Parodi : Pergulatan Cinta
Saya memang senang bikin judul aneh-aneh, kali ini catatan ini saya beri judul pergulatan cinta, duh padahal jelas-jelas cinta itu gak bisa gulat, cinta juga bukan pertandingan, walau banyak orang bertanding untuk mendapatkan cinta…wait..wait mendapatkan cinta atau mendapatkan seseorang nih?….saya lebih setuju kalau mendapatkan seseorang, walau cinta kan gak selalu kita dapatkan walau ada dua cinta terjalin antar dua manusia.
Ahhh saya jelas semangat kalau membahas cinta, demen banget deh, tapi bukan berarti kalau saya senang membahasnya artinya bahwa pelajaran yang saya dapatkan tak perlu diungkapkan, dan cukup dihati saja…lalu bagaimana saya menjawab orang yang bertanya jika tidak diungkapkan? (padahal saya juga masih belajar untuk satu hal ini).
Dan jika saya ungkapkan kan bukan berarti saya ngegombal?, atau mungkin karena culture orang jawa yang selalu berpandangan diam adalah emas, maka gak perlu disesumbarkan….
Lalu bagaimana dengan Plato yang berkata karena cinta semua orang jadi pujangga, lalu bagaimana John Powell SJ menulis buku “cinta tanpa syarat”, yang mencerahkan pikiran saya disaat usia saya muda sekali, tanpa John Powell menulis buku saya tentu tak akan pernah terbuka matanya, lalu bagaimana dengan pengalaman-pengalaman yang begitu banyaknya yang sayang jika tidak dijadikan bahan renungan bagi orang lain.
Siapa tahu bisa mencerahkan juga orang lain.
Siapa tahu bisa juga memberikan harapan bagi orang lain bahwa cinta yang sejati itu masih ada.
Cinta jelas perlu diexpresikan, diungkapkan kalau perlu diajarkan…karena jelas banyak orang telah mengsampingkan prinsip dan hal-hal yang mendasar dijaman yang serba maju ini.
Ngaku gak loe kalau sekarang ini banyak orang berkata “Bullshit lah itu cinta, mang loe mau makan pake cinta?”, banyak orang telah mengesampingkannya dan mengaburkannya dengan nilai-nilai yang salah.
Padahal jelas tanpa cinta, kita tak akan bisa bahagia…bahkan tak akan bisa hidup, bisa jadi tak akan bisa dapat uang….
Loh loh koq bisa tak dapat uang? Mang jualan cinta cus?.
Coba renungkan, tanpa cinta seorang suami dan ayah kepada anak dan istrinya, tentu ia tak akan berjuang untuk mendapatkan rejeki bagi keluarganya yang dicintainya…ya ngak?, seorang ayah dan suami yang begitu mencintai istri dan keluarganya ia akan stress dan fight abis-abisan untuk itu.
Sejenak kita renungkan cinta bisa jadi kekuatan dan motifasi yang mendorong seseorang.
Sejenak kita renungkan mungkin cara pengexpresiaan bapak tadi kepada istri dan anaknya lewat usaha dan perjuangan untuk membiayai keluarganya, karena tak ada seorang yang mencintai istri dan anaknya tidak mencarikan nafkah kepada orang yang dicintainya.
Jelas cinta perlu diexpreikan. Tapi jangan sampai kabur presepsi kalau cinta = uang.
Maka tanpa cinta diexpresikan, kita bisa lihat banyak wanita-wanita yang menderita karena pasangannya cuek abis gak bisa mengexpresikan cinta, lalu bagaimana pengexpresian cinta ISA kepada manusia dengan mengorbankan dirinya tanpa disalibkan?.
Saya harus jujur, jelas susah mengungkapkan dan mengambarkan cinta secara definitive obyektif, cinta selalu berakhir pada sebuah “teori” dan sebuah pendapat yang subyektif.
Apa itu cinta? Apakah cinta itu sebuah perasaan, atau cinta itu sebuah konsep?.
(Untuk itu cinta menjadi bahan pembahasan yang tak pernah habis sepanjang masa).
