Wanita Dalam Tubuh Dewi (3)
Wanita dalam tubuh dewi, berdiri diujung tebing jurang, memandang kosong kepada ketidaktahuan, tak didengarnya lagi suara-suara alam, tak disapanya lagi suara-suara surga, walau malam mencekam tiba, suara jangkrik melantun merdu dalam sunyi, suara lolongan anjing hutan terdengar dikejauhan, dingin menyengat sampai ke sendi-sendi tulang dan sumsum, ia tetap tak bergeming diujung tebing.
Wanita dalam tubuh dewi dengan tatapnya kosong kepada ketidak tahuaan,tak disimaknya lagi suara-suara bumi, tak diindahkannya lagi suara-suara langit, malam makin mencekam, ruh-ruh dari pekuburan tua mulai bangkit, semua mahluk sembunyi dibalik pintu, bau kematian menyengat didalam tiap getir hati dan detak jantung.
Wanita dalam tubuh dewi, berdiri diujung tebing jurang tak bergeming, memandang kosong kepada kebijaksanaan, tubuhnya siap dimangsa oleh ruh-ruh dari pekuburan tua, yang bersembunyi dibalik gelap, saat itu bau kematian makin menyengkat didalam tiap getir hati dan detak jantung.
Disurga sana, malaikat datang kepada Sang Hyang Widhi, lalu berkata
"Seorang wanita berdiri diujung tebing, menghadapai dua kematian, berbuatlah sesuatu"
Sang Hyang Widhi terdiam
Malaikat itu berkata lagi
"Seorang wanita berdiri diujung tebing, menghadapai dua kematian, berbuatlah sesuatu"
Sang Hyang Widhi terdiam
Hingga ketiga kalinya Sang Hyang Widhi tetap terdiam, lalu Ia berkata.
"Pergilah secepat cahaya, keatas bukit disebelah timur, bawalah seorang pertapa kepada wanita diatas bukit itu"
Dengan secepat cahaya malaikat tiba diatas bukti disebelah timur, diketuknya pintu rumah kayu milik sang pertapa. Belum selesai ketukan yang terakhir, sang pertapa berkata dari dalam.
"Aku sudah tahu maksud tuan, tuan datang bukan atas kehendak Sang Hyang Widhi, tapi atas permintaan tuan sendiri, karena rasa iba dan rasa cinta dan atas kehendak Sang Hyang Widhi melalui wahyuNya, aku akan menolong tuan, dan pergi bersama tuan, tapi dengarkan syarat ku"
"Apa syarat Tuan" kata sang Malaikat.
Lalu kata sang pertapa
"Biarlah yang baik jadi yang baik, tetapi biarlah yang tak baik tetap menjadi demikian, maka akhir dari semua itu adalah biarkan kesudahan dan penyesalan yang tanpa akhir"
"Baiklah" kata sang Malaikat, ia tak memahaminya karena ia ingin segera membawa sang pertapa segera keatas tebing.
Dengan secepat cahaya pertapa dan malaikat itu berdiri tak jauh dari tebing.
Wanita dalam tubuh dewi, menari-nari dikelilingi ruh-ruh dari pekuburan tua, menari tak lagi mendengarkan suara alam, tak lagi mengindahkan suara langit, tak lagi memandang kebijaksanaan, tak ada lagi arti bagi sebuah pemahaman, tubuhnya menari dan menari dikelilingi ruh-ruh dari pekuburan tua. Tubuhnya bau kematian, matanya tak lagi memancarkan kehidupan.
Lalu sang malaikat berkata kepada pertapa itu.
"Berbuatlah sesuatu, kerluarkan kesaktian mu, bersabdalah sesuatu, selamatkan wanita itu dari kematiaan"
Sang pertapa terdiam dan berkata
"Lihatlah dan perhatikan sebentar lagi apa yang terjadi"
Wanita dalam tubuh dewi, menari-nari dikelilingi ruh-ruh dari pekuburan tua, menari tak lagi mendengarkan suara alam, tak lagi mengindahkan suara langit, tak lagi memandang kebijaksanaan, lalu ia berpaling memandang kepada sang malaikat dan sang pertapa.
Lalu ia berkata dengan suara keras.
"Setan….setan….setan….pergi kalian….pergi kalian, kalian penghujat"
"Setan….setan….setan, Sundal….sundal….sundal, terkutuk kalian".
Seperti seorang yang kesetanan dan gila ia mulai memaki.
Katanya kepada ruh-ruh dari pekuburan tua itu ia memerintah.
"Pergi dan bunuh mereka.bunuh mereka para penghujat kebenaran dan cinta".
Ruh-ruh dari pekuburan tua terdiam, tanpa berbuat apapun. Karena ruh-ruh itu tahu, ia tak akan pernah memenangkan satu pertempuranpun melawan sang pertapa.
Lalu ia berpaling memandang kepada sang malaikat dan sang pertapa, sekali lagi.
"Setan….setan….setan….pergi kalian….pergi kalian, kalian penghujat".
"Setan….setan….setan, Sundal….sundal….sundal, terkutuk kalian".
Sang Hyang Widhi memejamkan mata, dan menunduk, dengan secepat cahaya, sang malaikat dan sang pertapa telah berada di bukti sebelah timur.
Wanita dalam tubuh dewi kembali menari-nari dikelilingi ruh-ruh dari pekuburan tua, menari tak lagi mendengarkan suara alam, tak lagi mengindahkan suara langit, tak lagi memandang kebijaksanaan.
Diatas bukit disebelah timur, sang pertapa duduk memadangi bulan dan tersenyum, sang malaikat terkulai letih dan bersedih. Sang malaikat menangis, ia tak mengerti, dadanya sesak tak memahami kenapa rasa cinta tak punya arti.
Lalu sang pertapa berkata.
"Biarlah yang baik jadi yang baik, tetapi biarlah yang tak baik tetap menjadi demikian, maka akhir dari semua itu adalah biarkan kesudahan dan penyesalan yang tanpa akhir"
Lalu sang malaikat berkata
"Apa akhir dari semua kesudahan itu?"
Lalu sang pertapa tersenyum lalu berkata.
"Biarlah yang baik jadi yang baik, tetapi biarlah yang tak baik tetap menjadi demikian, maka akhir dari semua itu adalah biarkan kesudahan dan penyesalan yang tanpa akhir, akhir kesudahan itu adalah kematian jiwa"
Sang pertapa meninggalkan sang malaikat sendiri memandang bulan dalam getir.
19/4/2010 4:02 AM
Markus AP


Similar/Related Posts