Parodi : Grab Him Out
Seorang wanita cantik berambut panjang, bergaun karya Jean Paul Gutier, bersepatu Jimmy Choo muncul dari balik tirai, melangkahkan kaki dari pangung menuju pembawa acara, ia siap memilih lima belas pria yang berada dihadapannya, setelah musik berhenti, saat nya ia memperkenalkan diri, sebut saja namanya Syanti, ia wanita single berusia 29 tahun, yang pernah ditinggal oleh kekasih yang dicintainya, wanita ini memiliki pendidikan yang tinggi dan pandai, karena ia lulusan secara Cum Laude dari Harvard University tahun 2004, ia juga sekarang seorang pengusaha muda, memiliki dua perusahaan bergerak dibidang garmen dan real estate, dan ia salah satu pemegang saham perusahaan retail terbesar, wajahnya tak asing lagi karena sering kali muncul dimajalah fashion, saat ia selesai memperkenalkan diri, tak satu pun lampu dari belasan pria itu mati.
Bayangkan semuanya nyala….tidak ada yang mati….kalau pun ada yang mati pasti karena lampunya konslet atau aliran lampu tiba-tiba padam khusus dimeja itu.
, kalau saya yang ikut acara itu bisa jadi lampu konslet tadi terjadi pasti dimeja saya … hehehe. Dan saat pembawa acara menannyai saya karena mematikan lampu saya pasti jawab….”e e e e e, gak tau wong mati sendiri aku gak matiin koq, atau kepencet kali ya….”.
Setelah pembawa acara mempersilahkan si Syanti untuk mengajukan pertanyaan, Syanti mendengarkan pertanyaan dari tiap kontestant, yang masing-masing menjawab dengan benar, maka saatnya Syanti harus mematikan lampu, dan dari lampu yang dimatikan hanya tersisa delapan, dan tibalah pertanyaan kedua dan tiap kontestant menjawab pertanyaan itu dengan keyakinan penuh bahwa jawabannya akan mengesankan hati Syanti.
Dan setelah mendengar kan semua jawaban yang mengesankan tadi, Syanti harus mematikan satu dari empat lampu yang ada, jadi sekarang tersisa empat lampu atau empat kontestant.
Keempat laki-laki itu benar-benar gagah, ganteng, clean cut, cara bicaranya pun nampak berpendidikan tinggi, pekerjaannya juga okeh, semua itu sesuai lah untuk si Syanti….itu pandangan saya loh….
Akhirnya dari ke empat itu pun, Syanti memilih satu pria yang sesuai dengan kriterianya yah pokoknya masuk lah…mengena dihati…, anggap saja namanya Joko, seorang General Manager sebuah perusahaan outomotif, lulusan Tokyo University, entah atas alasan apa si Syanti memilih pria tadi….apakah karena Joko seorang GM atau karena pendidikannya, atau bisa jadi karena kegantengannya….no body know…saya pun gak tau….bisa jadi karena ada getaran-getaran entah getaran apa….bisa jadi karena ada strum nya…mang PLN ya cus hhehehe…,padahal ke tiga kontestant yang lain tidak beda-beda tipis lah dengan Joko pilihan Syanti…
Mungkin juga si pria yang dipilih Syanti juga gak tau kenapa ia dipilih, karena mungkin saja ia berfikir kanan kirinya juga okeh-okeh….tak kalah dengan dirinya.
Kalau mau tau, tanya aja Syanti langsung….
Okeh…stop dulu…jangan ngegosipin si Syanti siang-siang, tar dia gak bisa makan lage, karena keselek gue omongin….
(Nama dan kesamaan diluar kesengajaan, dan cerita diatas murni hanya hasil rekaan saja, so jangan ada yang ngambek ya ma gue, jujur gue gak lagi nyindir siapapun)
Semua pembaca pasti tahu apa yang saya ceritakan diatas, siapa sih yang gak tahu apa yang sedang saya bahas, semua orang juga tahu, itu salah satu acara yang sedang banyak diminati oleh penonton TV ditanah air, intinya acara mencari jodoh, cari pasangan, cari pacar, cari teman hidup, cari pelengkap…entah lah cari apaan lagi….apapun bahasannya, intinya mencari seseorang untuk mendampinginya untuk sebuah hubungan jangka panjang atau pendek, semua orang boleh ikut dari usia 18-35 tahun, yang jelas tidak berstatus menikah, kalau udah nikah dan punya anak istri gak boleh ikut ya!!!!.
