Surat Dari Jakarta (7)
Aku kurang sependapat dengan pandangan yang memisahkan antara hati dan pikiran, dan seolah memberikan penghargaan mana yang lebih penting dan lebih agung diantara keduanya, jika demikian maka dunia internal jelas dibagi-bagi lagi, sedangkan aku sangat mempercaya keselarasan keduanya, aku percaya sekali harmonisasi keduanya, antara hati dan pikiran memiliki pertalian yang erat.
Aku mempercayai rasa yang tanpa bahasa kongkrit (abstrak/absurd) ada dalam hati (emosi,cinta,marah,sabar), sedangkan pikiran bisa saja tunduk dengan rasa, tetapi rasa tidak selalu harus menguasai saat pikiran dapat mengendalikan perasaan, tapi apa yang dirasakan dapat memicu kesimpulan-kesimpulan dalam pikiran untuk menghasilkan buah pikiran, tapi apa yang dirasakan dapat pula membutakan pikiran.
Maka itulah kekaguman akan karya estetis dalam rasa bisa di rumuskan dalam ruang logika dan pengkajian yang masuk akal…dan kelanjutannya keduanya bisa dibagikan kepada kemanusiaan.
Maka saat aku berdiri dihadapan karya Duane Michals “Newweds” maka aku mengagumi keindahan dan keromantisan dalam karya tersebut, tetapi apa yang aku nikmati dari rasa membuatku, aku berangan, aku merasakan begitu dalam pelukan kedua pasangan dalam foto itu. Lalu apa faedahnya bagiku jika itu hanya aku rasakan?, maka kemudian perasaan-perasaan tadi berubah jadi keinginan-keinginan, dan pikiran-pikiran bahwa itu bisa jadi “aku” yang ada dalam karya tersebut.
Lalu apa yang terjadi dengan Gibran, saat ia melahirkan karyanya Broken Wings, ia telah memulai kata pertamanya dengan “aku”, aku yang menjadi gambaran orang pertama, bisa jadi orang yang memiliki pengalaman dan menuangkannya dalam tulisan tersebut (tentu lewat serangkaiaan pemikiran dan perenungan), Gibran mengambarkan dirinya menjadi pria berusia delapan belas tahun dan terbuka matanya akan cinta, ia menulis.
Aku berusia delapan belas tahun ketika cinta membuka mataku dengan sinarnya dan menyentuh jiwaku untuk pertama kalinya dengan jarinya yang lembut.
(Walau usia Gibran tidak delapan belas tahun saat menulis karyanya Broken Wings)
Dalam bagian-bagian selanjutnya, Gibran mencapai sesuatu yang luar biasa dalam pemikirannya, yang hingga kini pun tak banyak bisa dipahami oleh kehidupan dimasa ini.
Ia menulis…
Dalam kehidupan setiap laki-laki muda selalu ada seorang “Selma” yang muncul dihadapannya tiba-tiba saat musim semi kehidupan dan mengubah kesendiriannya menjadi saat-saat bahagia dan mengisi kesunyian malamnya dengan musik.
Aku sedang menjelajah alam pikiran dan merenung untuk memahami arti alam dan wahyu buku-buku, dan tulisan-tulisan ketika aku mendengar cinta berbisik ditelngaku melalui bibir Selma. Kehidupanku sekarat, kosong bagai hati Adam disurga, ketika aku melihat Selma berdiri dihadapanku seperti pilar cahaya. Ia adalah Hawa hatiku yang mengisinya dengan rahasia dan membuatku memahami arti kehidupan.
………
Kecantikan nyata terletak pada spiritual yang disebut cinta ketika muncul antara seorang pria dan wanita.
Lalu ia menulis
Cinta adalah satu-satunya kebebasan didunia karena cinta adalah gairah yang tidak dapat dihalangi oleh hukum manusia dan fenomena alam.
