home
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

help
Surat Dari Jakarta (14)
By. marcus . April 2nd, 2010 at 8:51 pmprofile
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Surat Dari Jakarta (14)

Diwaktu subuh yang masih gelap, adalah ruang waktu yang paling inspiratif. Diruang ini aku menjelajah alam berfikir…disanalah perenungan-perenungan memberikan maknanya.

Cinta, kenapa cinta selalu jadi hujatan manusia, cinta yang begitu agung, dipersalahkan atas sebuah penderitaan manusia, wanita-wanita yang dihianati, wanita-wanita dalam sangkar emas yang elok tanpa kebahagiaan, wanita-wanita dalam deritanya mempersalahkan cinta sebagai penyebab kehancuran hidupnya, apakah jika sebuah kehidupan tidak dihianati kemudian cinta diagungkan?.
Cinta tak perlu menjaminkan dirinya, ia tak perlu memberikan garansi untuk kebahagiaan manusia, karena cinta selalu memberikan kebahagiaan, cinta hanya memiliki sifat memberikan kebahagiaan, ia tak memiliki sifat yang menghancurkan.
Lalu bagaimana mungkin jika manusia tak bahagia?.
Tentu itu semua bukan disebabkan oleh cinta, tapi bagaimana segala ketidak bahagiaan manusia diatas bumi ini, itu disebabkan karena tidak semua manusia memiliki cinta, tidak semua manusia memaknai cinta yang selalu mendatangkan kebahagiaan, jika setiap orang dapat memaknai cinta tentu tak ada seseorang yang akan menghianati istrinya demi wanita lain, tak ada seseorang yang mau untuk menyakiti hati kekasih hatinya untuk hal-hal yang bodoh. Tak ada seseorang yang ingin membunuh manusia lain lewat perang.
Cinta selalu membahagiakan, cinta selalu suci, cinta selalu agung, cinta tidak mendatangkan penderitaan, sekalipun cinta yang berkorban, maka pengorbanan adalah rasa sakit yang membahagiakan, pengorbanan dengan rasa kebahagiaan yang agung. Itulah yang terjadi dengan golgota.

Agama, apakah sang Kehidupan melahirkan keagamaan?, IA melahirkan keimanan, apakah sang Kehidupan dapat ditundukan dengan segala hal yang ritual?, apa yang terjadi diatas Moria saat Abraham menyerahkan cintanya untuk dipersembahkan bagi cintaNya, tak pernah ada yang menyamai oleh manusia saat ini, Abraham tak membantah, sekalipun mungkin hatinya dihancurkan, pikirannya penuh praduga, tapi apa yang dilakukannya itu bukan sebuah ritual, tetapi sebuah keimanan kepadaNya yang Maha Agung, itu kenapa ia dengan percaya berkata “Ia sendiri yang akan menyediakan domba bagi persembahan kepadaNya”.
Dan demikianlah yang terjadi kemudian ribuan tahun selanjutnya, seorang yang tanpa cela telah dikorbankan bagi kehidupan.
Lantas apakah ritual bisa membuat Tuhan di tenangkan?, tidak, sebab tanpa kecintaan kita kepadaNya, tanpa hati kepadaNya, maka segala hal yang agamawi dan ritual tak ada faedahnya bagiNya.
Lalu apakah lewat agama, IA membedakan kemanusiaan? Apakah manusia yang  membinasakan keimanan manusia lain, entah lewat pembunuhan atau perang yang membunuh manusia lain yang jelas berbeda iman, bisa disebut memiliki keimanan yang baik?.

29/3/2010 4:59 AM
Markus AP

2 Responses to “Surat Dari Jakarta (14)”

Apakah Tuhan butuh agama???
Apakah Tuhan butuh liturgi???
Apakah Tuhan butuh orang-orang yang berdiri dipinggir jalan sambil meneriakan namaNya???
Apakah Tuhan butuh orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan tapi sebenarnya hatinya jauh dari Tuhan???

GAK!!!

Tuhan butuh hati yang tulus… Tuhan butuh hati yang melayani… Tuhan butuh iman yang benar…

Leave a Comment

 
advertise

e-mail
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA