Surat Dari Jakarta (19)
“Each man reads his own meaning into New York” – Meyer Berger
Sahabat, saat aku disini, aku ingin pergi dari sini tinggal disana, apa lagi saat-saat seperti ini, dan saat disana aku ingin disini, hidup disini, walau hidupku ada disini, tetapi jiwaku selalu ada disana.
Dan saat disana, aku diahirkan kembali, dan setiap kali aku disana aku terlahirkan kembali. Entah kelahiran yang keberapa, tetapi aku suka proses kelahiran itu. Kelahiran yang selalu membawaku ketempat-tempat yang baru.
Untuk itu aku punya arti khusus kepada tempat itu, bukan karena kekaguman akan bangunan megah, bukan karena kemewahan, bukan karena gemerlap lampu, bukan karena status, tetapi karena disana aku menemukan kebebasan yang tidak di belengu cara fikir normatif orang timur, saat disana aku menemukan penghargaan yang selayaknya. Aku harus jujur, saat disana aku juga dijauhkan dari kemunafikan orang timur, saat disana aku menemukan kemajuaan berfikir yang tidak ditemukan oleh orang timur.
Jika semua orang meninggalkan kebisingan, menjauhinya, lalu tinggal ditempat yang penuh ketenangan, aku malah berasa mati ditempat yang tenang, aku malah memerlukan kebisingan, karena disana aku tau tempat yang penuh kekerasan, tantangan, derita dan pukulan. Semua itu yang membawaku kedalam setiap proses kelahiran, dan alasan lainnya aku tak ingin lari dengan meninggalkan tantangan dengan pergi ketempat yang tenang, banyak orang melarikan diri dari sebuah tantangan dengan menjauhi diri dari kebisingan dan pergi ke tempat yang penuh ketenangan.
Sahabat, aku memerlukan saat-saat seperti waktu itu, saat dimana aku menemukan Tuhanku didalam kebisingan, dan IA sering datang disaat yang paling bising dan menyesakkan, IA datang dengan mengajarkan apa artinya terpaku diatas salib, IA datang dengan mengajarkan besar dan murninya cinta yang lebih sering di kecup oleh Yudas dan dijual demi kepingan emas. Sahabat, aku ingin pergi dari sini tinggal disana.
1/6/2010 – 12/7/2010 5:03:21 PM
Markus AP



Similar/Related Posts