebuah kamar yang menghadap taman, aku membilas wajahku dengan air yang ada di sebuah tempat pembilasan, lalu memandang keluar jendela, pemandangan Moscow memang mencengangkan.
“Tuan muda ada kah yang diperlukan?”
“Ah aku hampir lupa dengan nona, tak ada…saya hanya mau istirahat”.
Ia pun meninggalkanku sendiri diruanganku. Dan sekali lagi ia tersenyum manis sebelum menutup pintu kamarku.
Aku pun menundukan kepala kepadanya.
Sebelum aku membaringkan diriku, aku berlutut dan mendekapkan kedua tanganku, aku mulai berdoa, berdoa bagi semua yang kucintai, bagi Nadia.
Aku berbaring, dan baru tengah malam aku terbangun, aku terbangun, sehariaan aku menghabiskan waktu dalam tidur, mungkin karena tubuhku lelah karena perjalanan jauh….aku memandang gelap malam dari jendela kamarku, karena malam hatiku mulai sedih, aku mengingat hal-hal yang lalu, mengingat hari-hari dimana aku menghabiskan waktu bersama Nadia.
Lalu aku pun tak dapat tidur hingga pagi. Dan pagipun tiba!
“Selamat pagi tuan muda!”
“Selamat pagi” kataku
“Ah..rupanya kalian disini, Elisabeth pergilah ke dapur, minta pelayan persiapkan makan pagi, dan mari anakku…temani paman ditaman”
Aku berjalan ditaman bersama paman. Ia nampak diam sejak kita keluar dari pintu belakang rumah. Kami melalui luasnya taman dibelakang rumah paman, melalui pepohonan yang hijau, hawa dingin mungkin telah membuatnya tak berbicara sepanjang perjalanan itu.
“Anakku…”
“Ya paman…”
“Tinggallah di London atau Paris, pergilah ke sana, uruslah usaha paman disana, kalau perlu pergilah ke Amerika mulailah sebuah usaha bisnis, aku akan memberikan semua hal yang kau inginkan, hiduplah, jadilah hidup, paman tak punya siapapun untuk meneruskan semua yang ada ini, selain kau atau adik-adikmu, jadilah hidup, jangan patahkan semangatmu, cinta memang telah meremukanmu tetapi tetaplah hidup”
Aku terdiam, aku tak menyangka paman tau apa yang terjadi denganku
“Apa maksud paman…”
“Aku bukannya bodoh aku tau dari sorot matamu, dan ibumu menceritakan seluruhnya dalam suratnya, matamu tak dapat membodohi pamanmu ini, aku juga pernah muda seperti mu…kau telah banyak berkorban, jiwamu, hatimu, paman pernah muda anakku….paman pernah muda anakku”
“Paman…..”
“Sudah lah….aku sudah dengar semuanya…mereka tak tahu apa yang mereka lakukan, mereka menghina mu, mereka menghina pamanmu ini…terkutuk mereka, terkutuk penjilat-penjilat itu…..kalau perlu Paman akan membalaskan sakit hatimu?”
Aku terdiam
Paman tak dapat dibohongi, ia benar-benar tau apa yang terjadi denganku, aku terdiam tak dapat menjawab apa-apa selain menganggukan kepala, seperti seorang yang pasrah menerima takdir apapun, yah aku telah menerima takdir apapun itu, seperti aku telah menerima penghinaan dari Nyonya Marya Nikolayewna, yang tersakit adalah aku telah menerima penghianatan dari orang yang sangat ku cintai.
“Bagus kalau kau setuju…, segera lah berangkat, aku akan mempersiapkan semua keperluanmu, Elisabeth akan mendampingimu…ah ya ia gadis yang cantik, dan baik….”.
Aku tak tahu apa arti kata-kata yang terakhir paman ucapkan, tetapi mungkin juga aku tau maknanya.
Pagi itu, kami makan didalam ruang makan, paman duduk diujung meja, aku duduk disamping kanannya duduk dekat jendela, Elisabeth duduk dihadapanku, pagi itu ia nampak cantik dengan gaun warna putih, rambutnya bergerai panjang.
