Parodi : Kisah Bang Toyip (part 3)
Sweet talker…mellow abis…itu ya kalau gak salah yang gue bilang kemaren tentang bang Toyip di part 2, I guest…gue gak lupa.
Entah apakah dengan semua keahilannya dalam membodohi istrinya bang Toyip bisa dibilang genius?.
Apakah dengan mengaku sibuk dikantor pulang malam karena mengejar setoran dan mencari obyekan bisnis lain bisa dibilang genius, padahal ia sedang bermalam dirumah selingkuhannya?.
Apakah dengan goda-godain wanita di Facebook, meminta nomor telfon, sampai bicara yang nyerempet-nyerempet bisa dibilang genius?.
Genius sih…pakar dalam selingkuisme.
Bang Toyip…Bang Toyip…
Itulah gambaran realitas yang ada dalam masyarakat kita, mau ngak mau harus diakui bahwa itu ada.
Tidak tahukah kalau kegeniusan bang Toyip itu melukai banyak orang?
Entah itu istri, anak, dan sanak saudara.
Gue rasa bang Toyip sadar benar apa yang dilakukannya telah sangat melukai hati seseorang, yaitu sang istri, Bu Toyip.
Apa lagi orang yang disakitinya adalah seseorang mencintainya, kalau ia tahu kelakuan bang Toyip akan begitu tentu ia tak akan menikahi bang Toyip, tak akan ada kisah yang pelik belasan tahun bersama bang Toyip, bisa jadi ketemu gue dan bahagia…hahahahah ngarep.com
Nyatanya ngak demikian kisahnya, malah ketemunya Bang Toyip, sekali pun kalau mau dibilang kemampuan bu Toyip untuk cari lagi gak kalah cangih….
Makanya ini saran buat yang belum nikah, diperhatikan baik-baik pasangannya apakah ia sama kayak bang Toyip.
Ada commentar yang disampaikan ke gue berkata…
“Cerita bu Toyip kayaknya lebih seru tuch.. kan ditinggal sampe uda 3x lebaran.. selama nungguin suaminya apa yang dia lakukan? apakah ikutan selingkuh or tetap setia menunggu sang suami???”
Gue jawab…Bu Toyip wanita yang modern dan cantik, pandai lagi…gue yakin punya kemampuan untuk cari lagi…bukan artian selingkuh ya, “cari lagi”, artinya ia benar-benar mencoba peruntungan lain atau bisa jadi bahasa kerennya mencari kebahagiaan di lain pribadi.
Want try with me Bu Toyip? Hahahahah
Ngarep.com…. Ngarep.com….. Ngarep.com
Gue yakin Bu Toyip bisa melakukan itu, punya kemampuaan untuk itu, sebab kalau Bang Toyip yang beruban itu dalam 5-10 tahun kedepan belum tentu laku, dalam 5 tahun kedepan bu toyip masih bisa laku, abis bu Toyip gak keliatan kalau usianya mendekati 40, walau masih 35 sih.
Gue juga harus sangat adil tidak harus selalu menyudutkan Bang Toyip sebagai actor intelektual dari sebuah kehancuran rumah tangga, gue harus adil dengan melihat dari sudut pandang yang luas, jadi gue gak selalu melulu menyalahkan Bang Toyip, tetapi karena pada umumnya wanita selalu menjadi korban maka Bang Toyip lah yang harus di soroti dalam hal ini, tetapi sekali lagi gue bilang bahwa gue harus melihat segala sesuatu nya dari sudut pandang yang luas.
Sebab bisa saja perlakuaan bang Toyip yang seperti itu bisa jadi disebabkan karena Bu Toyip, juga memiliki kesalahaan, Bu Toyip tidak dapat berperan menjadi wanita yang baik dan tepat dalam rumah tangga, sesuai perannya menjadi ibu rumah tangga.