Gibran telah merumuskan sebuah perasaan dalam sebuah kronologis, bahwa lembutnya cinta telah menyentuh jiwanya (pikiran dan perasaan), dan karena sentuhan itu ia telah merumuskan pula bahwa kemudian cinta telah membuka matanya dengan sinarnya (cinta).
Entah mana yang lebih dulu terjadi, tetapi jelas dengan sebuah urutan kejadiaan Gibran telah merumuskan cinta datang dalam dunia internal nya.
Jika kita memahami lebih dalam kalimat yang digunakannya “membuka mata”, telah banyak digunakan oleh pujanga, filsuf dan sufi bukan sebagai gambaran mata sesungguhnya tetapi mata dalam artian “pemahaman” “pemikiran” “ke’tau’an” “pengetahuaan” “ilmu” dan banyak lagi.
Dan entah bagaimana ia telah mengambarkan cinta sebagai cahaya atau sinar, padahal jelas cinta bukan cahaya, cinta tak dapat dideskrisikan sebagai sesuatu yang memiliki massa atau bentuk, karena itu cinta hanya ada dan bisa nyata dirasakan didalam dunia internal, baik itu hati atau pikiran.
Lewat cinta yang dirasakannya pula Gibran telah membermaknai kehidupan.
Lewat cinta yang dirasakannya pula Gibran telah mengatakan bahwa cinta tak bisa dihalangi oleh hukum manusia.
Maka aku sangat percaya bahwa cinta juga bukan sekedar perasaan-perasaan dari dalam hati, tetapi juga dapat dirumuskan dalam sebuah pemikiran, bahkan pembermaknaan cinta menjadi makin dalam, makin membekas, makin bernilai, karena jelas ia telah dirumuskan tidak hanya sekedar dirasakan yang bisa kemudian hilang.
Itu kenapa Rasul Paulus mengambarkan cinta dengan “betapa dalamnya, betapa luasnya ”, maka jelas cinta telah benar-benar bernilai saat kita bisa membawanya dalam dunia internal kedalam wilayah pembermaknaan, melalui proses pemikiran dan perenungan.
Itu kenapa aku percaya bahwa perasaan dapat dibagikan dengan sebuah pengetahuaan dan pemahaman yang lebih dalam, walau aku harus akui bahwa begitu banyaknya cinta telah diartikan didunia ini, cinta tetap agung, tetap memiliki kedalaman yang tak dapat dirumuskan begitu saja, tetapi setiap manusia yang pernah mengecap manisnya cinta ia pasti berusaha untuk merumuskannya, dan itu menjadi monument bagi hidupnya, bagi dunia internalnya. Plato berkata “because of love everbody become a poet”.
Bagaimana dengan aku sendiri?, aku dan sebagian sahabatku mengerti apa yang aku alami, aku yang mengalami banyak pengalaman dibelakang, diwaktu lampau, berusaha mendeskripsikan cinta kedalam banyak rumusan baik itu, pelajaran, renungan, puisi, artikel, prosa, bahkan cerita pendek.
Maka jika aku merumuskannya seperti Gibran bertutur, aku akan menuliskannya demikian..
Aku tak tahu saat itu berapa tahun usiaku, tetapi aku telah mengenal cinta saat ia hadir pertama kali diusiaku masih sangat belia, muda dan belum matang, saat aku harus berdiri diam, menganggumi seseorang dari kejauhan memandangnya tanpa berani menegurnya, tanpa berani mengungkapkan apa yang aku rasakan, mungkin aku sendiri tak paham saat itu bahwa kekaguman itu adalah cinta, perasaan-perasaan aneh itu adalah cinta, kegilaan itu adalah cinta, aku telah mengenal cinta yang hanya diam tersimpan dalam hati.
Lalu pengalaman-pengalaman itu hadir bukan hanya pada sosok yang satu, tetapi saat perkenalanku pada sosok-sosok yang datang membawa cinta dikemudian hari.