Sedangkan kita bisa saja dikaburkan dengan cinta = romantisme, atau bisa jadi cinta = keserakahan, cinta = kecantikan, cinta = uang.
Tapi disanalah saya melihat begitu luar biasanya cinta, cinta menjadi kaya dan luar bisa, karena digambarkan dengan bemacam-macam definitive, membuat cinta begitu agung….cinta yang devinitive secara subyektif menjadi undevinitive secara obyektif dan general.
Yang intinya, cinta bisa digambarkan sebagai penderitaan, tapi juga bisa digambarkan sebagai keindahaan, bisa juga digambarkan dengan antusiasme, metodis, puitis, analogis, teoritis, analitis, spiritual atau bisa jadi dengan sangat skeptis, tergantung pengalaman dan perenungan masing-masing menterjemakannya, tentu semua itu diperolehnya dari pengalamannya mencari dan berjalan bersama cinta…sekali lagi ini dalam skala yang subyektif.
Bagi saya pribadi, karena kegemaran saya dengan sastra maka cinta bisa begitu puitis, karena saya seorang yang realis maka cinta bisa begitu “realistis”, karena saya juga seorang akademisi, maka cinta bisa jadi sangat teoritis dan analitis.
Sekali lagi saya berkata, cinta begitu agung, untuk itu saya selalu senang mengunakan ungkapan yang dikatakan Rasul Paulus “Betapa dalam, betapa lebar, betapa panjangnya cinta”…yang maksudnya begitu sulitnya diungkapkan, tapi bukan berarti tidak dapat diungkapkan kan…
Dari bahasan saya baru saja, saya jelas tidak memberikan satu definisi kusus tentang cinta, “cinta itu apa”, cinta bisa begitu tidak dapat dideskripsikan, jika saya bisa mendeskripsikannya tentu sebatas semesta pengalaman-pengalaman, perasaan-perasaan, jika saya bisa mengungkapkannya tentu sebatas pemahaman yang subyektif, tapi saya tahu, cinta memiliki nilai-nilai luhur yang saya percayai…(saya pernah menuliskannya dalam sebuah prosa “cerita seorang tua tentang cinta”).
Dan beberapa nilai yang saya pegang dan akan saya singgung dalam catatan ini adalah cinta berarti kekuatan, cinta berarti pengorbanan, ….im recently learn about this.
Mari kita serius….
Saya membaca sebuah catatan, yang sedikit menjadi perhatian saya dalam catatan saya ini…dalam catatan itu dituliskan beberapa point dari cinta, tentu saya akan bahas catatan itu dari sudut pandang saya…mencoba memberikan dasaran-dasaran, dan pelurusan-pelurusan.
Mari kita mulai dengan point yang pertama…
Keajaiban : Sifat ajaib dari cinta biasanya muncul di awal, saat melihat suatu keindahan kemudian berubah menjadi kekaguman, lalu menjelma menjadi kecintaan… ajaib bukan? Atau saat memandang suatu kelebihan yang kemudian menjadi suatu nilai dalam memenuhi kebutuhan, berbuahlah rasa cinta…Atau juga saat melihat suatu yang mendekati kesempurnaan yang kemudian di refleksikan pada mimpi-mimpi dan standarisasi, jadilah cinta….
Saya melihat ada beberapa kata kunci yang digunakana, “melihat keindahan”, “kekaguman” yang kemudian menjadi cinta…yah gamblangnya, seorang wanita cantik, sexy, usia 27 tahun, seorang sekertaris perusahaan PMA, ia menjadi satu-satunya kembang di perusahaan, tiba-tiba ditaksir oleh teman kantornya…ketertarikan si teman kantor nya itu karena tentu sang wanita cantik dan sexy, siapa sih yang gak tertarik dengan wanita sexy, cantik…atau saat seorang wanita cantik, berusia 35 tahun, ia seorang model iklan, tiba-tiba jatuh hati kepada seorang laki-laki pandai berusia 33 tahun.
“Cus duhhh ngomongin siapa tuh…??” hehehe
Pertanyaanya adalah, apakah kecantikan, kepandaiaan, kelebihan-kelebihan menjadi satu-satunya jalan membuka hati seseorang untuk jatuh cinta? Dan menemukan keajaiban.
