Surat Dari Jakarta (4)
Di masa sekarang, dizaman kita, dimasa ini, kita senantiasa hidup lebih banyak ada dalam dunia external, walau segala fasilitas apapun yang ada di zaman ini nyatanya tak membawa banyak hal bagi kemajuaan dunia internal pada manusia.
Aku pernah membaca sebuah tatal yang berbicara singkat tentang “ada”, ada disini jelas sedang mengagungkan yang tak terlihat, yang “nyata” walau kita secara external tak dapat menyebutnya “ada”, tetapi dengan keimanan, yang tak ada tadi sesunguhnya “ada”, bahkan maha “ada”, ada yang benar-benar ada walau secara sekilas kita bisa saja berkata itu semua hanya omong kosong, seperti yang dipercaya Friedrich Nietzsche, yang berkata Dieu est mort.
Dimasa sekarang kita telah benar-benar melupakan hal yang internal, sampai mengubah yang “ada” dalam tatal tadi, dengan keber “ada” an yang lain, kita yang serba tertuju pada yang external tadi lebih mengejar “ada-ada” yang memang memperkaya segala hal dalam diri kita yang external, kita sibuk memperelok diri, dengan yang “ada”, bahkan segala yang terkandung dalam alam kesadaran kita “ada” tadi menjadi nampak maha, diagungkan, dipuja, sesunguhnya ia bukan yang Maha.
Lalu apa bedanya manusia dimasa ini dengan manusia masa-masa paganisme, apa bedanya dengan umat yang membangun lembu suci.
Kita tidak lagi bertanya, kenapa apa yang ada dilangit “ada”, kenapa yang ada dibawah langit “ada”, kenapa kita yang ada harus “ada”, bagaimana kita yang ada bisa terus “ada”, lalu bagaimana kita yang ada setelah tak ada kemana, kita sibuk dengan “ada-ada” yang lain, yang memang memperkaya dunia external kita, tetapi apakah itu memperkaya dunia internal kita?, apakah kita telah berkata seperti Voltaire – Croire en Dieu est impossible.
11/2/2010 11:23:27 AM
Markus AP
“We don’t exist unless we are deeply and sensually in touch with that which can be touched but not known.” D.H. Lawrence



2 Responses to “Surat Dari Jakarta (4)”