Setelah semua itu aku kembali kekamarku, mencatat sesuatu yang muncul dalam benakku beberapa saat lalu.
“Entah berapa jauh jaraknya aku dari Gur’yev, aku meninggalkan semua kenangan dibelakangku, tetapi luka telah mengikutiku dimanapun aku berada, hari ini aku memandang kecantikan, memandang perjalanan, tetapi luka itu telah mengikutiku selalu dengan setia.”
Itulah yang kutulis dalam catatanku, aku menuliskannya dalam buku catatanku yang selalu kubawa kemanapun itu.
Saat aku hanyut dalam lamunan, pintu kamarku diketuk seseorang
“Siapa?”
Tak ada seorang pun menjawab.
“Siapa?”
“Saya tuan…”
Aku membuka pintu, dan Elisabeth berdiri didepan pintu.
“Ada apa nona….”.
“Tuan besar memintaku untuk menemani Tuan…”
“Menemani saya?”
“Menemani tuan berjalan-jalan di taman…”.
“Tapi saya suka didalam ruangan”.
“Tak baik Tuan hanya mengurung diri didalam kamar…”
“Hmmm”
“Boleh saya masuk…”
“Baiklah…, tapi biarkan pintu terbuka…”
“Kenapa?”
“Aku menjaga nama baik Nona…”
“Baiklah…”
“Lalu apa yang hendak kau katakan?”
“Iya…untuk apa Tuan hanya mengunci diri dikamar, Moscow kota yang indah…, taman dibelakang rumah ini pun indah…untuk apa Tuan kesini hanya untuk mengunci diri…”
“Baiklah…, tunjukan aku keindahaan taman dibelakang rumah ini…”
Aku pun merapikan bajuku, dan melangkah keluar dari kamar tempatku mengunci diri, beberapa saat kemudian aku sudah berada ditaman belakang.
“Paman Tuan paling suka bagian ini, dari taman ini”
Aku terdiam…
“Paman Tuan sering berdiri memandang warna-warni bunga-bunga itu, saat ia berjalan-jalan ditaman, pasti ia akan berdiri lama disini, tepat disini…”
Aku terdiam…
“Taukah Tuan, kalau paman anda seorang yang pelupa…, aku sudah beberapa kali menjelaskan nama-nama dari tiap bunga itu, tapi ia selalu lupa, ia berkata ‘aku tak perduli apa namanya, yang jelas bunga-bunga itu harus indah, karena aku telah mengurusnya, jika tidak, lebih baik babat saja semuanya…’…, Tuan Besar memang tegas dan lucu…”
Aku mamandangnya yang semangat bercerita…
“Aku sendiri Tuan, aku suka berjalan-jalan ditaman ini…, atau duduk disana, dibawah pohon itu…membaca buku…”
Lalu ia pun menarik tanganku dan berlari ke arah pohon yang dikatakannya…
“Tunggu…tunggu…jangan cepat-cepat….”
“Ahhh…Tuan tak bersemangat sekali…”.
Dalam sesaat, aku telah berada tepat dibawah pohon…
“Sejuk bukan?”
“Hmmmm”.
“Tuan…liat pohon besar ini, ia berdiri kokoh diantara tanaman-tanaman lain, ia hanya satu-satunya pohon terbesar disini, tak ada lagi, walau ia sendiri, mungkin kesepian, dan menderita, tapi ia berdiri kokoh dan menjadi yang terbesar diantara yang lain, bahkan ia memberikan teduhan bagi kita yang berdiri dibawahnya….”
Aku terdiam mendengar kalimat itu…
“Tinggallah disini sejenak, duduklah, dibawah pohon ini, rasakan ketenangannya…, bukankah disini lebih baik daripada Tuan hanya memandang dari jauh taman ini, memandangi dari jauh dari balik jendela itu, tanpa bisa merasakannya…”
Aku makin terdiam dengan apa yang dikatakannya…
“Tinggallah disini”
Elisabeth melangkah meninggalkanku…ia berjalan membelakangiku, lalu tak seberapa jauh ia berpaling kearahku, dan tersenyum.
Senyum yang indah, senyum yang tenang.
Aku hanya bisa diam…tanpa membalas apapun atas senyum yang indah itu.
Lebih hampir seminggu aku tinggal di Moscow, aku menghabiskan waktuku untuk menjalani kesehariaan yang menyakitkan, tetapi aku bangga, aku telah jauh dari masa lalu, aku bangga aku sanggup berada disini, aku tak lari dari sebuah persoalan, aku membawa semua derita kehidupan dalam perjalananku, paman telah memepersiapkan kepergianku ke London.
Selama dua minggu itu pula, Elisabeth telah berusaha membuatku bersemangat, ia telah mencoba dengan segala caranya untuk membuatku tersenyum.
Tetapi aku lebih sering membuatnya terdiam, dan wajah tanpa expresi gembira, itu semua karena aku yang tak dapat tersenyum atau memalingkan muka dengan memandang keluar jendela dengan tatapan yang kosong melihat jauh entah kemana, tapi kemudian ia tersenyum indah.
Semua sikap dinginku tak dapat mengusir senyumnya yang indah.
Tapi apa yang terjadi denganku, semua ingatan akan Gur’yev masih membuatku sering memandang kosong entah kemana.
Tapi ada keteguhan Elisabeth, tanpa pernah hilang berusaha membuatku hidup, ada keteguhan yang terus ada, berusaha membuatku semarak, aku mengharapkan ada sapaan dan pertanda langit bahwa penderitaanku karena Nadia telah berakhir.
Memang seharusnya telah berakhir.
Sering kali logikaku mengajariku bahwa semua yang dilakukan Nadia padaku tak sebanding dengan besarnya cintaku, dan semua itu telah membuatku jauh dari orang-orang yang ku sayang, jauh dari Ivan sahabatku.
Ingin ku kutuki semua perbuatannya, tetapi cinta tak bisa mengutuki apa yang dicintainya. “Aku telah mencintai orang yang salah”.
Tetapi mana bisa cinta salah, cinta datang tanpa sesuatu tanda dari langit atau alam, cinta datang begitu saja, tanpa ketukan pintu, ia datang mungkin lewat tatapan mata, lewat sapaan yang sederhana, atau tutur katanya yang nampak terperlajar, kemudian cinta ada didalam hati kita, wajahnya ada dalam pikiran kita, senyum, canda, tawa, semuanya ada dalam kenangan kita, kita tak tahu kapan ia datang, ia datang seperti pencuri.
Cinta tak pernah salah saat ia datang, ia begitu hangat dan manis, ia begitu pahit dan sesak saat ia pergi, bukan cinta yang pergi tetapi seorang gadis yang ku tinggalkan jauh di Gur’yev.
Mungkin aku lebih memerlukan keteguhan dan keperibadiaan yang kuat lebih dari sekedar cinta, keperibadiaan yang tidak mudah goyah karena tekanan, cinta yang dipegangnya terus sebagai sebuah kekuatan, Tuhan juga kekuatan.
Aku tak tahu, semua bayangan tentang Nadia masih belum pergi, walau seharusnya sudah harus diakhiri.
Hari itu paman melambaikan tangannya saat aku berangkat menuju London dengan sebuah kapal, paman merasa kehilangan aku, ponakannya yang tersayang, yang dianggapnya sebagai anak. Tapi paman ingin aku bahagia, paman ingin aku lepas dari masa laluku yang suram, berharap menemukan keceriaan dan kebahagiaan lagi.
Perjalanan menuju London lebih banyak kuhabiskan dengan menatap lautan yang kosong, merasakan angin yang bertiup, merasakan sakitnya makin dalam didalam sini, aku yang merasakan sebentar saja kehangatan kasih seorang Paman, aku sekarang harus meninggalkannya, dan semua seakan makin jauh, aku tak dapat lagi merasakan halusnya rambut Nadia, aku hanya bisa membayangkan senyumannya datang didalam pikirku atau saat aku memejamkan mata…atau bayangannya muncul dalam tidurku.
Yah, aku sempat memimpikan lagi, tentang pemandangan yang indah dari padang itu.
Aku melihat hamparan padang yang luas, langit begitu biru cerah, burung-burung terbang seperti ingin pergi menuju matahari, menuju timur, aku berdiri ditengah padang itu melihat seluruh hamparannya indah mempesona, tiba-tiba aku melihat Nadia berlari dengan rambutnya yang panjang bergerai, ia berlari sambil memanggil namaku berkali-kali, kali ini lebih sering, senyum dan keceriaanya sejenak membuatku tenang, tawanya saat itu membuatku bahagia, dalam mimpi itu aku begitu bahagia, aku seperti merasakan berada disurga, lambaian tangannya seperti mengajakku mengikutinya berlari, aku ingat dalam mimpi itu aku berlari mengapainya, lalu mengengam tangannya yang halus seperti sutra, dan berlari melalui padang itu.
Indah, bahagia, menyenangkan, aku merasakan kebahagiaan dan damai yang tak pernah kurasakan.
Mimpi itu hadir untuk kedua kalinya, aku pun jadi ingat apa yang pernah dimimpikannya, Nadia pernah bercerita ia bermimpi menunggui aku pulang, disebuah rumah yang sederhana, ia berkata, kita begitu bahagia dengan seorang anak yang berada ditengah-tengah kita. Aku ingat saat aku mendengar cerita mimpinya itu, aku terdiam, entah takut, entah bahagia, entah apa artinya mimpi itu, apakah harapan dihadirkan lalu kemudian dipengal.
Aku masih kadang mendengar suaranya sayup-sayup terdengar ditelingaku…memanggil namaku dengan panggilan yang halus….aku bahagia dengan saat-saat yang aneh ini, tetapi kadang aku menjadi bersedih dalam, bersedih karena luka itu digores lagi dengan ingatan. Dan saat itu aku hanya menitihkan air mata sambil terdiam merasai apa yang ada didalam dada.
Elisabeth harus menyakisakan pemandangan yang mengerikan ini, dan ia terus berusaha membawaku kedalam keceriaannya.
Oh sunguh Tuhan mengirimkan seorang malaikat, malaikat yang membuatku selalu bisa melepaskan masa-masa sulitku.
Dihari yang cerah, Port of London, kapalku baru saja merapat, dan kesibukan bongkar muat pun terjadi, aku baru kali ini menyakisakan kesibukan sebuah kota yang baru aku datangi, membuatku seketika lepas dari kenangan masa lalu yang nampak membuatku seperti pesakitan.
Aku telah dijemput beberapa pegawai Paman, dan dibawa ke rumah yang dimiliki oleh Paman dikota ini.
Elisabeth nampaknya telah benar-benar terbisa mengurus segala sesuatu, ia nampak seperti nyonya besar dikotanya sendiri, saat ia datang menginjakan kaki kerumah yang tak begitu besar ini, tetapi ia telah disibukan dengan mengatur semua hal untuk keperluanku, ia pun memperkenalkanku kepada semua pegawai paman dan pembantu yang bekerja dirumah ini.
Aku ingat ia berkata “Tuah disini tak ada taman seperti dirumah paman tuan, tapi masih ingatkah tuan akan pohon besar itu, saat tuan bersedih, bayangkan saat tuan dibawah pohon itu, jangan bayangkan hal lain, tapi banyangkan tuan ada dibawah pohon itu”.
Aku terkejut dengan kalimatnya itu, ia masih saja mengingatkanku atas sesuatu yang seharusnya tau bahwa aku harus melalui ini. Tapi hati dan pikiranku selalu berkata bagaimana mungkin, tapi logikaku berkata mungkin, Nadia telah menjadi bagian dari miliki orang lain, bukan aku.
