Surat Dari Jakarta (14)
Diwaktu subuh yang masih gelap, adalah ruang waktu yang paling inspiratif. Diruang ini aku menjelajah alam berfikir…disanalah perenungan-perenungan memberikan maknanya.
Cinta, kenapa cinta selalu jadi hujatan manusia, cinta yang begitu agung, dipersalahkan atas sebuah penderitaan manusia, wanita-wanita yang dihianati, wanita-wanita dalam sangkar emas yang elok tanpa kebahagiaan, wanita-wanita dalam deritanya mempersalahkan cinta sebagai penyebab kehancuran hidupnya, apakah jika sebuah kehidupan tidak dihianati kemudian cinta diagungkan?.
Cinta tak perlu menjaminkan dirinya, ia tak perlu memberikan garansi untuk kebahagiaan manusia, karena cinta selalu memberikan kebahagiaan, cinta hanya memiliki sifat memberikan kebahagiaan, ia tak memiliki sifat yang menghancurkan.
Lalu bagaimana mungkin jika manusia tak bahagia?.
Tentu itu semua bukan disebabkan oleh cinta, tapi bagaimana segala ketidak bahagiaan manusia diatas bumi ini, itu disebabkan karena tidak semua manusia memiliki cinta, tidak semua manusia memaknai cinta yang selalu mendatangkan kebahagiaan, jika setiap orang dapat memaknai cinta tentu tak ada seseorang yang akan menghianati istrinya demi wanita lain, tak ada seseorang yang mau untuk menyakiti hati kekasih hatinya untuk hal-hal yang bodoh. Tak ada seseorang yang ingin membunuh manusia lain lewat perang.
Cinta selalu membahagiakan, cinta selalu suci, cinta selalu agung, cinta tidak mendatangkan penderitaan, sekalipun cinta yang berkorban, maka pengorbanan adalah rasa sakit yang membahagiakan, pengorbanan dengan rasa kebahagiaan yang agung. Itulah yang terjadi dengan golgota.
Agama, apakah sang Kehidupan melahirkan keagamaan?, IA melahirkan keimanan, apakah sang Kehidupan dapat ditundukan dengan segala hal yang ritual?, apa yang terjadi diatas Moria saat Abraham menyerahkan cintanya untuk dipersembahkan bagi cintaNya, tak pernah ada yang menyamai oleh manusia saat ini, Abraham tak membantah, sekalipun mungkin hatinya dihancurkan, pikirannya penuh praduga, tapi apa yang dilakukannya itu bukan sebuah ritual, tetapi sebuah keimanan kepadaNya yang Maha Agung, itu kenapa ia dengan percaya berkata “Ia sendiri yang akan menyediakan domba bagi persembahan kepadaNya”.
Dan demikianlah yang terjadi kemudian ribuan tahun selanjutnya, seorang yang tanpa cela telah dikorbankan bagi kehidupan.
Lantas apakah ritual bisa membuat Tuhan di tenangkan?, tidak, sebab tanpa kecintaan kita kepadaNya, tanpa hati kepadaNya, maka segala hal yang agamawi dan ritual tak ada faedahnya bagiNya.
Lalu apakah lewat agama, IA membedakan kemanusiaan? Apakah manusia yang membinasakan keimanan manusia lain, entah lewat pembunuhan atau perang yang membunuh manusia lain yang jelas berbeda iman, bisa disebut memiliki keimanan yang baik?.
29/3/2010 4:59 AM
Markus AP



Similar/Related Posts