Kematian Ku

Dedaunan berguguran dari pohon entah pohon apa, sedang matahari sembunyi seakan menangis disudut ruangan, padahal dipagi hari seharusnya ia bersinar, tetapi awan mendung menyekatnya, dan hari itu seakan pristiwa golgota terulang lagi, langit menjadi gelap mencekam, entah apa kemudian langit memuntahkan tangisnya membasahi bumi, tapi bukan karena menangis karena anak manusia pergi, tapi memang saat itu musimnya.
Hari itu hanya ada mereka yang kucintai disana, melihat kedalam liang lahat, jauh kedalamnya mereka menatap pilu, menatap berat kebawah, didalam liang terbaring tubuh yang berbeban, yang lelah, terluka, juga kuat menahan semua, yang kemudian akan selesai saat nanti akan tertutup bumi, ia akan tidur didalam gelap dibawah bumi, bersatu mencinta memeluk bumi, bersatu bercinta memeluk bumi, bersatu bersama bumi, bersatu melebur bersama bumi, pergi mencariNya yang kucintai.
Hari itu mungkin hanya ada yang kucintai disana, mungkin tak ada sang kekasih disana melayat, hanya untuk melihat tubuh ini tertutup bumi atau mengucap selamat jalan, hari itu hanya ada yang kucintai disana, yang mengenalku sepanjang hidup, yang mencintaku sepanjang detik, tapi mungkin tak ada sang kekasih disana, menangisi aku bercinta bersama bumi, aku menyatu bersama bumi, melebur jadi satu bersamanya, bersatu mencapaiNya, saat akhir.
Aku mau pulang dengan cara seperti itu, jika aku memang harus pulang, aku pulang, tak ingin menolak atau menahan, ingin bahkan segera ingin, tapi aku mau pulang tidak dalam sakit yang mengerogoti, tidak dalam malu yang mengotori, tidak dengan derita yang mengejang leher atau dada, aku mau pulang saat semua masih kupegang erat dalam dada, dan aku mau pergi dengan cara yang biasa, tak ada kegaduhan, tak ada sesuatu yang khusus, tak ingin dengan keagungan, hanya dengan cara yang biasa, bahkan yang khusus pun belum tentu ada, tak perlu ada, tak ingin ada.
Bagiku, bagi hidupku, bagi nafasku, bagi detik-detik nafasku pergi, bagi saat mataku memejam, bagi saat kesadaran ku sirna, aku mau mati dengan cara yang biasa, dalam tidur diruangku, sendiri dalam gelapku, sendiri dalam terangNya, mungkin mati dalam renunganku merenungiNya, merenungi CintaNya, merenungi senyumNya, aku mau mati saat aku mencintaiNya, tidak mencintaimu, tidak mencintai manusia, tidak mencintai materi, tidak mencintai kedudukan, tetapi tetap mencintaNya, dengan kerinduaan menyapaNya, hanya denganNya, walau hidup sering jauh dariNya.
Aku mau mati dengan cara yang biasa, tidak dalam sakti yang mengerogoti, tidak dalam malu yang mengotori, tidak dengan derita yang mencekik, aku mau pergi dengan cara yang biasa, aku mau pergi saat dalam tidur diruangku, sendiri dalam gelapku, sendiri dalam terangNya, mungkin dalam renunganku merenungi cintaNya padaku, dan cintaku padaNya.
Abu kembali ke abu, tanah kembali ke tanah.
The morning bright
The morning bright
With rosy light
Has waked me from my sleep;
Father, I own
Thy love alone
Thy little one doth keep.
All through the day,
I humbly pray,
Be Thou my Guard and Guide;
My sins forgive
And let me live,
Blest Jesus, near Thy side. Amen.
26/1/2010 9:55:45 AM
Markus AP


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