Disana bukan hanya mataku yang terbuka, maka segenap jiwaku terbakar oleh daya yang tak jelas, kehidupanku pun berubah, cinta tak lagi diagungkan karena perasaan, karena cinta memiliki kedalaman yang jauh daripada rasa-rasa tadi, saat aku memikirkannya dalam-dalam…bersamaan aku memikirkan selalu sosok-sosok yang hadir tersebut.
Maka aku dapat berkata….
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti kekaguman.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti pemujaan.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti keagungan.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti tangung jawab.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti pengertian.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti penerimaan.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti kesabaran dan ketekunan.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti kemauaan untuk selalu belajar.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti kegilaan.
Aku sadar, bagaimana cinta juga berarti pertemuanku dengan Tuhan lewat anugrahNya.
Kemudian saat cinta telah membawaku makin jauh, kedalamannya makin bermakna.
Aku terbuka, bagaimana cinta juga revolusi melawan sesuatu yang normative.
Aku terbuka, bagaimana cinta juga berarti kesetiaan tanpa ingin menyakiti orang yang dicintai dengan menjual cinta.
Aku terbuka, bagaimana cinta juga kekuatan untuk terus berjuang juga keberaniaan menghadapi apapun, bahkan maut, seperti aku pernah menghadapi maut karenanya.
Aku terbuka, bagaimana cinta juga kerelaan dilukai, dihianati, walau kita mencintai.
Aku terbuka, bagaimana cinta juga pengorbanan walau kita tak mendapatkan apapun, bahkan kerelaan mengorbankan diri kita untuk yang dicintai.
Aku telah melalui semua yang aku katakan tadi.
Aku berkata bahwa nilai yang tertinggi dari cinta adalah pengorbanan, mengalahkan semua keberadaan diri sendiri untuk yang tercinta.
Maka saat cinta datang dalam hati, maka datangnya dengan keagungan yang indah, ia bisa datang dalam dunia internalku dengan lembut atau dengan tiba-tiba seperti pencuri, seketika ia akan merubah ku, memberikan tenaga, memberikan inspirasi bagiku, maka tak heran jika kemudian aku melakukan pemujaan besar-besaran kepada sesosok anak manusia yang datang dengan eloknya dalam kehidupanku, jujur hal ini kadang mendatangkan cemburu sang Maha, karena tak diizinkan kita memuja apapun selain memujaNya.
Maka tak salah pula jika inspirasi yang datang tersebut melahirkan berbagai macam kata yang diungkapkan baik lewat tulisan atau ungkapan yang tak terkatakan, bahkan keberaniaan melawan maut, keberaniaan melawan dunia dan norma yang berlaku, maka jika semua orang sedang membicarakan sebuah perlawanan, aku telah melakukan perlawanan, aku telah melawan keadaan karena cinta, dan jika semua orang hanya mengendapnya dalam-dalam segala pengalaman, aku telah mengungkapkannya dan membagikannya kepada kehidupan, aku membangun monumental pengalamanku begitu agung, setidaknya untuk diriku sendiri, untuk orang yang kucintai.
Maka jika sekali lagi cinta datang dengan lembutnya atau dengan tiba-tiba, semua rumusannya tetap sama, aku telah melaluinya, tak ada salahnya jika ia datang dan aku melaluinya lagi.
Kesimpulan dari semua ini, cinta yang menjadi bagian dari pengalaman dunia internalku (hati), telah menjadi bagian dari pengalaman yang dapat aku rumuskan lewat perenungan dan pemikiran, kemudian juga menjadi monumental yang dapat dinikmati, dibagikan kepada semua orang…walau pada akhirnya tak ada orang percaya aku tak perduli, tetapi kenyataanya sebagian percaya, bahkan sebagian telah memuja-muja Tuhan karena pengalaman yang hadir dalam kehidupanku.
To. Sheila Wirananta
14/2/2010 7:08 PM
Markus AP




2 Responses to “Surat Dari Jakarta (7)”