So anda tertarik?. Kalau tertarik boleh deh mendaftarkan diri, tapi jangan daftar ma saya yak.
Kita skip dulu mengenai acara TV tadi…
Beberapa saat lalu seorang mengeluhkan diri tentang persoalan mencari pasangan hidup, “mumet” katanya, ”ragu” katanya.
Padahal sarana untuk mencari ya banyak….kan bisa daftar ikut acara TV itu….kenapa harus dipusing kan.
Pasang iklan juga bisa di koran nasional “dicari pria mapan usia 28-35 tahun, belum menikah….bla bla bla…”
Titip temen untuk dicarikan, atau bisa jadi karena kecangihan teknologi bisa, lewat facebook atau jejaring sosial yang bermacam-macam itu…..disana mau cari pria lokal atau pria import…dipilih-dipilih, kan kita semua tahu hampir jutaan orang terhubung ke facebook….so tak susah kan…gitu aja koq repot.
Bersosialisasilah, kumpullah dengan teman-teman, mau ikut arisan, mau ikut kelas yoga atau masak, clubing, darmawanita atau kalau perlu ikut kompencapir pun juga boleh….
kalau itu sih yang ada dapetnya mas mas…..hahhahahaha….tapi jangan ikut kerusuhan dan demo ya….
Tapi teman saya malah berkata membela dirinya…
“Tapi kan cus menemukan pasangan serius ya gak gampang kan, gue kan gak tahu apakah dia serius apa ngak, apa lagi gue udah pernah gagal….gue harus hati-hati…”
Semua orang pasti pernah alami yang namanya gagal…apa lagi urusan cinta….everybody yang mengenal cinta pasti akan mengalaminya….hari ini saya gak lagi ngomongin cinta loh ya…
Akhirnya ia pun berkata kepada saya….
“Baiklah kalau gitu gue nunggu aja….”
Saat itu pula saya pun ketawa…
“Nunggu!!!!????, mau sampe kapan bu nunggu!!!!, usaha lah bukan nunggu”.
Padahal saya tahu benar bahwa ia banyak yang mendekati….kalau persoalannya masalah mengetahui serius apa ngak, waktu dan ujian dalam hubungan itu yang akan menentukan.
Tapi biar afdol…mari kita bahas satu-satu.
Setiap hubungan pasti dimulai dari sebuah awal perburuan dan perkenalan, caranya itu terserah anda bagaimana mengusahakannya semua hal yang saya sebutkan diatas bisa menjadi sarana untuk memulai pecariaan…mau beruntung seperti Syanti, ya daftar saja acara tadi, mau dengan cara lain ya bisa aja…intinya banyak jalan lah menuju Roma…hehhehe mau lewat darat, laut, udara, mau naik sepeda, mobil, bus, kapal, pesawat atau getek, semuanya bisa dilakukan.
Pokoknya…lakukan…lakukan…usaha…lanjutkan….maksudnya usahanya yang dilanjutkan gitu loh….jangan menunggu…karena gak akan ada duren jatuh dari langit….apa lagi brondong ganteng…so berusaha untuk mendapatkannya….
Tapi persoalannya gak sampai disitu kan…
Trauma kita karena kegagalan sudah membuat kita menjadi lebih sulit menentukan langkah dan pilihan. Ketakutan akan kegagalan membuat kita tak sanggup lagi melangkah.
Pertimbangan yang simple menjadi pertimbangan yang sangat sulit….sesunguhnya “sulit” apa “disulit-sulitin” atau mempersulit diri????? Hayo ngaku!!!!!!!!!!!?????????.
Tentu anda bisa berkata sama seperti teman saya tadi…
“Kan gue gak mau salah…apa lagi gue gak tau dia serius apa ngak?”
Atau…
“Gue udah capek cus….males pacaran-pacaran terus…maunya langsung aja”.
Dan saya berkata … “Whatttttttttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!???, kalau capek mending gak usah pacaran jeng”.
Padahal pacaran kan saatnya seseorang mengenal satu sama lain….yang gak bisa di-skip begitu saja.
