Cappuccino Story
Jika cinta dapat membuat tertawa, tentu kita semua tertawa, sekalipun cinta pada akhirnya mendatangkan kebahagiaan atau menyisakan tangisan. Kita akan selalu tertawa.
Jika cinta dapat membuat tertawa, maka hari ini aku akan tertawa, dan di waktu lalu aku akan tertawa, esok atau sampai kapan pun aku akan tertawa, walau sekalipun aku terluka. Tetapi aku akan selalu tertawa.
Tetapi cinta tidak demikian, cinta tak selalu dapat membuat kita tertawa, lebih tepatnya cinta tak selalu dapat membuatku tertawa, ia selalu menyisakan sepengal harapan yang dicekik, keinginan yang dimatikan, ia selalu meninggalkan tangisan dan pada akhirnya mungkin kematian.
Jika cinta dapat membuat tertawa dan mendatang kan kebahagiaan, mungkin hanya sebagian kecil orang yang merasakan cinta itu. Tapi aku selalu merasakan cinta yang jauh dari kebahagiaan.
Tapi begitulah cinta seharusnya. Cinta selalu lebih menyisakan sepengal cerita kematian daripada sebuah cerita yang membahagiakan.
Aku ingat aku duduk disamping sebuah gereja tua, beberapa waktu dibelakang saat usiaku masih sangat muda, saat itu dedaunan dari pohon berguguran, langit mendung, angin bertiup sepoi, dengan secarik kertas lusuh aku menulis, menulis sebait-bait puisi, puisi yang mewakili keberadaanku saat itu.
Lalu didalam gereja itu pula aku berdoa, berdoa dengan semua harapan, berdoa kepada pemilik segala harapan, berdoa dengan meneteskan tiap titik kristal suci dari kedua mataku, berdoa bagi kebahagiaan orang yang sangat aku cintai, doa itu dipenuhi secepat waktu tanpa penantian, sejak itu aku memahami sedikit tentang cinta.
Cinta yang selalu tidak melulu mementingkan diri sendiri dan berharap memiliki seseorang yang kita cintai, bahkan saat aku membiarkan diriku dibenci agar ia kembali kepada jalannya atau keluarganya, itu juga cinta.
Bahkan saat aku tak dapat membiarkan orang yang kucintai selalu bersedih dan membiarkan diriku diusir, itu juga cinta.
Cinta yang lahir dari sebuah keinginan untuk tidak mementingkan diri sendiri, cinta yang sanggup mengorbankan diri, cinta yang jauh dari sekedar perasaan, cinta yang lebih disadari karena keinginan dan harapan bagi kebahagiaan yang dicintai, tapi siapa yang mau dengan cinta dengan pemahaman demikian?.
Kita semua ingin cinta yang selalu membahagiakan, selalu membahagiakan diri sendiri.
Kamu, juga semua orang, mungkin juga aku. Seberapa besar kita mencintai agar melihat kebahagiaan bagi orang yang kita cintai.
Hari ini, semua ingatan akan waktu itu masih hangat, semua bait, semua gerak, semua pristiwa masih harum, hari ini aku berada diruangku ingin tertawa, tetapi lebih banyak diam, ingin menangis tapi lebih banyak ingin mati akan semua yang kurasakan hari ini.
***
Musim Hujan Dibulan Juni
Aku duduk menghadap cermin besar disudut sebuah coffeshop dan ia duduk membelakangi cermin itu, tak lama kemudian pesanan kami datang.
Aku memesan sebotol peach tea dan ia memesan secangkir hot cappuccino.
“Tunggu.., jangan diaduk”, kataku
“Kenapa?”
“Ada cara yang benar menikmati cappuccino dan yang tidak diketahui orang Indonesia umumnya”
“Caranya?”
“Cappuccino lebih baik disajikan dalam cangkir porselen, yang jauh lebih baik karakteristiknya menahan panas dari gelas atau kertas. Busa di atas cappuccino bertindak sebagai penahan (isolator) dan membantu mempertahankan panas kopi, yang memungkinkan untuk tetap panas, jadi jangan biarkan busa nya hancur, biarkan busanya tetap demikian”
“Lalu bagaimana menuangkan gula kedalamnya”
“Tuangkan dipinggir dan aduk perlahan di pinggir cangkir”.
Ia pun mengangkat cangkir itu dan meneguknya dengan anggun, sedikit busa melekat di bibirnya yang tipis.
Aku menyandarkan badanku ke bangku memandang ke sekeliling, terdiam sejenak, melihat semua orang diruangan itu dari pantulan cermin didepanku.
“Ayo dong jangan diam saja”
“Hmmm aku mau cerita apa, dari tadi aku sudah cerita.”
“Kamu cerita aku mendengarkan, aku akan menanggapi cerita mu”
Lalu aku pun mulai bercerita seperti layaknya seorang pendongeng, sesunguhnya aku tak pandai bercerita, selain cerita tentang kehidupanku sendiri, cerita tentang sahabat-sahabatku, cerita tentang keluarga yang membesarkanku, cerita tentang kehidupan, cerita tentang cinta, dan pengalamanku bersama cinta.
Mana yang lebih menyenangkan bagiku untuk kuceritakan kepadanya atau kepada semua orang, selain pengalamanku besama cinta, pengalaman yang berbeda dengan pengalaman imajinasi novel picisan umumnya, pengalaman yang nyata terjadi dalam kehidupan anak manusia, yaitu aku.
Yah cerita yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia, bukan sebuah cerita yang hadir dari seorang malaikat, bukan dewa, bukan tuhan, tetapi seorang manusia, yaitu aku, yah aku manusia, manusia yang diberikan rasa dan pikiran, manusia yang memiliki hati, manusia yang dapat merasakan bahagia, tersenyum hidup saat mendengar tawanya dan melihat senyumnya, atau ceritanya yang membuat kedua pipiku sakit menahan tawa.
