Surat Dari Jakarta (12)
Hidup ini ditempa didalam situasi-situasi yang paling sulit, melalui keadaan-keadaan yang tak pernah dipermudah, tapi seketika aku tak pernah lari dari keadaan-keadaan yang demikian. Itu kenapa waktu yang ada tak ingin terlalui untuk sesuatu yang tak membawa sesuatu yang baik.
Aku tak pernah disilaukan oleh kedudukkan, keindahan, kemilikan dan keberadaan, aku selalu memuja satu-satunya kemuliaan milikNya.
Mungkin ini yang terjadi kepada orang yang pernah disapaNya, orang yang pernah mencariNya dan menemuiNya, mendapatkanNya, lalu jika seseorang telah menyapa pemilik segala keberadaan, apa indahnya segala yang ada didunia ini?, apa mulianya segala kemilikan dan kedudukkan.
Hidup yang telah ditempa dalam segala situasi yang paling sulit, telah menghadirkan keadaan-keadaan yang dipermudah olehNya, seketika kekuatan selalu ada untuk tidak lari dari keadaan-keadaan yang demikian. Itu kenapa waktu yang ada tak ingin terlalui untuk sesuatu yang sia-sia.
Dan rahasia-rahasia ini tak banyak yang mengetahuinya. Itu kenapa Rumi telah memuja cintaNya dan memujaNya, telah mendapatkan sebuah kesatuaan denganNya, itu kenapa Syeh Siti Jenar menganggap penyatuaan kemanusiaan dengan sang Maha adalah keindahaan, ia menganggap hukum-hukum dan keberadaan yang ada didunia, sia-sia dibandingkan penyatuaan itu.
Belakangan ini aku telah dipanggil, dipanggil untuk meninggalkan sejenak keberadaan dan keadaan, tiba-tiba jalan setapak menuju keatas bukit itu mulai nampak, jubah yang selama ini lusuh saat perjalanan telah diputihkan, aku telah melalui belantara-belantara, melalui lembah-lembah, sungai-sungai dan gurun-gurun, saatnya menaiki bukit-bukit, menyapa keheningan yang hening, mencari suaraNya ditengah keheningan yang agung.
Aku tahu hal-hal yang tak dapat dijelaskan lidah, akan menyelubungi keheningan itu, jubah putih yang dunia tak akan ada artinya dengan selubung keagungan yang menyelimuti, perasaan-perasaan agung yang tak bisa diutarakan dengan lidah, lidah kelu, lidah tak dapat bergerak, hanya ruh dalam diri manusia yang melonjak dengan segala rasa yang paling mulia.
Lalu apa yang aku akan dapatkan kemudian, tetapi aku seketika tahu, aku akan memperoleh lagi pewahyuan karena mata yang terbuka ini, dan sebuah perjalanan baru yang akan kulalui, segenap kebijaksanaan yang kuperoleh akan menyertai.
Aku menanti saat panggilan untuk naik keatas bukit-bukit itu datang lagi, dan saat itu langkah-langkah ini akan diperkuat, tanpa merasai kelelahan. Aku merindukan panggilan itu…inilah saatku pulang….tapi aku merindukan saatku pulang dan tidak pergi kemana-mana lagi selain memandang kemuliaanNya sepanjang waktu.
4/3/2010 3:38 AM
Markus AP



2 Responses to “Surat Dari Jakarta (12)”