Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

forum
Surat Dari Jakarta (5)
By. marcus . February 13th, 2010 at 9:23 am
store
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Surat Dari Jakarta (5)

Aku baru saja membaca ulang untuk kesekian kalinya email dari sahabatku, dalam emailnya ia berkata sesuatu yang keras (Wütend), sesuatu yang tegas, sesuatu yang biasa aku katakan, tapi kali ini pemikiran yang keras itu bukan datang dari pikiranku, tapi dari pikirannya.

Aku paham apa yang dikawatirkannya, semua itu tak lebih karena kecintaanya kepada sahabatnya yang ini.

Aku mengerti apa yang ditakutkannya, semua itu tak lebih karena kasih sayangnya kepada sahabatnya yang ini.

Inti yang dikatakannya tak lebih dari harapannya agar aku tidak berada dalam situasi yang pelik, melepaskan diri dari keadaan yang tidak seimbang, aku yang dikatakannya berjiwa bebas dan meledak-ledak seolah menjadi sangat mandul dengan terdiam dalam ketidak tahuaan, aku yang sanggup kuat menghadapi kesedihan yang perlu tak harus berada dalam kesedihan yang tak perlu, aku yang sanggup menanggung segala hal tak musti memiliki kesabaran yang dipaksakan, dan yang paling keras ia tak ingin aku menjadi korban kepicikan.

Kata-kata yang dipakainya dalam emailnya memang terlalu keras, aku menyukai tamparan-tamparan yang demikian, karena sesuai dengan jiwaku yang keras. Aku sangat menghormati pandangannya, menghormati pemikirannya yang keras dan tegas, itu semua karena ia tak ingin sahabatnya ini menerima sebuah kesedihan dan perlakuaan dari sebuah keadaan yang pelik dan tak perlu.

Mungkin, mungkin kali ini aku harus menuruti apa yang dikatakannya, karena memang terlalu dini bagiku ada dalam keadaan-keadaan yang pelik, apa lagi setelah pristiwa yang lalu.
Aku yang selama lima tahun belakangan ini dijejali pengalaman-pengalaman yang berat dan keras dengan sangat berat hati harus menolak sebuah pengalaman yang lain, untuk alasan “untuk apa pengalaman-pengalaman itu ada lagi?”, aku menjadi seolah ingin mempertanyakan kehendakNya diawal sebuah perjalanan bukan diakhir sebuah perjalanan. Kali ini aku seolah ingin berkata kepadaNya “sampai kapan apa harus aku lalui lagi?”

Kali ini aku telah siap dengan menolak  jalan itu. Maka kali ini mungkin aku telah menolak jalan dan kehendakNya untuk pengalaman-pengalaman itu, yang menurut pandangan manusiaku, itu tak perlu, maka aku dengan sengaja tak ingin melalui jalan yang dikehendakiNya, mengambil sendiri jalan untuk aku tentukan sendiri.

Maka aku siap harus berada dikeadaan yang benar-benar kosong, sejenak tidak mencari yang aku cari. Maka bisa saja dalam keadaan yang kosong itu aku dapat meredefinisi dan merefleksi pemahamanku tentang kehidupan, kebenaran, kebahagiaan dan tentang cinta tentu dengan sudut pandang yang baru dan lebih dalam.

Atau bisa saja terjadi terbalik, aku malah menjadi seperti tokoh utama dalam karya Holden Caulfield dalam bukunya The Catcher in the Rye atau tokoh utama dalam buku Notes From Undergorund karya Fyodor Dostoevsky.
Yang akhirnya mungkin aku jadi sangat menjiwai apa yang ditulis Fyodor Dostoevsky,  yang menulis…

I AM A SICK MAN…. I am a spiteful man. I am an unattractive man. I believe my liver is diseased. However, I know nothing at all about my disease, and do not know for certain what ils me.

Atau bisa jadi aku menulis sendiri dengan bahasaku.