Dan aku juga manusia yang dapat tercekik, berat, sakit, dalam, tesayat walau aku memiliki pengalaman yang banyak bersama cinta, pengalaman yang tak bisa begitu saja mentiadakan semua rasa yang berat ini.
Aku bukan malaikat, aku bukan tuhan, aku bukan dewa.
Malaikat hanya memiliki kepatuhan, malaikat tak memiliki cinta. Manusia memiliki cinta, perasaan, pikiran, kepatuhan, walau manusia lebih sering memilih jalan-jalan yang jauh dari pikiran, perasaan dan kepatuhannya kepada Tuhan,
Dan sekali lagi aku bukan malaikat, aku manusia yang merasakan cinta, dan pedihnya karena cinta.
Setelah ceritaku yang kesana kemari, aku pun mengangkat bandanku berdiri dan duduk disebelahnya, berharap suaraku tidak ditelan oleh keramaiaan ruangan itu, berharap sedikit membuatnya cangung dan aku yang sesungguhnya lebih berdebar dan cangung daripada dirinya.
Lalu aku berkata
“Haruskah kamu memindahkan tembok pembatas ini”
Ia pun sedikit bingung, ia baru sadar saat aku menunjuk tas nya yang telah membatasi duduk kita yang besebelahaan.
“Biarkan saja disini” dengan sedikit cangung.
Lalu aku pun mulai bercerita tentang pengalamanku yang lain. Lebih banyak tentang pegalamanku bersama cinta.
“Aku sudah membaca tulisanmu, apakah semua pengalaman itu kau tuliskan?”
“Ya sebagian”
“Lalu akankah aku juga akan berakhir kau tuliskan juga”
“Semua orang selalu berharap bahagia, tak ada seorang pun diatas bumi ini yang menginginkan kesedihan, dan jika aku harus menuliskannya, semoga aku menuliskannya dengan harapan membahagiakan diakhir cerita”
Ia pun terdiam.
Lalu aku berkata lagi.
“Semua kenangan tak dapat dibuang dalam benak, walau semua yang ada didalam hati telah habis”.
Ia pun tetap terdiam.
Aku menikmati peach tea dari gelasku, dan ia pun menikmati cangkir cappuccino nya yang mulai dingin.
***
Tak seorang pun ingin hidup jauh dari kebahagiaan.
Seorang tua yang lumpuh nanti duduk menatap jendela dan memperhatikan daun-daun yang jatuh dari pohon, atau menatap langit yang mendung di akhir usianya, ia berharap ia dapat mati dalam pelukan orang yang dicintainya.
Tak ada yang membayangkan, bayangan seorang tua yang nanti duduk menatap tembok dan memperhatikan dindingnya kosong tanpa foto orang yang kasihinya, ia pun tak ingin mati sendiri dan membusuk dikamar yang tanpa seorang pun tahu siapa keluarganya, semua orang pasti mengharapkan akhir yang baik, indah, agung.
Semua kehidupan seperti sebuah cerita yang berakhir indah.
Tetapi nyatanya tidak seluruh kehidupan berakhir indah.
Akupun menyelesaikan rokokku dan mengajaknya pulang, kami meninggalkan tempat itu, karena waktu telah jauh malam, tanpa terduga diluar gedung, malam itu hujan turun membasahi tanah, langit yang gelap, makin gelap tanpa bulan, hujan diawal bulan Juni yang dingin.
Angin yang kencang meniupkan butir-butir hujan, kami berdiri menanti taxi yang tak kunjung datang, aku berdiri menyebelahi dirinya, menutupi nya dari butir-butir hujan yang ditiup angin yang mungkin melukainya.
Saat yang tak kuduga tangannya yang cangung merangkul lenganku. Begitu lucu saat rasa cangungnya berbagi denganku dan aku menjadi cangung juga, bagiku perasaan saat itu begitu lucu bagi seorang yang memiliki pengalaman dengan cinta, tapi hari itu aku seperti seorang anak muda yang bodoh, hijau tanpa pengalaman.
Memang kita tak akan pernah dapat menjadi lebih pengalaman dengan cinta, karena kita tak akan pernah memahaminya secara utuh, karena cinta tak sekedar dipahami dari sebuah perasaan, tapi sebuah detail kecil yang kita mungkin tak sadari.
Saat itu pula entah apa, entah kekuatan apa, jemariku mengengam jemarinya, dan detik itu dapat kurasakan detak jantungnya yang berdetak keras, seakan rasa cangungnya pun berubah menjadi gemuruh didalam dada. Seakan gemuruh petir dilangit bungkam dengan gemuruh yang kecil ini.
***
Hari itu, masih musim hujan dibulan Juni, aku duduk ditempat yang sama seperti waktu itu, dedaunan dari pohon berguguran, langit mendung, angin bertiup sepoi aku ingin tertawa, tetapi cinta kali ini tak membuatku tertawa, cinta kali ini membuatku berdoa, berdoa dengan segala harapan kepada pemilik segala harapan, berdoa dengan meneteskan tiap titik kristal suci dari kedua mataku, dan berharap segala jawaban tak menunggu waktu dalam penantian.
Hari ini, segala cerita dibalik gemuruh petir, rintik hujan, secangkir cappuccino, semua ingatan akan waktu itu masih hangat, semua detail, semua gerak, semua cerita, semua kata, semua pristiwa masih harum, hari ini aku berada diruangku ingin tertawa mengenang, tetapi lebih banyak diam, ingin menangis tapi lebih banyak ingin mati, dan seakan semuanya mematikan, saat ku tulis semua kisah ini.
Markus AP
8/6/2010 8:24 PM


Similar/Related Posts