Semua orang mungkin setuju….dan filsuf mengolongkan dan mengatakan cinta yang demikian disebut sebagai cinta erotis…tapi pertanyaan yang lebih lagi muncul adalah, apakah akan tetap ajaib saat seseorang itu mengalami perubahan….cantik menjadi tua, pandai menjadi tiba-tiba hilang ingatan, kelebihan akhirnya berhadapan dengan kekurangan-kekurangan…maka kesempurnaan nampaknya menjadi tidak sempurna, mimpi-mimpi indah menjadi keraguan-keraguan, dan standarisasi tentu tergoyahkan.
Masihkah ada cinta?
Apakah cinta erotisme dapat dipegang menjadi pegangan yang mutlak…sedangkan 85% masih menjawab iya, dan mempercayai “iya” ini, cinta erotis tetap ada…buktinya banyak yang mempercayainya, banyak yang berhasil, banyak pula yang gagal.
Itu kenapa film-film romantis holywood lebih mengunakan actor bertipe “Brad Pitt” daripada “Wody Allen”…(Baca artikel saya The End of Feminie”).
Sekali lagi cinta tetap indah nilai-nilainya.
Walau yang mengalami evolusi adalah manusianya.
Kegaiban : Ternyata, eksistansi cinta masih sulit dan sangat jarang bisa ditemukan "cinta bergaransi" saat semua terlihat mempesona, memang mudah merasakan hadirnya cinta… namun, begitu pesona menjelma menjadi keburukan…. kemana cinta? dikala kelebihan berangsur terselimutkan kekurangan… hellooo…. cintaaa kamu sembunyi dimanaaa??? hmm… kemudian, saat kesempurnaan dan keindahan tergeroti oleh sakit, yang membawa manusia jauh dari kata indah dan sempurna…. kemana lenyapmu duhai cinta…? saat kenikmatan berpaling menjadi sebuah pengorbanan dan pengabdian… saat menerima berubah menjadi harus memberi…. duh, aku terlupa, kusimpan dimana yaa cinta ku? Disinilah cinta sebagai sesuatu yang bersifat gaib menunjukan eksistansinya….
Sejenak saya sudah mengatakan apakah cinta erotisme dapat bertahan saat terjadi perubahan, dalam catatan diatas jelas catatan itu mengatakan terjadinya kegaiban dalam cinta saat terjadinya perubahan….tapi memang cinta sendiri bisa “digaransi” nilai-nilai luhurnya, tetapi manusia yang tak dapat digaransi, manusia mengalami evolusi, manusia mengalami perubahan, tetapi bukan berarti kemudian perubahan tadi juga dapat menurunkan nilai-nilai dari cinta sendiri…tapi cinta kembali sangat agung dan dikatakan bergaransi saat cinta itu tetap ada walau terjadi perubahan pada manusianya.
Gamblangnya, saya pernah mendengar cerita tentang seorang pria yang merawat istrinya yang sakit dan lumpuh, saat pagi ia mengangkat istrinya kekamar mandi untuk dimandikan, lalu mengangkatnya keruang santai untuk nonton, memberinya makan sebelum berangkat ke toko, lalu jam makan siang pulang menyuapi istrinya yang sakit dan itu dilakukan selama 25 tahun, bahkan ia memilih tak ingin menikah lagi, walau anak, istrinya mendesak agar ia menikah lagi….disana kita bisa melihat ketulusannya yang luar biasa.
Artinya…cinta tetap ada tidak gaib, walau terjadi perubahan pada hal-hal yang menyertai kemanusiaan.
Coba direnungkan dari kedua point diatas “kegaiban” dan “keajaiban”.
Dari cerita sekertaris perusahaan PMA tadi, kita bisa jelas melihat “aku” mencintai “dia” “karena”…dan “karena” menjadi pemicu kelahiran cinta…dan “karena” yang disertai dengan segala embel-embel syarat menyertainya menjadikan cinta semacam ini bersyarat…
Tapi cinta menjadi tanpa syarat, saat kita melihat cinta yang dilakukan seorang suami yang terus menjaga istrinya yang dalam keadaan tak berdaya…dan cinta menjadi nampak luar biasa agungnya walau saat ke “karena”an telah disingkirkan….cinta masih ada!.
