Surat Dari Jakarta (9)
Aku selalu terganggu dengan pemandangan yang aku temui setiap malam, setiap hari, setiap kali melalui jalan disepanjang rel kereta api Jatinegara didepan penjara Cipinang, dibawah jembatan Bypass.
Pemandangan yang tak pernah berubah belasan tahun, lilin-lilin, lampu-lampu, bayang-bayang hitam, ratusan orang berjubel, copet, berdagang, menawar, ditawar, seribu pikiran, seribu keinginan, harapan mencari sesuap nasi, harapan untuk mesum, harapan untuk culas, mencari peruntungan dibawah guyuran hujan, dibawah bintang-bintang, diselimuti tiupan angin malam.
Dan wanita-wanita berwajah berbeda tiap malam berdiri, menanti dibeli.
Pemandangan itu selalu mengusik aku, aku tidak iba, tidak juga jijik, tidak juga kepengen menjadi orang yang menawar jasa mereka.
Melihat mereka saja sering kali terdiam, berdecak, bergeleng, tak paham, terusik.
Ya aku terusik, aku terusik, tidak juga iba, atau terenyuh, aku hanya terusik, entah karena alasan apa, mungkin heran, mungkin tak mengerti, tetapi jika karena ketidak mengertiaan nampaknya tak mungkin, mungkin hanya karena keheranan, bagaimana mereka masih mengingat ratusan wajah yang peluhnya menetesi dada dan wajah mereka.
Aku terusik, juga bersyukur.
Dan pemandangan yang mengusik tadi hilang saat aku tiba dirumah, membaringkan kepala dirajang yang hangat, dan pemandangan itu akan datang lagi esok malam.
2/23/2010 11:27:48 AM
Markus AP



2 Responses to “Surat Dari Jakarta (9)”