Dikota ini, aku lebih sering menghabiskan waktu sendiri dikamarku menulis atau habis dalam kemabukan, atau aku menghabiskan waktu berjalan-jalan dipusat kota, atau menyusuri pinggir-pinggir kota, Elisabeth membiarkanku melakukan semua itu, tetapi ia selalu mengingatkanku akan Pohon yang pernah ia tunjukan kepadaku, aku berasa aneh tetapi kemudian aku tahu, ia sedang berusaha membuatku ceria kembali…waktu terus berlalu, sedang aku masih saja bergulat dengan diriku sendiri.
1 July 1914, aku baru saja mendengar pembunuhan Archduke Franz Ferdinand of Austria, pembunuhan itu telah membawa konflik diEropa, peperangan akan segera terjadi, aku merasa ingin pergi ketengah peperangan itu, bukan untuk membela negaraku, tetapi untuk menghadapi kematiaan, toh hidupku telah berakhir, toh jika aku hilang ditengah peperangan, aku pergi kemana aku harus hidup, bukan karena aku mengakhiri hidup karena tanganku, tetapi karena tangan orang lain, karena cinta, karena Nadia.
Paman mengirimkan surat khusus kepada Elisabeth agar aku tidak terlibat dalam peperangan jika perang pecah, ia tahu benar jiwaku yang keras, jiwaku yang siap melalui apapun, ia pula tak ingin ibu kehilangan anaknya yang dicintainya. Tapi aku lebih siap mati dari pada ingin hidup.
Surat kedua paman lebih banyak dirahasiakan Elisabeth, tapi aku mengetahuinya, aku membaca tentang berita yang terjadi dengan Pangeran Faydor, Tsar menyita seluruh kekayaan keluarganya, karena sebuah kesalahaan fatal yang dilakukannya, Pangeran Faydor pun hidup dengan hutang yang menjeratnya, keluarga mereka hidup dalam kemiskinan, paman begitu bahagia dengan cerita itu, tapi paman tidak menceritakan apa yang terjadi dengan Nadia dengan lebih detail. Diakhir tulisan paman, paman meminta agar surat ini dihancurkan.
Karena surat itu aku pun menjadi tidak tenang, aku ingin pergi mencari tahu keadaan Nadia, tetapi aku begitu jauh darinya, aku mengkawatirkannya, aku menghabiskan malam itu dalam doa-doa, dan kemarahan kepada Tuhan, aku berharap keselamatan bagi ia yang kucintai.
Aku semalaman duduk terdiam dalam lamunan, dan asap rokok memenuhi ruangan, buku catatanku terbuka tanpa aku tulis apapun didalamnya, sebuah pistol tergeletak diatas meja, entah untuk apa aku letakkan disana, mungkin semuanya berakhir saat pistol ini menyalak, tapi tidak, aku tetap hidup malam ini, entah sampai berapa malam lagi penyiksaan ini harus aku lalui, aku harus menghadapi penyiksaan ini.
Elisabeth terdiam diruangan baca, ia menantiku keluar dari kamar, beberapa kali ia mengetuk memanggil namaku, berharap aku keluar, ia mengawatirkan keadaanku, dan aku terus mengusirnya agar membiarkanku sendiri.
Waktu sudah lewat tengah malam, aku keluar dan melangkah ke ruang baca, aku melihat Elisabeth tertidur dimeja baca, aku menghampirinya dan mengusap rambutnya agar ia terbangun, ia terbangun dan tersenyum.
“Saya telah bersalah, seharusnya saya bakar surat itu, saya terlalu ceroboh”.
“Sudah lah, aku harus tahu, maka aku harus tahu dan menerima berita itu”.
Aku memeluknya.
“Pergi tidur…, aku lebih kuat dari waktu lalu, toh aku sudah mati sejak saat aku meninggalkan Gur’yev”
“Jangan berkata demikan Tuan”.
“Pergi tidur…aku akan melalui malam penyiksaan ini sampai esok pagi”
Beberapa hari kemudan akupun memutuskan ikut dalam kancah peperangan, semua orang tak dapat menghentikan niatku, paman berusaha menghentikan niatku, tapi tak seorang pun menghentikan nitaku, selain berdoa menyerahkan diriku kepada Tuhan.