Maka bisa jadi apa yang terjadi pada Bang Toyip semua bisa didasari karena tindakkan yang dilakukan oleh Bu Toyip, yah siapa tahu saja.
Banyak yang menyampaikan pandangan lewat beberapa pembicaraan kepada gue, kenapa gak cerai aja, ngapain hidup dengan si Bang Toyip itu?.
Terus terang gue harus bilang…Itu kan teori nya.
Gue tetap mendukung “jangan ada perceraiaan”, artinya bukan berarti tiap masalah diabaikan begitu saja, masalah dalam rumah tangga harus selalu diupayakan mencari titik temu penyelesaiaannya, dicari titik temu penyesuaiaannya, jalan selalu ada untuk menjadi lebih baik.
Tapi jika semua cara yang ditempuh tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada baru mungkin satu-satunya cara adalah ya melalui perceraiaan….maka kita tidak bisa mengatakannya dengan mudah “kenapa gak pisah saja”.
Dan sering kali memang tidak mudah, persoalan masih terus berlarut tanpa upaya penyelesaiaan, dan peceraiaan pun bukan jalan yang ditempuh karena sebab banyak factor.
Salah satu yang selalu di sebut-sebut oleh pasangan dalam kondisi demikian, berkembang pandangan pada umumnya, bahwa perceraiaan akan menganggu perkembangan anak, tapi saya juga mengatakan sebuah rumah tangga yang tidak lagi harmonis tidak akan membawa perkembangan anak dengan baik, pasangan yang sudah saling tidak percaya, terjadi percekcokan, sudah tidak ada keharmonisan maka akan berakibat buruk juga pada perkembangan anak, anak akan dipertontonkan sebuah sandiwara rumah tangga, kekakuan, percekcokan, yang sesungguhnya juga tidak perlu dilihat oleh anak-anak.
Lalu pemikiran selanjutnya yang berkembang adalah, penghidupan pasangan yang sudah bercerai kususnya pada pihak wanita, mereka kadang memikirkan masalah ekonomi, entah itu bagaimana menghidupi dirinya sendiri atau menghidupi anaknya, menurut gue alasan ini sangat terlalu dibesarkan, usaha-usaha jangan takut dan kawatir dulu dong.
Lalu pemikiran yang kemudian paling umum berkembang adalah, pandangan masyarakat, pandangan keluarga, keluarga kadang malah mendorong agar perceraiaan tidak terjadi karena alasan “pandangan”, mereka takut menjadi bahan pembicaraan tetangga, menjadi omongan keluarga, yang pada akhirnya mengorbankan kebahagiaan dirinya demi sebuah “pandangan”…..cape deh…
Lalu pemikiran yang lebih gila lagi adalah, melumrahkan perselingkuhan itu terjadi, karena alasan “semua laki-laki” “semua pernikahan” begitu.
Maka seperti gue bilang tadi, kalau pernikahan itu tidak bisa dicarikan titik temu, mau cerai juga ogah, mau jalan juga ga jelas.
Menurut gue, gue tetap berkata jalan yang baik adalah duduk menyelesaikan semua halangan dan hambatan, masalah diselesaikan dicarikan titik temu secara kedewasaan, secara bijaksana, kedua belah pihak harus menghormati satu sama lain, kedua belah pihak harus saling terbuka, dan mulai lah dengan satu sikap dan keinginan untuk baik….sekali lagi cinta adalah dasar yang menurut gue harus bisa dikembalikan jadi dasar dalam sebuah pernikahan.
Cuit cuit…bijaksana banget seh gue…hehehehe
I wish sebuah kebahagiaan untuk Toyip Family…dan kesadaran untuk Toyip jadi laki-laki sejati, karena lelaki sejati bukan keliatannya aja macho, tapi sejati dalam artian menjadi kepala rumah tangga dan suami yang baik dan dapat memimpin dan menjadi contoh yang baik pula.
THE END
21/1/2005 4:52 AM
Markus AP



Similar/Related Posts