Kekuatan : Sepertinya sifat inilah yang masih memungkinkan untuk diandalkan sebagai garansi kebahagiaan… cinta yang kuat, tak lekang oleh kekurangan, tak surut oleh kesakitan, dan tak pudar oleh ketidak sempurnaan….inikah yang lantas dinamakan cinta sejati? Rasanya masih ada yang kurang, dan belum layak dinamakan cinta sejati hanya karena kekuatan cinta… bagaimana dengan kesetiaan? apakah cinta yang kuat sudah pasti setia? hahaaa… hipokrit! buktinya banyak orang yang berpoligami… kenapa musti mendua? karena cinta pada yang pertama begitu kuat namun tidak bisa menahan gemuruh hasrat… Lalu???
Saya percaya kesetiaan adalah atribut dari kekuatan (simak cerita suami tadi), kekuatan tak dapat dipisahkan dari kesetiaan, dan sebaliknya, tentu dari catatan diatas mungkin penulis telah mengalami serangkaiaan proses pelik yang berhubungan dengan kesetiaan.
Jujur saja, saya harus berkata, seseorang yang tidak setia ia tak selayaknya disebut kuat, seseorang suami yang berselingkuh dengan wanita lain, jelas telah kehilangan kejantannya sebagai “laki-laki”, bahkan kekuatannya (Baca artikel saya The End of Masculinity), karena ia telah melukai hati orang yang dicintainya dan dinikahinya, persoalannya bukan hanya menahan hasrat saja tetapi, berpegang kah kedua pribadi itu dengan “komitment” atau “janji”, janji yang disahkan bukan pada hukum Negara saja, tetapi yang terpenting dihadapan “Tuhan”, seseorang yang selalu berpegang pada “janji”, ia setia, dan jika ia setia maka ia kuat, tapi persoalan dalam hubungan kan tidak hanya sampai disini.
Kesetian dan kekuatan menjadi diuji…saat kita temukan kasus, seorang wanita karir tak ada waktu untuk suaminya, anaknya, tak bisa memberikan pelayanan bagi suami, tidak mengurus rumah, suami diurus oleh pembantu, saat pulang kantor marah-marah, jelas saya tak akan juga membenarkan jika terjadi case demikian lantas itu dijadikan alasan suami untuk selingkuh atau kawin lagi.
Bagi saya jelas itu telah melanggar komitment, tak dapat saya benarkan, tetapi “kesetiaan” dan “kekuatan” akan nampak saat keduanya menghadapi masalah-masalah dalam rumah tangga (atau hubungan), menyelesaikan persoalan atas setiap masalah yang ada dengan mencarikan solusi dan titik temu, dengan bijak, arif dan pikiran terbuka.
Maka nilai kekuatannya kembali muncul saat hubungan itu menghadapi setiap hal sulit, tanpa ada kata berhenti atau “bubar” atau “lelah”, walau bayarannya melalui sebuah pertengkaran, perselisihan, disini saya juga tak mengatakan bahwa perselisihan menjadi jalan satu-satunya, jika kita bisa berkomunikasi dan duduk bicara dengan baik, kenapa tak dilalui jalan ini, tetapi jika harus dilalui cara yang paling sulit tentu dengan maksudnya bukan untuk saling melukai-memusuhi tetapi untuk mencari jalan, membangun lagi sebuah pemahaman baru, pengertian, dan penerimaan baru. Untuk saling mencintai lebih lagi.
Seorang bertanya kepada saya “pak gimana kalau sudah tidak ada perasaan, karena semua hal dimasa lalu saya dengannya telah menghilangkan cinta saya?”.
Contoh “Semua hal dimasa lalu” bisa saja terjadi karena suami melukai istri (pasangan), saya berkata bahwa sesunguhnya tak ada yang disebut sebuah perasaan yang hilang begitu saja, jika itu perasaan cinta, jika ini terjadi maka pertanyakan lagi apakah benar itu cinta diawal?, atau hanya sebuah kekaguman, perasaan romantisme saja.