Dihari aku berangkat Elisabeth berkata “Kembalilah dengan selamat, jika tuan tak kembali, pohon ditaman itupun akan mengering dan tak akan hidup lagi, dan semua orang yang mencintai Tuan akan ikut pergi bersama Tuan”.
Aku mengangukan kepala dan memeluknya.
“vais rester en vie, même si mon corps meurt”
Dan baru kali ini aku melihatnya menitihkan air mata. Mungkin ia sedang menghadapi penguburanku daripada mengharapkan kepulanganku.
Lalu aku berkata lagi.
“Si Dieu Veut Que vive je, je serai de retour”
Beberapa hari kedepan kapal yang membawaku mendaratkanku di Eropa.
Setelah Pertempuran Pertama Marne, pasukan Jerman memulai serangkaian outflanking manuver, Britania dan Perancis akan menemukan diri mereka menghadapi pasukan Jerman tertahan dari Lorraine ke pantai Flemish Belgia, Britania dan Perancis, mengambil serangan terlebih dahulu, sedangkan Jerman membela wilayah pendudukannya.
Pertempuran demi-demi pertempuran kulalui, pasukanku lebih banyak sebagai pasukan cadangan daripada bertempur langsung dimedan perang, aku masih berada digaris belakang, sampai akhirnya pasukanku harus maju ke garis depan, saat itu lebih sering melihat mayat-mayat berlimpangan, korban yang menangis dan berteriak kesakitan, darah yang mengalir karena tembusan peluru atau tikaman bayonet, luka yang menganga dan hangus terbakar karena ledakan mortar atau granat.
Aku menjadi manusia yang berbeda, kematian menjadi begitu dekat denganku.
Teriakan kesakitan menjadi sesuatu yang tak lagi aku takutkan, bahkan ku hiraukan, seakan ketakutan akan kematian didalam diriku hilang, aku hanya berkata, kapan giliranku dipanggil, kapan giliranku…kapan giliranku…
Teriakan penderitaan lebih sering aku dengar saat serangan kami pada kubu pertahanan Jerman makin gencar, baru saja seorang tentara tewas dihujam puluhan peluru dari senjata berat, dan badannya tersungkur dan tersangkut, tercabik kawat berduri, dan teriakan terakhir yang keluar dari mulutnya bukan Tuhan, tetapi sebuah nama.
“Anne”.
Lalu ia pergi.
Aku melihat itu sebuah hal yang indah, bukan pertempuran yang indah, tapi kematian yang begitu indah, bukan karena Negara, tetapi karena cinta.
Memang pada akhirnya sebuah nama akan keluar mulut saat tubuh yang mati dan nyawa yang menghadap Tuhan, nama itu adalah nama yang paling kita cintai.
Belakangan ini aku dan beberapa puluh pasukan lebih sering diperintah merebut parit demi parit, entah berapa banyak musuh yang kubunuh dengan tanganku, seorang Kapten heran dengan keberaniaanku.
“Kau memang tidak memiliki nyawa?”
Aku terdiam, lalu berkata
“Yah kau memang sudah tidak memiliki nyawa!”,
“Bagus aku suka itu nak, ada recana buat mu”. Ia mengajakku kedalam ruangan dibawah parit, ia memintaku melakukan perebutan parit lagi, kali ini lebih sulit, dilakukan pada malam hari, pertempuran malam yang tanpa cahaya lebih sulit, dan hanya dibantu flare, membuat pandangan kita sulit mengenali lawan atau kawan, aku diperintahkan merebut parit disebelah barat, parit itu diperkuat lebih banyak pasukan dan senjata berat.
Tepat tengah malam, seluruh pasukan sudah disiapkan,seratus lima puluh orang, seorang pemuda nampak gugup menghadapi serangan kali ini, aku hanya memandangnya dengan tatapan sinis, juga kasihan.
