Surat Dari NewYork (16)
Aku mengsyukuri hari-hari yang diberikan Tuhan, akan segala masa yang ada, pada malam ini aku juga mengsyukuri saat-saat ini dan saat-saat itu, walau jika kau tahu apa isi yang ada didalam benak dan hati ini, tentu kau pun akan paham tentang beratnya perjalanan yang telah ku lalui, tetapi aku tak menangis, karena seluruh tangis, air mata, dan upaya telah dikeringkan dari lubuknya.
Dan disaat hening ini aku menengadah ke langit, menangkat kedua tanganku kelangit berkata “Biarlah MauMu Menjadi Mauku”, dan berharap sebuah kekuatan datang, dan sebuah wahyu datang berkata “Pergilah jauh kebarat”, aku menanti suara itu, aku menanti keinginan untuk mengarungi kehidupan ini atau pergi untuk membunuh diriku sendiri.
Aku telah berkata, mungkin ini menjadi kehendakNya, bahwa cinta didalam sini memang harus disalibkan, aku memang harus dikorbankan, apalah artinya aku dimatamu atau dimataNya, tapi aku mengsyukuri apapun yang dikalungkan bagiku…aku menerima semua yang diturunkanNya bagiku, walau dalam keadaan yang paling buruk sekalipun.
Maka jika aku memang harus dihanguskan diatas pembakaran, dimana apinya membara mematangkan kulit, mendidihkan darah, menghanguskan hati, jadi abu, aku telah melaluinya, aku harus menerimanNya. Karena Cinta didalam sini harus dibakar habis, dihanguskan sampai betapa pedih rasa sakit yang dirasakannya. Dan aku tak dapat tertidur karena hal yang menyakitkan itu tiap kali datang.
Sayang, belakangan ini, aku telah melihat kebenaran-kebenaran yang dibukakan dimataku, walau dalam benak aku bertanya, bagaimana mungkin seorang yang dicintai kemudian dibencinya padahal ia tidak melakukan sesuatu kesalahaan apapun. Apa lagi aku yang disamakan dengan orang-orang yang telah menyakitimu.
Apakah salah jika aku marah melihat sikapmu yang lari meninggalkanku?.
Apakah salah jika aku marah melihat sikapmu yang pergi tanpa berusaha meninggalkan kabar?.
Apakah aku harus menuntut kebenaran dan keadilan…, akankah aku berkata “Aku aku aku tidak bersalah”, akankah aku berkata semua kata yang bertujuan membenarkanku dan menyakiti dirimu?.
Aku lebih memilih biarkan diriku yang disakiti, daripada aku menyakiti dirimu.
Biarkanlah diriku dijauhi, daripada aku melukai dirimu.
Biarkanlah aku yang dihujati, agar suatu hari Tuhan menunjukan kebenaran yang sesunguhnya dimata siapapun.
Disaat itu aku tau, seperti apa aku berarti dimatamu. Dan walau kali ini kau dapat berkata “persetan apa yang kau pikir, aku tak perduli”, lalu aku berkata “terima kasih atas kebenaran itu, bahwa memang apa pun yang kukatakan benar atau tidak tak ada faedahnya bagimu”.
Dan kali ini, aku seperti membiarkan hal itu terjadi karena mungkin benar pertanda yang ditunjukanNya padaku. Semua mimpi itu menjadi nyata. Aku percaya pertanda dari langit, dan mungkin itu telah menjadi nyata.
Sayang, kau tahu sekali seperti apa diriku, aku yang sanggup berkeras pada kebenaran, aku yang selalu ingin merevolusi hal-hal yang jauh dari kebenaran, tetapi apakah aku hanya berdiri pada hitam dan putihnya kehidupan saja ?, tidak, nyatanya aku selalu mengikuti apa yang ada dan aku rasakan dari suara-suara hati yang berteriak.
Aku tak bisa membiarkan dirku bahagia, sedang aku melihat orang lain tidak, aku tak bisa berfikir untuk diriku sendiri, selain untuk hal-hal yang lebih besar dan lebih mulia.
Maka aku membiarkan diriku dihujati, diusir dari kehidupanmu dengan caramu yang begitu. Aku menerimanya.
Aku telah berdoa untuk kekuatan yang akan aku terima untuk melalui masa-masa itu. Dan dengan beratnya aku harus lalui masa-masa itu.
Sayang, aku hanya dapat berkata dengan kata-kata yang terkuras habis dari lubuknya, bahwa cinta dan kasih yang ada disini telah kuberikan kepadamu, terimalah atau buanglah, karena kau tahu sekali apa yang benar ada didalam sini.
NewYork City
6 January 2010, 10:20 PM
Markus AP



Similar/Related Posts