Maka harus dibedakan perasaan cinta dan romantisme, keduanya jauh berbeda, walau nampak sama, romantisme hanya sekedar perasaan saja, cinta mengandung nilai-nilai luhur yang dirasakan dan juga dipahami dan menjadi bagian dari diri seseorang.
Maka cinta yang kuat adalah saat ia telah melalui serangkaiaan proses berat yang dilalui “bersama”, dan terus tetap membuat mereka makin mencintai…ini yang saya sebut sebagai kekuatan.
Keagungan : Akhirnya saya sampai pada poin terakhir sebuah konklusi dari pemikiran dadakan saya di subuh hari…
Keagungan cinta bukan berarti sama dengan mengagungkan dan mengkultuskan cinta… namun, lagi-lagi menurut opini saya, cinta yang agung atau besar mengandung didalamnya, sebuah kesetiaan dan ketulusan…. mungkin ini yang pantas dikatakan cinta sejati… namun… MASIHKAH ADA…???
Dimasa ini, masih adakah orang yang percaya pada cinta yang sejati?, saya berkata tidak, hampir semua orang telah dikaburkan dan dan didisorientasi pada cinta-cinta yang tidak sejati, cinta telah di samakan dengan uang, cinta telah disamakan dengan bisnis.
Bagi saya, cinta selalu berdiri sendiri, cinta tetap memiliki nilai-nilai yang luhur, agung, indah, walau sekalipun manusia tak lagi mempercayainya, cinta tetap ada walau manusia tak ada lagi yang memandang, cinta tetap “agung” walau tak ada yang memuja, sekalipun ada yang memuja dan mengkultuskan itu karena ia telah mempercayai keagungan cinta,sedari awal cinta telah memiliki nilai yang agung.
Dan cinta yang memiliki nilai-nilai yang luhur dan agung tadi tidak hanya sekedar memiliki “kesetiaan dan ketulusan”, ia memiliki segenap nilai yang lain., ia tak akan lengkap tanpa nilai keseluruhannya.
Saya senang dengan apa yang dikatakan ISA kepada murid-muridnya “cinta yang besar (agung/sejati) adalah cinta yang mengorbankan nyawanya bagi semua orang”.
Pertanyaanya apakah pengorbanan nyawa saja telah menjadikan cinta itu besar? Saya harus jawab tidak demikian, pointnya bukan pada nyawa, tetapi pada “pengorbanan”, segala pengorbanan apapun bentuknya, yang telah mengalahkan ke “aku” an, dan telah memberikan ke “aku”an kepada “dia”, maka ini yang membuat cinta nampak agung.
Dari cerita sang suami yang saya ceritakan diatas hal ini nampak, ia telah mengorbankan kesenangan dirinya sendiri, ia tak mempersoalkan masalah kebutuhannya sendiri, ia tetap setia, dan kuat, walau keadaan “karena” telah disingkirkan…ia tetap ada walau istrinya menjadi tua, tak dapat melayani, dan tak berdaya.
Tentu saya, anda, anak dan istri dari bapak tadi bertanya, haru, menangis, kenapa sang bapak melakukan itu…kenapa ia setia, kuat dan berkorban, jawabannya itu semua karena “cinta”.
Catatan yang singkat ini tak sepenuhnya mewakili seluruh nilai cinta yang ada, seperti yang dikatakan rasul Paulus “Betapa dalam, betapa lebar, betapa panjangnya cinta”, yang artinya, tak akan pernah kita memahami seluruhannya, tetapi buakn berarti kita tak akan pernah bisa memahami cinta dan menemukannya pada diri seseorang.
Yang menjadi pertanyaan dan perenungan kita, dapatkah kita melakukan dan menghadirkan cinta yang demikian, yang ada, yang dijalani oleh orang-orang yang mempercayai cinta, dapatkah kita melakukan apa yang bapak tadi lakukan?, semua kembali kepada ketetapan kita untuk menemukan cinta yang sejati, yang tetap ada itu.
12/3/2010 6:08 AM
Markus AP


(2 votes, average: 3.50 out of 5)


Similar/Related Posts