Segala sesuatu yang instant belum tentu baik hasilnya, disanalah anda bisa mengukur keseriusan, keperibadian, pengenalan diri anda padanya…gak mungkin kan anda tiba-tiba dilamar sama orang “tidak dikenal” karena ia nampak serius, mang beli kucing dalam karung, dan tak bisa anda melihat itu dan menilai itu sebagai keseriusan, padahal anda belum mengenal dia sepenuhnya.
Tau-taunya saat menikah keperibadiaanya jauh dari harapan…saya sih masih bisa lah memaklumi jika pasangan memiliki kekurangan tidak fatal…misalkan sedikit cuek, atau bawel, asal jangan punya hobby selingkuh aja….capek deh…apakah bukan menjadi neraka dalam rumah tangga…maka pengenalan, penyesuaiaan ini mutlak sekali.
Maka proses perkenalan lewat pacaran perlu lah…gak bisa instant.
Selanjutnya kita gak akan bisa bilang dan berharap bahwa hubungan yang bergaransi…TAK BISA, NON SENSE, kalau pun sebuah hubungan punya kartu garansi belum tentu dapat dijamin baik kan
, siapa yang mau jamin?.
Kalau pedagang bilang “ini produk bagus bergaransi…” tapi itu kan bisa-bisanya pedagang…kualitasnya kan gak bisa dijamin, sampai kita membuktikan sendiri kualitasnya.
Maka jelas sebuah hubungan selalu penuh dengan resiko, pertanyaanya adalah, apakah kita dengan BERANI mengambil resiko, kita sih bisa aja mencoba meminimalkan resiko, nampaknya ini jawaban yang jauh lebih tepat yaitu “upaya untuk meminimalkan resiko”….
Caranya dengan menemukan orang-orang yang yang akan menjadi pasangan anda dengan lebih jeli dan teliti, kalau perlu diteliti dengan baik dulu latar belakangnya, bibit bebet dan bobotnya, lalu CVnya, surat keterangan bekelakuan baiknya lalu setelah itu di interview, kalau perlu plus pake test IQ, EQ, SQ segala biar lengkap heheheheheh
Nah setelah semua diteliti lalu perjalanan pengenalan (pacaran) sudah dilakukan, selanjutnya mau dibawa kemana tuh hubungan???…kelanjutan hubungan itu tentu terserah pada keputusan berdua mau lanjut atau berhenti …..perhatikan saya bilang “BERDUA” ya…bukan salah satu pihak….jangan paksakan hubungan yang benar-benar timpang, karena apapun nanti pasti dapat melukai keduanya…jadi hendaklah kelanjutan itu perlu keputusan matang dari keduanya.
Memang saya tahu setiap keputusan tentu tidaklah mudah seperti membalik-balik telapak tangan perlu pertimbangan yang matang, apa lagi anda pernah gagal, keberaniaan kita melangkah dan mengambil resiko itu perlu extra diperbesar.
Jangan mimpi disiang hari, pengen pasangan sesempurna Tom Cruse, yang ada malah ketemunya Tomat, tomat bonyok lage….repot kan.
Saya tahu biasanya seseorang yang mengalami dan pernah mengalami kegagalan, pasti berharapan mendapatkan pasangan lebih baik lagi, yang tidak sama seperti pasangannya yang terdahulu…ini yang membuat usaha mencari menjadi semakin sulit dan sulit.
Karena harapan yang diperbesar, keinginan yang diperbanyak, criteria yang diperketat…itu lumrah-lumrah saja.
Diingat ya, tak pernah ada pribadi sempurna bisa ditemukan didunia ini, maka lewat proses apapun pencariaannya pribadi sempurna tadi tak akan pernah anda dapatkan, karena setiap orang punya kekurangannya masing-masing, pertanyaanya bagaimana kita menerima kekurangan tadi dan jangan lupa kita pun juga punya kekurangan, yang membuat kita harus juga membangun diri, jangan maunya kita menuntut kesempurnaan pada diri orang lain, tetapi melupakan juga kekurangan yang ada dalam diri kita….Ihhhh gak fair kan….maka “lebih kurang” dan saling melengkapi saja lah….
So kalau anda dengan berani mengambil resiko, dan menjalani proses tadi step by step, maka tunggu apa lagi…GRAB HIM OUT…..gak usah takut-takut.
16/3/2010 11:24 AM
Markus AP

(2 votes, average: 4.50 out of 5)


Similar/Related Posts