Aku tidak sakit, aku sehat, aku elok, aku brilian,  tetapi aku telah kehilangan kepercayaanku kepada dunia yang indah ini, dunia yang diciptakan Tuhan indah ini telah benar-benar berubah jadi neraka, atau pekuburan bagi kematian jiwa-jiwa, dunia telah benar-benar kehilangan keindahannya.
Aku telah dihormati dibidang-bidang tertentu, aku telah mencapai pencapaiaan-pencapaiaan yang ku perlu, aku ada disana dan aku telah menjadi bagian dari masyarakat tertentu,  tetapi aku malah melihat kemunafikan dimana aku berada, dan kemunafikan itu telah membuat dunia ini tidak indah, dunia ini benar-benar telah menjadi pekuburan bagi jiwa-jiwa yang hilang, lebih banyak kedukaanya dari pada keindahaanya.
Atau mungkin aku yang telah gila, sakit, dengan menolak menjadi sama dengan kemunafikan, aku gila karena menolak sama seperti isi dunia ini, gila karena menolak ikut dikubur seperti jiwa-jiwa itu.
Maka jika benar demikian maka tidak ada lagi yang disebut kebenaran sejati, karena semua orang sudah tidak mempercayainya, tak ada lagi yang disebut kebahagiaan karena semua orang tidak mengejar kebahagiaan, tak ada lagi cinta yang sejati karena semua orang telah memilih untuk meninggalkannya. Semua hanya bayang-bayang yang tidak nyata.

Maka jika itu terjadi bisa saja dikemudian hari, aku harus meninggalkan pemikiranku dan apa yang aku percayai tentang kebenaran, kebahagiaan dan cinta, karena jelas aku berada didunia yang salah, dunia yang telah mengubur itu semua, dan aku akan ikut mati bersama isi dunia ini.

Maka apakah mungkin dunia yang benar-benar jelas salah ini bisa sesuai dengan yang dikatakan Emma Goodman “The ultimate end of all revolutionary social change is to establish the sanctity of human life, the dignity of man, the right of every human being to liberty and well-being”, tidak mungkin, karena hingga malam ini aku tidak menemukan satupun diatas dunia ini yang mempercayai hal itu, kecuali aku dan beberapa yang memahami juga percaya pada pemikiranku.

Tapi sampai malam ini aku belum mengambil jalan apapun.

Aku mungkin melalui jalan itu, jika aku menerima tanda dari langit, tanda dari manusia, dari kehidupan, setidaknya ada jalan, ada gerakkan aku bisa keluar dari situasi yang pelik,  terlepas dari ketidak seimbangan, dan aku menjadi semarak tidak diam dalam keadaan yang tak tahu, dan aku yakin aku tak akan menjadi korban sebuah kepicikan, maka sekali lagi aku percaya memang masih ada harapan pada dunia ini, masih ada semua yang kusebutkan tadi, yang tidak mati dan ikut terkubur. Aku hanya bisa berharap masih ada yang belum ikut terkubur.

13/2/2010 3:50 AM
Markus AP

6 Responses to “Surat Dari Jakarta (5)”

ai gak angry tapi pengen nabok loe kalau lo tetep aja gak mau denger hihihihi

@irh : kwkwkwkwkkwkwwk ya deh yeeeeeeeeee tabok lah biar gw selalu sadar

baca tulisan lu, lu ga perlu berpandangan seperti FD, karena lu ada lah lu, apa yang ada disekitar lu gak akan berubah walau lu mengecam keadaan itu

@irh : hmmmmm yea u rite

Kehidupan ini indah jika kita malihat dari sisi kebesaran Tuhan.. gak perlu ada yang tersakiti.. gak perlu ada yang kecewa.. kalo ada ucapan syukur…

@Novi Haryono : karena orang2 yang dapat memandang kebesaran2Nya dan kemuliaan2Nya memang ia adalah orang besar yang ditentukan untuk melihat hal2 yang besar….

Leave a Comment

 

rss
tools
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA
conditions