Don Corleone said I m gonna make him an offer he cant refuse


12:07 am, June 24, 2010
Pages
Recent Posts
Most Popular Posts
Last Blackberry Note
Categories
Recent Comments
Login




Register | Lost your password?
New eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

eBook : Kayurie

Kayurie : kumpulan cerpen & puisi, free reading online

Kayurie - view online


Surat Dari Jakarta (8)
By. marcus . February 17th, 2010 at 12:53 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Surat Dari Jakarta (8)

Adakah cara yang lebih sempurna mengagungkan kekuasaanNya, membesarkan namaNya dari cara-cara yang umum, memuliakan bukan hanya namaNya, tetapi seluruh keberadaanNya, mengsyukuri bukan atas apa yang telah diperoleh tetapi mengsyukuri apa yang aku tak dapat berikan kembali kepadaNya, mengsyukuri atas hal-hal yang nyaris tak dapat terlihat tetapi hal itu ada dan terjadi atas kehendakNya.
Aku tak meminjam kata yang digunakan oleh Friedrich Nietzsche yang tak dapat melihat keberadaaNya.
Aku tak meminjam kata yang digunakan oleh Voltaire yang mengatakannya tak mungkin, sedangkan IA adalah maha Mungkin.

Aku telah mengatakan dalam suratku terdahulu bahwa manusia dimasa ini, tak pernah memperhatikan dunia internal nya, kita tak banyak mengalami kemajuaan apapun dimasa ini, segala yang nampaknya kemajuaan benar-benar telah kehilangan giginya dihadapanNya, dihadapan mereka-mereka yang dicelikkan, segala itu menjadi tak ada faedahnya.

Hari-hari belakangan ini aku bersyukur, bersyukur hingga tak dapat mengungkapkannya, bahwa keagunganNya telah mengaruniakan hal-hal yang sederhana dalam sebutir kehidupanku, pertanyaan-pertanyaanku yang singkat dan nyaris tanpa proses berlutut, tanpa proses tangis, dan pukulan, dijawabNya dalam sesaat, dikirimkannya malaikat-malaikatNya yang maha indah untuk membukakan rahasia-rahasia kecil yang penting, jalan-jalan yang tak ada jadi ada, tembok-tembok yang tinggi dan maha tinggi dan kokoh seketika lenyap, hamparan padang pasir yang gersang tanpa air tiba-tiba menjadi firdaus, kematiaan tiba-tiba menjadi kehidupan, bayang-bayang yang samar menjadi nampak jelas, maka aku tak lagi melihat dengan samar.
Seketika aku terlarut dalam pandangan mata yang berkaca kepada langit, entah dimana Dia, tapi IA ada tak mati, IA ada dekat, jelas seperti tiang awan, dan tiang api yang menyertai jutaan manusia menuju tanah perjanjiaan, IA ada saat menghindari mereka dari Firaun, melewati laut yang terbelah.

Tapi aku lebih-lebih bersyukur lagi, bersyukur karena mata yang melihat, mata yang melihat bukan cinta manusia, bukan kemuliaan dunia, bukan kemegahan harta benda, bukan keelokan pengetahuaan, bukan segala yang kupunya, tetapi karena ke maha agungan CintaNya, ke maha baikkan kebijakkanNya.

Proses pencelikan itu, sendiri merupakan sebuah hal yang besar bagi aku yang kecil itu, itu kenapa aku baru sadar apa yang ditulisakanNya “Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?”

Bagaimanakah Raja besar itu yang begitu bijak dan kaya, dengan segala kemegahaannya tidak mengenakan sesuatu yang indah?, apakah karena segala kemegahaannya tak dapat membuat dirinya hidup dalam kemegahanNya?, itu kenapa kebijakan pada buku Amsal telah menjadikannya acuan bagi keberhasilan orang-orang yang mencariNya.
Jika aku menuliskan kembali lebih jauh baris ayat tadi, tentu aku akan membahas lebih jauh lagi tentang apa pentingnya dunia external?, sedangkan jelas disana dikatakan apa yang harus kita cari.
Aku tak akan menuliskannya. Karena tak ada faedahnya sama sekali.

Maka hari ini aku sedang mencari cara untuk memuliakanNya, memuliakan cintaNya, terheran-heran dalam pengertian, akan proses pencelikan itu, sesuatu yang kecil, sesuatu yang sederhana, sesuatu yang telah dikatakannya dari dalam sejak lama. Kemudian terjadi maka jika mungkin aku akan berkata Subhan’Allah… Subhan’Allah… Subhan’Allah, tak bisa henti-hentinya aku kagumi sungguh keagunganNya, yang kecil dan sederhana itu.

17/2/2010 12:57:04 PM
Markus AP

  • Share/Bookmark

2 Responses to “Surat Dari Jakarta (8)”

Novi Haryono - March 4th, 2010 - 3:34 pm
 

Dan hendaklah kita bermegah didalam Dia..

marcus - March 4th, 2010 - 3:55 pm

@Novi Haryono : DIA mean GOD…yes you rite…big grin

Leave a Comment

Top Commentators
Twitter Updates
    News
    • 8:48 am, March 21, 2010
      22 Maret 2010, Realase eBook "What's In My Mind" yang dapat diakses bebas dan didownload bebas
      From: Marcus

    • 8:46 am, March 21, 2010
      23 Maret 2010, Markus Manifesto memperingati 6 tahun perjalanan, “6th Anniversary, 6 year journey telling you the truth”, kami mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia kami, yang selama ini telah menyertai perjalanan kami.
      From: Marcus

    Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.