Surat Dari Jakarta (6)
Aku tidak dilahirkan dengan embel-embel keningratan, aku tak memiliki darah biru, sekalipun leluhurku pemilik negeri yang sekarang dikuasai komunisme, tapi apa pentingnya bagiku embel-embel keningratan, darah biru atau cerita leluhur.
Sekalipun aku memiliki darah biru, aku tak yakin darah itu memiliki previlage yang tinggi dihadapan Tuhan, sekalipun aku punya embel-embel keningratan tak ada faedahnya didalam catatanNya jika aku tidak mengamalkan kebajikan dan kebaikkan.
Mungkin jika aku memilikinya, aku akan keluar dari pintu istana dan melepaskan mahkota dan baju kebesaran, berkelana mencari darma dan kebenaran, mungkin duduk dipohon bodi mencapai pencerahaan, mencarinya pada jalan yang salah, sampai aku menemukan jalan yang benar, lewat bunyi dawai yang dipetik terlalu keras maka senarnya akan patah, dan terlalu pelan tak akan ada suaranya, maka dari pencerahaan itu aku menemukan jalan yang benar, kemudian pergi mengamalkan semua hal yang aku dapatkan bagi kebaikan banyak orang.
Mungkin jika aku memilikinya, aku akan keluar dari pintu surga dan melepaskan semua kekuasaan, turun kedunia memberikan cinta dan damai, mungkin duduk di sidagoga lalu berkelana kegurun mencari Tuhan, setelah menghadapi tiga cobaan, aku pergi kesemua manusia, mengajarkan hal-hal yang ditinggalkan demi sebuah norma dan etika yang dimunafikkan, menyembuhkan orang dengan kekuatan iman, dihianati walau telah memiliki cinta, disalibkan dan mati tak ada yang mengira.
Maka tak ada faedahnya bagiku embel-embel keningratan, darah biru, cerita leluhur atau apapun yang sifatnya dunia external, karena pencapaiaan dunia internal telah membuatku lebih kaya, karena dalam duduk tenang aku dapat menyapa wajahNya dan kutemukan damai sejahtera.
13/2/2010 6:09 PM
Markus AP



2 Responses to “Surat Dari Jakarta (6)”