Surat Dari Jakarta (3)
Gemuruh guntur dilangit malam ini menjadi temanku yang setia.
Aku selama beberapa saat ini mengalami kelucuan social, kelucuan karena aku memperhatikan dalam kehidupan yang membuatku merasa lucu, kesal, dan bertanya-tanya, lalu dari pristiwa kelucuan social itu, timbul pemikiran-pemikiran, apakah aku selama ini telah menjadi manusia apa adanya?
Aku tanpa befikir seribu kali aku berkata aku telah menjadi apa adanya, seperti pandangan yang benar ada selama ini bahwa “hendaklah ia menjadi dirinya sendiri”, tapi pada nyatanya semua orang telah berlomba menjadi diri-diri yang lain, mereka rajin mengenakan topeng-topeng kehidupan, rajin memunafikkan diri, rajin mengotori jiwa-jiwa suci mereka dengan segala macam kepalsuan dan penyangkalan, lalu apakah aku dengan menulis ini telah menaifkan diri, apakah aku dengan menulis ini telah menjadi sok moralis, aku sekali lagi telah menjadi apa adanya dengan berani mengatakan apa adanya, dan aku telah menjadi diri sendiri dengan segala keberaniaan menerima cap “naïf”, aku harus berani mengatakan apa yang ada, apa yang benar, sekalipun harus disingkirkan dari social yang lucu ini.
Coba perhatikan IA yang diusir dari masyarakatnya, dan harus menangung salib diakhirnya, IA yang dengan berani mengecam mereka-mereka yang mengenakan topeng-topeng kehidupan, mereka-mereka yang rajin memunfaikkan diri.
11/2/2010 6:02 AM
Markus AP



2 Responses to “Surat Dari Jakarta (3)”