Surat Dari Jakarta (11)
Saat alam marah dan pasti ada korban, manusia harus pergi, manusia harus menerima derita dari amarah alam, ada yang menangis karena ditinggalkan, ada yang prihatin karena keadaan, ada yang berupaya mencari yang selamat.
Apa amarah alam merupakan murka Tuhan?, apa Tuhan harus meminta korban lewat amarah alam?. Apakah Tuhan tak punya hati?
Adakah yang bisa menjelaskan? Adakah yang tahu kenapa alam harus dibiarkan marah dan menelan korban, meninggalkan kepiatuaan kepada anak-anak karena orang tuanya tiada, meninggalkan sanak dalam kesedihan.
Tapi alam marah tak selalu karena Tuhan murka, tapi jika alam dibiarkan sakit, karena hutan ditebangi, karena bukit dan gunung diexplorasi, alam dibiarkan sekarat karena manusia serakah merusak alam, maka tak heran jika alam jadi murka. Lalu siapa yang harusnya bertangung jawab?.
26/2/2010 11:04 AM
Markus AP
Turut berduka atas korban longsor ciwidey.



2 Responses to “Surat Dari Jakarta (11)”