Sambil memukul helmnya, aku berkata kepadanya
“Mari kita menghadap Tuhan sama-sama”
Ia pun berkata
“Apa yang kau katakan”.
“Lupakan…, kau akan mati hari ini, mungkin juga aku”.
“Gila kau” katanya.
Aku tersenyum lebar.
“Kenapa? Kau belum pernah menghadapi maut?”
“Apa kau sudah?”
“Aku sudah mati, sudah sering kali mati! Sudah sering kali menghadapi maut”
Saat kapten keluar dari tempat persembunyiannya, aku tahu serangan akan segera dimulai, tak lama kemudian, serangan pun dimulai, semua orang berlari keluar dari parit menerjang, saat musuh mengetahui serangan itu, mereka pun membuka tembakan, aku terus berlari, tiarap lalu berlari lagi, ledakan mortar terjadi disana sini, hujanan peluru telah merobohkan banyak prajurit, ledakan meriam telah membunuh beberapa prajurit yang berlari bersamaku, teriakan-teriakan kematian sempat mengecutkan hati mereka.
Aku berlari dengan bayonet terhunus, tanpa kekecutan apapun.
Aku siap mati hari ini, memang aku telah mati.
Pertempuran jarak dekatpun terjadi saat pasukan kami berhasil mencapai dan memasuki parit lawan, kali ini terikan lebih banyak karena tikaman bayonet daripada tembusan peluru, seorang tertusuk matanya karena bayonet, seorang lainnya tertembak tepat di dadanya dan menembus paru-paru.
Aku telah membunuh beberapa orang lawan saat serangan itu, aku pun tak merasakan saat sabatan bayonet melukai lenganku, seketika tikaman yang lain menikam pangkal pahaku, besi yang tajam itu menembus daging pangkal pahaku, aku tiba-tiba tak dapat berdiri, aku tak dapat lagi melawan dan seketika sebuah peluru menembus pundak belakangku, dan sebuah peluru lainnya menembus pungungku, aku hanya merasakan dingin, lemah dan mata ku mulai gelap, dan aku tersungkur.
Saat itu kulihat hamparan padang luas ilalang yang berwarna emas, langit begitu biru cerah, cerah sekali, burung-burung terbang menuju barat, menuju terang, suara sungai nampak dikejauhan, aku berdiri ditengah padang itu melihat seluruh hamparannya yang indah, indah, indah mempesona, tiba-tiba aku melihat Nadia berdiri didepanku dengan rambutnya yang panjang bergerai dengan gaun putih bermotif bunga, ia memangil namaku satu kali “Milkael” dengan merdu, lalu ia tersenyum dan keceriaanya, senyum itu membuatku tenang, hamparan itu pun telah membuatku tenang, tapi ia telah membuatku lebih tenang, membuatku lebih bahagia, aku tak menduga aku menemukannya lagi disini ditengah padang yang berwarna emas, aku lebih bahagia saat aku melihat senyumnya lagi, aku begitu bahagia, aku seperti merasakan berada disurga, atau memang aku sudah ada disurga, ia membuka kedua tangannya seperti mengajakku menghampirinya, aku berjalan melewati padang itu, aku dapat rasakan sentuhan ilalang yang kulalui seperti kelembutan yang tak pernah kurasakan, aku begitu tenang, aku begitu tenang, aku tak merasakan degub jantung atau nafas yang melelahkan, aku tak merasakan lagi beban dan kemarahan, atau ketakutan, aku begitu tenang, begitu bahagia, saat aku tiba dihadapannya, aku mengengam tangannya yang halus seperti sutra lalu mengajaknya berjalan melalui padang itu, dan aku begitu bahagia.
Aku begitu bahagia.
September 2008 – 27 Agustus 2010
NY – Semarang – Jakarta
Markus AP
Catatan : cerpen ini ditulis sejak tahun 2008, diberikan untuk cinta dan untuk masa laluku, Novia A, dan pernik kecil ulangan pristiwa dari kisahku Itu….

(1 votes, average: 4.00 out of 5)

Similar/Related Posts