Surat Dari NewYork (15)
Kenapa tak kau biarkan sebuah pedang menghujam dalam kejantungku, atau sebuah peluru menembus kepalaku, lalu aku pergi menghadapNya?
Jika mungkin aku ingin kau yang melakukannya.
Karena, aku benar-benar tersiksa dengan keadaan itu. Keadaan yang selalu tanpa alasan, selalu tanpa jawaban tepat, selalu penuh ke egoisan, keegoisan dirimu.
Dan dalam keadaan yang demikian, aku berharap tidur dan tidak ingin terbangun lagi, ingin pergi menghadapNya dan tak kembali kedalam kehidupan, apa lagi melihat keadaan itu?, keadaan yang selalu tanpa alasan.
Aku mati, saat aku menghadapi dirimu yang juga mati…
NewYork City
2/1/2010 7:22 PM
Markus AP



2 Responses to “Surat Dari NewYork (15)”