Surat Dari Jakarta
Apa baiknya dan apa sempurnanya kita hidup seperti tuan-tuan, nyonya-nyonya terhormat dalam gedong-gedong megah gaya modern, berdandan ala borjuis rancangan Gucci, bersandiwara megah dalam ruang-ruang mega, kelihatan disemua mata memandang indah, elok, harmoni, tapi dimeja makan kita kaku, diranjang pengantin kita kehilangan semangat, kehilangan hangat, didalam peluk kita kehilangan cinta, kehilangan sapa.
Ia sibuk dimana, mungkin sibuk dengan “siapa”. Ia pergi kemana, mungkin menghindar dari “mengapa-mengapa”. Ia kemana, ia dimana, masing-masing tidak ada didalam jalan yang sama-sama tapi samar-samar.
Lalu ia tak lagi “mengapa-mengapa” karena mungkin ia sibuk dengan “siapa-siapa”, entah pergi dalam pencarian cinta, atau pergi dalam pencariaan “dendam”, membalas kemungkiran janji.
Dan aku hadir memperhatikan tuan-tuan, nyonya-nyonya terhormat dalam gedong-gedong megah gaya modern, berdandan ala borjuis rancangan Gucci, bersandiwara megah dalam ruang-ruang mengab hampir mati, mencekik.
Aku menangis, aku menangis, tapi tak hampir mati, mengapa-mengapa hanya suara kecil dalam dada yang hampir mati, dan doa-doa kecil untuk mereka tuan-tuan, nyonya-nyonya terhormat dalam gedong-gedong megah, dalam ruang-ruang mega, yang seketika semua jadi mati.
Salemba
6/2/2010 6:37 AM
Markus AP
Untuk yang tinggal dikejauhan disana, diBarat Jakarta……



2 Responses to “Surat Dari Jakarta”