Surat Dari Jakarta (10)
Dalam suratku yang lalu, aku menulis tentang keterusikanku pada pemandangan yang aku temui tiap malam, kehidupan malam yang bergulat dengan dinginnya malam, bergulat pada kehidupan yang “harus” dan “musti”, perubahan adalah mustahil, tak ada yang bisa diubah selain melaluinya dengan “harus” dan “musti”.
Tapi sesungguhnya aku lebih sangat terusik dengan kehidupan dan keberadaan manusia yang dilahirkan untuk tidak berdiri mencari makan dengan berdiri di jalan-jalan, tapi mereka yang dilahirkan dirumah-rumah mewah gaya minimalis, mereka yang dilahirkan dengan segala pernak-pernik yang tidak murah, kelahiran yang harus dekat dengan predikat jadi sesuatu dalam kehidupan.
Tapi aku menjadi lebih prihatin, pada kelahiran yang demikian tapi tidak mendatangkan apapun yang memuliakan keberadaanNya dengan sebuah syukur.
Aku malah makin prihatin menyaksikan keangkuhan, kemunafikan melekat dekat pada mereka yang dilahirkan dirumah-rumah mewah gaya minimalis, yang dilahirkan dengan segala pernak-pernik yang tidak murah. Astaghfirullah… Astaghfirullah
Aku prihatin, tetapi aku bisa apa. Hari ini aku sedang melihat segala yang diatas dan segala yang dibawah. Al-Hamdulillah… Al-Hamdulillah
23/2/2010 5:44 PM
Markus AP



Similar/Related Posts