suggest
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
api
The End of Masculinity
By. marcus . December 5th, 2009 at 8:32 am
notice
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

The End of Masculinity


    Malam yang dingin diapartemen saya, saya memulai catatan ini ditemani secangkir kopi panas, ide menulis catatan ini muncul saat saya terkekeh melihat penuturan seorang kenalan, tentang pandangannya terhadap pria idaman beberapa hari yang lewat.
Lalu saya makin terbelalak pikirannya saat saya membaca sekilas dalam buku mas Seno Gumirah Ajidarma “Kentut Kosmopolitan” – Runtuhnya Kejantanan, saya tersenyum sendiri dan berkata dalam hati, “seharusnya ia (kenalan saya) baca tulisan ini”.
    Saya jujur mendapat ilham dari kejadian dan tulisan ilmiah itu, lalu mencoba menulis dengan bahasa saya.
    Ok tanpa banyak bicara, mari kita mulai.

    Kalau saya baca status facebook teman-teman diIndonesia beberapa saat lalu, yang memiliki kesan heboh banget tentang diputarnya film New Moon, yang kebetulan diputar serentak diseluruh dunia, kemudian sosok Robert Pattinson yang berperan menjadi Dracula ganteng dan romantis tiba-tiba menjadi gunjingan hebat dikalangan wanita-wanita cosmopolitan.
    Dracula yang selalu identik dengan kejahatan, kesadisan, iblis, sontak menjadi sangat sexy, romantis, ganteng, diidam-idamkan wanita lalu siapa yang gak mau digigit dan dijadikan istri dracula ganteng?.
    Semua wanita pasti berkata “gue mau dong”.
    “Walau istri ke sekian pun gak apa deh” kata sebagian besar wanita.
    Puluhan tahun lalu, James Dean, menjadi tokoh yang membuat histeria dikalangan wanita, sosoknya yang sekilas “begajulan”, bad boy sontak pula membuat wanita menyukai sosok pria yang demikian.
    Masih ingat Brad Pitt Yang juga sama. Sampai sekarang pun seorang teman masih mengidam-idamkan pria seperti Brad Pitt, dan sampai usianya 30 lebih masih menantikan sosok itu.
    Lucu bukan?

    Lalu seperti apa maskulinitas tadi sesunguhnya?

    Maskulinitas selalu ditunjukan dengan…sosok pria naik motor Harley, merokok, berwajah ganteng, sixpack, berotot, sex appeal tinggi, genius, (mungkin punya tato), dan hal itu pernah disingung dalam buku Pat Kirkham & Janet Thumim (You Tarzan : masculinity, movie and men – 1993).
Tentu dengan pengambaran yang demikian, tak mungkin jika film Rambo harus diperankan oleh Tukul Arwana, atau raja Leonidas yang mempimpin 300 priajurit nya melawan ratusan ribu prajurit Persia (dalam film 300), harus diperankan oleh pemeran lain yang tidak memiliki tubuh sixpack, tegap, berotot.
    Kalau itu terjadi pasti akan sangat tidak laku filmnya.   
Lalu bagaimana dengan industri Fashion sendiri, kita bisa melihat seluruh majalah fashion yang terdapat didunia dan dibelahan negara manapun, mengambaran maskulinitas selalu tampil dengan pria ganteng, klimis, berotot dan tegap.

    Iklan Marlboro ditunjukan dengan laki-laki yang ganteng, naik kuda dan seorang yang sangat menguasai alam, berbau petualangan dan tantangan, sesuatu yang dekat dengan laki-laki. Tidak perduli jika rokok bisa menimbulkan impotensi! Tentu Laki-laki impotent tidak bisa di jadikan sebuah gambaran maskulinitas.
Jika demikian lalu muncul sebuah pertanyaan apakah benar demikian yang diinginkan wanita?.
    Saya mengutip sedikit dari buku mas Seno, “Kalau kacamata perempuan cerdas seperti artis Mia Farrow dan Dinne Keaton jadi ukuran ternyata keduanya memilih sutradara genius Woddy Allen”.
    Mas seno menulis “perempuan cerdas”, lalu menjadi pertanyaan ada pula dong perempuan tak cerdas.
    Jika perempuan cerdas memilih pria genius, tentu perempuan tak cerdas memilih pria yang berlawanan dengan gambaran yang ada pada Woddy Allen.
    Tapi parahnya Woddy Allen menghancurkan reputasinya sendiri dengan memacari dan mengauli anak pungutnya sendiri yang berusia dibawa umur.
    Maka hal ini membuat wanita manapun baik cerdas atau tidak cerdas akan mual dan jijik, dengan kelakuan yang demikian.

Lalu dimanakah ukuran sesunguhnya dari maskulinitas?
    Jika sekilas menengok kasus sosok Woody Allen tentu sekilas moralitas menjadi sebuah ukuran penting?
    Pertanyaanya sekarang, apakah moralitas menjadi ukuran yang paling tepat mengalahkan seluruh pandangan yang sudah umum tadi?
    Apakah seorang pria yang beraklak baik, seorang yang bertangung jawab, berjuang mati-matiaan mencari nafkah untuk keluarganya, membimbing anaknya dengan penuh kasih sayang, menjadi imam dan pemimpin bagi keluarganya, rendah hati mau belajar sampai tua, empati pada perasaan wanita, menolak untuk selingkuh dan menyakiti hati istrinya tidak bisa dimasukan kedalam katagori maskulin.?
    Jika demikian mungkin pria bisa sangat membosankan menurut wanita, dan ditinggalkan untuk sebuah kehidupan yang lebih ehmm ehmm…entah apa itu, maka kita tak bisa menemukan sebuah pandangan ideal dari maskulinitas juga pada akhirnya.
    Lantas saya jadi sangat tertawa, kalau moralitas tak bisa menjadi sebuah ukuran penting? Lalu bagaimana lagi?.
    Nyatanya…
    Maskulinitas yang tumbuh makin kuat karena dipuja wanita tetap tak pernah bergeser sampai kapanpun, pandangannya dari masa ke masa tetap sama secara umum, tetapi serta merta menjadi sangat berubah saat, imajinasi “industri hollywood” gambaran “hayalan” harus di implementasikan kedalam kehidupan.
    Sosok maskulinitas diatas menjadi sangat tidak menyenangkan, jika “maskulinitas”nya memiliki moralitas yang “amburadul”.
    Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria duduk dirumah sedang istri mencari nafkah padahal badannya sehat, tidak kurang atau cacat.
    Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria berani-beraninya tidur dengan wanita lain di ranjang pengantin nya sendiri, saat istrinya tak ada dirumah.
    Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria tak dapat memimpin rumah tangga dengan benar.
    Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria tak punya tangung jawab, karakter pemimpin dalam rumah tangganya.

    Maskulinitas yang dipuja wanita sekarang nampaknya sudah tidak punya arti penting lagi saat, moralitas dari sisi maskulin itu tidak maskulin pada nyatanya.
    Lalu di akhir catatan pendek saya ini, saya jadi merenung, apakah maskulinitas itu sendiri benar-benar tumbuh karena dipuja kaum wanita?
Dan disangkalnya sendiri saat maskulin tadi berlawanan dengan moral, berapa banyak wanita pada akhirnya menidamkan maskulinitas yang sesunguhnya, yang akhirnya wanita sunguh-sunguh manjadi lebih sadar bahwa wanita memerlukan hal-hal yang mendasar dibandingkan maskulinitas ala industri tadi….entah mungkin Heart, Brain, Behavior, Attitude, Love, Compassion, Responsiblity, Faithfull, Handsome  ….  entah lah apa lagi.

    New York City
    04/12/2009 03:50 A.M.   
    Markus AP

Similar/Related Posts

15 Responses to “The End of Masculinity”

@indah indriyani : @indri
nah itu….
itu dosa nya jaman adam, terlebih si hawa…
firman Tuhan bilang kan…semua boleh dimakan, kecuali pohon pengetahuan baik dan benar….

datang ular….dibalik lah sama ular ceritanya…bahkan ditambahi…”kalau lo makan buah itu lo akan seperti Tuhan”.

ular disini adalah gambaran dari industri, pandangan, pemikiran yang salah..

don’t call me indri dong…..

@indah indriyani : ya wes…gw panggil joko aja

Modar gw jauh2 di NY cuma nulis nulis nulis gak jalan2 gak kemana2 ke mall kek…ke mana kek…

Gw dah baca! apa sih cus yg gw ga pernah kagumin dari cara fikir sahabat gw yg satu ini?
Dan yang gw salut adalah
Lo mau jadi orang yang berbeda dari kebanyakaan.
Gak takut melawan arus, mau punya jiwa dan pikiran sendiri, mau mikir, mau punya prinsip2 yg benerrrr

Lo percaya ga kalau tulisan lu menyindir wanita, tapi juga menohok pria, lo sendiri pria, tapi lo pria yang sadar, pria yang “berbeda”, pria yang mau belajar, pria yg tau mjd dirinya sendiri tanpa ikut2an “bejat”.

Apa yang lo selalu bilang ke gw “heart heart heart” itu selalu membuat gw melihat pria dari sananya
At the end bener kata lu, now i found good person, 8-9 point deh semuanya almost perfect
Jujur gw pernah lalu jadi wanita yang soooo stupid itu dulu kalau liat kebelakang, jauh gw menikmati hari ini, kalau gw gak bisa lalui dulu oh my god ga tau gw jadi apa hari ini.

Thanks god i found u again be my brother and mentor.

Two thumbs for u.
SO besok bisa jalan2 dong?

@irh : wkwkwk panjangnyaaaaaaaaa…..

Gue mau jalan2, kemarenannya kan ke the mets, lalu cari topi, lalu makan….kemana lagi cobaaa gw kan pernah pergi semua, kesannya gw kaga pernah disini aje…wkwkwkwkkw….

Kwkwkkwkw, gue tau koq lo supporter gue no 1, fans berat ma gue…wkwkwkkwkw, berapa lama kita kenal? belasan taon

Kalau urusan menyindir dan menohok? bukannya kerjaan gue tu? dari dulu gue ga pernah suka melihat hal yg ga beres, dikantor ga beres bisa gue semprot….korup pecat….gue prihatin melihat hal2 yg kadang menurut gue ga perlu terjadi, itu aja yg gue coba rubah…………bersyukur klw ada yang denger dan mau belajar.

Bagus deh lo lulus, lo salah satu yg lulus dari university of markus kwkwkwkwkwkw *gubraks*….no no no, semua perubahan hanya ada pada diri sendiri, bukan pada gue atau pd siapapun….gue hanya diberi peran Tuhan utk menyatakan apa yang benar, berani mengkonfrontasi yg salah……hanya itu…..

Thanks being my sister and the bestfirend and the “angels”…

Leave a Comment

 
copyright

feedback
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation
home